Langit sudah berubah jingga ketika Xu Lan meninggalkan pasar.
Keranjang anyam itu tergantung ringan di lengannya. Koin-koin kecil di dalamnya saling beradu pelan setiap kali ia melangkah. Suara yang halus. Nyaris tidak terdengar di tengah riuh kota yang mulai menutup hari.
Pasar tidak pernah benar-benar sepi.
Pedagang yang tadi berteriak kini berbicara lebih pelan. Beberapa lampu minyak mulai dinyalakan. Asap tipis dari tungku-tungku makan malam naik perlahan ke udara.
Xu Lan berjalan di tepi jalan, membiarkan orang-orang berlalu tanpa menoleh terlalu lama.
Namun matanya memperhatikan semuanya.
Gerobak sayur yang kembali kosong.
Para pelayan rumah besar yang berbelanja cepat sebelum pintu gerbang majikan mereka ditutup.
Dan… beberapa prajurit kota yang berjalan berpasangan.
Seragam mereka sederhana. Namun pola sulaman kecil di kerah menunjukkan mereka penjaga gerbang kota dalam.
Xu Lan tidak berhenti.
Ia hanya berjalan melewati mereka seperti orang lain.
Namun telinganya menangkap percakapan pendek mereka.
“…dokter istana masih belum menemukan sebabnya.”
“Kalau terus begini, para pejabat akan panik.”
“Katanya demamnya naik turun. Tubuh melemah.”
Xu Lan menundukkan sedikit wajahnya.
Desas-desus itu benar.
Racun memang sedang bekerja.
Namun racun yang cukup halus untuk memperdaya tabib istana… bukan racun sembarangan.
Ia terus berjalan.
Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lambat.
Langkahnya membawa dirinya menuju penginapan kecil di gang timur.
Wanita pemilik rumah masih duduk di bangku kecil yang sama ketika Xu Lan kembali. Kali ini ia sedang membersihkan kacang tanah dengan mangkuk bambu di pangkuannya.
“Kau dapat pasien?” tanyanya tanpa melihat.
“Beberapa.”
“Bagus. Orang sini cepat percaya kalau sudah sembuh sekali.”
Xu Lan mengangguk ringan.
Ia hampir melewati wanita itu ketika langkahnya berhenti.
Seseorang baru saja masuk ke gang.
Seorang pria muda.
Pakaiannya bukan pakaian rakyat biasa. Jubahnya bersih, meski sederhana. Ikat pinggangnya dari kulit halus. Di sisi kirinya tergantung kantong obat kecil.
Tabib.
Namun bukan tabib pasar.
Xu Lan mengenali cara pria itu berjalan.
Tegak. Terbiasa dengan lantai batu halus, bukan tanah pasar.
Pria itu berhenti di depan wanita pemilik rumah.
“Bibi,” katanya sopan, “aku mendengar ada tabib baru menginap di sini.”
Wanita itu menunjuk tanpa banyak pikir.
“Itu.”
Xu Lan berdiri beberapa langkah dari mereka.
Matanya bertemu mata pria itu.
Sejenak… mereka hanya saling menilai.
Pria itu tidak tampak tua. Mungkin tidak jauh dari dua puluh lima tahun. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam.
Ia menangkupkan tangan dengan sopan.
“Aku Liang Zhen,” katanya. “Asisten tabib dari rumah pengobatan istana.”
Xu Lan menunduk sedikit.
“Xu Lan. Tabib keliling.”
“Bolehkah aku berbicara sebentar?”
Xu Lan tidak langsung menjawab.
Ia menimbang.
Kesempatan.
Atau jebakan.
Namun racun di istana berarti seseorang di dalam istana sedang bergerak. Dan ia tidak mungkin menunggu terlalu lama.
“Ayo,” katanya akhirnya.
Mereka berjalan beberapa langkah menjauh dari pintu.
Angin malam mulai terasa lebih dingin.
Liang Zhen membuka pembicaraan dengan hati-hati.
“Beberapa pasien pasar mengatakan ada tabib baru yang membaca nadi dengan sangat teliti.”
Xu Lan mengangkat alis tipis.
“Pasar suka melebih-lebihkan.”
“Mungkin.”
Liang Zhen tidak tersenyum.
“Namun kami memang sedang membutuhkan tabib tambahan.”
Xu Lan tidak bicara.
Ia menunggu.
Liang Zhen melanjutkan, suaranya lebih pelan.
“Seorang pejabat tinggi di dalam istana sakit sejak beberapa hari lalu. Tabib istana sudah mencoba banyak ramuan. Namun kondisinya tidak membaik.”
Xu Lan menundukkan wajahnya sedikit.
“Dan kau mencari tabib pasar?”
“Kadang racun atau penyakit datang dari tempat yang tidak dipelajari di istana.”
Ia berhenti sejenak.
“Tabib Xu, apakah kau bersedia melihat pasien itu?”
Xu Lan mengangkat pandangan.
Matanya tenang.
Namun jauh di dalam d**a, jantungnya berdetak sedikit lebih keras.
Inilah pintu itu.
Pintu yang ia tunggu.
Namun ia tidak boleh terlihat terlalu siap.
“Aku hanya tabib keliling,” katanya pelan. “Ilmuku tidak seberapa.”
Liang Zhen menatapnya lama.
“Jika kau menolak, aku akan mencari orang lain.”
Ia tidak memaksa.
Justru itulah yang membuat tawaran itu terasa nyata.
Xu Lan menghela napas pendek.
“Aku bisa mencoba.”
Malam itu mereka tidak langsung pergi.
Liang Zhen mengatakan mereka harus menunggu sampai pergantian jaga di gerbang dalam.
Xu Lan kembali ke kamarnya untuk mengambil beberapa botol tambahan.
Ia menatap keranjang obatnya cukup lama.
Botol racun juga ada di sana.
Ia tidak menyentuhnya.
Belum.
Ketika ia keluar lagi, gang sudah jauh lebih sunyi.
Liang Zhen menunggunya di ujung gang dengan seekor kuda kecil.
Mereka berjalan kaki menuju kota dalam.
Jalanan semakin lebar.
Rumah-rumah semakin besar.
Lampu-lampu lentera menggantung lebih tinggi.
Dan akhirnya… tembok itu muncul.
Tembok istana.
Tinggi. Sunyi. Tidak berubah sedikit pun sejak terakhir kali ia melihatnya bertahun-tahun lalu.
Xu Lan berhenti satu detik.
Hanya satu detik.
Di balik tembok itu—
ibunya mati.
Namanya dihapus.
Hidupnya dibuang.
Namun wajahnya tetap tenang ketika mereka mendekati gerbang samping.
Penjaga melihat Liang Zhen dan mengangguk.
“Tabib tambahan?” tanya salah satu dari mereka.
“Ya. Untuk memeriksa pejabat Zhao.”
Penjaga membuka pintu kecil di dalam gerbang besar.
Xu Lan melangkah masuk.
Langkahnya pelan.
Namun setiap langkah terasa seperti gema masa lalu.
Halaman batu.
Lampu lentera merah.
Lorong panjang yang dulu pernah ia lalui sebagai seorang putri.
Sekarang ia berjalan di sana sebagai orang asing.
Liang Zhen memimpin jalan.
Xu Lan mengikuti satu langkah di belakangnya.
Udara di dalam tembok istana terasa berbeda.
Lebih tenang.
Lebih berat.
Mereka melewati beberapa paviliun kecil sebelum akhirnya berhenti di depan bangunan yang dijaga dua pelayan.
“Pasien di dalam,” kata Liang Zhen pelan.
Xu Lan mengangguk.
Tangannya tidak gemetar ketika ia membuka pintu.
Namun jauh di dalam dadanya—
sesuatu bergerak.
Ia sudah kembali.
Bukan sebagai putri mahkota.
Bukan sebagai pewaris tahta.
Namun sebagai seseorang yang akan perlahan… mengambil semuanya kembali.
Dan malam itu—
Xu Lan berhasil menginjakkan kaki di dalam istana sekali lagi.