Janu berlari dengan satu koper yang menggelinding di tangan, seharusnya ia briefing sebelum berangkat menuju Washington. Tapi apa daya, Janu terlambat sebab ban mobilnya pecah di seperempat jalan tadi, alhasil ia harus memutar otak untuk sampai dengan tepat waktu. Meski terpaksa meninggalkan mobil dan berlari mencari taksi, tetap saja Janu terlambat.
Briefing dengan produser adalah kebiasaan yang sering Janu lakukan sebelum berangkat menuju lokasi syuting, tapi itu seharusnya terjadi satu jam yang lalu. Dan benar rupanya, ritual itu telah usai kala Aruna dan Bella yang dengan santai keluar dari lift menuju lobby.
Mereka berpapasan. Janu memfokuskan pandang pada Aruna. "Run!"
Lelaki yang sama-sama menggeret koper itu menghampiri Janu, disusul dengan Bella di belakangnya. "Dari mana aja, Pak?!"
"Sorry ... ban mobil saya pecah tadi! briefing dengan Pak Mahdi gimana tadi?"
Aruna yang semula menggeret koper dilepaskan begitu saja, menatap Janu dengan hawa-hawa kesal tapi tak bisa dilampiaskan. Sebagai asisten sutradara, peran Aruna adalah mengatur schedule juga memenuhi berbagai timeline yang disediakan sesuai dengan arahan call sheet—semacam lembar harian panggilan berupa jadwal yang dibuat astrada.
"Udah selesai! nanti saya jelasin di pesawat, Pak!" raut wajah Aruna ditekuk kesal, sebab sudah menunggu Janu hampir lima belas menit tak kunjung datang. Alhasil semua pekerjaan dari briefing tadi diserahkan pada Aruna.
Si assisten sutradara itu kembali menggeret koper, berjalan melalui Janu tapi langkahnya terhenti seketika saat Janu menarik lengannya. Aruna menoleh.
"Apalagi, Pak?"
"Saya ikut mobil kamu, ya?" cengir Janu, wajah penuh permohonan ditunjukkan agar Aruna mau memberinya tumpangan meski beberapa hari sebelumnya mereka bertengkar hebat.
Janu dan Aruna sempat bertengkar perkara Anyelir yang tahu sesuatu tentang Bella dan masa lalunya dari Aruna, memang pada saat itu Janu terlampau dikuasai emosi sampai-sampai Aruna babak belur dibuatnya. Tapi hal itu tidak mungkin sampai berakhir lama, Janu mengakui bahwa yang dilakukannya memang salah, meski awalnya keras kepala.
"Saya ikut DOP kita ... Pak Gibran, dan perlu Bapak tahu satu mobilnya tidak cukup karena banyak sekali alat-alat kamera!" sengit Aruna.
"Nggak apa-apa saya berdes—"
"Ikut dengan mobilku saja, Jan." Bella dari arah belakang yang semula hanya terdiam kini menghampiri.
Aruna menatap Janu masih kesal, menoleh pada Bella lantas pada tangannya yang digenggam Janu. Lelaki itu menghempaskan cengkraman Janu. "Tuh!"
Lantas beranjak dari hadapan Janu dengan memasang tampang kesal, sikap Janu akhir-akhir ini terlampu pemarah, pemaksa, juga berbibir pedas. Wajahnya tak pernah damai, tatapannya selalu terlihat menyiksa, Aruna menyadari pasti terjadi sesuatu antara Anyelir dan Janu. Tapi apa daya, Aruna malas harus terlibat dalam hubungan mereka, ingin dia membantu Anyelir, hanya saja kariernya tidak akan selamat kalau ia nekat.
"Saya ikut Aruna saja," tolak Janu.
"Tapi mobilnya penuh,"
"Masih ada mobil yang lain ... saya ikut yang lain saja." Janu berbalik meninggalkan Bella.
Hubungannya dengan Anyelir sedang diambang kehancuran, ia tak mungkin menambah penderitaan gadisnya dengan selalu bersama Bella padahal masih banyak tumpangan lain yang bersedia membawa Janu ke bandara. Meski waktu mereka tidak banyak, kalau pun begitu minimal ia mencari taksi.
Sesampainya di basement, sialnya hanya mobil Bella yang tersisa. Semua crew sudah berangkat. "Mereka sudah berangkat semua?!" Janu membalikan tubuhnya melihat Bella.
"Yang ikut briefing hanya DOP, gaffer, clapper, sisanya departemen kamera semua." Bella mendekat ke arah Janu. "Kenapa kamu jadi pelupa? kamu sendiri yang membuat jadwal pemberangkatan awal dan akhir."
"Bukan saya, itu tugas Aruna." Janu mengeluarkan ponselnya, ada notifikasi beberapa panggilan tak terjawab dari Anyelir, ia malas mengangkat. Tujuannya membuka ponsel adalah melihat jam guna memastikan Janu tiba di bandara tepat waktu.
"Yaudah ... ayo masuk ke mobil aku, kita bisa ketinggalan pesawat kalau begini." Bella berjalan ke arah mobilnya, senyumnya terukir seolah puas melihat keadaan Janu.
"Saya naik taksi aja!"
"Nggak ada waktu, Genta ... kita harus cepet!"
Janu menghela napas panjang, ia harus profesional dengan mengenyampingkan perasaan pribadi. Yang terpenting sekarang adalah datang ke bandara tepat waktu. Janu berjalan ke arah Bella, hendak menbuka pintu mobil, tapi ia mematung saat pesan dari Anyelir masuk.
From : Pacar
Kamu di mana, Jan? aku butuh kamu.
***
Kata orang, definisi sakit tak berdarah adalah ketika menyatakan cinta berujung penolakan. Memperjuangkan perasaan hanya bertepuk sebelah tangan, sudah berusaha kendati tetap sia-sia. Bagi Anyelir, bukan itu maknyanya—sakit tak berdarah adalah ketika melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana lelaki pertama yang dicintai kesakitan. Pahlawannya kalah, kalah dengan hawa nafsu dan jeratan kelambu masa lalu.
Di sudut rumah sakit, di depan ruang tunggu kasat mata. Bahu Anyelir bergetar, dunia seolah porak poranda, semacam hujan meteor yang manghantam bumi menyisakkan lubang hitam tak mendasar. Sakit rasanya. Raungan itu, senandung pilu antara rasa sakit dan perlawanan diri menggema di sekujung koridor rumah sakit. Kursi kayu, berlapis busa empuk terasa menyakitkan di b****g Anyelir. Kepalanya merunduk pasrah.
"Lir ...." senandung surga yang lembut seperti kapas tipis berusaha menenangkan Anyelir sejak tadi, tapi selembut apapun itu tetap tak berguna.
"Lir ... makan dulu, kamu dari kemarin siang belum makan. Tidur juga belum kayaknya. Makan, ya?"
Masih merunduk, Anyelir enggan menggerakan kepalanya menghadap sang suara surgawi. Sejak kemarin siang Mihir masuk rumah sakit, sesak napas juga PTSD-nya kambuh, Anyelir tak bisa makan bahkan untuk memejamkan mata barang sedetik saja rasanya berat. Mihir hanya dapat terkendali dalam pengawasan obat, jiwanya belum mampu memenangkan perang melawan nafsu juga emosional masa lalu. Sehingga, hampir tiga jam sekali Mihir akan ngamuk-ngamuk dan meraung seperti menerima siksa atas perbuatan dosa.
"Alir nggak laper, Bun."
"Tapi kamu harus mak—" Lanjen berhenti berucap, percuma memaksa Anyelir sekuat tenaga. Sekali tidak Anyelir tetap tidak. Sulit sekali membujuk gadis keras kepala seperti Anyelir, jika terus begini Anyelir bisa sakit. Lanjen yan semula duduk kini berdiri di hadapan Anyelir, menangkup wajahnya lembut. "Kalo begitu tunggu di sini, ya?"
"Bunda mau ke mana?"
"Beli makan, kamu harus makan!"
"Nggak usah, Bunda ... Alir nggak laper." Anyelir dengan wajah cemberut menggeleng pelan.
"Kalo kamu nggak mau makan untuk dirimu sendiri, setidaknya makanlah demi Bunda. Kalau kamu sakit, nanti siapa yang bantu Bunda jagain Ayah?"
Telak sudah. Saat hidup rasanya sudah tak lagi berharap pada sesuap nasi, Anyelir hanya bisa terdiam menanti cahaya. Terlalu hipokrit rasanya berpegang teguh pada harapan, sebab hal itu tak pernah kunjung melintas melewati diri. Harapan adalah duri, harapan adalah ranjau, harapan adalah belati bagi Anyelir. Belasan tahun Anyelir bergantung pada harapan, semoga dapat mengenali wajah seseorang bila rutin menjalani terapi. Itu semua bohong, harapan menggores Anyelir, harapan meledakkan Anyelir, harapan menusuk Anyelir. Harapan hanyalah kepalsuan di mata Anyelir.
"Iya, Bunda." Lebih baik berusaha terpaksa, daripada tersenyum semoga berharap.
Lanjen beranjak, Anyelir kembali membiarkan cairan sebening kristal mengalir, melewati setiap lekuk pipinya. Rasanya hangat, seperti pelukan, seperti dekapan, ia merindukan Janu. Hubungan dengan Dewa-nya tengah renggang, seperti ada dinding pembatas yang menambah jarak antara keduanya. Langit kala itu seolah murka, menyambut hangat amarah Janu dengan rintik sendu penghantar nyanyian pilu. Sampai sekarang, Dewa-nya menghilang, menenangkan pikiran, entah pergi ke mana, entah sedang mempersiapkan apa, tapi yang jelas pesannya belum berubah menjadi 'Terbaca'. Panggilannya diabaikan, tak sedikitpun mendengar berita.
Tapi ingatan pada Janu hanya berlangsung sekejap, atensinya teralikan saat jeritan pilu itu kembali terdengar dari balik pintu ruangan. Mihir kembali mengamuk, bahkan para perawat pun turut berlarian menenangkan. Ruangan yang dipakai Anyelir khusus VVIP, tapi departemen kejiwaan di rumah sakit yang berada di ujung gedung ini hanya berlantai dua. Jadi, meski ruangan yang dipakai Anyelir terbilang mewah, rasanya keramaian masih setia menyapa.
Mihir menjerit lagi, kali ini lebih kencang. Di dengar dari suaranya, pahlawannya itu sudah tak lagi sesak seperti sebelumnya, napasnya kala itu pendek, di ujung tanduk seperti nyaris di ambil nyawa. Anyelir gemetar, mondar-mandir di depan pintu ruangan enggan untuk masuk. Sebab jeritannya akan semakin menjadi saat Mihir melihat Anyelir, masa lalu memang kejam, sampai seorang ayah pun takut berhadapan dengan anaknya karena menerima banyak dosa.
Jeritannya semakin kencang, bahkan terdengar suara benda jatuh tadi. Tubuh Anyelir gemetar hebat, air dalam pelupuk sudah tak bisa dibendung. Pahlawannya, cinta sejatinya, ayah tersayangnya tengah berjuang melawan dirinya sendiri. itu terlalu menyakitkan bagi Anyelir.
Brakkk!
Pintu ruangan di buka paksa. Mihir berdiri di ambang pintu dengan selang infuse yang sudah terlepas. Pandangannya kosong, napasnya tersenggal. Anyelir beradu pandang sekejap, tubuhnya ditarik paksa meliput keadaan Mihir. Tak mampu berkata-kata selain terkejut, dengan mulut setengah terbuka. Pahlawannya, kalah.
Tatapan itu, hanya berlangsung sesaat, sebab Mihir tiba-tiba kembali ketakutan melihat wajah Anyelir. Telinganya terasa berdengung sampai di tutup paksa. Mihir berlari sekuat yang ia mampu menjauh dari Anyelir, hanya sekejap mata membuat Anyelir baru tersadar lantas menjerit.
"Eh ... AYAH!" Anyelir ikut berlari. "AYAH TUNGGU!" di susul dengan tiga orang perawat laki-laki berbaju serba putih di bekalang Anyelir. "AYAH! AYAH MAU KE MANA?!" tangis Anyelir menjadi.
Mihir berlari, semakin kencang menuju tangga melewati kerumunan orang yang kian bergerak menaruh atensi bahkan tak sedikit sengaja meliput keadaan sekitar dengan ponsel. Apalagi saat mereka tahu yang menajdi pusat kehebohan adalah Mihir—ayah kandung seorang artis cantik bernama Berta Bee, bagusnya gadis itu juga ada di tempat. Keuntungan satu pihak bagi para pengejar gosip untuk berita yang tidak-tidak.
"ARGHHHHHHHH! MAAF ANYELIR! MAAFFFFFF! ARGHHHHHHH!"
"AYAH!!!" Mihir masih berlari seperti orang kehabisan akal sembari menjerit-jerit, ia histeris entah apa penyebabnya Anyelir tidak tahu. Melalui lobby yang sangat ramai, banyak orang asing sengaja ditabrak apabila menjadi penghalang baginya melangkah.
"AYAH!" Anyelir nyaris ikut menabrak orang. "Maaf ... maaf." Ia menoleh pandang sekejap pada lelaki yang tak sengaja berpapasan dengannya hampir bertabrakan.
"PAK MIHIR!!" teriak para perawat itu menginterupsi. Anyelir kembali berlari mengejar.
Beruntung rumah sakit ini semacama mempunyai alarm khusus saat seorang pasien histeris atau kabur, kala Mihir melompat menuju luar ruangan. Wajah yang nyaris berseri seperti menginjak pintu surga memudar, beberapa perawat yang jumlahnya jauh lebih banyak mengepung seperti maling yang kedapatan mencuri uang.
Satu Mihir, berbanding lima orang yang membuat setengah lingkaran di depan pintu masuk. Tiga lagi dari arah dalam gedung dengan Anyelir yang menghampiri berpeluh-peluh juga napas tersenggal lelah. "Ayah ... udah, ya, Yah?" bujuk Anyelir.
Bukan hanya perawat yang mengepung, tapi satu departemen rumah sakit ini turut menjadi penonton gratis atas kejadian tak terduga ini. Kali pertama saat Mihir masuk rumah sakit menjadi sehisteris itu. Anyelir belum tahu penyebabnya kenapa sesak di d**a Ayahnya kambuh sampai kenangan-kenangan masa lalu terukir kembali, pahlawannya melemah.
"Ayah ... udah dong." Anyelir menyugar rambutnya, bahkan setengah ditarik paksa. Pipi, hidung, mata sudah merah merona. Persetan dengan awak media, keadaan kacau seperti ini mana sempat Anyelir menata diri. Dari kemarin siang saja ia belum sempat mandi, lihatlah bawah matanya yang menghitam.
"MAAF ... MAAF ANYELIR ... INI SALAH ... SALAH!!" Mihir kembali menutup kedua telinganya.
Bayang-bayang masa lalu melintas di depan mata, suara-suara lantunan amarah mendengung di telinga. Anyelir-nya terlihat tak berdaya, Anyelir-nya terlihat marah, Anyelir-nya terlihat menyahlahkan. Mihir kembali menjerit histeris. "ARHHHHHH!! MAAF!"
Atas ketidaksadaran Mihir yang semakin histeris, perawat berhasil menyergapnya. Salah seorang dokter membawa jarum suntik dan terpaksa membius Mihir, hingga lelaki yang nampak lelah itu tertidur tenang di atas pangkuan ranjang. Anyelir bernapas lega.
Tubuh Mihir di bawa masuk oleh beberapa perawat, sementara Anyelir hanya menatapnya nanar. Apa sebenarnya yang membuat Mihir kembali terpacu hingga histeris lagi, pasti ada sebab lain yang menjadi alasan utama kenapa penyakitnya bisa kambuh. Tapi Anyelir tidak tahu, sungguh Anyelir hanya bisa pasrah larut dalam tangisnya di tengah-tengah kilatan cahaya kamera mengekspos seluruh tubuh.
Kepala Anyelir rasanya pening, dunia seolah berputar semakin kencang. Pandangannya nyaris mengabur, berdiri seperti tak ada otot juga tulang yang menopang, Anyelir lemas seketika. Dirinya terduduk di aspal depan rumah sakit dengan telinga yang terasa berdengung oleh sahut-menyahut omongan orang sekitar. Ia memegangi kepalanya sembari menangis. "Ayah ...."
Sahut-menyahut beribu tanya itu berhenti kala sehelai jaket menutupi setengah tubuh Anyelir yang menjadi pusat perhatian. Bau mint menyeruak, membuat tangisannya semakin histeris. Anyelir lelah, ia bingung harus bagaimana sekarang. Pikirannya seperti hujan badai berkecamuk menerpa setiap saraf untuk saling menyakiti, hanya dekapan yang ia butuhkan.
Dan Janu datang mendekapnya dengan wajah Anyelir sengaja tertutupi jaketnya. "Saya di sini, Lir."
Anyelir melampiaskan semuanya, seluruh kelelahan jiwa raganya ia tumpahkan. Seluruh beban dipundaknya ia bagi pada Janu. Dewa-nya datang, Dewa-nya penyelamat, Dewa-nya penenang seolah dengan sengaja menjadi tempat untuk berekeluh kesah. "BUBAR!" teriak Janu.
"BUBAR ATAU SAYA TELEPON POLISI ATAS LAPORAN SEBAGAI PENGUNTIT DAN ANCAMAN BERBAHAYA?!" Janu menatap tajam orang-orang gila yang memanfaatkan keuntungan dari kemalangan Anyelir, geram ia dengan otak menjijikan mereka. "BUBAR!!!" teriak Janu lagi.
Lantas kerumunan itu memudar, siapa yang tidak takut dengan teriakan seperti harimau yan mengamuk? belum lagi mengancam membawa-bawa polisi? satu-persatu orang-orang meninggalkan Anyelir. Janu semakin mempererat pelukannya, membiarkan sang pujaan hati menangis sejadi-jadinya.
"Nggak apa-apa. Nangis aja, sayang." tangannya menepuk pundak Anyelir lembut. "Maaf ... maaf saya mengabaikan kamu." Ia mengecup pucuk kepala Anyelir lembut.
Matanya menjelajah ke arah lain, sesak sekali rasanya menyaksikan keadaan Anyelir di luar kata baik-baik saja. Egois Janu mementingkan amarahnya padahal dengan jelas Anyelir sedang dalam masa terpuruk, ia baru tahu kalau Mihir menderita penyakit mental tertentu. Perasaan di dalam dadanya menyeruak merasa bersalah. Sampai kedua manik Janu membentuk perisai bening yang siap meluncur saat Janu berkedip, lelaki itu nyaris menangis melihat kondiri Anyelir.
Wajah yang pucat, mata yang sembab, penampilan kacau juga tangisan pilu. Tapi tiba-tiba isak tangis gadis itu berhenti, bahkan tubuhnya tak lagi gemetar hebat. Anyelir terkulai lemas di dalam dekapan Janu. "Lir ... Lir?" Janu menyingkirkan jaket yang menutupi wajah cantik Anyelir, mata gadis itu tertutup rapat.
"Anyelir! bangun, Lir!" panik sudah Janu. "LIR BANGUN!" matanya menjelajah sekitar sembari mengguncang-guncang tubuh Anyelir yang lemas tak berdaya. "SUSTER!! SUSTERRR!! DOKTER!! SIAPAPUN TOLONG PACAR SAYA!!!"