*** “Mau aku antar sampai ruanganmu?” tawar Millian saat lift yang membawa mereka berhenti dilantai gedung tempat Wendy bekerja. “Inginku pukul?” Wendy mengacungkan kepalan tangannya tepat didepan wajah Millian. Millian tergelak melihat kepalan tangan mungil itu, ia meraihnya lalu mencondongkan wajah agar sejajar dengan wajah wanita itu. “Lebih baik menciumku bukan? Daripada memukulku?” “Sialan! Pergi sana!” Wendy mendorong Millian menjauh kemudian beranjak, setelah keluar dari dalam lift tersebut ia buru-buru menutupnya agar Millian tidak keluar dan berbuat macam-macam. Wendy mendengus, sebal pada lelaki itu. Senin yang terkadang memang terasa buruk, sepetinya hari ini akan lebih buruk lagi. Terlebih, ia sudah marah-marah sejak dini hari. ia tak akan heran, jika sepanjang

