Kisah 11 - Benarkah?

1045 Kata
Kisah 11 “Beneran, Dokter, Kakak saya sudah sadar dari koma?” tanya Gina dengan kelegaan yang begitu membuncah ketika pertama kali diberi tahu mengenai kondisi Ricon yang sudah sadar saat ia datang sepulang dari pembimbingan skripsi di kampus. “Benar pasien sudah tidak lagi koma. Tapi saya memohon untuk tidak memaksa dulu dalam mengajak berbicara atau melakukan apapun. Dalam dua hari ini akan masih kami pantau dan tetap berada di ruang ICU. Setelahnya akan dipindahkan ke ruang perawatan.” “Terima kasih, Dokter. Hm … Dok, saya mau tanya. Apakah kakak saya akan mengalami gangguan di kepala semacam amnesia begitu?” Sang Dokter pun tersenyum, “Sejauh dari hasil pengecekan dan operasi di beberapa bagian tubuh, tidak ada tanda-tanda mengarah pada amnesia. Tapi syok dan trauma bisa jadi berakibat pada pasien. Karena itu untuk pasien yang baru saja bangun dari koma, hal yang harus dilakukan adalah memberikan waktu pada pasien untuk beradaptasi dengan kondisi dirinya dan mohon untuk tidak terlalu menekan atau memaksakan berbicara. Semua itu harus perlahan ya, ada step by step-nya,” jelas dokter tersebut. “Baik, Dokter.” Setelah mendengarkan penjelasan dokter di ruang poli—segera Gina menuju ICU. Gadis itu berjalan dengan langkah yang cepat seolah waktu akan habis sebelum dia sampai menuju Ricon berada. *** Rian membuka mata dan mengerjapkannya pelan-pelan. Dia masih ingat dia sudah sadar beberapa jam yang lalu. Tapi nyeri di bagian kepala dan beberapa tubuh membuatnya kembali mengantuk dan tidur. Kini dia ingin segera bangkit. Rasanya sungguh melelahkan terus-menerus berbaring di rumah sakit. Rian kembali teringat saat pertama ia sadar, para perawat dan dokter yang datang untuk melakukan pengecekan menyebut namanya bukan dengan nama Rian melainkan nama lain yang asing dan terdengar jelek di telinganya. Ia ingin marah tapi rasanya belum ada tenaga untuk melakukannya. Rian menolehkan kepala ketika ia mendengar derap langkah pelan dari pintu—menampakkan seorang gadis berambut panjang sebahu. Ingin Rian menilai gadis itu dari atas ke bawah seperti biasa, tapi sepertinya ia tak memiliki banyak tenaga untuk melakukannya. Oleh karena itu Rian hanya diam sambil terus memperhatikan gadis yang semakin mendekat padanya. “Uda ….” panggil gadis itu lirih. Rian hanya menatap dengan tatapan tak suka. Udah? Apa-apaan sih dia apanya yang udah siapa lagi sih nih cewek, cebik Rian dalam hatinya. “Ada yang sakit, Uda? Mau Gina panggilkan Dokter?” tanya Gina dengan nada khawatir yang membuat Rian tak senang. Tapi lagi-lagi ia tak menemukan jawaban. Gina masih teringat dengan ucapan sang dokter untuk tidak memaksakan mengajak berbicara. Maka Gina pun mengembuskan napas perlahan. “Gina bakal di sini nemenin, Uda Ricon. Uda, istirahat aja dulu, ya, kalau keadaan Uda semakin membaik besok bakalan di pindah ke ruang perawaran katanya.” Rian masih mencerna ucapan gadis itu yang memanggil namanya dengan sebutan Uda Ricon. Kini Rian ingat tadi perawat dan dokter juga memanggil namanya dengan nama itu. Rian segera berpikir. Ia mengangkat tangan kanannya dan menelitinya dengan seksama. Kuning kecoklatan, banyak guratan otot tercetak jelas, ada satu titik hitam yang tak besar dekat dengan area nadi—terdapat tahi lalat kecil. Rian agak membulatkan mata. Ia mengenali tubuhnya sendiri. Ia berkulit putih, meski di tangannya juga terdapat guratan namun tak sejelas tangan ini. Dan yang lebih penting adalah tahi lalat. Rian tak memilikinya. Lalu ini apa? Rian merasa kepalanya semakin pening memaksakan diri. Maka dia memutuskan untuk berbicara. “Pinjam HP,” ucap Rian lirih namun bisa terdengar oleh Gina yang sedang membaca buku. “Uda mau nelpon siapa?” Rian mendengkus malas. “Pinjam HP dan arahkan ke kamera.” “Uda, sejak kapan mau selfie?” lagi-lagi Rian kembali mendekus kini lebih kasar. Ini cewek ribet banget sih udah tahu dan cukup aja deh dia itu diem bukan banyak tanya, gerutu Rian dalam benaknya. Melihat tatapan tajam mata itu, dengan segera Gina mengambil ponselnya dan membuka aplikasi kamera kemudia memberikannya pada tangan yang gadis kira itu adalah Ricon. Ketika ponsel Gina sudah di tangannya, dengan cepat Rian mengarahkan ke wajahnya. Rian terkejut bukan main! Ini bukan wajanya? Apa dirinya di operasi plastik? Mengapa wajahnya berubah sangat berbeda dan lain?” Rian mencoba mengingat segala mimpinya ketika selama koma, tidak ada petunjuk apa pun. Mamanya hanya bilang kalung liontin itu harus dijaga, dan menolong mamanya maka Rian akan hidup bahagia. Rian tak mengerti maksud semua itu. Berbagai pikiran berkecamuk dalam kepalanya membuatnya menduga-duga. Apakah dirinya mengalami pertukaran jiwa? Tapi Rian tak mengerti mengapa ia harus mengalami hal semacam ini? Rian tak terlalu percaya pada hal-hal mistis selama ini. Lalu nasib seperti apa yang sedang ia jalani sekarang? *** Setelah semua orang-orang sudah meninggalkan ruangannya, Ricon berbicara pada Pandu. Pemuda itu ingin meminta tolong pada Pandu "Permisi, maaf, boleh saya minta tolong?" Pandu mengernyitkan dahi mendengar nada bicara Ricon yang sopan. "Boleh, Rian, kamu bisa minta tolong pada saya," balas Pandu dengan sopan juga namun ada rasa canggung seperti berbicara pada orang lain. "Boleh saya minta tolong untuk pinjam kaca?" tanya Ricon malu. Bahkan mungkin saja dia akan dikira aneh. Bangun dari koma langsung minta kaca. Pandu tersenyum kikuk atas permintaan bosnya itu. Tak biasanya meminta hal-hal yang receh. Memang Pandu akui kalau Rian itu narsis, tapi tidak biasanya meminta kaca seperti ini. apakah karena dia sudah cukup lama koma sehingga takut wajahnya yang selalu diagung-agungkan tampan bak idol Korea itu kelihatan jelek. "Maaf, Rian, kalau kaca Paman tidak punya, tapi mungkin kamu bisa pakai HP Paman." "Maaf, bila merepotkan. HP pun tak apa." ketika Ricon hendak mengambil ponsel milik Pandu, ia melihat pergelangan tangannya. Tubuhnya kini terasa berkeringat. Tak Mungkin! Jerit Ricon dalam hati. Apakah dugaannya benar? Begitu Ricon sudah mengambil ponsel Pandu yang sudah tidak terkunci. Ricon meminta ijin untuk membuka aplikasi kamera. Sebelumnya dia berdeham dan minta maaf pada Pandu untuk tak melihatnya karena malu. Dengan hati was-was, Ricon melihat ke arah kamera. Menelisik wajah tampan, berkulit putih, dengan mata yang agak sipit dengan rambut yang seperti diwarna cokelat gelap. Mengapa bisa begini? Mengapa saya berada di tubuh orang lain? Lalu tubuh saya sendiri bagaimana? Rasa-rasanya Ricon sangat frustrasi. Ini adalah pengalaman pertamanya mengalami hal-hal diluar nalar. Ricon pun bertanya-tanya dalam hatinya, bisakah ia menemukan keadaan tubuhnya sendiri? Dan kembali pada tubuhnya sendiri? Setelah mengembalikan ponsel milik Pandu, Ricon berbaring. Pandangannya menerawang di langit-langit kamar perawatannya. Ia ingin memejamkan mata namun terasa berat. Kini ia hanya bisa berdoa agar dapat menemukan maksud dari segala keanehan yang ada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN