Dering telepon berbunyi, kendati Anyelir tengah sibuk membereskan beberapa persiapan perayaan ulang tahun agensi. Sudah belasan panggilan tak terjawab, ponsel yang di simpan di atas meja tak mampu di sentuh sebab urusan dekorasi memang selalu Anyelir yang mengurus.
Aula yang digunakan bertempat di lantai paling atas, terdapat sebuah panggung sederhana yang berhias pita-pita merah jambu. Bunga Lily juga menjadi penghias utama, rupanya yang putih membentuk keelokan nuansa alam yang khas. Pesona dekorasi perayaan ini terlihat benar-benar segar dan elegan. Anyelir mengatur seorang pemuda yang memasang pamflet ucapan selamat paling besar di bagian tengah panggung.
Membiarkan ponselnya tergeletak di atas meja, panggilan telepon lagi. Kali ke dua belas. Tapi telinganya masih belum menangkap dengan jelas, sebab riuh persiapan menggema di seluruh aula. Entah itu berdiskusi, geser-menggeser barang atau memasang beberapa pajangan dengan paku palu.
"Apa ini sudah pas Berta Bee?!" lelaki yang tengah memanjat tangga lipat memasang pamflet raksasa itu berteriak.
Anyelir mengernyit sembari mendongak. "Kanan dikit!"
"Sebelah sini?!" Ia menggeser pamflet, memperbaiki agar pajangannya menjadi simetris.
"Kanan lagi dikit!"
Pamflet di geser lagi menjadi ke sebelah kanan agar terlihat rapi. "Sini?!"
"OKE!" Anyelir mengacungkan jempol, semua tampak sempurna.
Tiba-tiba seorang wanita menghampiri, usianya sekitar angka tiga puluh, menepuk pundak Anyelir cukup kencang. Anyelir menoleh.
"Kenapa?" tanya Anyelir heran.
Wanita itu, berpakaian casual dengan t-shirt pendek, setelan blue jeans memegang sebuah papan d**a memberi tanda. "Ponsel Berta Bee, ada panggilan masuk dari tadi."
"Oh ... oke sebentar." Anyelir kembali fokus pada pemasangan pamflet.
Sebetulnya dekorasi ini tidak melibatkan Anyelir, sebab seluruh pegawai BA Entertainment pasti bahu-membahu membuat pesta sederhana perayaan ulang tahun agensi. Sudah dua tahun acara ini dilaksanakan, tidak mewah, tapi meriah. Semua menikmati seperti cuti di tengah pekerjaan, sebab peraturan pertama adalah tidak boleh ada sedikitpun yang membahas pekerjaan.
Selain itu, Anyelir memang menyukai hal-hal yang berkaitan dengan perayaan. Ia suka mendekor untuk persiapan pesta, rasanya menyenangkan. Tapi usaha menikmati itu hanya berlangsung beberapa menit saja, sebab panggilan telepon itu terus menganggu.
"Berta Bee ... ponselmu!" wanita tadi memperingati lagi.
Terpaksa Anyelir berjalan ke arah meja, jika Janu yang menelepon rasanya malas. Tapi dugaan itu terpatahkan, sebab nama 'Bunda' tertera di sana, ada empat belas panggilan tak terjawab. Anyelir melotot seketika.
"Bunda?" dahi Anyelir berkerut.
Panggilan masuk lagi, sesegera mungkin Anyelir menarik tombol hijau sampai terhubung.
"Kenapa, Bun—"
"Ayah masuk rumah sakit, Lir."
Deg.
Anyelir mematung seketika, empat kata yang selalu Anyelir takutkan setiap harinya. Fakta bahwa sang Ayah tak mampu lagi menahan rasa sakit, fakta bahwa penyakit dan gangguannya kembali berkuasa tanpa diminta. Tangan Anyelir gemetar, raut wajahnya berubah menjadi takut.
"I—iya ... Alir ke sana sekarang!"
Matanya celingak-celinguk mencari Batari, sebab kunci mobil ada padanya. Ia mendekat ke arah seorang karyawan, pengurus HRD. Tangannya di genggam takut. "Batari mana?!" panik Anyelir.
"Tadi sih di—"
"Di mana?!"
"Di ruangannya tadi!"
"Makasih!" Anyelir berlari, jarak antara aula dengan ruangan Batari tidak jauh.
Hanya terhalang oleh ruangan Bane, Anyelir berlari sekuat tenaga. Tak perduli dengan high heels yang dikenakan, jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar kabar yang tak pernah selaras dengan hati. Ayahnya—sosok yang selalu membuat nyaman dirinya, sosok yang selalu hangat menyambut dengan senyuman dan dekapan manis tengah kesulitan di rumah sakit sana.
Anyelir membuka pintu Batari tanpa ketukan. "Tari kunci mobil diman—"
Bug!
Bane menendang kaki Batari di hadapan Anyelir, sampai gadis itu terduduk di lantai menahan rasa sakit. "Batari!" teriak Anyelir.
Ia menghampiri Batari, dengan Bane yang membuang muka. Saat lengan Anyelir menyentuh tubuh sahabatnya, Batari berontak tanpa menerima bantuan dari Anyelir.
"Tar, Lo nggak apa-apa?!"
Batari mendongak, wajahnya yang lisut bercampur amarah. Kali pertama, sungguh, kali pertama Batari melempar tatapan tajam yang meliput aura gelap dari tubuhnya. Batari terkuasa oleh rasa sesak, Batari terperangkap dalam ceruk masa lalu. Sahabatnya seperti berubah menjadi orang lain hanya dalam sekejap mata.
"Tar! Tari!" Jantung Anyelir berdetak berpuluh-puluh kali lipat. "Lo nggak apa-apa, Tar?! Batari!"
Mata itu saling beradu, Anyelir membeku melihat keadaan yang bisa disebut tidaklah baik. Bane berani melakukan tindak kekerasan pada Batari? terlebih Batari adalah seorang perempuan?
Tapi ada yang lebih menyorot perhatian Anyelir, bukan lagi soal tindakan Bane yang berani berbuat semaunya. Melukai Batari seolah gadis itu adalah boneka yang mudah untuk dihancurkan, mainan yang mampu dibuang saat sudah tak lagi sayang. Atensi Anyelir terkecoh oleh tatapan Batari, atensi Anyelir tak bisa beralih dari jelajah pandang yang nampak berbeda.
"Pergi!" bentak Batari dengan nada gemetar menahan tangis.
Alih-alih pergi Anyelir malah terduduk menghadap Batari, rasanya sesak melihat Batari dengan sengaja memendam keadaan. Rasanya tak kuasa melihat Batari lebih memilih marah daripada menangis, rasanya sulit mengutarakan rasa sakit, barangkali di mata Batari melemparkan aura kebencian lebih baik daripada berteriak bahwa dirinya menderita.
"Tar ... lo—"
"Pergi! Pergi Anyelir ... pergi!!!"
"Lo sebenarnya kenapa, sih?!" Anyelir mendongak, menatap tajam Bane yang malah membelakangi dirinya seperti sengaja menulikan pendengaran. "Mas Bane ini kenapa?! Mas Bane kok tega nendang Tari! Mas Bane Tari itu cewek!"
"PERGIIIIII!" Batari berteriak seperti kesetanan, yang lebih membuat Anyelir bertambah bingung namun terselip goresan sakit di hati karena teriakan Batari terdengar frustasi, terdengar pilu tapi tak ingin menangis.
Dunia ini terlalu penuh kata hipokrit, ada yang mengaku pintar rupanya sama saja, semenjana. Ada yang mengaku kaya, rupanya tak kalah beda dengan modis bergaya rumah tak ada, ada juga yang nampak s****l bertabur hati baik yang mempesona. Dan terakhir terlihat baik-baik saja padahal banyak nyatanya terluka. Manusia, kumparan drama, bergelut di atas panggung sandiwara bernama dunia. Menderita, tertawa bahagia, rapuh tak berdaya, semangat bak api membara, atau memilih pergi karena hidup sudah tak bermakna. Ajaibnya, Sang Pencipta adalah penonton setianya.
"LO TERLUKA, TAR!" Anyelir tak kalah berteriak. Hatinya sesak bila Batari begini, seolah Anyelir sebagai sahabatnya memang tak pernah berguna. "Hati dan fisik lo terluka."
"Pergi ...." Batari merunduk, napasnya tersengal nampak memburu.
"Tar ... Lo di tendang Mas Bane ... Lo ada ... Lo ada saksi ... ada saksi gue jadi ayo kita laporin ... laporin aja kalo di—" Anyelir berdiri menatap Bane dengan geram. "... MAS BANE NGOMONG DONG! ini kenapa sebenarnya? kenpaa Mas Bane ngelakuin itu? Gila ya! Kalian kenapa, sih!"
"PERGIIIIIII!"
"BATARI! Lo terluka, Tar ... terluka!"
"Pergi atau gue nggak pernah mau ketemu lo lagi!" Batari berani menatap Anyelir walau matanya sudah berair, pipinya basah, ada bulir kristal yang meluncur begitu bebas.
Tiba-tiba ponsel Anyelir berdering, ia bingung sekarang. Terperangkap diantara pilihan, Papanya sedang mengalami kesulitan, tapi keadaan Batari juga tidak baik-baik saja. Kenapa bisa di hari mendekati perayaan agensinya hal ini terjadi? di saat semua orang sibuk berkumpul, menghilangkan penat atas pekerjaan yang menggila. Mereka bertengkar seperti preman kehabisan waktu baku hantam. Anyelir frustasi.
"s**t!"
Batari bangkit, meski rasa nyeri di kakinya begitu terasa ngilu. Ia berjalan dengan kaki yang terseret, melewati Bane menuju mejanya, ada kunci mobil milik Anyelir yang tersimpan di sana. Tangannya meraih, berbalik menatap Bane sesaat dengan penuh ketajaman siap memburu. Bane bungkam setengah mati. Entah apa yang terjadi setelahnya kalau Anyelir akan memperpanjang masalah ini.
Gadis itu, dengan wajah yang pucat seperti tak berdaya menghampiri Anyelir. Meraih tangannya hingga kunci mobil itu beralih kepemilikan. "Pergi ... jangan jadi anak durhaka kayak gue!"
"Tar ...." Anyelir nyaris menangis. Tidak, maksudnya, sungguh ia sudah tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi terkumpul karena rasa sesak. "Tar ... sorry, gue ... gue gatau harus giman—"
"Pergi sebelum giliran gue yang tendang kaki lo!"