Mimpi itu, hanya sebatas bunga tidur ciptaan ilusi saat otak ingin berkelana walau tubuh rasanya mmebutuhkan tempat berbaring. Katanya, setiap orang pasti mengalami mimpi, setiap tidur pasti bermimpi. Tapi tidak bagi Anyelir, selain mimpi buruk, dalam kenyataanya bunga tidur itu hanya menampilkan bayangan gelap tak berujung seperti mata terpejam lama.
Kini, kegelapan itu perlahan memudar, setiap jengkal cahaya perlahan menusuk kelopak mata. Meski berat, keduanya ingin segera terbuka lebar. Anyelir tersadar. Ruangan serba putih masih sama, ada selang infuse yang menancap di lengan juga tautan lembut tangan kekar Janu. Matanya membola saat orang pertama yang dilihatnya adalah Janu. Bagaimana bisa?
Anyelir mengingat-ingat kejadian beberapa jam yang lalu, di mana Mihir histeris dengan Anyelir yang tergeletak di lantai lalu setelahnya semua menggelap. Baja hitam menelan paksa kesadarannya, seolah ringan beban di pundak Anyelir mulai terasa hanya dengan sekejap mata tertutup menendang sedih yang tak kunjung sirna.
"Lir ...." lantunan Dewa-nya memanggil seperti syair Apollo.
Tatapan Anyelir pada tangan yang bertaut itu tak bisa diartikan, ada rasa sakit yang masih bermuara saat pertemuan terakhir mereka. Pertengkaran memang menyiksa. Sakit rasanya mengingat kejadian beberapa hari lalu, Anyelir lantas melepaskan genggaman tangan itu dan membuang wajah.
Janu baru tersadar maksudnya, emosi Dewi-nya masih hinggap, belum mengudara. Ia juga sadar ucapannya tempo hari begitu menyudutkan Anyelir, Janu saat emosi memang tak pandang bulu memakai mulutnya sebagai senjata. Benar-benar pedas juga menusuk.
Meski lemas, tubuh Anyelir dipaksa terduduk sebab ia khawatir dengan keadaan sang Ayah. Janu sontak terkesiap lantas berdiri. "Lir ... mau ke mana?" tangan Janu memegangi pundak Anyelir.
Gadis itu berontak. "Lepas, Jan ... aku harus liat kondisi, Ayah!"
"Ayah baik-baik aja, Lir ... Ayah tidur. Udah kamu istirahat aja, ya?" Bujuk Janu.
Masih membelakangi Janu, d**a Anyelir terasa sesak saat Janu mulai melantunkan perhatian lebih padanya. Padahal beberapa hari yang lalu, pertengkaran itu terjadi saling menyalahkan sampai benteng pemisah antara keduanya menjulang tinggi oleh keegoisan.
"Kamu ngapain ke sini?! bukannya aku orang egois ya di mata kamu?!"
Janu menghela napas panjang, urusannya dengan Anyelir memang belum selesai. Tapi, ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas siapa yang paling egois? siapa yang menutupi masa lalu juga siapa yang bersalah? Lebih baik saling menguatkan daripada saling menuduh.
"Jangan bahas itu, ya? kamu harus fokus sama kesehatan kamu dan Ayah." Janu mengelus lembut pucuk kepala Anyelir.
Beruntungnya dokter masuk dibuntuti oleh Lanjen dengan wajah khawatir, Janu bernapas lega. Setidaknya ini akan mengulur pertengkaran mereka sebab Anyelir harus beristirahat dan mendengarkan saran dari dokternya. Lanjen mendekap Anyelir sekejap, lantas membiarkan dokter memeriksa keadaan putrinya.
Anyelir kembali terbaring, satu dua matanya di sorot dengan cahaya senter kecil. Stateskop menelisik setiap organ tubuh, dari jantung menuju lambung. Tensimeter bekerja, memompa tekanan darah Anyelir yang sayangnya begitu rendah. Anyelir stress.
Dokter juga seorang suster menatap Anyelir usai memeriksa setiap ritual pengecekan keadaan. "Yang Nona Berta Bee sekarang rasakan, bagaimana?"
"Nggak apa-apa kok, Dok. Cuman pusing aja," Anyelir si keras kepala masih berusaha terlihat baik-baik saja.
"Tapi Anda harus tetap istirahat, Anda mengalami dehidrasi ringan karena sejak kemarin belum minum apalagi makan. Karena stress juga, tekanan darah Anda sangat rendah. Jadi ... mohon untuk beristirahat dengan cukup, ya? saya tinggal dulu." Dokter menatap satu-persatu orang yang berada di ruangan ini. "Mari," pamitnya.
Satu keinginan Lanjen melintas, ia lantas mengikuti dokter tadi untuk berbicara. "Nak Janu?" tanya Lanjen pada Janu pelan. "Boleh ikut, Bunda?"
Janu yang semula memandangi Anyelir debgan lekat lantas mengangguk paham, tersenyum penuh arti. "Tentu." Janu kembali tolehkan pandang pada Anyelir untuk meminta izin. "Saya ikut, Bunda dulu, ya?"
Anyelir malah membuang muka, Janu tahu memang akan sedikit sulit membujuknya. Ia lantas mengikuti ekor Lanjen keluar ruangan. Lanjen berbicara dengan dojter tadi diikuti oleh Janu untuk menyimak obrolan keduanya.
Lanjen meminta pada dokter untuk mengizinkan Anyelir beristirahat di rumah di bawah pengawasan dokter keluarga, jika Anyelir masih berada di lingkungan rumah sakit dan menyaksikan kondisi Mihir yang selalu berubah-ubah kadang baik kadang menurun akan semakin membuat Anyelir stress. Hal itu yang memicu tekanan darah Anyelir menurun, dan akan sangat berbahaya bila dibiarkan. Selain itu Anyelir akan sulit untuk dibujuk makan, akan ada sejuta alasan baginya hanya karena memiliki kehawatiran berelebih.
"Itu ... boleh. Apalagi kalau memang ada dokter keluarga, sudah pasti aman." Dokter tadi mengangguk paham. "Hanya saja, tetap harus ada keluarga yang mendampingi."
Tatapan Lanjen langsung tertuju pada Janu, tapi memang kalau bukan Janu siapa lagi? tidak mungkin juga Lanjen meninggalkan Mihir di rumah sakit sendirian. Janu tersenyum pulas, menanggani sorot mata penuh permintaan dari Lanjen.
***
Janu mengeluarkan kursi roda dari taksi yang mengantarnya, sebab mobil Janu masih di bengkel, perkara ban pecah sebelum berangkat ke kantor. Sejak tadi ponselnya tak pernah berhenti berdering, ada notifikasi empat puluh panggilan tak terjawab dari Aruna, delapan belas panggilan tak terjawab dari Bella, dan lima panggilan tak terjawab dari Pak Mahdi. Janu sadar sikapnya tidaklah profesional, tapi apa boleh buat? ia tidak mungkin meninggalkan pujaan hatinya sendirian dalam keadaan sakit.
Lelaki itu membantu Dewi-nya keluar dari mobil lantas menaiki kursi roda, dengan perlahan Janu membawa Anyelir masuk ke dalam rumahnya yang sunyi juga sepi. Ia ingat bahwa Anyelir belum makan, lantas tubuh Anyelir di dorongnya menuju ruang keluarga dekat dapur indoor, Televisi dinyalakan agar Anyelir tidak bosan. Ia sengaja membiarkan Anyelir istirahat di sofa terlebih dahulu agar gadisnya tidak kesepian.
"Saya masak buat kamu dulu, ya?" Janu membantu Anyelir meregangkan tubuhnya di atas sofa.
"Nggak usah!"
"Saya nggak dengar, Lir. Saya cuman dengar kata iya." Janu tersenyum pulas lantas melarikan diri menuju dapur milik Lanjen. Biasanya sang ibu rumah tangga itu paling anti kalau urusan dapurnya yang tercemari oleh orang lain. Tapi berhubung Janu sendirian, tak ada salahnya memasak. Meski ia jauh dari kata ahli, toh ada internet.
Setibanya di dekat kompor, Janu mengeluarkan ponsel. Lagi-lagi panggilan dari Aruna, Janu mengabaikan itu. Lantas meneleurusi pencarian di internet 'Cara Membuat Bubur Ayam Praktis'. Janu melihat-lihat resep yang menurutnya terlampau pusing, mirip rumus matematika, semuanya ribet. Tapi tak apa, demi dedikasinya untuk sang Aphrodite, Janu rela.
Lelaki itu memakai celemek, tapi bingung harus memakainya bagaimana? berkali-kali ia mencari cara untuk ikatan yang pas tapi tak kunjung berhasil. Janu mengikat asal yang penting tubuhnya tertutupi celemek dari bahan-bahan mengejutkan.
"Cuci beras sampai bersih." Janu mengerutkan dahi saat membaca langkah awal dari mmebuat bubur. Matanya menelusuri satu-persatu wadah yang terletak di sekitaran dapur Anyelir.
"Berasnya di mana? apa Anyelir nggak punya beras." Semua lemari tertutup rapi, sampai Janu buka satu-persatu pun belum menemukan titik terang mengenai beras. Baru memulai padahal, tapi dirinya sudah frustasi mencari keberadaan beras.
"Kenapa? pusing, Jan?" Sebetulnya jarak antara sofa Anyelir dengan dapur indoor dekat sekali, bahkan tidak terhalang apapun. Wajar kalau Anyelir duduk situasi di dapur situ terlihat. Wajah Janu yang kebingungan sedikitnya membuat Anyelir geli sendiri.
"I—ini beras ... beras di mana, ya, Lir?"
"Di paling ujung dekat kulkas, ada dispenser beras! gitu aja nggak tahu!" ketus Anyelir. Sebetulnya hati ia sudah luluh sejak Janu dengan telaten mempersiapkan kebutuhan Anyelir, juga urusan administrasi dan kerelaan mengurusnya sendiri di rumah demi kebaikan Anyelir.
Tapi permasalahan belum terselesaikan dengan baik, Anyelir ingin Janu terbuka, ia terbuka dan semuanya selesai. Tapi ia gemas sendiri melihat tingkah Janu yang kerepotan di dapur, mana celemek yang digunakan terbalik.
"Tapi, Lir." Janu berdiri dengan menenteng panci kecil berisikan beras, mengerutkan dahi sembari menatap Anyelir bingung.
"Kenapa?"
"Kalo cuci beras itu pakai sabun nggak? biar bersih."
"Hah?!"