Kirana semakin menurunkan tubuhnya hingga ke lantai mobil. Tak berani lagi ia mengangkat kepalanya. Walaupun posisinya membuat tubuhnya tidak nyaman, Dia mencoba bertahan demi tidak terlihat oleh Mbak Rumi.
“Alex lama amat, sih!” Kirana mulai kesal sendiri.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Alex akhirnya kembali. Tangannya menenteng kantung plastik berisi satu boks karton putih besar. Ia tertawa terbahak melihat posisi Kirana.
“Ya ampun, Ki! Ngapain kamu sampai ngumpet begitu?”
“Tadi Mbak Rumi keluar dari studio jahit, terus ngeliatin mobil ini terus,” kilah Kirana.
“Ya sudah kamu duduk lagi yang benar.”
“Kamu jalanin mobil dulu!” Kirana masih cemas.
Alex mengalah. Perlahan ia menginjak gas.
Setelah kendaraan mereka melaju menjauhi rumahnya, Kirana pun bangkit dan kembali duduk di kursinya. Ia memegang erat kotak kue di pangkuannya.
“Ki, aku jujur senang banget kamu ajak kesini. Aku sudah lama kangen kue-kue dari toko mamamu. Kamu kan dulu sering banget bawa kue-kue ke kantor. Jadi, tadi aku kalap, hampir semua jenis kue aku beli.” Alex tersenyum puas.
Kirana pun tersenyum. Jangankan Alex, ia sendiri juga sangat merindukan kue-kue buatan mama. Apalagi marmer butter cake yang terkenal harum dan lembut, karena mama hanya menggunakan bahan-bahan dan butter kualitas premium.
Segera disisihkannya kemasan kantung plastik yang menyelimuti kotak kue berstiker Mirasa Cakery. Tangan Kirana agak bergetar membukanya. Isinya pie buah, donat, cupcake, juga ada singkong thai, lapis surabaya, brownies…
”Mana marmer butter cakenya?” tanya Kirana karena tidak menemukan potongan kue yang diidamkannya.
”Butter cakenya nggak ada, Ki.”
”Habis?”
Alex menggangguk sambil melirik Kirana. Kirana kecewa. Ditutupnya lagi kotak kuenya. lalu meletakkannya di kursi baris tengah di belakangnya. Ia tak berminat dengan kue lainnya.
”Siapa yang menjaga toko?” Kirana ingin tahu.
”Oh iya, aku kenalan tadi sama yang jaga toko, sampai dikasi kartu nama segala. Namanya Bu Mira.” Alex menggoda Kirana. Ada rasa hangat yang mengalir di d**a Kirana mendengarnya.
”Bagaimana keadaannya?”
”Kelihatan baik walau agak pucat. Katanya karena kelelahan. Ternyata mamamu cantik ya. Pantas kamu juga kadang-kadang kelihatan manis.”
Kirana merasa lega, tapi ia tidak peduli dengan pujian dan canda Alex. ”Ada orang lain?
“Yang beli tadi kebetulan cuma aku. Tapi pas aku mau keluar, ada yang masuk. Mamamu manggil dia ‘Rum'.”
“Itu Mbak Rumi, penjahit mama, yang tadi kubilang ngeliatin mobil ini terus.”
“Dia juga ngeliatin aku tadi.”
“Jangan-jangan dia curiga?!” Kirana khawatir.
“Nggak, Ki,” Alex meyakinkan Kirana. “Tadi itu, Mba Rumi itu ngeliatin aku sampai aku risih. Lalu tiba-tiba dia tanya sambil nunjuk aku… ‘Raffi Ahmad, ya?’…”
Kirana tergelak.
“Aku bahagia banget, Ki! Sore-sore begini aku dianggap mirip Raffi Ahmad. Mata batin Mbak Rumi memang tajam sekali, cuma beberapa orang saja memang yang bisa merasakan kalau aku ini mirip bapaknya Cipung.” Alex tertawa.
Tawa Kirana bertambah panjang tergelak.
"“Tapi, Lex… Aku lagi kepengen banget makan butter cake.” Kirana mengeluh. “Beneran habis, ya?”
Alex menarik nafas. Ia melirik Kirana, mencoba membaca suasana hatinya
"Kamu tahu, sewaktu masuk ke toko tadi, yang pertama aku tanya adalah apakah ada marmer butter cake. Tetapi kata mamamu dia sudah lama tidak membuat marmer butter cake lagi. Soalnya anaknya yang suka banget sama cake itu sudah lama nggak pulang.”
Kirana tidak langsung percaya dengan apa yang diucapkan Alex.
“Aku nggak bohong, Ki! Mamamu bilang dulu hampir tiap hari dia membuat butter cake. Selain banyak yang suka, tapai alasannya juga karena itu kue favorit anaknya. Tapi, sejak anaknya pindah dari rumahnya, ia berhenti buat kue itu. Ada yang mau pesan juga dia tolak. Dia bilang, dia jadi sedih karena ingat sama anaknya,” tutur Alex.
Sekarang, Kirana tertegun.
"Kupancing mamamu, tanya, apakah masih sering berkomunikasi dengan anaknya itu. Mamamu menjawab, masih tapi jarang. Mungkin karena anaknya sibuk dengan pekerjaannya. Mau menjenguk pun dia takut mengganggu.
”Kutanya juga, anak ibu ada berapa? Dia bilang ada dua. Yang nggak pernah pulang itu yang kedua, tinggal di Kalibata. Yang pertama tinggal di Bandung dengan suaminya. Yang pertama itu baru saja tadi pagi dijemput suaminya kembali ke Bandung. Seminggu kemarin anak pertamanya itu menginap di rumahnya karena sakit.”
Wajah Kirana berpaling ke Jendela. Ia terharu dengan cerita Alex. Ada rasa haru yang membasahi dadanya mendengar kisah marmer butter cake yang tak pernah lagi dibuat. Sebuah suara di sudut hatinya memintanya untuk kembali ke rumah mamanya. Menemuinya, memeluknya. Toh, tidak ada Kania di rumah itu saat ini. Namun, egonya yang terluka menghalau suara itu.
“Ki?!” Alex memanggil Kirana yang sedang terhanyut dalam diamnya.
“Ya?” Kirana menoleh.
“Aku boleh tanya sesuatu?”
“Apa?” suara Kirana pelan.
“Sebenarnya selama ini kemarahanmu itu ditujukan kepada siapa? Mamamu atau Kania?" Alex bertanya, mengorek dukanya.
Kirana menggigit bibirnya, menahan gelombang emosi yang meletup-letup di dadanya.
“Dua-duanya. Kania yang khianatin aku. Tapi, aku juga kecewa sama mamaku, Lex.” Suara Kirana bergetar.
"Kenapa?
“Karena mama kan yang menghadirkan Kania di hidupku. Mengambil dan mengangkatnya sebagai anak. Secara tidak langsung memaksaku jadi adiknya. Mama lebih menyayangi Kania. Mama tidak membela aku. Sekarang saja, walaupun Kania sudah menyakiti aku, mama tetap menerima Kania sebagai anaknya. Padahal, aku ini kan anak kandungnya.” Mata Kirana berair.
Alex terenyuh mendengarnya. Baru kali ini lagi Kirana menumpahkan isi hati terdalamnya pada Alex. Diulurkannya tangan kirinya ke pipi Kirana. Menghapus air mata yang mengalir di sana.
Ada ungkapan, bahwa orang terdekat justeru berpotensi paling besar menyakiti kita. Awalnya, Kirana sama sekali tidak mempercayai kalimat tersebut. Baginya, orang terdekat adalah yang paling tulus memberikan cinta, kasih, dan sayang. Rasa itu akan mendorong seseorang untuk membahagiakan, bukan menyakiti.
Dorongan itu yang dirasakannya pada Kania. Kasih sayang tulusnya tumbuh subur sejak diirnya dan Kania terikat sebagai adik kakak. Hampir dua puluh tahun keduanya hidup saling mendampingi dan melengkapi. Jutaan tawa, tangisan, bahagia, sedih, mereka jalani bersama. Mimpi, harapan, angan-angan, rahasia, baik dan buruk mereka bagi berdua. Marah dan kecewa pasti ada, tapi kekuatan kasih dan sayang mereka selalu berhasil menemukan jalannya kembali.
Saat kuliah, Kirana berpacaran dengan Rayyan, kakak tingkatnya. Dia sangat mencintai laki-laki tampan berkacamata dan pintar itu. Walaupun hubungan mereka seperti gelombang laut menyentuh pantai. Pasang dan surut. Apalagi ketika Kirana mulai magang dan bekerja di perusahan Event Organizer, yang jika ada event besar bisa membuat Kirana tidak pulang berhari-hari.
Kirana tidak menyadari, waktu bisa membuat manusia, siapapun, berubah. Kesibukannya dapat menyebabkan Rayyan jenuh. Begitu sering ia membatalkan janji menemani Rayyan di menit terakhir. Tak terhitung ia membiarkan Rayyan yang berkunjung ke rumahnya menunggu berjam-jam karena ia terlambat pulang. Juga telefon dan pesan yang tak terjawab.
Ketika akhirnya Rayyan memutuskan hubungannya, Kirana menangis seharian di kamarnya. Kania menjadi tempatnya meratapi penyesalannya. Ia memohon Kania membantunya mendapatkan Rayyan kembali.
“Aku sayang banget sama Rayyan, Ka!"
Kania berbaring di samping Kirana. Memeluknya. Menenangkannya.
“Aku tahu, aku egois. Aku salah… Aku sudah minta maaf” Kirana terisak.
“Tolong aku, Ka! Bilangin Rayyan, aku mau kok berubah. Kalau perlu aku berhenti kerja ngga apa-apa… Aku ngga mau pisah dari dia, Ka...”
Kania terdiam. Ia bingung harus berbuat dan berkata apa.
Seminggu lalu Rayyan mendatanginya, dan bilang bahwa ia akan memutuskan Kirana, dengan alasan sudah tidak sanggup lagi diabaikan pacarnya itu. Ia bosan dan mulai muak. Ia sudah berusaha bertahan, tapi tak mampu. Apalagi kemudian ia menemukan perempuan lain yang lebih memahaminya. Dan ia jatuh cinta pada perempuan itu.
Rayyan memberitahunya dengan siapa ia jatuh cinta dan berapa lama ia merahasiakan perasaannya. Informasi itu membuat Kania terkejut bukan main. Sudah cukup ia merasa bersalah telah menyimpan sesuatu dari Kirana belakangan ini. Ditambah lagi dengan rahasia Rayyan.
“Kalau Kirana tahu, dia bisa membunuh kita berdua, Ray!” Kania ketakutan.
***