Chapter 1
Langit di atas Istana Tianlong berwarna kelabu pucat sore itu.
Awan menggantung rendah, seolah terlalu berat untuk bergerak. Angin musim gugur menyusup melalui celah-celah ukiran kayu merah di lorong panjang istana, membawa aroma dedaunan kering yang gugur di halaman dalam. Di kejauhan, lonceng perunggu di menara timur berdentang pelan, satu kali… dua kali… lalu hening kembali.
Putri Mahkota Li Xianyu berdiri di depan jendela paviliun Phoenix, memandangi kolam teratai yang mulai kehilangan kelopaknya. Airnya tenang, terlalu tenang, memantulkan bayangan wajahnya sendiri—wajah seorang gadis enam belas tahun dengan mata yang terlalu jernih untuk dunia sekejam ini.
Ia mengenakan hanfu merah lembut bersulam benang emas. Rambut hitamnya disanggul sederhana, hanya dihiasi jepit giok pemberian ibunya. Perhiasan itu dingin menyentuh kulit kepalanya, namun tidak sedingin firasat yang tiba-tiba menjalari dadanya.
“Yang Mulia Putri Mahkota,” suara dayang tua memanggil lembut dari belakang, “Permaisuri Agung meminta kehadiran Anda.”
Xianyu tidak segera berbalik. Ia masih menatap pantulan dirinya sendiri di air. Ada sesuatu di udara hari ini. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, namun cukup untuk membuat napasnya terasa lebih berat dari biasanya.
“Aku akan datang,” jawabnya pelan.
Ia melangkah meninggalkan jendela. Setiap langkahnya di atas lantai kayu berkilat terdengar jelas dalam keheningan sore. Dayang-dayang yang berpapasan segera menunduk hormat, tetapi Xianyu bisa merasakan bisik-bisik halus di antara mereka—bukan tentang dirinya, melainkan tentang istana yang belakangan ini terasa berbeda.
Ayahandanya, Kaisar Dinasti Tianlong, sudah beberapa hari tidak menghadiri sidang pagi. Kabarnya beliau sakit. Tabib istana dipanggil keluar-masuk paviliun Naga Emas tanpa henti. Sementara itu, Selir Rong—selir kesayangan kaisar—semakin sering terlihat berjalan dengan langkah penuh percaya diri di lorong utama, ditemani putranya, Pangeran Kedua Li Zhen.
Xianyu tidak menyukai tatapan Li Zhen. Tatapan itu selalu terasa terlalu lama, terlalu menilai.
Lorong menuju kediaman ibunya dipenuhi lentera merah yang belum dinyalakan. Cahaya sore yang masuk dari sela jendela membuat bayangan mereka memanjang seperti tangan-tangan gelap yang berusaha meraih sesuatu.
Ketika ia tiba, pintu paviliun sudah terbuka.
Permaisuri Agung duduk di dekat meja rendah, memegang cangkir teh yang tidak disentuhnya. Wajahnya yang biasanya tenang tampak lebih pucat hari ini, meski senyumnya tetap lembut saat melihat putrinya masuk.
“Xianyu,” panggilnya.
Putri Mahkota segera berlutut dan memberi hormat. “Ibu Permaisuri.”
“Bangkitlah. Duduklah di sini.”
Xianyu duduk di samping ibunya. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma bunga plum dari pakaian sang permaisuri. Aroma yang selalu membuatnya merasa aman sejak kecil.
“Ibu terlihat lelah,” ucap Xianyu hati-hati.
Permaisuri tersenyum tipis. “Istana selalu melelahkan, anakku. Terlebih saat angin mulai berubah arah.”
Kalimat itu membuat jantung Xianyu berdegup sedikit lebih cepat.
“Ibu… apakah Ayahanda benar-benar hanya sakit biasa?”
Permaisuri terdiam sejenak. Tangannya yang halus mengusap punggung tangan Xianyu. Sentuhan itu hangat, tetapi ada kegelisahan tersembunyi di dalamnya.
“Sebagai Putri Mahkota,” katanya perlahan, “kau harus belajar membaca lebih dari sekadar kata-kata yang diucapkan. Kadang, penyakit bukanlah penyakit. Kadang, senyum bukanlah kebaikan.”
Xianyu menelan ludah. “Ibu mencurigai sesuatu?”
“Aku tidak mencurigai,” jawab Permaisuri, “aku hanya… merasa.”
Keheningan menyelimuti mereka. Di luar, seekor burung gagak bertengger di atap, suaranya serak memecah sore.
Permaisuri memandang putrinya dengan tatapan yang begitu dalam hingga Xianyu merasa seolah sedang dilihat bukan sebagai seorang gadis, melainkan sebagai pewaris takhta.
“Xianyu,” suara sang ibu menjadi lebih lembut, “apa pun yang terjadi, jangan pernah kehilangan dirimu. Jangan pernah membiarkan kebencian menghapus siapa dirimu sebenarnya.”
Hati Xianyu bergetar. “Mengapa Ibu berkata seperti itu?”
Permaisuri tidak menjawab. Ia hanya memeluk putrinya.
Pelukan itu terasa lebih lama dari biasanya.
Seolah itu akan menjadi yang terakhir.
Malam turun tanpa peringatan.
Langit yang sejak sore kelabu kini berubah menjadi hitam pekat. Hujan turun deras, memukul atap istana dengan suara yang menggema. Kilat sesekali membelah langit, menerangi tembok-tembok merah dengan cahaya putih menyilaukan.
Xianyu terbangun dari tidurnya karena suara gaduh di luar kamar.
Langkah kaki berlari.
Teriakan tertahan.
Suara pintu didobrak.
Jantungnya langsung berdegup kencang. Ia bangkit dari ranjang, rambutnya terurai panjang di punggung. Sebelum sempat memanggil dayang, pintu kamarnya terbuka dengan keras.
Beberapa prajurit masuk.
Bukan pengawal pribadinya.
Melainkan penjaga istana dari paviliun utama.
“Apa arti ini?!” suara Xianyu bergetar meski ia berusaha terdengar tegas.
Salah satu prajurit berlutut, namun tidak menatapnya. “Atas perintah Kaisar, Putri Mahkota diminta untuk tetap berada di kamar. Tidak diperkenankan keluar hingga perintah selanjutnya.”
“Atas perintah Ayahanda?” Nafasnya tercekat. “Di mana Ibu Permaisuri?”
Prajurit itu tidak menjawab.
Hanya keheningan.
Hanya suara hujan yang semakin deras.
Xianyu berlari menuju lorong, tetapi dua prajurit segera menghalanginya. Ia mencoba mendorong mereka, namun tubuhnya terlalu kecil dibanding baju zirah baja yang mereka kenakan.
“Lepaskan aku! Aku Putri Mahkota!”
Tatapannya menyapu wajah mereka satu per satu. Tidak ada keberanian di sana. Hanya ketegangan… dan ketakutan.
Dari kejauhan, terdengar suara gong besar dipukul tiga kali.
Itu bukan tanda biasa.
Itu tanda darurat istana.
Tubuh Xianyu terasa dingin. Hujan, suara gong, prajurit yang berjaga… semuanya menyatu menjadi satu kesadaran mengerikan.
Sesuatu telah terjadi.
Dan ia tidak diberi tahu.
Di aula utama istana, cahaya obor berkelip-kelip diterpa angin malam. Para pejabat tinggi berdiri berbaris, wajah mereka tegang. Di tengah aula, Permaisuri Agung berdiri dengan tangan terikat.
Xianyu tidak melihat pemandangan itu malam itu.
Ia baru mengetahuinya kemudian.
Bahwa ibunya dituduh menggunakan sihir terlarang untuk mengutuk kaisar.
Bahwa sebuah boneka kayu dengan nama kaisar tertulis di dadanya ditemukan di paviliun Phoenix.
Bahwa Selir Rong menangis di hadapan pejabat, menyatakan dirinya “tidak pernah menyangka Permaisuri sanggup melakukan hal sekeji itu.”
Semua itu terjadi tanpa kehadiran Xianyu.
Ia hanya mendengar gema teriakan samar di tengah badai.
Ia hanya merasakan hatinya retak, tanpa tahu persis apa yang retak dan mengapa.
Pagi datang tanpa matahari.
Langit tetap gelap meski hujan telah berhenti.
Pintu kamar Xianyu dibuka.
Kali ini bukan prajurit, melainkan kasim tua yang selama ini melayani kaisar. Wajahnya penuh garis usia, matanya merah seperti kurang tidur.
“Yang Mulia,” suaranya serak, “Anda diminta hadir di halaman dalam.”
Xianyu melangkah dengan kaki gemetar. Tidak ada yang menjelaskan apa pun padanya. Tidak ada yang berani menatap matanya terlalu lama.
Ketika ia tiba di halaman, udara terasa begitu dingin hingga sulit bernapas.
Orang-orang telah berkumpul.
Pejabat.
Selir-selir.
Pangeran dan putri lainnya.
Di tengah halaman, berdiri tiang kayu tinggi.
Dan di sana—
Permaisuri Agung.
Xianyu merasa dunia berhenti berputar.
“Ibu…”
Suaranya nyaris tidak terdengar.
Permaisuri mengenakan pakaian putih sederhana. Rambutnya tidak lagi dihiasi mahkota. Wajahnya pucat, tetapi matanya tetap jernih.
Tatapan mereka bertemu.
Dalam sekejap, ribuan kenangan melintas di benak Xianyu—tangan yang menggenggamnya saat ia belajar berjalan, suara lembut yang membacakan puisi sebelum tidur, pelukan hangat setiap kali ia merasa takut.
“Ibu!” Xianyu berusaha berlari, tetapi seseorang menahan lengannya.
Ia menoleh.
Li Zhen.
Pangeran Kedua.
Tatapannya dingin, hampir… puas.
“Jangan mempermalukan diri sendiri, Kakak,” bisiknya pelan.
Xianyu meronta. “Lepaskan aku!”
Suara seorang pejabat membacakan dakwaan menggema di halaman. Kata-kata tentang pengkhianatan, sihir, upaya pembunuhan.
Setiap kalimat terasa seperti pisau yang menembus d**a Xianyu.
“Tidak…” ia berbisik, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
Permaisuri tidak menangis.
Ia hanya menatap putrinya.
Dan tersenyum.
Senyum yang begitu lembut hingga terasa menyakitkan.
Bibirnya bergerak.
Xianyu membaca tanpa suara:
Hiduplah.
Teriakan Xianyu memecah udara ketika algojo mengangkat pedangnya.
Langit tetap kelabu.
Tidak ada matahari.
Tidak ada keajaiban.
Hanya suara sesuatu yang jatuh.
Dan dunia yang tidak akan pernah sama lagi.
Sore itu, gelar Putri Mahkota dicabut.
Namanya dihapus dari silsilah utama.
Ia tidak lagi dipanggil Yang Mulia.
Ia tidak lagi diizinkan tinggal di paviliun Phoenix.
Keputusan kaisar disampaikan melalui dekret resmi—ditandatangani dengan segel kekaisaran.
Alasannya: untuk “menjaga ketertiban dan menghindari noda lebih lanjut pada keluarga kerajaan.”
Xianyu duduk diam saat jepit giok pemberian ibunya dilepas dari rambutnya.
Dayang-dayang yang dulu melayaninya kini tidak berani menatapnya.
Malam itu, ia dibawa keluar dari istana dengan kereta tertutup.
Tidak ada perpisahan.
Tidak ada belas kasih.
Hanya suara roda kayu di atas batu, dan kenangan yang terus berputar di dalam kepalanya.
Ia tidak lagi menangis.
Air matanya sudah habis.
Yang tersisa hanya ruang kosong di dadanya—ruang yang dulu diisi oleh cinta seorang ibu.
Di dalam kekosongan itu, sesuatu mulai tumbuh.
Bukan harapan.
Bukan keputusasaan.
Melainkan sesuatu yang lebih sunyi.
Lebih dalam.
Lebih gelap.
Ketika kereta melewati gerbang istana untuk terakhir kalinya, Xianyu tidak menoleh.
Namun dalam hatinya, ia berjanji.
Suatu hari, ia akan kembali.
Bukan sebagai gadis yang menangis di bawah hujan.
Melainkan sebagai badai yang meruntuhkan segalanya.
Dan pada hari itu, langit akan menyaksikan—
bahwa Putri Mahkota yang mereka coba hapus dari sejarah
tidak pernah benar-benar mati.