ANTARIKSA 19 || BIBIT-BIBIT PELAKOR

1465 Kata
"Gue bakal datang ke markas mereka sore ini." Yudhis yang mendengar hal itu langsung berdiri dengan wajah tidak setujunya. Dia memandang Antariksa tajam seperti menantang lelaki itu. "Gak usah gila lo Tar! Sekarang bukan waktunya bersikap layaknya superhero! Kita pikirin cara lainnya." "Lo pikir gue mau belaga kaya hero gitu?! Pikir aja Yudh! Kalo sampai orang tuanya Junior lapor polisi, kita semua juga bakal kena imbasnya. Sadar gak lo?!" bentak Atar. Disana selain Yudhis terdapat Revan, Bimo, Ucup, Samudera, Bagus, Anggar, dan Nolan. Mereka adalah anggota Jupiter yang dominan dan paling dipercaya oleh Atar. Bisa dibilang penerus tahta petinggi Jupiter nantinya. Revan dan yang lainnya sudah memberitahukan hal ini pada semua anggota Jupiter, namun tidak mungkin mereka berkumpul sekarang semuanya karena ini masih jam pelajaran. Jangan tanyakan kenapa mereka bisa keluar dijam ini, tentu saja bolos. "Tar, kita bisa bahas ini lebih tenang lagi. Jangan terbawa suasana yang tegang. Kalo lo kesana sendirian, itu bisa bahaya buat lo." Bimo yang sedari tadi diam mulai bersuara. "Kalian ada curiga, kalo Ragavar sama Phoenix kerja sama?" Samudera berbicara secara tiba-tiba membuat semua yang ada disana menoleh. "Maksud lo?" Anggar, siswa kelas 10 Ipa yang sekelas dengan Junior. "Gue cuma aneh aja, mereka serang kita diwaktu yang sama. Seolah berusaha mengacaukan kita dengan masalah ini. Kalian sadar? Kalo Atar milih dateng ke markas Phoenix maka itu kesempatan buat Ragavar mengambil alih serangan ke Jupiter. Sebaliknya, kalo Atar milih serang Ragavar maka Phoenix bisa aja serang kita disisi lain. Lo tau maksud gue?" "Jangan bilang kalo sebenarnya yang mereka incar itu markas Jupiter?" tanya Ucup. "Hmm. Atar akan sibuk mengurus salah satu diantara mereka dan markas akan terbengkalai. Kekuatan kita ada di markas Jupiter. Kalo mereka hancurin markas, itu sama aja mereka udah mendeklarasikan kemenangan melawan kita." "s**t! Gue gak mikir sampe kesana. Markas udah kaya rumah buat Jupiter dan manusia tanpa rumah gak akan bisa bertahan diluar sana. Markas Jupiter udah kaya harga diri kita Kap!" Ujar Bagus. "Apa yang harus kita lakuin sekarang?" tanga Revan. "Kalian pernah mancing?" tanya Antariksa membuat semuanya bingung. "Tar.... Please deh! Ngapain bahas mancing? Lo ngidam pengen makan ikan? Gue beliin aja deh ntar, gak perlu mancing segala." ujar Ucup mengerang kesal. "Gue ahli dibidang itu." ujar Revan tersenyum miring. "Laahh.. Si k*****t ngeladenin. Woii ini lagi bahas Ragavar sama Phoenix! Napa jadi bahas mancing? Pada mau mancing ikan cue lo?!" bentak Ucup dramatis. "Gue bisa sediain umpannya!" balas Yudhis santai. "Wan.. Wawan taik! Kita bisa ganti topik ke awal lagi gak? Kalian pikniknya nanti aja oke? Kita bahas serangan lagi." "Oke! Kita siapin semuanya nanti malem. Pokoknya sebelum matahari terbit besok, Junior harus udah pulang ke rumahnya." ujar Antariksa mengabaikan Ucup yang sedari tadi mengomel. "Astagfirullah! Bim... Jelasin ke gue sekarang! Jelasin pokoknya... Apa yang nanti malem? Rencana apa buat selametin Junior? Kenapa pake pancing sama umpan? Mereka keturunan ikan cue emang?" "Lo tuh turunan dugong! Itu otak kalo gak pernah dipake mending disumbangin ke fakir miskin aja deh Cup. Lumayan dapet pahala daripada buat orang lain emosi teross, malah tambah dosa ntar lo!" kesal Bimo. "Lo pikir otak gue barang bekas!" "Ciaa gak sadar lo selama ini, curut?!" "Wah.. Belum pernah ngerasain di smackdown sama gue lo yah Bim? Sini lo taik!" bentak Ucup mengejar Bimo yang berlari mengelilingi meja. "Bisa gak, mereka dihapus dari rencana nanti malem?" tanya Antariksa jengah. "Setuju gue!" ujar Revan membuat yang lain tertawa kecil. ©©© Antarikasa dan kawan-kawannya kembali ke sekolah setelah istirahat pertama. Revan yang berada disisi Atar lebih dulu menyadari saat seorang wanita tinggi, cantik, dengan rambut panjang seperti melambai-lambai mendekat ke arah mereka. Ucup dan Bimo bahkan sudah mengeluarkan siulan menggoda dari mulutnya. "Waduh! Ujiannya si Kapten dateng nih." "Uhh body-nya bikin mata merem melek a***y!" ujar Ucup. "Biasa aja itu mata k*****t! Minta banget gue colok?!" ujar Revan menggeplak kepala kedua sahabatnya. "Aelah! Menyegarkan mata bentaran juga." sungut Ucup. "Atar!" panggil wanita itu mendekati Antariksa. "Noh bang dipanggil kembarannya Mia Khalifa!" "SIAPA YANG KEMBARANNYA MIA KHALIFA?!" bentak wanita itu pada Ucup. "Becanda Lan! Aelah..." "Nama gue Wulan bukan Lan!" sungutnya. Wulandari Sasmita, gadis yang dekat dengan Antariksa dan Yudhis sejak duduk di sekolah menengah pertama. Wulan adalah satu-satunya wanita yang sudah dianggap seperti anggota Jupiter oleh yang lainnya. Gadis bertubuh sintal itu mempunyai wajah yang cantik tetapi cukup galak dan tidak ada yang berani melawan karena gadis itu juga pandai bela diri karate. "Ya makanya gue panggil Lan! Mau gue panggil Wul-wul?" "Diem lo! Mulut lo bau comberan!" "s***s amat sih...." gerutu Ucup yang disusul tawa teman-temannya. "Ada apa nyari gue?" Atar bertanya setelah perdebatan tidak penting antara Wulan dan Ucup. "Udah lama gue gak ngerepotin lo akhir-akhir ini kan? Gue juga jarang kumpul sama kalian dan so pasti gue ketinggalan banyak berita, yes?" "Terus?" bola mata Antariksa memutar jengah. "Temenin gue nge-mall ya nanti pulang sekolah?" "Sama abang aja neng! Waktu abang longgar banget dah kaya kancutnya Si Bimo!" ujar Ucup menyela. "SIAPA SURUH LO NGOMONG?!" "Aelah! Nama juga manusia punya mulut ya jelas ngomong lah! Dikira gue patung pancoran diem-diem bae." "Lah, kenapa k****t gue dibawa-bawa anying?! Kaya udah pernah liat aja kalo k****t gue longgar! Kancutnya Revan noh, saking longgarnya sampe kedodoran." "Eh Bambang! Gue dari tadi diem kagak ikutan yak! Napa k****t gue kebawa juga?!" sergah Revan. "Lo pada ngapain sih bahas k****t? Gak ada bahasan lain apa?" Yudhis berujar setelah terdiam cukup lama mendengar ocehan para sahabatnya itu. "Eh Wawan ngomong juga, gue kira lagi sariawan diem bae." ujar Ucup dengan cengiran. "Gue gak bisa! Pulang sekolah gue ada janji anterin pacar gue balik." ujar Antariksa tiba-tiba membuat yang lain menoleh kaget. "WHAT?!" "APA?!" "DEMI?!" "SI k****t NGEHALU?!" Itulah kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Abaikan kata terakhir dari Ucup yang masih belum move on dari masalah k****t. Mereka membelalak menatap Atar seperti melihat setan di siang bolong. "Sejak kapan lo punya pacar? Jangan becanda deh Tar." elak Wulan tidak percaya. "Siapa yang becanda? Gue serius! Kemarin baru jadian gue." "Wait Wait... Jangan bilang si cewe jus alpuket itu?" tanya Revan. "Namanya Senjana Van!" "Jadi beneran? Whahaha... Akhirnya status kejombloan Kapten selama 18 tahun hilang cuy! Makan-makan gak nih?! Harus dong ini..." "Tunggi dulu! Siapa itu Senjana?! Lo gak pernah cerita sama gue, Tar!!" bentak Wulan pada Antariksa. "Lan..." "Ohh jadi gini lo sekarang hah? Setelah punya cewe sekarang lo lupa sama gue?! Sahabat lo sendiri?!" Yudhis menatap Wulan sambil mendengus pelan. Sudah tidak terkejut lagi saat melihat wanita itu yang selalu memakai kata sahabat untuk mendekati Atar. Dia cukup tahu kalau Wulan menyukai Antariksa. "Bukan itu maksud gue! Kemarin lo juga lagi sibuk jadi gue gak sempet cerita tentang dia." jelas Antariksa. "Bohong!! Lo kan bisa telpon gue!!" bentak Wulan. "Eh eh... Itu Lily lagi jalan sama si cewe alpuket itu bukan sih Bim?" tanya Ucup menunjuk lorong disebelah kanannya. Antariksa dan yang lain melihat ke arah tunjukkan Ucup. Kedua gadis yang tengah membawa tumpukkan buku mulai menyadari keberadaan Atar dan kawan-kawan setelah berjarak beberapa meter. Senjana yang melihat Antariksa langsung menampilkan senyum lebarnya tanpa memperhatikan ada gadis disamping pacarnya yang menatapnya bengis. "Eh neng Lily mau lewat." ujar Ucup. "Udah tau mau lewat masih disitu! Minggir lo!" ketus Lily. "Ya Allah... Kenapa sih semua cewe yang gue sapa pada judes banget. Salah Ucup apa ya Allah?" "Hai..." sapa Senjana pada Antariksa. "Hai... Mau kemana?" tanya Atar. "Mau ke ruang guru, nganterin tugas anak kelas." "Dia pacar lo Tar?" tanya Wulan yang sedang memperhatikan Senjana dari atas sampai bawah. "Gue baru tau ternyata selera lo se-rendah ini! Bahkan jalang di klub aja masih jauh lebih baik dari dia." lanjutnya. "Wulan..." desis Antariksa. "Kenapa? Emang bener kan? Kelas lo terlalu bawah Tar! Cewe sampah kaya dia gak pantes jadi pacar lo yang seorang kapten Jupiter." "Maksudnya apa lo ngatain gue sampah?! Emangnya lo siapa sok ngatur Atar?!" tanya Senjana kesal. "Gue sahabatnya dari dulu dan gue gak suka cewe kaya lo yang jadi pacarnya dia. Gak pantes, dasar sampah!!" Plak Senjana menampar Wulan dengan satu tangan menopang tumpukan buku. Dia menatap gadis itu bengis, namun berbeda dengan Antariksa yang justru merasa khawatir pada gadis itu membuat Senjana ingin menamparnya sekali lagi. "Lan lo gakpapa?" tanya Antariksa. "Cewe kasar kaya dia pacar lo Tar?! Gak nyangka yah gue..." setelah mengucapkan hal itu Wulan pergi meninggapkan tempat itu. Antariksa menatap Senjana dengan tatapan datarnya. "Keterlaluan lo!" "Lo nyalahin gue?! Setelah dia jelekin gue dan bilang gue sampah, lo masih nyalahin gue?!" tanya Senjana sedikit keras. Antariksa terdiam tanpa menjawab pertanyaan Senjana, dia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Senjana sendiri masih merasa emosinya berkumpul di dadanya. Sakit hati sudah jelas, lelaki yang baru berstatus menjadi kekasihnya justru membela gadis lain dihadapannya. "Cowo lo gila, Sen!" ujar Lily. Teman-teman Atar ikut pergi menyusul sang Kapten. Yudhis menatap Senjana sebelum pergi . "Sorry..." lirih Yudhis lalu pergi dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN