Musim semi terus bergerak maju, pelan namun pasti.
Bunga-bunga liar yang semula hanya kuncup kini mekar penuh di sekitar halaman kuil. Warna kuning dan ungu kecil bermunculan di sela batu yang retak. Dunia terlihat hidup kembali, seolah tidak pernah ada musim dingin yang membekukan segalanya.
Namun di dalam diri Li Xianyu, sesuatu yang berbeda sedang tumbuh.
Bukan sekadar kemarahan.
Bukan hanya kesedihan.
Melainkan kesadaran.
Kesadaran bahwa waktu tidak akan menunggunya.
Ia yang harus mengejar waktu.
Pagi itu, sebelum matahari benar-benar muncul dari balik pegunungan, Xianyu sudah berdiri di halaman belakang kuil. Embun masih menempel di rumput, dan udara pagi menggigit lembut kulitnya.
Di tangannya, pedang kayu.
Shen Wei berdiri beberapa langkah di depannya.
“Ulangi,” katanya singkat.
Xianyu menarik napas perlahan.
Ia mengangkat pedang, mengayunkannya ke depan, lalu memutar tubuh dengan langkah yang kini jauh lebih stabil dibanding beberapa bulan lalu.
Gerakannya tidak lagi kaku.
Tidak lagi seperti tarian istana yang indah namun kosong makna.
Kini setiap ayunan memiliki tujuan.
Setiap langkah memiliki arah.
Pedang kayu beradu dengan pedang Shen Wei.
Suara benturan terdengar jelas di udara pagi.
Tangannya bergetar.
Namun ia tidak mundur.
“Kau ragu,” Shen Wei berkata tenang.
“Aku tidak ragu,” jawabnya cepat.
“Ragumu bukan pada musuh,” lanjut Shen Wei. “Namun pada dirimu sendiri.”
Kalimat itu menghentikan gerakannya.
Xianyu menatap pedang di tangannya.
Apakah ia ragu?
Ia ingin kuat.
Ia ingin menjadi lebih dari sekadar korban.
Namun di dalam dirinya, masih ada suara kecil yang bertanya:
Apakah kau benar-benar mampu?
Ia menggenggam pedang lebih erat.
“Sekali lagi,” katanya.
Dan mereka kembali berlatih.
Latihan fisik bukan satu-satunya hal yang ia tekuni.
Siang hari, setelah membantu para biksuni, ia duduk bersama Gao Ren di bawah atap kecil dekat gudang kayu. Di hadapan mereka terletak berbagai tanaman kering, akar, dan botol kecil berisi cairan berwarna berbeda.
“Lihat ini,” kata Gao Ren suatu sore, menyerahkan sehelai daun kering.
“Apa yang kau ketahui tentangnya?”
Xianyu mengamati daun itu.
“Bentuknya menyerupai daun qingcao. Namun warnanya lebih gelap,” katanya pelan.
Gao Ren mengangguk tipis.
“Ini bukan qingcao. Ini huanxi. Dalam dosis kecil, ia hanya menyebabkan pusing ringan. Dalam dosis yang tepat dan berulang… ia melemahkan jantung.”
Xianyu merasakan dingin menjalar di punggungnya.
“Seperti gejala Kaisar,” bisiknya.
Gao Ren tidak menjawab, namun tatapannya sudah cukup.
Xianyu menunduk.
Ia menyentuh daun itu dengan hati-hati, seolah menyentuh potongan masa lalu.
“Jika seseorang ingin meracuni tanpa terlihat,” lanjut Gao Ren, “ia tidak akan menggunakan racun kuat. Ia akan menggunakan sesuatu yang bisa disamarkan dalam makanan atau teh.”
Teh.
Pikiran Xianyu melayang ke paviliun ayahnya.
Setiap pagi, selalu ada cangkir teh hangat di samping meja kerja Kaisar.
Disajikan oleh pelayan yang setia.
Atau yang terlihat setia.
Dadanya terasa sesak.
“Siapa pun pelakunya,” katanya perlahan, “ia pasti memiliki akses dekat.”
“Ya.”
“Dan ia cukup sabar.”
Gao Ren menatapnya lama.
“Kesabaran adalah senjata paling berbahaya.”
Xianyu terdiam.
Ia mulai memahami sesuatu.
Jika musuhnya sabar selama bertahun-tahun untuk melemahkan Kaisar…
maka ia pun harus lebih sabar.
Tidak terburu-buru.
Tidak gegabah.
Belajar.
Mengamati.
Menunggu.
Malam hari menjadi waktu paling sunyi.
Namun juga waktu paling jujur.
Xianyu sering duduk sendirian di bawah pohon pinus, menatap bulan yang perlahan membesar dari hari ke hari.
Ia memegang jepit giok di tangannya.
Permukaannya dingin.
Namun tidak lagi membuatnya gemetar.
“Aku tidak boleh hanya kuat,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Aku harus cerdas.”
Ia mengingat kembali pelajaran politik yang dulu diajarkan padanya oleh guru istana.
Tentang keseimbangan kekuasaan.
Tentang bagaimana satu keluarga bangsawan bisa memengaruhi keputusan istana hanya dengan dukungan finansial.
Tentang bagaimana rakyat, meski tidak memiliki pedang, memiliki suara yang bisa menjadi badai.
Dulu, pelajaran itu terasa seperti kewajiban.
Kini, ia mengulanginya dalam pikirannya setiap malam.
Menyusun ulang.
Menganalisis.
Jika ia kembali ke ibu kota, ia tidak bisa hanya mengandalkan nama.
Namanya telah dihapus.
Ia harus menciptakan kekuatan baru.
Namun bagaimana?
Ia hanyalah seorang gadis yang diasingkan.
Atau… begitulah yang orang-orang pikirkan.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Mungkin justru itu keuntungannya.
Musuh tidak mengawasi bayangan.
Hari-hari berikutnya diisi dengan rutinitas yang semakin berat.
Shen Wei mulai mengajarinya membaca laporan militer yang ia bawa secara sembunyi-sembunyi.
Angka-angka tentang jumlah pasukan.
Catatan tentang distribusi logistik.
Lokasi-lokasi strategis.
Awalnya, semua terasa membingungkan.
Namun Xianyu memaksakan dirinya untuk memahami.
“Jika jalur logistik ini diputus,” katanya suatu sore sambil menunjuk peta kecil, “maka pasukan di utara akan kesulitan suplai.”
Shen Wei mengangguk.
“Benar. Namun memutusnya berarti menyakiti rakyat di sekitar jalur itu.”
Xianyu terdiam.
Ia tidak ingin menjadi seperti mereka.
Ia tidak ingin rakyat menderita demi ambisinya.
“Berarti aku harus menemukan cara lain,” katanya pelan.
Shen Wei menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Kau berpikir bukan hanya sebagai calon penguasa,” katanya, “tetapi sebagai seseorang yang pernah kehilangan.”
Xianyu tersenyum pahit.
“Kehilangan membuatku tahu harga dari setiap keputusan.”
Suatu pagi, ketika matahari mulai terasa lebih hangat, Xianyu mencoba memanah di halaman belakang.
Busur yang digunakan bukan busur istana yang ringan dan indah.
Ini busur sederhana milik prajurit.
Tangannya gemetar saat menarik tali.
“Fokus pada napasmu,” Shen Wei berkata pelan.
Ia menarik napas.
Menghembuskannya perlahan.
Anak panah melesat.
Meleset.
Ia tidak mengeluh.
Ia mengambil anak panah lain.
Menarik lagi.
Kali ini, lebih dekat ke sasaran.
Lengan atasnya mulai terasa sakit.
Namun ia terus mencoba.
Keringat membasahi pelipisnya.
Rasa perih di telapak tangan membuatnya ingin berhenti.
Namun setiap kali keinginan itu muncul, bayangan ibunya kembali terlintas.
Bukan dalam hujan.
Namun tersenyum.
Hiduplah.
Ia menarik tali busur sekali lagi.
Anak panah melesat.
Menancap tepat di tengah sasaran.
Xianyu menurunkan busur perlahan.
Napasnya terengah.
Namun ada sesuatu yang berbeda di dadanya.
Bukan kepuasan.
Melainkan keyakinan kecil.
Ia bisa belajar.
Ia bisa berubah.
Malam itu, Gao Ren berkata padanya, “Kau belajar terlalu cepat.”
“Apa itu buruk?” tanya Xianyu.
“Tidak. Namun berhati-hatilah agar hatimu tidak mengeras lebih cepat dari akalmu.”
Xianyu terdiam.
“Aku takut,” katanya jujur, “jika aku terlalu lembut, aku akan dihancurkan lagi.”
Gao Ren menatapnya dengan mata yang penuh pengalaman.
“Kelembutan bukan kelemahan. Ia hanya harus dilindungi oleh kebijaksanaan.”
Kata-kata itu tinggal lama di benaknya.
Ia tidak ingin menjadi monster yang ia benci.
Ia ingin menjadi penguasa yang berbeda.
Namun untuk itu, ia harus melewati kegelapan terlebih dahulu.
Desas-desus tentang kunjungan Li Zhen semakin jelas.
Musim panas semakin dekat.
Setiap kali memikirkan kemungkinan melihatnya lagi, jantung Xianyu berdegup lebih cepat.
Bukan karena takut.
Namun karena memori.
Ia masih bisa mengingat suara Li Zhen di halaman istana.
Tatapan puasnya.
Bisikan yang menghina.
Apakah ia akan mengenali Xianyu jika melihatnya sekarang?
Dengan pakaian sederhana.
Dengan rambut yang tidak lagi dihias mahkota.
Mungkin tidak.
Dan itu memberinya keunggulan kecil.
Namun ia tahu, ia tidak boleh terburu-buru.
Melihat bukan berarti bertindak.
Mengetahui bukan berarti menyerang.
Ia harus menunggu waktu yang tepat.
Suatu malam, ketika angin musim panas pertama mulai terasa, Xianyu berdiri di tepi sungai kecil.
Airnya mengalir pelan, memantulkan cahaya bulan yang hampir bulat sempurna.
Ia melihat bayangannya sendiri di permukaan air.
Gadis yang dulu menangis di bawah hujan sudah tidak ada.
Yang berdiri di sana sekarang adalah seseorang yang lebih tenang.
Lebih tajam.
Lebih sabar.
“Aku tidak akan kembali sebagai korban,” bisiknya.
“Aku akan kembali sebagai kebenaran.”
Air sungai terus mengalir.
Tidak tergesa.
Namun tidak pernah berhenti.
Dan seperti air itu,
tekad Li Xianyu tidak lagi bergelora seperti badai.
Ia mengalir.
Dalam.
Tenang.
Namun tak terhentikan.
Musim semi hampir berakhir.
Musim panas akan datang.
Dan bersama panasnya matahari,
akan datang pula ujian pertama
bagi gadis yang tak lagi menyebut dirinya putri—
namun diam-diam sedang mempersiapkan diri
untuk merebut kembali takdirnya.