Rian masih berada di tengah-tengah keluarga Pak Sardi. Matanya memandang lekat pada makanan yang sebenarnya menggunggah selera itu kecuali sambal pete yang baginya sangat menganggu. Melihat Rian yang tak juga kunjung menyentuh makanan yang sudah susah payah dimasak olehnya—istri Pak Sardi pun menegur Rian. “Ricon, kenapa enggak mau makan? Mau makanan yang lain? Apa mau Bibi masakin telur dadar?” cecar istri Pak Sardi. “Eh … enggak usah, B-bi. Nanti Rian makan, kok,” jawab Rian dengan gagap. “Rian?” suara cempreng Gina membuat Rian tersadar bahwa dia mengatakan hal yang keliru. “Oh … hm … maksud gu—maksudku Ricon, nanti makan,” ujar Rian dengan senyum terpaksa. Gina yang masih mengunyah makanan dalam mulutnya menatap Rian yang sedang meneguk teh manis hangat itu dengan tatapan memicin

