Millian yang pertama terjaga dipagi hari itu, ia mengerjapkan matanya sesaat sebelum membuka matanya dengan sempurna. setelah kesadarannya kembali penuh, ia tersenyum tipis saat menyadari seseorang yang masih tertidur dengan lelap dalam dekapannya. Siapa lagi kalau bukan Wendy? wanita yang enam tahun lebih tua darinya itu masih terlelap dalam dekapannya dengan begitu damai.
Semalam mereka memang hampir melakukannya, jika Wendy tidak mengeluarkan air matanya mungkin saja Millian sudah menghabisi wanita itu, membuatnya mendesah dan mengerang semalaman. Namun Millian bukan laki-laki b******k yang akan memaksa wanita melayaninya, Millian masih punya hati, setidaknya ia akan menunggu sampai saat yang tepat, nanti.
Millian mengulas senyumannya saat melihat Wendy mulai terjaga. “Good morning Queen.”
Mendengar sapaan itu, Wendy seketika terbangun kemudian beringsut mundur, menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Millian. Setelah itu ia mengamati pakaiannya sendiri yang berada dibalik selimut, barulah ia bisa menghela nafas lega. Piama milik Millian yang ia kenakan masih lengkap, tidak tersingkap barang sedikitpun.
“Aku tidak melakukan apapun Wendy, jika itu yang kau takutkan.” Millian terkekeh pelan kemudian bangkit dari pembaringan lalu menunduk, menatap Wendy dengan sangat dekat. “Sebagai permintaan maafku karena membuatmu menangis, hari ini kau adalah ratunya. Aku akan melayanimu dengan baik dan mengikuti keinginanmu.”
“Kalau begitu, pergilah dari hidupku seperti sebelumnya Millian.”
Millian terkekeh lagi, tangannya terangkat mengusak puncak kepala Wendy. “Kecuali itu sayang.”
Wendy memalingkan wajahnya seraya mendesis. Kesal dengan jawaban dari lelaki muda dihadapannya ini.
Millian mengusak puncak kepala Wendy lagi, saat melihat raut sebal yang masih bertahan pada wajah cantik itu. kemudian ia berujar. “Mandilah, sementara aku akan memasak untukmu.”
Setelah mengatakan itu Millian beranjak, meninggalkan Wendy sendiri. Membiarkan wanita itu menikmati waktunya. Seperti yang ia katakan sebelumnya, ia hanya ingin memperlakukan wanita itu dengan baik, layaknya ratu.
Millian memang tinggal seorang diri, ia melakukan segalanya sendiri termasuk membersihkan unitnya ini. Sebenarnya bisa saja ia membayar asisten rumah tangga, namun sayangnya ia tak suka orang asing berada disekitarnya. Jadilah ia memilih melakukan semuanya sendiri.
Sementara itu Wendy masih terdiam ditempat tidur, masih mencerna ucapan Millian beberapa saat lalu. Lelaki itu—benar-benar ajaib. Padahal semalam dia terlihat sangat marah dan sepertinya akan sangat sulit menahan amarah lelaki itu. tapi saat ini, dia terlihat baik-baik saja seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi. Ia tak mengerti, sedikitpun tidak. Ataukah mungkin karena Millian masih sangat muda, sehingga emosinya masih belum stabil? Tapi tigapuluh tahun bukankah tidak semuda itu? dia sudah masuk pada usia lelaki matang yang tentu saja sudah dewasa.
Wendy menghembuskan nafasnya dengan panjang, seolah membuang beban yang berada dalam otaknya. Entah kenapa, memikirkan prilaku lelaki itu benar-benar membuatnya berpikir sangat keras. Terlampau sangat aneh dan tidak biasa untuknya.
Setelah beberapa saat barulah Wendy bangkit, lalu beranjak memasuki kamar mandi. Meneliti tempat itu sesaat, semua barang dalam ruangan ini semuanya telah berpasangan. Handuk yang tergantung ada dua buah, sikat gigi dan juga beberapa hal lain. Tampak sangat manis, karena Wendy tidak pernah berpikir Millian akan melakukan ini untuknya.
Wendy benar-benar menikmati waktu sendirinya di kamar mandi yang terasa sangat nyaman itu. berendam beberapa saat dengan air hangat yang menguarkan aroma terapi, lalu menyirami tubuhnya dibalik shower yang menyemburkan air dengan begitu deras. Tidak seperti di flat sederhananya yang harus selalu menghemat air. Disini benar-benar nyaman, bahkan sangat nyaman. Seumur hidupnya, ini adalah untuk pertama kalinya ia merasa senyaman ini. tanpa harus khawatir kehabisan air, atau mati lampu. Tidak mungkin kan ditempat semewah ini mati lampu sesering di flat nya?
Selesai mandi, Wendy keluar dari kamar mandi dengan bathrobe dan juga handuk dikepalanya. Ia mengerjapkan matanya sesaat begitu melihat kamar yang sudah rapih, bahkan ada satu set pakaian lengkap diatas tempat tidur untuk ia gunakan, sebuah dress berwarna peach dan juga pakaian dalam lengkap. Pipinya mendadak panas melihatnya, ia tak habis pikir bagaimana mungkin Millian membelikan juga satu set pakaian dalam untuknya?
Wendy menggelengkan kepalanya pelan kemudian terkekeh pelan. hari ini ia benar-benar menjadi ratunya? Benar-benar ratu? Sampai semua hal telah disiapkan oleh Millian seperti ini.
Wendy tak bisa menahan senyumannya lagi saat meraih pakaiannya untuk ia kenakan itu. Sepertinya ia akan sangat menikmati hari ini, jika memang ia akan diperlakukan bagai ratu. Kapan lagi, diperlakukan seperti itu oleh orang nomor satu diperusahaannya bukan?
***
Millian tersenyum pada Wendy yang telah mengenakan pakaian dengan rapih saat menghampirinya di dapur. Hari ini, wanita itu tampak lain dengan rabut yang dikuncir kuda, tampak lebih muda dari usia seharusnya.
“Sudah?” Millian kembali memokuskan diri, merapihkan meja makan yang telah terhidang berbagai makanan untuk sarapan mereka. “Aku pikir pakaian pesananku kebesaran, ternyata tidak. Kau sangat cocok Wendy mengenakan pakaian itu. terlihat manis.”
Wendy mendesis pelan. “Tidak kau katakan juga aku memang manis Millian, orang-orang bahkan mengira aku baru awal tiga puluhan.” Ujarnya seraya mengedikkan bahunya pelan. “Oiya, dimana tasku Millian? Aku tidak melihatnya dimanapun.”
Millian menatap Wendy lagi, mengingat-ingat benda tersebut. “Aku rasa tertinggal dimobil.”
“Oh. Begitu? Yasudah, aku pikir hilang.”
“Ingin aku ambilkan?” tanya Millian seraya membuka apron yang sejak tadi membingkai tubuh kekarnya. “Sebelum aku mandi.”
Wendy menatap Millian beberapa saat, sebenarnya ia ingin mengambil tasnya. Tapi ia malah menggeleng kepala. “Tidak perlu, lagipula tak akan ada yang menghubungiku. Ini weekend, tidak akan meneror untuk segera menyelesaikan pekerjaan padaku.”
Millian tergelak pelan. “Memang siapa yang suka menerormu Wendy?”
“Manager, tentu saja.” Wendy mendesis. “Aku harap promosi jabatanku benar-benar lancar. Aku muak berada dibawah manager semena-mena itu.”
“Yasudah, jadi asisten pribadiku saja. Mau?”
Wendy mendelik tajam pada Millian, “Dalam mimpimu, sekalipun kau menawarinya langsung aku tidak akan menerimanya Millian. Jangan macam-macam, atau mereka akan curiga dengan kita.”
Millian tergelak, “Baiklah-baiklah, aku mau mandi sebentar setelah itu kita sarapan. Sebaiknya kau menonton televisi dulu, daripada bosan menunggu tanpa melakukan apapun.” Ujarnya seraya berlalu meninggalkan Wendy seorang diri setelah itu menjawab ucapannya dengan gumaman kecil.
***
“Aku mau itu, sepertinya cocok untuk aku pakai ke kantor.” Wendy menunjuk satu set pakaian resmi, sebuah cardigan hitam yang dipadukan dengan celana hitam panjang. “Warna lain juga, aku mau warna orange dan biru.”
Millian mengulas senyumannya seraya menggelengkan kepala pelan, saat melihat Wendy yang sejak tadi tidak berhenti menunjuk pakaian yang dia inginkan. Selepas mereka sarapan, Millian memang sengaja mengajak Wendy untuk berbelanja disebuah pusat perbelanjaan ternama, agar Wendy bisa membeli apapun yang dia inginkan. Awalnya ia pikir Wendy tidak begitu menyukai belanja, karena saat ia mengajaknya pergi wanita itu terlihat sangat enggan. Namun ternyata, wanita tetaplah wanita. Meski mengatakan tak ingin, pada akhirnya akan menghabiskan banyak waktu untuk berbelanja.
Sebelum memasuki sebuah butik ditengah pusat perbelanjaan itu, tadi mereka sempat ke beberapa tempat, salah satunya sebuah toko perhiasan, Wendy sempatkan membeli satu set perhiasan. Lalu saat ketempat aksesoris, wanita itu membeli tiga buah jam tangan. Selanjutnya mereka ke toko tas dan sepatu, wanita itu juga membeli beberapa dari sana. Sampai-sampai saat Millian melihat Wendy yang terus menunjuk banyak pakaian, membuatnya tak yakin mobilnya dapat menampung seluruh belanjaan wanita itu.
Millian tidak keberatan Wendy menguras isi dompetnya seperti ini, ia justru senang saat melihat Wendy tak canggung membeli apapun dengan uang darinya. Ia bahagia, akhirnya ia memiliki alasan agar dirinya bekerja semakin keras.
Millian mendudukkan diri pada sebuah sofa yang memanjang didekat ruang ganti. Ia menghela nafas panjang kemudian memanggil Wendy seraya menepuk kursi disampingnya. “Wendy, duduk dulu. kau tak lelah?”
“Aku tidak lelah, kita baru belanja berapa jam Millian. Kau sudah lelah?” Wendy tidak menoleh sama sekali, ia sedang sibuk, memilih sebuah gaun malam yang terlihat indah dimatanya.
Millian terkekeh lagi. “Aku hanya tidak menduga kau akan sesemangat ini belanja denganku.”
Wendy berdecak. “Kau tidak berpikir aku akan seperti orang lain yang tidak akan memanfaatkan moment begini bukan? Aku bukan wanita seperti itu Millian. jika kau memang ingin membelikan untukku, maka aku akan memilih semua yang aku suka.”
“Benar, pilih saja semua yang kau suka.”
Wendy mengangguk kemudian mondar mandir kembali didalam butik itu. memilih beberapa dress yang tampak sangat manis. Tak lama kemudian ia berbalik, menghadap Millian yang masih menatapnya. “Millian, ini sifat asliku. Aku tak akan segan-segan menghabiskan uangmu jika kau telalu lama denganku. Aku matre, orangtuamu pasti tak akan setuju kau dekat denganku.”
Millian menaikan satu alisnya, “Wow, kau sudah berpikir sampai di tahap tanggapan orangtuaku?” ia tertawa pelan. “Aku tidak menduganya Wendy, sepertinya—hubungan kita akan lebih serius? Benar?”
Wendy membulatkan matanya. “Bukan begitu! Tapi—ya, ya memang apalagi yang akan terjadi untuk orang-orang seperti kalian? Maksudku, orang-orang sepertimu pasti selalu didikte dan diawasi, termasuk untuk pasangan.” Ia menatap Millian serba salah, setelah itu mengalihkan pandangannya seraya meringis pelan.
Wendy bodoh! Apa yang kau pikirkan?
“Kau benar, Ibuku memang telah menyiapkan seseorang untukku. Tapi aku tidak pernah setuju.”
“Kenapa?” Wendy berbalik menatap Millian lagi. “Orangtuamu pasti memilihkan wanita berpendidikan tinggi dengan silsilah keluarga yang jelas, mereka juga pasti akan memilihkan wanita cantik dan tentu saja pasti masih sangat muda.”
“Memang.”
Wendy mendengus. “Lalu kenapa kau menjebakku begini? Kau mempermainkanku?” Wendy menatap Millian dengan tatapan menyipit. “Jangan-jangan kau hanya ingin membodohiku Millian? Kau hanya penasaran bukan padaku?”
Millian menaikkan satu alisnya, ia menatap Wendy beberapa saat tanpa mengucapkan apapun. Ia menghela nafas pelan sebelum berucap. “Bagaimana mungkin kau berpikir begitu Wendy?”
“Lalu apa?! Sangat tidak masuk akal jika kau benar-benar menyukaiku. Aku tidak secantik gadis lain, aku juga lebih tua darimu Millian. Akan sangat menggelikan jika kau menyukaiku.” Wendy menggerakkan bahunya, bergidik ngeri.
“Bagaimana jika aku memang tertarik padamu Wendy?” tanya Millian dengan sangat tenang.
Wendy menatap Millian dengan tatapan tajam, diiringi dengan degup jantung yang semakin bertalu. “Jangan coba-coba berkata omong kosong seperti itu lagi Millian.”
Tawa kembali mengalun dari bibir Millian, ia kemudian bangkit dari tempat duduknya, lalu berdiri dihadapan Wendy setelahnya ia menggamit dagu wanita itu setelah ia berdiri dihadapannya.
“Kau ini kenapa Wendy?”
“Jangan jatuh cinta padaku. Aku muak!”
Mendengar kalimat tersebut, Millian justru menyeringai seraya membelai wajah Wendy dengan tangan kanannya.
“Kita lihat saja nanti.” Millian mendekatkan wajahnya pada Wendy dengan seringaian yang masih bertahan dibibirnya. “Siapa yang akan lebih dulu jatuh cinta, aku atau kau?”
***
Bersambung…
***