Sudah satu minggu ini Senjana dan temannya sibuk mengurus kegiatan Osis untuk acara Pensi yang akan diadakan bulan depan. Dia bahkan tidak mempunyai waktu untuk memikirkan tentang Aurora yang selalu menatapnya sinis ketika bertemu. Sudah seminggu ini juga dia tidak bertatap muka dengan Antariksa, entah menghilang kemana lelaki itu.
Hubungannya dengan Lily juga sudah mulai membaik saat ini. Gadis itu sudah mulai terbuka tentang perasaannya pada Bimo dengan Senjana dan Cantika. Setidaknya Lily tidak bersikap munafik lagi, tidak seperti dirinya yang sampai saat ini masih kebingungan.
"Sen, dicariin Antariksa di depan tuh!"
"Apa? Gue dicari siapa Ly?" tanya Senjana bingung.
"An-ta-rik-sa babi...." jawab Lily.
"Ngapain dia nyariin gue?" suara Senjana sedikit meninggi dan terlihat panik.
"Ya mana gue tau! Udah sana buru nanti keburu ada guru masuk, bentar lagi jam istirahat habis ini..."
Senjana berdiri dari duduknya dan di dorong Lily menuju pintu kelas. Banyak teman sekelasnya yang menatap penasaran pada Senjana tentang hubungannya dengan Antariksa. Huft... Senjana hanya bisa menghela nafas dan mempersiapkan diri jika salah satu mata-mata Aurora akan memberi tahu gadis manja itu. Sudah pasti dia akan menjadi bulan-bulanan baru bagi Sang Ratu sekolahan.
"Hai..." sapa Antariksa dengan senyum lebar.
Oh my... Itu muka kenapa bisa ganteng bet gitu sih? Tiap hari makan gula nih cowo, bisa manis banget senyumnya?
Batin Senjana berteriak tidak jelas melihat senyuman maut yang diberikan Antariksa. Bahkan teman wanita sekelasnya yang mengintip lewat jendela berteriak kecil melihatnya. See... Walau dia ditakuti di sekolah tetapi banyak juga yang mengagumi ketampanan devil satu ini. Termasuk Senjana sendiri...
"H-hai... Ada apa nyari gue?" tanya Senjana dan dia sendiri tidak tau kenapa suaranya jadi gugup seperti itu.
"Pulang bareng bisa nanti? Ada yang mau gue omongin."
Hell... Apakah ini april mop? Atau telinga Senjana yang error? Atau emang Antariksa yang sedang error? Ini sebenarnya kenapa? Itulah yang ada dalam benak Senjana sekarang. Bingung, aneh, gugup, dan se..nang?
"Tar lo gak lagi sakit kan?" tanya Senjana.
"Khawatir yah...?" goda Antariksa kembali tersenyum.
"Oh my... Atar cakep banget kalo senyum a***y!"
"Gila gila gila! Itu bibir minta banget dicipok apa yah? Kok bisa manis gitu senyumnya..."
"Halalin adek bang Atar..."
Senjana menggeram kesal mendengar bisikan yang sebenarnya bukan bisikan karena suara mereka bahkan masih bisa di dengar olehnya. Dia menoleh memberikan tatapan tajam pada gadis-gadis yang sedang mengintip di jendela. Kenapa sisiwi di kelasnya jadi seperti janda yang haus akan belaian begitu sih?
"Bisa pada diem gak lo?! Gue sumpahin yang ngintip mata lo bisulan yah!" bentak Senjana kesal.
"Yaelah Sen... Kali-kali dong! Kejadian langka ini harus di abadikan." jawab salah satu siswi sambil mengeluarkan ponsel memotret Antariksa.
"Lo pikir artefak diabadikan?! Pergi sonoh! Mau bisulan tuh mata?!"
"Mana ada bisulan di mata Senjana? Yang ada timbilan nyet..." jawab Lily terkekeh.
"Bodo! Ly suruh tuh para jones duduk gak usah ngintipin gue."
"Udah ya say mendingan sekarang kalian duduk deh! Lo pada gak mau liat singa betina ngamuk kan?" ujar Lily.
Suara kecewa mulai terdengar dan seketika para siswi itu langsung duduk walau sedikit-dikit masih mengintip. Senjana memalingkan wajahnya kembali menatap Antariksa yang sekarang sedang tersenyum geli sambil bersedekap, seolah habis menonton kejadian yang lucu dan menggelikan. Lelaki itu semakin aneh semakin hari, baru satu minggu tidak bertemu sudah jadi seperti ini.
"Bisa gak lo jangan senyum-senyum kaya gitu? Kesambet setan apa sih lo?!" ujar Senjana kesal.
"Bawel banget sih! Pinjem hp bentar sini..." jawab Antariksa mengindahkan pertanyaan Senjana lalu mengulurkan tangannya.
"Buat apa?"
"Udah sini! Jangan banyak tanya bisa gak?"
Senjana bersungut-sungut lalu mengambil ponselnya disaku seragamnya. Dia membuka password ponsel lalu memberikannya pada Antariksa yang sudah menengadahkan tangannya sejak tadi.
"Gue gak punya film bokep disitu Tar!"
"Di-download bisa kan?"
"ATAARR.... BALIKIN HP GUE SINI!" Senjana berteriak berusaha mengambil ponselnya yang dijauhkan Antariksa.
Setelah selesai mengutak-atik ponsel Senjana, dia memberikannya kembali pada gadis yang sejak tadi berusaha meraih ponsel itu. Dia mengacak rambut Senjana dengan gemas. Kali ini sang empunya ponsel langsung menjadi kaku seperti sebuah manekin. Apalagi mendengar suara Antariksa yang tertawa sambil mengelus rambutnya. Hell... Cobaan apa lagi ini Tuhan?
"Gue udah missed call nomer hp gue. Nanti gue telpon lagi. Sampai ketemu nanti sore Senjana..." ujar Antariksa lalu berbalik pergi dari sana.
Dia hanya bisa melongo melihat kepergian Antariksa. Dia tidak percaya lelaki itu mampu bersikap lembut seperti itu. Senjana bahkan berpikir kalau Antariksa pasti sedang kerasukan setan sampai berperilaku seramah itu padanya.
©©©
"Pulang naik motor kan Sen?"
Cantika bertanya pada Senjana saat mereka tengah berjalan dilorong sekolah selepas bel berbunyi. Sejak tadi pagi, Cantika sangat sibuk dengan tugasnya yang sudah diamanatkan padanya di osis. Sebenarnya Senjana bersyukur karena tadi Cantika tidak mengetahui Antariksa menemuinya. Gadis seperti Cantika akan sangat membuat repot jika dia tahu, mulutnya lemes seperti belut.
"Iya, kenapa? Mau nebeng kan lo? Gue gak bisa hari ini, besok aja yah..." jawab Senjana.
"Yaahh belum ngomong udah ditolak duluan hehe..."
"Sorry Tika!" Senjana meringis mendengar jawaban Cantika.
"Kenapa gak bareng Lily aja tadi?"
"Lo belum tau? Dia kan balik sama Bimo."
"Lohh? Mereka udah..."
"Belum! Tapi Lily mau lebih terbuka ke Bimo. Dia pengen menunjukkan perasaannya ke Bimo, gitu deh."
"Kok gue gak tau? Jahat banget sih kalian gak cerita ke gue."
"Maaf, lagian lo juga sibuk sama pak ketua osis buat undangan pensi."
"Pokoknya gue gak mau tau, besok minggu kalian main ke rumah dan cerita yang belum gue tau!"
"Utututu.. Ngambek nih!"
Senjana mendengus kesal mendengar ejekan Cantika. Saat mereka akan berbelok, seseorang menabrak Senjana dengan keras membuat dia mundur beberapa langkah. Cantika berusaha menahan lengan sahabatnya itu agar tidal terjatuh ke belakang. Senjana melihat ke depan dan terlihat sosok Aurora yang menatapnya bengis bersama dengan kedua temannya yang memakai seragam seperti anak sd. Ketat! Kaya celana dalemnya spiderman yang merah itu loh. Eh... Senjana menggelengkan kepalanya dengan pikiran konyolnya.
"Gue udah bilang jauhin pacar gue!!" bentak Aurora.
Lorong ini cukup sepi membuat Aurora dengan lancarnya bisa melakukan aksinya untuk melabrak Senjana. Gadis itu hanya diam dengan pandangan kesalnya.
"Kenapa? Lagian bukannya lo udah DIPUTUSIN sama Atar?! Gak inget seminggu lalu dia mutusin lo walaupun gue yakin lo mengada-ada soal hubungan kalian." jawab Senjana tanpa takut sama sekali.
"Dasar jalang!! Lo akan menyesal b***h!" Aurora berteriak sambil menarik rambut Senjana membuat sang punya rambut mengaduh.
"Eh eh lepasin Ra! Gue panggilin guru lo yah!!" ujar Cantika membantu Senjana.
"Kalo lo bisa! Neli! Rere! Urus tuh bocah. Biar gue yang urus hidangan utamanya." ujar Aurora tersenyum sinis.
Aurora menarik rambut Senjana dengan kasar sehingga mau tidak mau Senjana mengikuti langkah Aurora. Dia sesekali meringis dan berusaha melepaskan jambakan gadis itu namun yang ada justru semakin kencang ditarik oleh Aurora. Senjana melihat sekelilingnya yang sudah sepi, benar-benar hari tersialnya.
"Aurora!! Lepasin!!" teriak Senjana.
Aurora hanya tersenyum sinis mendengar teriakan Senjana. Diperjalanan mereka bertemu dengan Revan yang saat itu tengah keluar dari kamar mandi lelaki tepat di sebelah kamar mandi wanita. Revan mengerutkan keningnya saat melihat Senjana sedang dijambak oleh Aurora. Gadis itu tampak seperti meminta bantuan padanya dari cara Senjana menatap.
"Tolongin gue...." lirih Senjana pada Revan.
"Ngapain lo Ra?" tanya Revan dengan datar tanpa peduli permohonan Senjana.
"Bukan urusan lo!! Jangan ikut campur lo Van!!"
Aurora menarik Senjana ke dalam kamar mandi dengan suara pintu tertutup keras. Senjana sudah dia hempaskan sampai membentur tembok. Aurora tersenyum jahat sebelum mendekat pada Senjana lalu mengeluarkan gunting dari dalam tasnya.
©©©
Revan menuju parkiran, disana dia melihat Sang Kapten tengah duduk disalah satu motor matic ditemani Ucup dan Yudhis. Revan memandang motor yang diduduki oleh Antariksa dan mengerti siapa pemilik motor tersebut. Siapa lagi kalau bukan gadis yang bari saja dia temui? Tidak mungkin Ucup atau Yudhis mengendarai motor biasa seperti itu. Apalagi si Kapten, lelaki tampan penuh intimidasi yang memiliki julukan Pangeran Sekolah itu tidak mungkin naik motor macam itu.
"Lah itu Revan! Kemana aja sih lo? Ke kamar mandi aja se-abad! Habis b***k lo yah? Udah cebok belum tuh? Kok gue masih ada nyium bau-bau taik yah..." ujar Ucup sambil mengendus-endus.
"Lo taiknya! Nih cium b****g gue, Wangi gini kaya b****g bayi dikata bau taik." kata Revan menjulurkan bokongnya pada Ucup yang masih menunduk sambil mengendus.
"Bangsad! b****g lo kena hidung gue taik! Alamat mandi wajib gue.." kesal Ucup karena b****g Revan terkena wajahnya yang masih menunduk.
"Ribut lo berdua! Balik udah yuk..." ajak Yudhis menaiki motor sport putihnya.
"Si Kapten gak pulang?"
"Gue ada janji sama orang! Kalian balik duluan aja."
"Janji ya sama orang Kap, masa sama setan. Aneh ih..."
"Lah setannya kan lo Cup."
"Astagfirullah, jahat lo Kap!"
Antariksa terkekeh mendengar jawaban Ucup.
"Kap? Gue gak tau harus ngomong ini sama lo atau gak."
"Kenapa Van?" tanya Yudhis penasaran.
"Gue tadi papasan sama Aurora. Dia... Narik rambut cewe yang waktu dikantin nyiram lo pake jus alpukat masuk ke kamar mandi. Gue masih kesel sama dia soal Mario... Jadi gue biarin dia ditarik sama Aur..."
Bugh!
Revan berhenti berbicara saat satu tinju melayang ke wajahnya. Yudhis turun lagi dari atas motornya menghentikan laju Antariksa yang ingin memukul Revan kembali. Yudhis memandang Ucup meminta membantu Revan untuk berdiri.
"b******n!! Harusnya lo bantuin dia. Lo laki apa b*****g hah?! Bisanya lo diem disaat ada perempuan yang disakiti depan mata lo!!" bentak Antariksa.
"Lo gak punya waktu! Sekarang mending pergi kesana susul cewe itu! Jangan sampe Auro..."
Antariksa langsung berlari masuk ke dalam gedung Sekolah tanpa mendengarkan kelanjutan perkataan Yudhis. Dia berlari seperti orang yang kesetanan. Baginya yang terpenting adalah dia sampai ke kamar mandi s****n yang terasa berkilo-kilo meter sekarang. Dadanya terus bergemuruh mengkhawatirkan gadis bernama Senjana itu.
Sesampainya di depan kamar mandi, dia membuka pintu itu dengan kasar. Disana, dia melihat tubuh gadis yang tengah terduduk memeluk kedua lututnya sambil menunduk. Antariksa merasakan nyeri saat mendengar suara isakan tangis dari gadis itu. Seragam yang biasanya sangat rapi berubah menjadi compang-camping memperlihatkan lekukan tubuh sang gadis sekarang. Rambut yang biasanya terlihat lembut sekarang sudah acak-acakan.
Antariksa membuka jaketnya lalu menyampirkan pada tubuh Senjana yang masih memeluk kedua lututnya. Senjana mendongak menatap Antariksa, tangisnya kembali pecah dan lebih kencang sekarang. Antariksa bergerak memeluk tubuh Senjana berusaha menenangkan gadis itu.
"Dia.. Dia nge-video gue Tar hiks... G-gur takut... Video itu..." ujar Senjana terbata-bata.
"Sshh.. Lo gak perlu khawatir! Gue yang akan urus soal itu. Dia gak akan berani nyebarin video lo! Gue janji."
"Gue takut...."
"Jangan takut Senjana. Gue disini. Gadis Kapten Atar gak boleh nangis." ujar Antariksa berusaha menghibur.
"Gadis Kapten Atar...?" tanya Senjana.
"Mulai detik ini. Senjana Ratulangi adalah milik Kapten Atar. Dan siapapun yang berani buat lo Nangis, dia akan dapet akibatnya dari Kapten Atar. Jadi, jangan nangis lagi Sen...."
Pipi Senjana semakin memerah mendengar perkataan Antariksa. Entah dia harus bersyukur atas kejadian ini atau sedih, dia tidak tahu. Senjana merasakan keduanya saat ini.