Wendy mematung mendengar jawaban itu, dadanya serasa tercubit, pipinya terasa ditampar. Tubuhnya terasa terhempas kembali menuju kenyataan. Ia melirik Millian yang tidak berusaha mengatakan apapun. Lelaki itu hanya menatap wanita didepannya dengan datar kemudian diiringi dengan hembusan nafas pelan. Ada yang terasa aneh, ada yang berdenyut, dan juga terasa sakit. Tapi tidak terlihat dan tidak dapat Wendy gambarkan seperti apa bentuk luka yang ia rasakan itu. Hanya saja, semuanya terasa sakit. Terasa sangat menyesakkan. Meski begitu Wendy tetap tersenyum, sebelum menyebutkan namanya sendiri. “Wendy Camella.” “Hai Wendy. boleh kan aku memanggilmu begitu?” Carissa tersenyum lebar, namun entah mengapa Wendy merasa senyuman itu palsu. Wanita itu melakukannya seolah dengan maksud te

