Antariksa pulang pukul delapan malam, dia memasuki rumah megah yang dia tinggali berdua bersama Ibunya. Dia melewati ruang makan dan matanya melihat pada satu sosok yang tengah duduk disamping Ibunya. Kening Antariksa berkerut tidak suka melihat lelaki itu. Dia tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres dari lelaki itu dan Ibunya cukup mudah dibodohi oleh lelaki bernama Surya itu. Lelaki yang sudah selama satu tahun ini menjadi kekasih ibunya.
"Atar pulang!" ucap Antariksa menyadarkan kedua insan yang tengah menyantap makanan mereka.
"Kamu habis darimana baru pulang jam segini? Kumpul lagi sama anak-anak begajulan itu?!" ucap Riana dengan wajah datar menahan emosi.
"Harusnya Mama seneng kan Atar baru pulang? Jadi Mama bisa berduaan sama pria tua itu!" jawab Antariksa santai.
"Anak kurang ajar!! Semakin Mama biarkan kamu menjadi lebih keterlaluan Atar!!" bentak Riana berdiri dari duduknya.
"Riana sudahlah, putramu baru saja pulang. Biarkan dia istirahat." Surya ikut berdiri menenangkan Riana.
"Dia tidak bisa lagi didiamkan Mas! Kata-katanya sudah sangat kasar dan itu pasti karena teman-temannya itu."
"Jangan cari kambing hitam lagi Ma! Cukup! Mama tau apa yang sebenarnya buat Atar kaya gini."
"Oh jadi kamu masih mikirin Papa b******k kamu itu?! Buat apa Atar? Dia bahkan gak pernah mikirin anaknya sendiri! Kalau kamu memang mau sama Papa kamu silakan! Kamu bisa pergi dari sini dan cari Papamu itu! Tapi setelah itu jangan pernah memanggilku Mama lagi!!" suara bentakan Riana menggelegar sampai disetiap sudut rumah.
Antariksa membulatkan matanya tidak percaya dengan kalimat pengusiran dari sang Mama. Dia tidak menyangka kalau Riana bisa sampai mengusirnya seperti ini. Seorang Riana Daniarti Wiratno yang selama ini mengandung serta merawatnya sampai sekarang telah mengusir dirinya dari rumah megah miliknya. Atar merasakan sakit di dadanya, mendengar Ibu kandungnya sendiri berkata seperti itu membuat hatinya berdenyut nyeri. Antariksa berusaha menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca. Dia mengepalkan kedua tangannya menahan air mata itu keluar.
"Mama emang gak pernah suka Atar tinggal disini kan? Sejak awal Mama emang udah benci sama Antariksa kan? Kalau itu mau Mama, Atar akan pergi dari sini. Terima kasih udah ngerawat dan jadi Ibu bagi Atar selama ini. Saya gak akan melupakan jasa anda."
Setelah mengatakan itu, Antariksa membalikkan tubuhnya kembali menuju pintu yang tadi baru saja dia lewati. Hancur! Itulah yang saat ini dirasakan oleh hatinya. Tidak ada anak yang tidak sakit hati saat mendengar perkataan ibu kandungnya seperti Riana tadi. Sudah berkali-kali Antariksa mencoba menahan semuanya karena dia sangat menyayangi Riana tetapi kali ini, saat kalimat pengusiran itu keluar, tidak ada lagi yang bisa menahannya kali ini.
Antariksa memasuki garasi di sayap kanan rumahnya dan masuk ke dalam salah satu mobil berwarna merah yang terparkir disana. Bukan Riana yang membelikan mobil itu, bodyguard sang Papa yang mengirimkan untuk dirinya. Saat Mamanya tahu itu kiriman dari Papanya, sudah dipastikan wanita paruh baya itu marah. Setiap kali melihat mobil itu, Riana selalu ingin merusaknya karena itulah Atar tidak pernah memakai mobilnya dan menyimpannya di garasi yang terpisah dari mobil Mamanya.
Antariksa menyalakan mesin mobilnya dan menancapkan gas segera pergi dari rumah itu. Atar tidak pernah menangis sampai sekarang, dia memang sedih tapi tidak pernah mengeluarkan air matanya. Berkali-kali dia menerima perkataan Riana dan perlakuan Papanya yang tidak ingin bertemu dengannya, dia sama sekali tidak menangis. Dia hanya merasa sedih, namun sekarang matanya tidak mau bekerja sama lagi. Untuk pertama kali dalam sekian tahun, air matanya turun dari kedua matanya.
Atar mencengkram setirnya erat, dia marah, sakit, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Dia seperti tidak memiliki tujuan untuk hidup lagi. Dia ingin mati.
©©©
Entah apa yang sudah terjadi dipikirannya, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi berharap dia akan mengalami kecelakaan dan mati. Namun yang terjadi justru sebaliknya, dia tengah bersandar pada mobilnya sambil memandangi rumah dihadapannya. Antariksa hanya diam dan berharap seseorang yang dia harapkan keluar dari rumah itu.
Antariksa terkekeh miris dengan apa yang dia pikirkan. Dia menunduk menatap kedua kakinya yang masih mengenakan sepatu sekolahnya. Bahkan dia masih mengenakan seragam sekolah dan belum sempat beristirahat sama sekali setelah kejadian sore tadi.
"Antariksa..?"
Suara merdu dari seseorang yang dia harapkan terdengar. Antariksa mengangkat kepalanya dan menatap gadis dihadapannya terkejut. Memangnya telepati masih ada dijaman sekarang?
"Itu beneran kamu?"
Antariksa tersenyum mendengar ketidakpercayaan gadis dihadapannya. Hanya dengan melihat gadis itu saja sudah bisa membuatnya tersenyum setelah tadi menangis alay baginya.
"Kamu ngapain disini? Masih pake seragam lagi. Kamu belum pulang daritadi ya?" tanya Senjana bingung karena sebenarnya dia keluar ingin pergi ke minimarket membeli cemilan.
"Gue gak punya rumah Senjana."
"Hah? Kok bisa? Rumah kamu hilang?"
Antariksa terkekeh, "mana ada rumah hilang? Lo ngelawak ya?"
"Siapa yang ngelawak? Terus kamu ngapain kesini?"
Antariksa tidak menjawab pertanyaan Senjana, dia maju mendekati gadis itu lalu membawa ke pelukannya. Senjana terkejut dengan perlakuan tiba-tiba dari Antariksa. Dia berusaha untuk melepaskan pelukan itu namhn Antariksa justru menenggelamkan wajahnya di bahu Senjana.
"Gue butuh alasan buat tetap hidup. Gue udah kehilangan semua alasan buat terus bertahan sekarang." lirih Antariksa.
Senjana terdiam mendengar ucapan Antariksa. Dia bisa menangkap kesedihan yang amat mendalam dari perkataan lelaki itu. Seperti tidak ada yang bisa dilakukan lagi dan menyiratkan keputusasaan dihidupnya.
"Ada apa? Kamu punya masalah?" tanya Senjana pelan.
"Gak ada yang butuh kehadiran gue, Sen. Gue gak punya tujuan buat hidup lagi." jawab Antariksa tanpa melepaskan pelukannya.
"Jangan ngomong kaya gitu Tar! Pikirin orang tua kamu!" sentak Senjana.
"Gue gak punya orang tua."
Mendengar jawaban Antariksa, Senjana menggigit bibirnya gelisah. Dia takut kalau Atar melakukan hal yang berbahaya.
"Kalau gitu pikirin aku! Kamu bilang katanya mau jadiin aku gadis Kapten Atar kan?! Kamu mau ingkar janji?"
Tidak ada jawaban dari Antariksa. Senjana sendiri bingung dengan kalimat yang dia lontarkan, tapi dia tidak bisa terus bersikap munafik. Senjana mengakui kalau dia mempunyai perasaan pada Antariksa. Dan melihat lelaki itu putus asa seperti ini membuatnya terluka juga. Dia tidak ingin kehilangan sebelum merasakan rasanya memiliki seorang Antariksa Sabhara. Dia tidak ingin lelaki itu terluka atau dalam bahaya.
Senjana memeluk pinggang Antariksa membalas pelukan lelaki itu.
"Aku gak suka Antariksa yang lemah kaya gini! Kamu tuh gak pantes melow begini! Jangan pernah berpikiran kaya gitu lagi sekarang. Pikirin perasaan aku Tar! Aku sayang sama kamu. Aku gak mau kamu terluka. Masa bodoh aku cewe ngungkapin perasaan duluan ke cowo. Aku takut kamu kaya gini!" terang Senjana.
Antariksa melepaskan pelukannya dan menatap Senjana yang masih mengaitkan tangannya dipinggang Atar. Gadis itu terlihat khawatir dan ingin menangis. Antariksa tersenyum melihatnya, dia mengusap kepala Senjana dengan sayang lalu kembali memeluk gadis itu erat.
"Jadi, sekarang lo yang ngebet pengin jadi gadis Kapten Atar? Hm?" tanya Antariksa geli sambil mengusap belakang kepala Senjana yang bersender didadanya.
"Tar please, bisa gak jangan merusak suasana romantis kaya gini pake kata-kata nyebelin kamu?! Aku tuh udah buang gengsi yah ngungkapin perasaan aku ke kamu duluan. Bukannya jawab malah dibikin bercanda! Kamu serius sedihnya gak sih?!"
"Serius sayang, serius! Soalnya kamu lucu kalau lagi ngambek. Sayang aku jadi berlipat ganda." Antariksa terkekeh geli mengubah panggilan menjadi aku-kamu.
"Gombal banget astaga!" Senjana menjawannya dengan tertawa.
Antariksa tersenyum dibalik pelukannya. Dia mencium puncak kepala Senjana.
"Jadi alasan gue buat terus hidup ya Sen? Jadi tujuan dalam hidup gue buat bikin lo bahagia. Jadi tempat sandaran waktu gue putus asa kaya gini. Jadi alasan gue buat terus tersenyum. Jadi satu-satunya gadis Kapten Atar sampai akhir hidup gue. Satu-satunya gadis yang gue cinta. Lo... Kamu mau terima aku, Seorang lelaki yang gak punya kata romantis dan keluarga yang jauh dari kata sempurna dalam hidupnya ini?"
Senjana tidak bisa menahan air matanya. Dia terisak dalam pelukan Antariksa. Apa yang lelaki itu katakan? Tidak punya kata romantis? Lalu yang barusan dikatakan itu apa? Bahkan perkataannya lebih dari romantis membuat Senjana menangis bahagia sekarang. Dalam hidupnya tidak pernah ada lelaki yang menyatakan perasaannya seindah penuturan dari Antariksa. Senjana merasa dia sangat beruntung mendapatkan kesempatan dicintai lelaki itu sebesar ini.
"Jangan nangis, dijawab dulu pertanyaannya." ujar Antariksa sambil tertawa kecil.
"Ck! Iya mau." jawab Senjana kesal dengan godaan Atar.
"Mau apa?"
"Tuh kan nyebelin lagi kamu ah! Males!" jawab Senjana memukul punggung Antariksa
"Haha... Jadi, sekarang bisa panggil sayang?" tanya Atar masih menggoda Senjana yang terus menempel pada d**a Antariksa menyembunyikan wajahnya.
"Hmm..."
"Baju aku basah kena ingus kamu nanti, sayang..."
"Bodo!"
"Besok sekolahnya gimana?"
"Pikir aja sendiri!"
"Sen..."
"Ishh! Atar berisik deh. Aku masih malu, bentar!"
"Tapi itu..."
"Apa sih?!"
Senjana kesal lalu melepaskan pelukannya. Dia melihat Antariksa yang tengah melirik ke belakang Senjana beberapa kali seperti membuat kode. Senjana mengerutkan kening lalu membalikkan badannya. Matanya melotot saat melihat keluarganya berdiri di depan pintu rumah dengan tatapan tajam dari Fajar Rajalangi, kakaknya yang posesif sementara Ibunya justru mesam-mesem melihat putrinya dengan Ayah yang menggelengkan kepala.
"Bisa kamu jelasin dek?" tanya Fajar dengan suara rendahnya.