6. Hukuman

1630 Kata
Menjelang jam sembilan malam, Wendy belum beranjak dari meja kerjanya. Ia masih berkutat dengan beberapa dokumen yang sebenarnya bisa ia kerjakan esok hari. Namun, karena Millian meminta bertemu jadilah ia mengerjakan semuanya sekarang, sembari menunggu Millian yang masih melakukan pengecekan ke gudang. Wendy menatap jam yang berada diatas mejanya, jam sembilan hampir lewat tapi Millian tak kunjung menghubunginya, ia menghela nafas kemudian merapihkan barang bawaannya setelah mematikan layar komputer yang ia gunakan.   Wendy mengedarkan pandangan, menyisir setiap sudut ruangan yang memang telah kosong, tak ada siapapun kecuali dirinya.   “Menunggu lama?”   Wendy meneguk ludahnya, perasaa gugup tiba-tiba hinggap begitu suara bariton itu menyapanya. Ia lantas berbalik, menatap Millian yang masih mengenakan stelan rapih berada di ambang pintu, pintu masuk ruang kerjanya.   “Ayo pulang.”   Wendy menahan tangan Millian yang hendak meraih tangannya. “Millian kita sudah sepakat.”   “Untuk itu aku memintamu menunggu, agar kita pulang bersama tanpa ada oranglain yang tau.”   Tubuh Wendy mematung saat mendengar rentetan kalimat yang di ucapkan Millian, terdengar sangat datar dan juga dingin. Lebih mengerikan dari terakhir kali ia bertemu. Wendy mengangguk dengan kaku, untuk menanggapi ucapan Millian.   Millian berjalan kearah Wendy kemudian meraih pergelangan tangan Wendy, menariknya dengan lembut.   “Dimana Carlos?” tanya Wendy begitu mereka memasuki lift.   Wendy merasakan Millian kini menatapnya dengan tatapan tajam. Ia melirik lelaki itu yang ternyata masih menatapnya. Namun lelaki itu justru mengalihkan pandangannya.   “Millian.”   “Dari sekian banyak pertanyaan yang bisa kau tanyakan padaku, kau bertanya tentang Carlos? Kau bercanda?” Millian menatap Wendy kembali, “Sepertinya benar, kau belum mengerti definisi tentang menjadi pasanganku Wendy.”   Wendy mundur satu langkah saat Millian mendekatkan dirinya. “A-apa maksudmu Millian?”   Ting!   Pintu lift terbuka tepat di basement, setelah itu Millian menarik Wendy kembali. Kali ini dengan sedikit kencang. Bahkan ia menghempaskan tangan wanita itu dengan sedikit kasar begitu ia membukakan pintu mobil untuk Wendy.   Wendy mendengus, keningnya mengerut menatap Millian yang kini telah duduk dibalik kemudi. Lelaki itu tampak sangat marah, kentara sekali kekesalan yang tercetak di wajah lelaki itu. membuat Wendy sedikit heran. Apakah Millian marah begini karena ada pekerjaan yang hasilnya tak sesuai keinginannya? Atau— karena ia bertanya tentang Carlos? Tapi—yang benar saja, ia hanya bertanya saja bukan melakukan sebuah pengkhianatan.   “Kau ini kenapa Millian? Jika ada pekerjaan yang tidak sesuai keinginanmu, jangan marah padaku! Asal kau tau, aku paling tidak suka dalam hubungan seperti ini. Aku bukan tempat pelampiasan amarahmu!”   “Aku juga paling tidak suka, pasanganku, milikku, menyentuh atau bahkan disentuh oleh orang lain!”   Wendy menatap Millian dengan berang. “Apa maksudmu? Aku hanya bertanya tentang Carlos, aku hanya memastikan perjanjian kita tetap terjaga. Aku tidak menyentuhnya, aku tidak disentuh. Kau ini gila atau bagaimana hah?”   Tangan Millian menggenggam erat kemudi, menahan amarah yang sebenarnya sudah siap untuk meledak sejak siang tadi. “Ini bukan tentang Carlos.” Ujar Millian dengan nada yang sangat dalam, nyaris seperti geraman penuh amarah.   “Lalu apa?!” seru Wendy.   Millian menepikan mobil yang ia kendarai, lalu menoleh, menatap Wendy yang juga tengah menatapnya. “Wendy.”   Millian melepaskan sabuk pengamannya, lalu mencondongkan tubuh tegapnya itu, menghimpit tubuh Wendy hingga tersudut pada pintu mobil.   “Jangan macam-macam Millian.” Wendy menahan d**a Millian dengan kedua tangannya saat lelaki itu terus saja menyudutkannya.   Seolah tuli, Millian justru kini dengan berani meraih dagu Wendy lalu melumat bibir kemerahan yang sejak pagi telah menggodanya itu. Sekali, dua kali, Millian melumat bibir itu, tapi tak ada balasan. Bahkan saat Millian menggigit pelan bibir itu, Wendy justru semakin mengatupkan bibirnya. Tidak membalasnya sedikitpun. Millian terkekeh pelan seraya menarik dirinya sendiri kemudian kembali menjalankan mobilnya setelah memakai sabuk pengaman lagi.   Sementara itu Wendy masih terdiam disudut, belum mengubah posisinya sama sekali. Ia mengerjapkan matanya beberapa saat sebelum memberanikan diri menatap lelaki itu.   “Kau ini kenapa Millian? Kenapa kau—menciumku?”   Millian tak menjawab, lelaki itu kembali memokuskan dirinya pada jalanan yang sebenarnya sudah cukup lengang. Hingga akhirnya Wendy sadar jika Millian tidak mengantarkannya pulang lagi, justru membawanya ke gedung yang sama dengan gedung dipertemuan pertama mereka dua hari lalu.   “Millian. Aku mau pulang.”   “Tidak! Tidak ada pulang untuk malam ini.”   “Kau tidak bisa seenaknya Millian!” seru Wendy.   “Aku bisa! Aku pasanganmu dan kau adalah milikku.”   Wendy mengepalkan kedua tangannya, “Sebenarnya kau ini kenapa?! Ada apa? Katakan!”   Millian lagi-lagi tidak menjawab, ia justru keluar dari dalam kendaraannya yang sudah terparkir apik di basement kemudian membukakan pintu untuk Wendy. “Ayo.”   “Tidak.”   Millian mendesis. “Pantas mantan suamimu bilang kau membosankan Wendy, selain membosankan, ternyata kau ini keras kepala.”   Wendy mendongak menatap Millian yang masih berdiri disisinya, rahangnya mengeras dengan tangan yang terkepal.   “Pantas calon suamimu pergi. Kau memang tidak peka dan juga benar-benar tidak bisa diajak bersenang-senang.” Tambah Millian.   “Millian!” Wendy bangkit, kemudian ia menunjuk wajah lelaki itu. “Kau! Kau tidak berhak menilaiku seperti itu Millian! Kau tak tau kejadian yang sesungguhnya, kau tak tau apapun!”   “Dan aku—bukan wanita membosankan!”   Millian mengeluarkan seringaiannya, menertawakan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Wendy. “Buktikan kalau kau memang tidak membosankan Wendy.” desis Millian setelah itu ia menarik tangan Wendy agar mengikutinya.   Millian berjalan dengan langkah lebar, diikuti dengan Wendy yang melangkah dengan sedikit terseok akibat dari tarikan yang dilakukan Millian. Mau tak mau, ia harus melangkah hampir seperti berlari karena langkah lebar Millian itu. Sampai didalam lift, Millian masih tidak bisa diajak berbicara, ia juga tidak melapaskan tangan Wendy barang sedikitpun, seolah lelaki itu takut ia akan pergi jika dilepaskan begitu saja, lelaki itu masih terus mengatupkan wajahnya dengan kencang dan juga mencengkram tangannya dengan erat. Terlihat sekali sangat marah.   “Millian!” tegur Wendy begitu mereka berhenti didepan salah satu pintu tepat dilantai sepuluh gedung itu.   “Masuk.” Ujar Millian.   “Millian!”   Millian menatap Wendy dengan tatapan tajam. “Masuk!” karena Wendy yang tak kunjung memasuki ruangan itu, akhirnya dengan sangat terpaksa Millian mendorongnya, membuat Wendy mau tak mau memasuki ruangan itu tanpa bisa melawan lagi. Ruangan yang ternyata merupakan unit apartemen Millian.   Millian mengunci pintu unitnya itu terlebih dulu sebelum mendekati Wendy yang masih berdiri ditengah ruangan. Langkahnya begitu tegas, bahkan gema dari sepatu yang bertumbukan langsung dengan marmer terasa begitu kuat, sangat mengintimidasinya. Membuat Wendy mundur kembali, berusaha menghindari lelaki itu.   Tatapan Wendy tak lepas dari tatapan Millian yang masih saja menatapnya dengan tajam, lelaki itu benar-benar marah padanya dan ia merasa ia memang tidak dapat dengan mudah lepas dari lelaki itu sekarang, meskipun ia terus melawannya.   Wendy menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan. Millian masih sangat muda, pasti ia hanya ingin mendapatkan perhatiannya. Dia tidak akan melakukan apapun Wendy. tenang saja. Pikir Wendy.   Tangan kanan Wendy terulur, membelai pipi kiri Millian secara perlahan. Rahang Millian mulai mengendur, tidak sekeras sebelumnya.   “Millian, jangan begini.”   Millian menepis lembut tangan itu dengan lembut, “Wendy, saat kau bilang setuju apa kau mengerti bahwa persetujuanmu berarti kau setuju menjadi pasanganku?” Millian membelai wajah Wendy yang terlihat mulai menegang, “Harusnya kau mengerti itu. tapi kenapa kau masih bersentuhan dengan lelaki lain? Ingat Wendy, saat kau menjadi pasanganku, kau hanya milikku dan aku tidak pernah memberi ijin kau bersentuhan dengan lelaki manapun.”   Wendy terus memundurkan langkahnya, saat Millian melangkah maju, semakin mendekatkan diri pada Wendy hingga kaki wanita itu terantuk pada sebuah kursi, membuatnya seketika jatuh terduduk diatas kursi empuk yang cukup lebar itu.   “Millian.” Wendy jatuh terlentang diatas kursi tersebut saat Millian semakin mendekatkan tubuhnya. “Millian! Jangan macam-macam.” Seru Wendy lagi seraya menahan tubuh Millian yang semakin menghimpit tubuhnya, saat Millian semakin dekat Wendy memalingkan wajahnya, menghindari ke bringasan lelaki dihadapannya ini yang sepertinya siap untuk menerkamnya.   “Wendy, kau melakukan kesalahan dan aku harus menghukummu.” Millian meraih dagu Wendy agar wanita itu menghadap kearahnya lagi. Setelah itu ia semakin mendekatkan wajahnya pada telinga Wendy kemudian mendesis pelan. “Kau bilang kau tidak membosankan bukan? Maka buktikan padaku.”   Wendy semakin menguatkan tangannya, menahan tubuh Millian. “Sebenarnya apa salahku Millian? Jangan membuatku bingung.”   “Salahmu?” Millian tertawa sengau. “Kau menyentuh wajah lelaki lain.”   “Siapa? Aku tidak—.”   “Saat makan siang.”   Glup!   Wendy meneguk ludahnya. Jadi karena itu? karena ia menyentuh wajah Johnny?   “Dia—dia hanya temanku Millian.”   “Aku tidak peduli.” Desis Millian sebelum akhirnya berhasil melumat bibir Wendy kembali. Millian memiringkan wajahnya, memperdalam ciuman yang ia lakukan pada wanita itu.   Sementara Wendy, ia masih berusaha menahan d**a Millian, ia bahkan berusaha mendorongnya. Namun semuanya terasa percuma. Kekuatan lelaki itu lebih besar dan lebih kuat sehingga membuat dirinya berada dibawah kuasa lelaki itu akan sangat mudah. Ciuman itu, lumatan itu tidak kasar, tidak juga terburu-buru. Berbeda dengan ciuman yang diberikan lelaki itu saat didalam mobil tadi. Ciuman saat ini, justru terasa lebih lembut dan tanpa tuntutan. Membuat sesuatu dalam hati Wendy perlahan mulai berdesir dan juga menghangat. Hingga tanpa ia sadari tangan yang Wendy gunakan untuk menahan d**a lelaki itu, kini telah berpindah, mencengkram kedua bahu kokoh lelaki itu. Berusaha mencari pelampiasan atas sensasi aneh yang semakin menguasai dirinya.   Wendy akui, ciuman Millian sungguh berbeda, ciumannya begitu memabukkan, seperti candu yang membuatnya kehilangan akal sehat.   Millian tersenyum disela-sela ciumannya, saat merasakan Wendy membalas lumatan bibirnya dengan lumatan kecil dan masih terkesan malu-malu. Lumatan yang terasa begitu polos, namun entah kenapa ia justru merasakan sensasi yang sangat berbeda daripada lumatan liar yang pernah ia rasakan sebelumnya. Terasa lebih menegangkan dan mendebarkan.   “Ahn.” Wendy mengerang saat merasakan bibirnya digigit kemudian disusul oleh benda lunak tak bertulang menerobos mulutnya, mengabsen setiap giginya dan membelit lidahnya dengan sangat sensual.   Wendy semakin memejamkan matanya, menikmati ciuman yang benar-benar membuatnya mabuk itu.   ***   Bersambung…   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN