ANTARIKSA 16 || KEKUASAAN ANTARIKSA

2227 Kata
Antariksa mengantar Senjana sampai di rumahnya dengan selamat, tentu saja. Dia melihat gadis itu memeluk jaket miliknya erat dan terus menunduk. Antariksa menghela nafasnya melihat Senjana yang masih ketakutan. Siapa yang tidak takut diperlakukan seperti itu dan di video? Semua orang juga pasti takut jika video yang menampilkan tubuh pribadinya disebarkan. "Masih takut?" tanya Antariksa. "Video itu..." "Aku akan mengurusnya, sayang. Jangan takut ya..." jawab Antariksa sangat lembut. Senjana semakin menundukkan kepalanya mendengar perkataan Antariksa. Wajahnya bersemu merah, sejak tadi lelaki itu memanggil dirinya sayang. Apalagi perkataan Antariksa sudah berganti aku-kamu lagi. Disaat Senjana harusnya sedih dan menangis meraung-raung, dia justru merasakan sebaliknya. Entah kenapa dia percaya kalau Antariksa mampu menyelesaikan masalahnya dengan Aurora. "Tar... Jangan deketan sama gue lagi ya?" ucap Senjana sangat pelan. "Kenapa hm?" "Aurora pasti bakal ngelakuin ini lagi sama gue kalau lo masih deket-deket gue." "Kamu takut dia ngelakuin sesuatu lagi?" "Tar..." "Senjana sayang... Kasih aku kepercayaan buat selesain masalah ini. Aku janji Aurora atau siapapun itu, gak akan ada yang akan sakitin kamu lagi. Karena apa? Karena kamu adalah gadis Kapten Atar." "Apa itu? Aku gak pernah setuju buat jadi gadis kamu!" Hell! Kali ini Senjana justru mengikuti permainan Antariksa dengan panggilan aku-kamu sekarang. "Oh jadi gak mau?" goda Atar. "Ya.. K-kamu gak pernah bilang atau tanya gitu sama aku. Kamu yang mutusin sendiri kalau aku g-gadis kamu." "Maksudnya?" "Atar!! Peka dikit dong. Masa kamu langsung mutusin gitu aja. Harusnya kamu tuh tanya, 'mau gak jadi pacar aku?' atau 'mau gak jadi gadisnya Kapten Atar?' tapi ini malah kamu tarik kesimpulan sendiri. Emangnya aku ini barang apa?! Gak romantis banget sih jadi cowo!!" cerita Senjana panjang lebar sampai membuat Antariksa terkekeh geli. "Oh jadi pengen aku tembak gitu maksudnya?" "Tau ah! Sini kunci motornya!" "Haha... Ngambeknya lucu, makin sayang nih..." Antariksa mengacak rambut Senjana penuh perhatian. Astaga... Sebentar lagi Senjana tidak akan sanggup lagi menopang tubuhnya sekarang. Kakinya sudah gemetaran, bahkan jantungnya berdebar tidak karuan. Dia masih belum sanggup dengan perubahan Antariksa yang sedrastis ini. Tuhan... Kuatkan dirinya menghadapi ujian ini. "Eh ada Mamas ganteng yang waktu itu. Mbak Senja, disuruh masuk itu si Masnya." "Mbak Susi ngapain sih? Pasti ngintipin Senja lagi kan?" Senjana menoleh ke belakangnya kesal melihat Mbak Susi sedang berdiri di depan pintu sambil mesam-mesem. Kelakuan asisten rumah tangganya itu memang kadang aneh-aneh saja. Sudah jadi istri orang saja masih ganjen di depan brondong macam Antariksa, tapi Senjana sebenarnya maklum karena makhluk Tuhan se-seksi Atar memang sayang sekali jika dianggurkan. "Hehe Mbak Senja tau aja..." "Maaf, dia Mbak Susi. Asisten rumah tangga disini." kata Senjana pada Antariksa. "Oh, Saya Antariksa Sabhara. Ingat-ingat ya Mbak, karena mungkin saya akan sering kesini nih." jawab Antariksa melirik Senjana sambil tersenyum. "Oh pasti Mas, cowo ganteng kaya Mas Antariksa mah susah di lupain. Pengennya nangkring terus di pikiran." "Ih apaan sih Mbak! Jangan genit deh!" "Si Mbak bisa aja, pengennya sih nangkring dihatinya Mbak yang satu ini nih. Tapi masih galak, belum jinak." "Ataaarr..." "Hahaha.. Bercanda kurcil!" "KURCIL?!" bentak Senjana. "Kurcaci galak." "Ish.. Sebel! Udah sana pulang. Jalan sonoh!" "Tuhkan! Galak banget. Mbak cara jinakinnya gimana sih? Tau gak?" tanya Antariksa pada Mbak Susi sambil turun dari motor Senjana. "Aduh, tanyanya ke pawangnya langsung Mas, ke Mas Fajar. Kalau saya angkat tangan deh hehe..." jawab Mbak Susi yang langsung ngacir ke dalam rumah melihat pelototan sebal Senjana. "Siapa Fajar?!" Antariksa bertanya dengan rahangnya yang mengeras. "Pacar, kenapa?" jawab Senjana menggoda Atar. "Oh.. Masih jadi pacar kan? Jadi selingkuhan kamu aja aku siap." "GILA! Dia kakak kandungku." "Bagus deh." Antariksa mengeluarkan seringaiannya. Tiba-tiba ponsel Antariksa berbunyi, lelaki itu mengambilnya dari saku dan melihat siapa yang meneleponnya. Dia mengabaikan itu lalu menoleh ke arah Senjana yang masih menatapnya. "Masuk sana! Aku mau pulang." kata Antariksa. "Yaudah kamu pulang aja, nanti aku masuk." "Gak usah sok perhatian, katanya kamu gak mau jadi gadisnya Kapten Atar kan?" "Siapa bilang?!" sembur Senjana cepat sampai dia membungkam mulutnya yang asal sembur saja. Antariksa terkekeh, "udah sana masuk, siapin diri kamu kalau sewaktu-waktu aku jadiin kamu gadis Kapten Atar secara resmi kapan aja. Jangan ditunggu, aku gak mau kamu pusing mikirin kapan hari itu." "Ishh!! Tinggal tanya begitu aja susah banget! Sekarang juga bisa." omel Senjana. "Iya, sekarang mungkin juga bisa tapi bukan begitu cara menembak seorang yang akan jadi gadis Kapten Atar. Semua harus sempurna karena gadis Kapten Atar adalah hal berharga yang harus diperlakukan secara spesial." "Idih jangan ngegembel terus deh Mas. Sana pulang! Aku masuk dulu." jawab Senjana secepat kilat masuk ke dalam rumahnya. Jantungnya sudah berdebar tidak karuan tadi. Astaga... Gadis Kapten Atar? Aduhh, memikirkannya membuat Senjana menjadi tersenyum malu. Beruntung kedua orang tua dan kakaknya sedang tidak ada di rumah. Dia bisa malu kalau ketahuan senyum-senyum seperti sekarang. ©©© Antariksa berjalan keluar dari perumahan Senjana lalu mengangkat telepon yang sejak tadi masih terus berbunyi di pinggir jalan raya. Dia mendengar suara seorang pria dengan panik dan kata-kata penyesalan yang terus keluar dari mulutnya.  "Bawa Aurora ke hadapan gue di markas dan gue akan maafin lo soal yang tadi. Suruh semua anak Jupiter pulang, jangan kasih tau ini ke Yudhis. Cukup lo yang ada disana." ujar Antariksa lalu menutup teleponnya.  Setelah menutup teleponnya, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat dihadapannya. Seseorang dengan pakaian serba hitam keluar dari pintu kemudi diikuti orang-orang berpakaian sama di mobil belakangnya. Lelaki itu menundukkan kepalanya pada Antariksa dengan hormat. Antariksa hanya menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.  "Tuan muda ingin langsung pulang atau pergi ke suatu tempat terlebih dahulu?" tanya lelaki dengan pakaian serba hitam itu.  "Kalau aku meminta antarkan aku ke tempat Ayahku, kalian tidak akan mau mengantarku bukan?!" Antariksa mengatakan hal itu dengan dingin.  "Maaf tuan, kami hanya ditugaskan untuk melindungi anda. Tuan besar tidak memperbolehkan Tuan muda ke mansion sekarang." "Bahkan sebagai anak kandungnya aku tidak boleh menemuinya?" Antariksa terkekeh miris.  "Maafkan kami Tuan muda." "Berhenti meminta maaf! Aku punya pekerjaan untuk kalian. Setidaknya kalian berguna untukku sekarang." "Baik Tuan." Setelah itu, lelaki tadi membukakan pintu di kursi penumpang untuk Antariksa. Di dalam mobil Antariksa hanya bersandar pada kursi mobil dan menutup matanya lelah. Sudah hampir selama 13 tahun lamanya dia menerima perlakuan seperti ini. Para bodyguard yang dikirim oleh Ayahnya selalu mengikuti dirinya kemanapun dia pergi. Terkadang saat Antariksa tengah seperti sekarang, tidak membawa kendaraan maka dengan cepat tanpa harus ditelepon mereka sudah datang siap dengan mobil mewah bagaikan milik pejabat. Mereka juga selalu mengikuti Antariksa secara sembunyi-sembunyi walaupun Atar tau kalau dirinya diikuti. Saat Antariksa sedang tawuran, terkadang akan ada beberapa orang disampingnya melindungi dia dengan berpenampilan mirip anak sekolah.  Antariksa bahkan pernah sangat marah karena merasa risih diawal mereka terang-terangan mengikutinya. Dia sampai memukuli para bodyguard itu, namun mereka tidak ada yang membalas pukulannya. Jika dia sedang merasa risih maka dia akan mengancam para bodyguard itu dengan cara akan menyakiti dirinya sendiri kalau masih mengikutinya. Alhasil, mereka memang tidak mengikuti Antariksa lagi secara terang-terangan namun bersembunyi dan Atar cukup menghargainya karena lelah menolak terus.  "Tuan besar meminta saya menyampaikan kalau dia tidak ingin anda mengikuti tawuran lagi Tuan." ujar sang supir.  "Katakan padanya, kalau itu bukan urusannya. Berhenti memperdulikan anak yang tidak ingin dia temui. Sampaikan itu padanya, Eros!" "Tuan..." "Diamlah! Aku mengantuk." Eros sempat terdiam mendengar jawaban dari Tuan Mudanya itu. Dia kembali fokus pada jalanan di depannya.  "Beliau menyayangi anda Tuan. Jika tidak, beliau tidak akan mengirim kami untuk melindungi anda." lirih Eros dengan keyakinan bahwa Tuan mudanya mendengar.  ©©© "Dimana cewe itu?!"  Antariksa memandang Revan dengan tatapan lasernya. Sejak tadi lelaki itu memang yang menelepon ingin mengucapkan kata penyesalan serta permintaan maaf padanya.  "Dia sudah terikat Tuan." jawab Revan.  Antariksa mendengus kasar mendengar perkataan formal yang dilontarkan Revan. Dia tahu kalau Revan adalah salah satu bodyguard yang dipekerjakan Ayahnya dan tidak lain tidak bukan adalah putra dari Eros. Lelaki itu sudah menemani Atar sejak tahun terakhir di SMP dan Atar mengetahui mengenai ini satu tahun kemudiannya saat memasuki Sekolah menegah Atas.  Awalnya Atar sedikit mempermasalahkan itu, dia kecewa pada Revan yang sudah dia percaya sebagai teman. Tapi dia tahu ada kesungguhan bahwa Revan ingin berteman dengan dirinya dan dia menerima lelaki itu namun tidak sebagai bodyguard tetapi sebagai teman.  "Gue gak terima bodyguard lagi!!"  "Maaf Tar, gue kebawa suasana tadi." jawan Revan menggaruk tengkuknya sambil meringis.  "Bokap lo rese! Dia lebih mihak orang yang gak pernah kelihatan Batang hidungnya." ujar Antariksa sambil memasuki gedung kosong itu.  "Lah bokap lo kan bosnya bokap gue Tar. Dia jelas belain bosnya lah." jawab Revan.  "Gue belum terima maaf lo ngomong-ngomong." ujar Atar kesal.  "Sorry Tar, ngambeknya jangan kelamaan. Bokap dukung bokap lo tapi gue kan dukung lo sebagai sahabat." jawab Revan menepuk dadanya.  Antariksa memutar bola matanya jengah. Dia memasuki salah sati ruangan di lantai bawah yang kotor dan memang sengaja dibiarkan seperti itu agar tidak ada yang tahu kalau gedung ini adalah markas Jupiter. Dia melihat gadis yang dia inginkan tadi tengah terikat di kursi sambil memberontak ingin terlepas. Mulutnya disumpal kain agar gadis itu tidak berteriak.  Antariksa mendekati perlahan gadis itu lalu menarik rambut Aurora yang sudah acak-acakan. Gadis itu mengeluarkan air matanya saat melihat Antariksa di depannya.  "Gimana rasanya rambut lo ditarik kaya gini hah?! Sakit?!"  Aurora hanya menangis tidak bisa menjawabnya karena mulut penuh kain. Antariksa melepaskan tarikan dirambutnya lalu berjalan menuju Eros yang berdiri disamping Revan.  "Siapa keluarganya, Eros?" tanya Antariksa.  Lelaki paruh baya berperawakan tinggi dengan wajah putih dan rambut cokelatnya yang mencolok itu melihat ponselnya untuk memastikan. Lelaki berwajah bule itu terlihat masih kekar walaupun sudah berumur, Eros juga adalah orang yang sangat setia. Bukan hanya Eros namun keluarganya yang juga telah melayani keluarga Sabhara. Istrinya yang keturunan Indonesia adalah teman baik Mamanya dulu. Ayahnya benar-benar beruntung memiliki tangan kanan seperti Eros. Ayah Antariksa adalah keturunan blasteran Spanyol yang tinggal dan bersekolah di London saat itu. Disanalah dia bertemu Eros lalu mempekerjakan lelaki itu sebagai tangan kanannya. Sedangkan Ibunya adalah keturunan Indonesia-Rusia. Mereka bertemu di Indonesia saat Ayahnya sedang ada proyek disini. Singkat cerita mereka menikah dan menetap di Indonesia lalu dipernikahan ke-8 tahun mereka bercerai dan saat itu umur Antariksa masih 4,5 tahun. Entah kenapa, Atar tidak tahu sampai saat ini. Dia mendesak Mamanya bercerita namun tidak ada yang keluar dari mulut wanita itu. "Dia dari keluarga Dharma Tuan, salah satu pengusaha yang bekerja sama dengan Ayah anda. Bisa dibilang mereka bergantung pada Sabhara corp." "Bagus! Hancurkan saja perusahaan itu." Mendengar perkataan Antariksa, Aurora menjerit tertahan. Dia semakin kencang menggoyangkan kursi hingga menimbulkan kegaduhan. "Lepaskan kain di mulutnya!" perintah Antariksa pada bodyguard dibelakang Aurora. "Jangan Tar, please... Maafin gue, bokap gue gak salah apapun." Aurora berucap cepat sambil menangis setelah kain dilepas. "Dia emang gak salah! Tapi putrinya yang udah ngusik kehidupan gue. Ah.. Salah! Ngusik gadis gue maksudnya." jawan Antariksa santai. "G-gue gak akan ganggu dia lagi! Gue mohon lepasin perusahaan bokap Tar. Tolong maafin gue..." isak Aurora. "Van! Lo bawa hp dia?!" tanya Antariksa. "Ada sama gue, ini..." Revan menyerahkan ponsel milik Aurora. Antariksa membukanya dan mencari video Senjana. Benar saja, dia menemukan video Senjana yang tengah berusaha menutupi tubuh terbukanya dari sorotan kamera Aurora. Melihat hal itu Antariksa semakin geram. Dia membanting ponsel itu ke lantai dan hancurlah ponsel itu sampai tidak berbentuk lagi. Dia menatap Aurora tajam, seperti ingin melenyapkan gadis itu melalui tatapannya. "Gimana kalau kita ngelakuin hal yang sama kaya di video itu Aurora?" tanya Antariksa tersenyum jahat. "Jangan... Maafin gue Tar! Please maafin gue... Hiks..." "Lepaska ikatannya! Sekaligus... Buat pakaian itu lepas dari tubuhnya." Perintah Antariksa diangguki oleh kedua pengawalnya itu. Mereka dengan cepat mendekati Aurora yang sedang memberontak sambil berteriak. Antariksa tersenyum sinis saat gadis itu menangis menahan pakaiannya agar tidak dilepaskan kedua lelaki itu. "Cukup! Lepasin dia!" ujar Antariksa membuat kedua pengawalnya berhenti sebelum berhasil membuka pakaian Aurora. Gadis itu jatuh terduduk memegangi pakaiannya sambil menangis sesenggukan. Tidak ada tatapan iba dari Antariksa. Sebenarnya dia tidak bermaksud melakukan itu dengan sunguh-sungguh. Dia hanya ingin Aurora merasakan rasanya dipaksa untuk memperlihatkan tubuhnya seperti yang dilakukannya pada Senjana. Antariksa masih berbaik hati dengan tidak melecehkan gadis itu didepan para lelaki disana sekarang. "Mulai besok gue gak mau liat lo ada di sekolahan itu lagi! Gue mau lo pindah dari sana dan jangan muncul di hadapan gadis gue lagi!! Sekarang lo tau akibatnya mengusik ketenangan seorang Antariksa Sabhara." Setelah mengatakan hal itu, Antariksa pergi dari sana diikuti Revan, Eros dan para pengawalnya meninggalkan Aurora sendiri. Revan melirik Antariksa yang masih berjalan dengan wajah datarnya. Antariksa yang merasa diperhatikan, berhenti berjalan dan menoleh ke arah Revan. "Apa?" tanya Antariksa. "Lo tau? Aura lo sama kaya milik bokap lo waktu dia lagi marah. Sama-sama nyeremin..." "Lo juga sama kaya bokap lo! Rese! Kerjaannya ngikutin gue kaya anak ayam ke induknya." jawab Atar kesal. "Hahaha... Emang itu kerjaan bokap gue Tar." "Taik!" Revan terkekeh, "eh btw, kata bokap lo masih ngotot ketemu bokap lo?" "Hmm.. Gue ada sesuatu yang harus ditanyain ke dia. Sialnya dia pinter sembunyi dari media sampai gak ada satupun berita tentang pak tua itu. Gue gak ada petunjuk sampai sekarang." jawab Atar. "Sabar Tar, mungkin nanti ada waktunya bokap lo minta lo pergi ke mansionnya." "Hmm, seenggaknya dia kasih gue kekuasaan yang bisa dimanfaatin setelah beberapa tahun lamanya." Antatika kembali masuk ke dalam mobil hitam yang mengantarnya tadi dan kembali memejamkan matanya sepanjang perjalanan. Sore yang cukup melelahkan baginya. Baru pertama kali dia menggunakan kekuasaan atas nama keluarganya, Sabhara. Kekuasaan yang selama 13 tahun ini tidak berguna bagi dirinya. Kekuasaan rahasia seorang Antariksa bahkan dari Mamanya sekalipun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN