Antariksa memandang setiap orang yang ada di sekelilingnya dengan canggung. Dia tidak menyangka kalau akan kepergok oleh kedua orang tua Senjana. Dia bahkan berkali-kali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Nama lo siapa?" tanya Fajar pada Antariksa.
"Antariksa bang."
"Siapanya adek gue, lo?" Lagi-lagi Fajar bertanya dengan nada sinis.
"Mas Fajar! Biasa aja dong tanyanya. Kayak mau ngajak berantem aja." kesal Senjana melihat tingkah Fajar.
"Dek! Mas lagi tanya beneran sama dia loh. Siapa yang mau ngajak berantem sih?"
"Lah Mas nadanya sinis gitu! Gak enak didengernya tau!"
"Kok jadi kamu yang marah? Dia aja gapapa kok, iya kan?" elak Fajar meminta persetujuan Antariksa yang dibalas anggukan ragu.
"Mas tatapannya kaya gitu ya jelas dia ngangguk aja nurutin mas!"
"Dek, Mas itu cuma...."
"Udah berhenti! Kalian ini ribut mulu dari tadi. Malu diliatin sama Antariksa itu loh." lerai sang Bunda melihat kedua anaknya.
"Jangan dimasukan hati atas perlakuan Fajar ya Antariksa... Dia memang terlalu over kalau tentang Senjana." ujar Ayah Senjana.
"Gapapa Om, saya santai kok orangnya." jawab Antariksa tersenyum.
"Dipikir pantai kali santai?!"
"Mas Fajar!!" teriak Senjana.
"Apaan sih dek?" Fajar menjulurkan lidahnya menggoda adiknya yang sekarang mengejarnya karena menghindarinya.
"Maklum ya Antariksa, mereka memang seperti itu kalau di rumah."
"Sangat menyenangkan memiliki suasana rumah seperti ini, Tante." ujar Antariksa tersenyum.
"Ya begitulah, mereka sudah dewasa tapi sikapnya masih seperti anak kecil. Kamu belum pulang ke rumah? Kenapa masih pake seragam sekolah?" ucap Ayah Senjana.
"Atar tadi habis kerja kelompok di tempat temen Om, jadi sekalian mampir." jawab Antariksa bohong.
"Heh lo! Itu didepan mobil lo? Atau pinjem punya temen?" tanya Fajar yang baru saja dari luar menghindari kejaran Senjana.
"Ngapain tanya-tanya sih Mas? Iri ya pengin punya mobil kaya gitu??" goda Senjana terkekeh.
"Siapa yang...."
"Itu punya temen bang, pinjem buat pulang ke rumah tadi."
Senjana mengerutkan keningnya, dia seperti tidak percaya dengan perkataan Antariksa tadi. Kenapa? Karena Senjana melihat plat mobil itu menggunakan nama AS yang berarti singkatan nama Antariksa, serta ada ukiran dengan nama SABHARA di bagian samping mobil sport merah itu cukup terlihat jelas walaupun tulisannya tidak terlalu besar.
"Oh gue kirain... Tuh denger dek! Bukan mobilnya dia." teriak Fajar.
"Ish! Gak usah teriak ditelinga Senja!!" balas Senjana dengan berteriak.
"Fajar, berhenti menggoda adikmu!" tegas Ayah Senjana.
"Sukurin!" ejek Senjana.
Kring... Kring...
Antariksa mengambil ponselnya yang bergetar disaku celananya. Dia mengerutkan keningnya sebentar lalu meminta ijin pada kedua orang tua Senjana untuk mengangkat telepon di luar rumah.
"Dateng ke apartemen gue sekarang!"
"Ckk! Halo Yudh! Berapa kali gue bilang ke lo? Sopan santunmu mana ndo?" kekeh Antariksa.
"Gak usah sok basa-basi deh Tar! Gue tunggu."
Antariksa melihat layar ponselnya saat telepon itu diputus sepihak oleh Yuhistira. Antariksa hanya mengedikan bahunya cuek.
"Siapa?" Senjana keluar dari rumah mendekati Antariksa.
"Yudhis, aku mau pamit. Yudhis minta aku ke apartemennya tadi."
"Oh.. Yaudah. Bunda, Ayah, Mas Fajar... Antariksa mau pulang." ujar Senjana ke dalam rumah.
"Kok cepetan Atar?" tanya Bunda saat sudah di luar.
"Iya, udah malem Tan. Atar pamit dulu.. Om, Mas Fajar, saya pamit pulang." ujar Antariksa menyalami keluarga Senjana.
"Hati-hati ya..." ujar Ayah.
"Hati-hati! Jangan ngebut!" ujar Senjana.
"Iya Cil!" Antariksa terkekeh melihat Senjana memajukan bibirnya cemberut.
©©©
A
ntariksa memasukan beberapa angka pada samping pintu depannya. Setelah terdengar bunyi Beep barulah dia membuka pintu itu lalu masuk ke dalamnya. Dia melihat Yudhis tengah duduk disofa dengan kaki yang terletak di atas meja. Wajahnya tertutup lengannya sendiri menghadap ke langit-langit.
"Kenapa lo?"
Yudhis menurunkan lengannya dan menatap Antariksa yang sekarang duduk di sofa sampingnya tengah mengeluarkan rokok dari saku celananya dan menyulutnya. Yudhis terdiam sejenak melihat apa yang dilakukan sahabatnya itu sampai membuat yang ditatap mengernyit bingung.
"Ngapain lo liatin gue kaya gitu? Kangen?" tanya Antariksa lalu menghisap rokoknya.
"Lo bisa berhenti buat masalah gak sih Tar?!"
"Masalah apa?! Eh Monyet... Gue dari tadi diem gini juga!" jawab Antariksa bingung.
"Lo minggat kan dari rumah?"
Gerakan tangan Atar menghisap rokok terhenti. Dia menatap Yudhis dengan tatapan tajam dan kening berkerut. Bagaimana lelaki ini tau kalau dia pergi dari rumah?
"Tau dari siapa lo?!"
"Nyokap lo tadi telpon gue. Dia bilang kalo lo minggat dari rumah."
"Gue bukan minggat tapi diusir! Dia sendiri yang minta gue pergi bukan atas keinginan gue sendiri."
"Tar, Nyokap lo mungkin lagi emosi aja. Lo tau sendiri gimana kalo dia lagi emosi kan? Lagian biasanya lo juga gak pernah tanggepin omongannya Nyokap lo kan? Kenapa sekarang lo jadi baper gini?"
"Baper? Haha... Jadi maksud lo gue yang terlalu sensitif gitu?" Antariksa meremaa rokok ditangannya tanpa mempedulikan tangannya panas terbakar.
"Tar... Kita tau sifat Nyokap lo. Dia emang sering asal ngomong waktu emosi, tapi gue tau dia sayang sama lo!"
"Tau darimana lo hah?! Lo gak tau gimana rasanya dapet kata-kata kebencian dari Nyokap lo sendiri! Lo gak tau gimana rasanya gak pernah diharapin sama kedua orang tua lo! Gak pernah dibutuhin! Disesali karena masih hidup sampai sekarang! Jangan sok nasihatin gue Yudh! Lo gak tau apapun!!" bentak Antariksa.
Yudhis menghela nafasnya lelah, dia mengusap wajahnya frustasi. Dia tau hubungan anak dan ibu itu memang sudah rusak sebelumnya.
"Lo tinggal disini aja mulai sekarang sampai lo tenang." ujar Yudhis lalu pergi meninggalkan Antariksa di apartemen itu sendiri.
Antariksa menatap meja didepannya dengan tatapan hampa. Dia menendang meja itu sampai bergeser jauh dengan vas bunga jatuh ke lantai dan pecah berserakan. Sama seperti perasaannya saat ini.
©©©
"Dimana Atar?"
Samudera, anak dari kelas 10 Ips yang termasuk dari salah satu anggota Jupiter memasuki kelas Antariksa dan bertanya pada anak-anak Jupiter yang ada disana. Wajah tampannya sangat dikagumi oleh banyak kaum hawa, namun ekspresinya yang datar itu membuat tidak ada satupun gadis berani mendekatinya. Bahkan anak-anak lain mulai membandingkan dirinya dengan Antariksa dan berpikir kalau Samudera adalah calon penerus Kapten Atar kelak.
"Belum berangkat. Kenapa Sam?" jawab salah satu anak.
"Kasih tau gue kalo dia udah berangkat! Ada urusan penting." jawab Samudera.
Baru saja lelaki itu keluar dari pintu, Antariksa dan Yudhis tengah berjalan beriringan menuju ke arahnya. Antariksa mengerutkan kening saat melihat salah satu anggota Jupiter yang masuk ke dalam list junior andalan bagi Atar baru saja keluar dari kelasnya. Yudhis juga ikut mengernyit melihat Samudera, rekrutan anggota baru tahun lalu yang sudah populer dengan keberanian serta sikap yang mirip dengan Antariksa.
"Ngapain lo disini, Sam?" tanya Antariksa pada Samudera.
"Kebetulan kalian berdua, ada hal yang perlu gue sampein. Mungkin bisa dibilang berita buruk."
"Ada apa?" tanya Yudhis.
"Kita terancam mundurin jadwal acara sosial untuk anak panti tahunan bulan depan."
"Maksudnya?"
"Ragavar... Mereka mulai bergerak. Kemarin Marcel dicegat sama mereka dan dibikin babak belur. Mereka juga ninggalin surat buat lo. Isinya tentang mereka akan habisin satu per-satu anak-anak Jupiter kalo lo masih jadi Kapten Jupiter dan belum bubarin kelompok ini."
"b******k! Mereka mulai bertindak layaknya pengecut." geram Yudhis.
"Gue kasih saran untuk sementara Jupiter untuk jangan menampakkan diri lebih dulu. Gue takut kalau acara itu tetep diadain, Ragavar akan serang kita disana dan lo tau sendiri... Bukan cuma Jupiter yang ada disana. Ada anak panti nantinya, mereka bisa dalam bahaya."
"Lo bener! Kita batalin acaranya." ujar Antariksa dengan wajah tanpa ekspresi.
"Sampai kapan? Kalau kaya gini acaranya gak akan bisa dilakuin tahun ini."
"Kita harus selesain masalah sama Ragavar secepatnya Yudh! Kalian udah tau siapa pemimpin Ragavar?" tanga Atar pada Yudhis dan Samudera.
"Belum ada informasi apapun. b******n itu cukup pinter tutupin identitasnya." ujar Samudera.
"Kayanya mereka sengaja Tar. Gue yakin ada sesuatu yang aneh sama pemimpin Ragavar. Dia kaya mau sembunyi dari lo, dan dia juga ngancem lo disurat itu buat mengundurkan diri jadi Kapten Jupiter. Gue rasa dia salah satu orang yang punya dendam sama lo." ujar Yudhis.
"Kita bahas ini nanti di rapat Jupiter pulang sekolah tempat mamake. Kasih tau Revan buat sebarin ke anggota lainnya." ujar Antariksa pada Samudera.
"Gue belum selesai. Bagian buruknya ada di bagian ini." potong Samudera.
"Apa?" tanya Atar.
"Phoenix menyandra Junior! Mereka minta lo dateng hari ini di markas mereka sendiri. Semalem Junior dibawa sama mereka, dan sekarang orang tua Junior lagi nyari dia. Kalo kita biarin lebih lama lagi, mungkin orang tuanya Junior bakal bawa masalah ini ke polisi dan itu lebih bahaya lagi."
"Waterboom! Apa tadi? Gue gak salah dengerkan ngupingnya kalo junior disandera Phoenix?" Ucup tiba-tiba datang dari arah belakang Atar bersama dengan Bimo dan Revan.
"Enggak salah lo, Nyet! Gue juga denger tadi." jawab Bimo.
"Seriusan Tar?" tanya Revan.
"Gue baru denger dari Samudera." Atar menjawab dengan tangan terkepal.
"Wah si k*****t! Minta diserbu emang tuh orang. Gerak gak nih Kap?" tanya Ucup dengan semangat.
"Kalian tau apa yang harus dilakuin!" jawab Antariksa lalu pergi tidak jadi masuk ke kelas melainkan menuju tempat mamake meninggalkan yang lain dengan tugas mereka.
Memanggil pasukan Jupiter.