Bab 5 - Prosopagnosia Adalah Derita

2017 Kata
Angin berembus tatkala mercy kuning melintasi pekarangan. Dengan menenteng sebuah tas kecil berwarna merah, seorang gadis pemilik manik cokelat itu berjalan lesu. Memasuki mansion mewah berkonsep the light-filled yang terlihat elegan dengan lampu jingga bersinar terang ketika tirai malam mulai menjuntai damai. Tarikan napas kasar beserta peluh terlihat mendominasi, padahal raga sebetulnya jauh lebih tergerus hanyutnya rasa sakit akibat sebuah pukulan, tendangan atau bahkan bantingan tajam menembus lantai. Bunyi kode pemutar sandi pintu rumah mengalun, pertanda seseorang masuk. Namun, hening. Dua insan yang Anyelir rindukan pasti sedang berada di ruangan lain. "Alir, pulang." Beritanya lemas. Seorang wanita paruh baya tiba-tiba menghampiri dua gadis yang baru saja tiba, melucuti setiap barang yang di bawa Batari dengan membiarkan putrinya melenggang pergi, untuk sekedar beristirahat sebelum makan malam menanti. Usai menyimpan seluruh keperluan sang aktris, Batari berpamitan kendati sang Ibu pergi menyusul putrinya ke arah dapur. Anyelir merasa seluruh tubuhnya remuk seketika, dibantingnya raga lelah itu ke arah sofa tones blue yang bersebalahan langsung dengan ruang makan indoor. Nuansa raw dan industrial feel menjadi pilihan utama Anyelir ketika membangun mansion mewah hasil jerih payahnya. Mengingat rumah terdahulu buah karya sang Ayah terlalu menyimpan luka yang belum sepenuhnya pulih hingga detik ini. Terlentang menatap langit-langit seraya memejamkan mata. Sayup-sayup gemercik minyak goreng terdengar, alunan musik dari televisi di hadapannya pun ikut memekikkan gendang telinga, namun baginya itu hal yang paling disuka. Suasana rumah. Seberat apapun kehidupan di luar sana menghantam tubuh Anyelir, pulang ke rumah adalah tempat beristirahat paling nyaman, membuat semua beban dipundaknya sedikit berkurang. Selang beberapa menit, tubuhnya menggeliat ketika sepasang tangan kekar menyentuhnya. Pijatan manis, mampu membuat nyaman setiap otot-otot yang kian menegang lepas berlatih baku hantam. "Hentikan, Ayah. Jangan pijit Alir," Gumam sang gadis dengan mata yang setia terpejam. "Loh kenapa? Alir pasti capek, ya?" "Enggak kok, Ayah." Sepasang mata itu mulai terbuka, tubuhnya ia kerahkan untuk bangkit. "Alir yang harus pijit, Ayah." Pria tua berkumis tebal pemilik alis camar tersenyum hangat. Tatapan teduh yang mengisyaratkan kesedihan masih terlihat sama. Membuat Anyelir harus lebih ekstra menjaga sikapnya untuk tidak terlihat lemah, apalagi sakit. Benar, itu adalah tujuannya bertahan hidup demi Mihir—ayah kandungnya. "Kata CEO restoran, Alir mau makan malam apa?" Tanyanya lembut. "Terserah CEO restoran aja." Gadis itu mulai merapikan posisinya, kembali terduduk dengan damai di samping sang ayah. "Baiklah, Bapak Kepala Sekolah akan menyampaikan kepada CEO restoran untuk membuat makanan terserah," ucap nya sedikit menggoda si manik coklat. "Bukan begitu konsepnya, Pak!" Gerutu Anyelir, "maksud saya, yang penting makanannya enak. Nggak ada ceritanya nama makanan terserah!" "Udah bisa ngomel, capeknya hilang?" "Ah Ayah bisa aja, nanti Alir laporin sama CEO restoran. Tidur di sofa baru tahu rasa!" Begitulah candaan kecil tercipta ketika Anyelir pulang bekerja, hanya sepasang suami-isteri yang menghibur guna menepis rasa penat. Sebutan CEO restoran tersemat kepada Lanjen Magdeliny—ibu kandung Anyelir. Ia tak pernah absen membuat makanan dengan pedoman makanan-sendiri-pasti-sehat-dan-higenis. Bahkan wanita blasteran China-Jawa itu membenci campur tangan asisten rumah tangga meski hanya sekedar mengupas bawang. Jangan lupakan Bapak Kepala Sekolah, panggilan sayang Anyelir kepada Mihir Magdeliny. Ia pernah menerka, paras dan gaya berpakaian Mihir mirip sekali dengan kepala sekolah Anyelir saat duduk di bangku SMA. Mulai dari rambut dua centimeter yang dicepak ke arah samping, kumis yang tebal serta kacamata yang tak pernah absen. Meski tak tahu wajah tampan Ayahnya seperti apa, tapi ia hafal ciri-ciri fisik yang menonjol, itulah kelebihan yang harus ia kuasai sejak kejadian pilu merenggut kebahagiannya belasan tahun silam. Anyelir kembali memejamkan matanya, hari ini terasa berat sekali, harus menguasai seluruh gerakan baku hantam ditambah berkali-kali mendapat teguran karena memukul orang yang salah. Bahu kirinya sedikit ngilu, refleks ia memijitnya sendiri, kedua alis saling bertaut ketika merasakan sakit seolah ada luka tersembunyi di baliknya. Mungkin karena bantingan tadi cukup keras hingga menimbulkan memar tak terlihat. Mihir yang melihat Anyelir kesakitan kembali merasa bersalah, katakanlah tujuh belas tahun berlalu dengan canda tawa meski banyak lika-liku. Namun, semua itu tidak akan terjadi jika seorang ayah becus mengurus putri kecilnya. Ia gagal menjadi pahlawan bagi Anyelir, ia gagal menjadi tameng ketika Anyelir terluka. Ialah penyebabnya, lelaki pemilik alis camar-lah yang menimbulkan penderitaan bertahun-tahun bahkan hingga ajal menjemput Anyelir. "Maafkan Ayah, Alir," lirih Mihir dengan mata terpejam menahan kristal cair. Sontak Anyelir menghentikan aktivitasnya, ia menoleh pada wajah pilu Mihir. Rasa bersalah yang terus mengahantui membuat psikis ayahnya terganggu, Anyelir tahu ia menderita bahkan hingga detik ini. Tapi sungguh demi Tuhan melihat sang ayah yang terus meminta maaf bahkan menangis secara tiba-tiba membuatnya lebih menderita. "Cukup, Ayah. Alir nggak apa-apa." Gadis itu menangkup wajah keriput tua, kemudian mendekapnya hangat. "Alir baik-baik aja, Ayah jangan kayak gini lagi, ya?" Tubuh ringkih itu kembali gemetar hebat, deru napasnya terdengar berat, membuat netra gadis itu memunculkan perisai bening yang akan hancur ketika mata berkedip. "Ma—maafin Ayah ... Anyelirrr," racau Mihir terdengar begitu pilu. "Ini salah Ayah ...." "Nggak, Ayah. Alir waktu itu nakal, ini bukan salah Ayah." Anyelir mulai mengusap pelan punggung kurus lelaki itu. Tangisan akan rasa bersalah pasti kembali tercipta kala menyadari Anyelir merasakan sakit. Ia terlalu ceroboh, tak menyadari bahwa sejak meringis— mengadukan betapa sakitnya memar-memar di sekujur tubuh—mengalihkan perhatian Mihir. Tubuhnya remuk, sangat sakit. Tapi hatinya lebih hancur berkeping-keping mendapati tingkah laku sang Ayah yang sama sekali tak ada perubahan meski berkali-kali melakukan pengobatan. Sembunyikan rasa sakit, sembunyikan penderitaan! Kalimat yang selalu terlintas di benak Anyelir, tanpa beban juga tanpa keinginan. Hanya sebuah rangkaian kata agar suasana tak pernah bertambah keruh, mengingat masa lalu kelam yang hampir menghantarkan keluarga Magdeliny ke lubang neraka. Ia kembali teringat masa itu. *** 17 tahun silam ... "Bapak dan Ibuk, tunggu di luar dulu sebentar, ya?" Dokter cantik bernama Clara itu menuntun sepasang pasutri yang dilanda rasa cemas. Meski gusar dan sedih bersatu padu, namun, perintah ahli kesehatan pastilah memiliki dampak positif. Pasutri itu berjalan dengan lemas keluar dari ruangan serba putih, duduk berhimpit di deretan kursi yang berjejer sebanyak tiga buah, termenung dalam lamunan masing-masing. Sementara, di balik dinding, sang dokter cantik menghampiri gadis kecil yang tengah dilanda rasa takut juga bingung. Peluh yang acap kali muncul meski ruangan terasa dingin turut menambah kesan tak nyaman sejak awal dunianya kembali nyata. Ini seperti terbangun di negri misterius, orang-orang berwajah sama, terkadang berbeda, terkadang aneh. Lantas di mana Ayah dan Bunda? Pertanyaan yang terus mengalun fantasi kecilnya. Apa mereka disantap monster-monster ini? Pikiran bocah seusia Anyelir memang tak luput dari putri-putri kerajaan yang cantik, hidup mewah tanpa tekanan dengan penuh kesenangan. Terlalu hipokrit, tapi begitulah dongeng. Terkadang bila dibuat untuk menakut-nakuti, ditambahkan selingan monster jahat berbentuk aneh tetapi lucu. Mereka terlalu polos, lebih tepatnya bodoh, belum memahami bila monster tak semenyeramkan makhluk bernama manusia. "Anyelir kenal saya?" Clara mengalun senyum berusaha memberikan ketenangan. Gadis yang berlapis perban di kepala itu menggeleng pelan. "Wajah kalian sama. Kalian siapa? Monster? di mana Ayah dan Bunda?" rentetan pertanyaan mengalun meski sedikit gentar, Anyelir cemas. Bila yang terjadi rupanya bukanlah bagian dari fantasi negri dongeng. Sedikit membulatkan mata, rasa terkejut itu tidak seharusnya terlihat menonjol. Namun, kenyataan tak bisa terbantahkan, ini bukan soal siapa dan mengapa, tetapi tentang bagaimana kemungkinan buruk itu bisa terjadi. "Coba diingat-ingat, wajah Ayah dan Bunda Anyelir seperti apa?" Tanya sang dokter sedikit bersabar. Gadis itu mulai memejamkan mata, kedua alisnya kian bertaut bersamaan dengan wajah yang memberi simbol takut. "Yang mana?" Ia terus menggelengkan kepala. Sang dokter memegangi tubuh mungil gadis itu. "Anyelir ...." Kedua mata itu kian terbuka sempurna, raut bingung juga cemas tak sedikitpun sirna. "Ini Dokter Clara." Tangan dokter itu bertaut seraya memegangi sebelah dadanya, kemudian ia menunjuk seorang suster yang tengah menggenggam papan kertas. "Itu Suster Ani." Kini atensinya beralih pada seorang suster yang tengah memegang nampan berisikan obat-obatan. "Ini Suster Rida." Terakhir ia menoleh pada gadis mungil di hadapannya. "Coba tunjuk, mana Suster Ani?" Diam. Selama beberapa detik Anyelir membisu, menganalisa setiap perintah untuk membedakan para perawat berseragam serupa.Tetap saja, itu terlalu sulit. Mendefinisikan apa yang dilihat saja Anyelir menyerah, apalagi harus memunjuk orang sebagai bagian dari pilihan orang yang tepat. Gadis mungil itu menggeleng. "Nggak apa-apa, coba tunjuk aja," bujuk sang dokter. Tak ada pilihan lain, ia akan mencoba. Jari telunjuk itu mulai mengudara, seraya bergetar posisinya semakin bergeser ke arah kiri, ditatapnya seorang suster yang tengah memegangi nampan—suster Rida. Sontak sang dokter berdiri dan menjauh dari Anyelir, mundur beberapa langkah dengan ekspresi terkejut meski berusaha di tutupi. "Suster! tolong periksa detak jantung dan berilah obat yang sudah saya resepkan. Segera hubungi dokter spesialis saraf, secepatnya!" Clara memilih untuk meninggalkan ruangan, ada hal mengganjal yang harus segera dibereskan. Apa yang menimpa Anyelir bukan lagi bagian dari ranah profesinnya, perlu dituntaskan dengan keputusan yang kiranya menimbulkan kecewa. Meski hanya hipotesa, gelagat yang tercipta terlalu kentara menunjukkan bahwa Anyelir 'tidak baik-baik saja'. Usai menutup pintu, ditatapnya pasutri itu dengan ekspresi membingungkan. Belum sempat melangkah, sang ibu berucap terlebih dahulu, "apa yang terjadi pada Anyelir? Apa dia amnesia?" Dokter itu menggeleng. "Ke ruangan saya." "Tidak dokter! Jawab pertanyaan saya dulu!" Sang ibu mulai membentak, kendati air mata terus melintas tanpa permisi. "Saya akan jelaskan di ruangan saya, mari." Dokter itu mulai beranjak, namun sebelah tangannya dicekal paksa. "Apa dia lupa ingatan?" "Tidak," "Apa dia geger otak?" Helaan napas kasar terdengar. "Bukan," "Lalu apa? Kepalanya sangat sakit?" Sekejap mata terpejam, kemudian menarik napas lagi dan berbalik, ditatap kembali ekspresi yang sama, namun atensinya malah terfokus pada pria di samping sang ibu. Ia terisak, menahan tangis juga berusaha tegar. "Buk ... Anyelir tidak lupa ingatan. Jadi, ayo kita ke ruangan saya, ya?" "Kalo nggak lupa ingatan kenapa nanya kami siapa, ha?" Lelaki rapuh yang tengah berusaha untuk terlihat baik-baik saja bersuara. "Ka—karena dia sakit," "Apa sangat sakit?" Tanyanya lagi. Dokter itu terpaksa mengangguk. "Hm. Sangat sakit. Karena itu, ayo kita ke ruangan saya. Akan saya jelaskan semuanya." Sepasang insan yang tengah menangis tersedu sembari saling melempar dekapan hanya bisa pasrah. Mengikuti alunan langkah sedang menuju ruangan mengerikan, sebab kenyataan demi kenyataan akan terungkap seiring dengan rasa bersalah yang kian membuncah. Dokter Clara menggeser pintu ruangan berbahan baja ringan, namanya tersemat di bagian atas benda persegi. Mempersilahkan Mihir dan Lanjen masuk seraya terduduk di sebuah kursi yang saling berhadapan. Hening sejenak. Sebelum suara tak sabaran kembali melontarkan tanya. "Jadi apa yang dia derita? Katakan, cepat!" Wanita berambut sebahu itu mengotak-atik sebuah komputer tabung berwarna putih usang. Mencari sesuatu yang dirasa terhubung dengan hipotesanya. Hingga sebuah gambar hitam putih yang menampilkan bentuk keseluruhan otak berusaha ia tunjukkan kepada sepasang pasutri. Ia menggeser layar komputer. "Bapak dan Ibuk bisa lihat gambar ini? Ini adalah bentuk otak manusia." Keduanya hanya mengangguk paham. "Di bagian bawah sini." Jari telunjuk yang membalut ballpoint berputar-putar menyentuh layar. "Ini namanya fusiform gyrus, tempat mengoordinasikan saraf yang memengaruhi memori dan persepsi wajah." Kini kedua manik hitam legam milik dokter Clara menyorot lekat ke arah keduanya. "Besar kemungkinan ... cederanya menimbulkan kerusakan lipatan pada otak. Anyelir jatuh dari lantai dua dengan posisi kepala membentur cukup keras. Saya belum sepenuhnya meyakini hipotesa ini, sebelum kita melakukan beberapa tes terlebih dahulu dengan ahli saraf." "Meski hanya hipotesa, Anda adalah seorang dokter. Naluriah anda sangatlah kuat, cepat katakan! Anyelir kenapa?!" Lelaki itu mulai berteriak, membuat dokter Clara gemetar ketakutan. "A—anyelir ...." "Anyelir apa?" "Sa—saya rasa, dia mengidap ... Prosopagnosia," lirihnya. "Prosopagnosia?" Meski terdengar asing, tapi keyakinan Mihir terlalu dalam, bahwa yang diderita putrinya bukanlah hal yang mudah terkendali. Dari sorot pandang Anyelir saja menimbulkan ketakutan yang tidak bisa gadis itu jelaskan, terlalu pedih rasanya untuk sekedar beradu pandang dengan sang putri. Gadis berjas putih itu mengangguk pasrah, "Benar, dia tidak lupa ingatan, hanya tidak tahu wajah kalian seperti apa," dokter Clara menjeda ucapannya, "bahkan ... kemungkinan terbesarnya dia tidak tahu wajahnya sendiri seperti apa." Lanjutnya penuh penekanan dari setiap kata yang terlontar. "Jadi dia sangat menderita?" Lagi. Lelaki itu melontarkan setiap tanya yang tersirat penuh penyesalan. "Dia tidak menderita, hanya belum terbiasa," "Kalo begitu sembuhkan dia segera!" Tubuh yang masih merasa cemas bercampur takut hanya bisa menggeleng. Pasrah, menerima entah itu jeritan atau kecaman tajam dari seorang pasutri di hadapannya. Karena kenyataan, tak mampu dibantah meski nyawa adalah taruhannya. "Prosopagnosia ... Tidak bisa disembuhkan," lirih Dokter Clara. Maafkan, Ayah ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN