“Ina, kamu ke ruangan saya sekarang.” Pinta Rian, yang rela jalan sendiri untuk menemui Ina daripada harus menelponnya. Rian menyapa sekilas Regina yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Kedua matanya terlihat fokus pada layar komputer di depannya. Regina mengangkat kepalanya. dengan wajah tampak kebingungan. Dia memutar matanya Melirik sekelilingnya. Tidak ada yang berani menatap ke arahnya. “Aku?” Tanya Ina bingung, dia mengerutkan wajahnya, sembari tangan menunjuk dirinya sendiri. Kedua mata itu mengerjap berkali-kali “Iya, kamu siapa lagi kalau bukan kamu.” Kesal Rian, meski sering sekali dia terlihat baik di luar. Tetapi di kantor dia sangat dingin. Wajahnya begutu kaku, bahkan menatap Ina lebih lama saja dia tidak mau. “Aku pikir orang lain, soalnya disini bukan hanya aku, ada

