Kirana membaca sekali lagi pesan itu.
… : Hai, Ki? Apa kabar? Ini aku Kania. Bisa aku ketemu kamu?
Gemuruh di dadanya tak juga menyurut. Beragam rasa yang dipendamnya kembali berkecamuk. Kesal, marah, kecewa, sedih. Sosok Kania sudah berusaha dikuburnya dalam-dalam. Tapi seharian ini nama itu seperti memaksa hadir lagi di hidupnya. Melalui pesan mama, dan sekarang pesannya sendiri. Pintar sekali dia menggunakan nomor lain, sehingga pesannya bisa masuk. Karena nomor lamanya sudah diblokir oleh Kirana.
Tak ingin emosi negatif menguasanyai, Kirana pun menghapus pesan itu setelah memblokir terlebih dahulu nomornya. Semalaman, dia kembali tidak bisa tidur. Lukanya kembali terkuak.
Esoknya, Alex meminta Kirana menemaninya mengunjungi venue baru, menemui beberapa supplier dan seorang calon klien di sebuah hotel di Jakarta Selatan bersama Rena dan Dewo, si art director. Kirana senang pergi keluar kantor bersama rekan-rekannya itu. Sepanjang perjalanan Rena, Alex, dan Jody tidak berhenti bercanda dan membuat Kirana ikut tertawa. Hormon endorfin membuat Kirana merasa rileks. Keresahan hatinya yang dirasakannya sejak kemarin pun memudar meski masih bersisa.
Menjelang sore, daftar tugas mereka selesai. Di lobi hotel saat menunggu petugas valet parking mengambilkan mobil Alex, sisa resah Kirana berubah menjadi rasa penasaran. Egonya sempat berusaha menghalaunya. Tetapi rasa itu begitu kuat. Dia jadi sangat ingin tahu Kania sakit apa sampai mama memaksanya pulang. Lalu, tanpa berpikir panjang lagi, ia meminta Alex mengantarnya.
”Kemana, Ki?”
”Nanti kukasi tahu. Tapi jangan banyak tanya dan komentar ya! Nggak lama kok!” Kirana memaksa.
”Rena dan Dewo ikut?” tanya Alex.
”Nggak. Kita berdua aja. Biar mereka kembali ke kantor.”
”Lalu mereka berdua gimana balik ke kantornya?”
Kirana berpikir sejenak. ”Aku pesanin taksi aja ya.”
Tetapi, ternyata Rena dan Dewo menolak ide Kirana.
”Kenapa? Aku ada perlu banget nih, makanya minta diantar Alex. Nggak apa ya, aku yang bayarin deh taksinya” Kirana merayu.
”Bukan begitu maksudnya, Bu. Nggak apa-apa kok kalau Ibu sama Pak Alex mau ke tempat lain. Cuma, maksudnya nggak usah dipesankan taksi, biar kami aja yang pesan,” Dewo menjelaskan.
”Tapi kan ibu mau bayarin... Hmm, kita minta mentahnya aja, boleh?” Rena tersenyum-senyum sambil mengedipkan matanya.
”Dasar, nggak mau rugi!” sela Alex.
”Ih! Pak Alex, zaman sekarang nggak ada yang mau rugi, kita maunya untunglah, pak!” balas Rena.
”Oke! Oke!” Kirana tertawa menengahi. Dikeluarkannya dua lembar uang ratusan ribu dan memberikannya kepada Rena.
”Cukup?” tanya Kirana.
”Hmm, cukuplah bu!” Rena tersenyum puas.
Mobil datang. Kirana naik dan duduk di samping Alex yang menyetir. Laki-laki yang sebenarnya tampan ini dikenal tidak pernah mengizinkan orang lain memegang kemudi kendaraannya. Baginya, mobil yang selalu bersih dan wangi ini adalah sebagian jiwanya yang tidak boleh disentuh sembarang orang.
”Kita ke mana, Ki?” Alex bertanya.
”Cinere,” jawab Kirana singkat.
Alex langsung menoleh setengah kaget.
”Serius?!”
Kirana mengangguk.
Alex sudah mengenal Kirana selama lima tahun, sejak sama-sama menjadi pegawai magang, Tentu saja ia tahu bahwa Cinere adalah daerah tempat mama Kirana tinggal. Alex juga mengerti bahwa telah cukup lama Kirana menjauhkan diri dari keluarganya. Ia pun paham semua cerita dan alasan penyebab hati Kirana membatu seperti sekarang.
”Berdamai itu indah. Aku sudah pernah bilang kan, suatu saat kamu pasti akan pulang.” Alex berucap sambil tersenyum. Matanya lurus menatap ke jalanan yang tidak terlalu ramai di depannya.
”Aku nggak bermaksud pulang,” sahut Kirana datar.
”Mengunjungi mamamu ke rumahnya? Sama aja pulang namanya!” Alex bersikukuh.
”Aku tidak akan ke mengunjungi siapapun.” Kirana tidak mau kalah.
”Terus kita ngapain kesana?” Alex bingung.
”Aku cuma mau melihat kondisi rumahku dari jauh saja.”
”Maksudnya?
”Nanti kamu lewatin rumah mamaku pelan-pelan. Atau kamu parkirlah sebentar nggak jauh dari rumah itu. Mereka nggak kenal mobil ini. Jadi nggak akan curiga,” ungkap Kirana merinci rencananya.
Alex tertawa.
”Aneh kamu, Ki!” celanya. ”Padahal kalau kamu mengalah, langsung datang ke rumah dan menemui mamamu, kan nggak apa-apa juga. Mereka pasti senang bertemu kamu lagi.”
”Mereka senang, aku yang nggak tenang,” sanggah Kirana.
”Tapi, Ki... Mamamu pasti kangen sama kamu. Kania juga.”
Mendengar nama itu disebut, mood Kirana yang sudah tak menentu, langsung jatuh berantakan.
”Lex, kalau kamu nggak mau mengantarku, aku turun di depan saja. Biar aku naik taksi saja!” Kirana bersiap turun dengan tasnya.
”Jangan begitu dong, sayang!” Alex merayu.
”Tadi kan sudah kubilang, jangan banyak tanya dan komentar!” ketus Kirana. ”Tapi, kamu tetap saja tanya dan komentar. Pakai sebut-sebut nama perempuan b******k itu lagi!” Kirana menggerutu.
”Oke! Aku janji nggak akan tanya dan komentar lagi. Nggak akan sebut-sebut nama itu lagi. Aku akan tetap nganterin kamu.” Alex mengalah.
Kirana mendengus.
”Aku harus bertanggung jawab dengan keselamatan kamu, Ki. Besok kita harus bertemu Bu Melissa. Kalau kamu kenapa-kenapa sampai besok nggak kerja, aku nggak tahu harus bilang apa ke Bu Melissa dan calon jodohmu yang pasti dibawanya,” lanjut Alex.
”Ya, ampun! Kenapa kamu yakin banget Bu Melissa mau jodohin aku, sih?” Emosi Kirana melunak.
”Karena, kalau nanti kamu ngga cocok, kan boleh buat aku,” sahut Alex.
”Gila!”
Mereka berdua tertawa.
”Ki, boleh aku tanya sesuatu?”
”Apaan lagi? Kan sudah janji nggak akan tanya-tanya?” Kirana siap meradang kembali.
”Tapi ini harus kamu jawab, Ki!... Aku mau tanya, kita lewat mana? Aku nggak hapal jalan ke rumahmu!”
Kirana tergelak. Ia selalu senang berada di dekat Alex. Laki-laki yang juga masih single ini humoris dan apa adanya.
Setelah hampir tiga perempat jam perjalanan, dengan arahan Kirana, mereka pun sampai di komplek perumahan tempat Kirana menghabiskan masa kecil dan remajanya. Agak berdebar Kirana menunjuk jalan yang harus dilalui Alex dengan perlahan.
Rumah mama Kirana terletak di jalan utama. Tidak ada perubahan berarti di jalan itu. Bangunan rumah hampir tak ada yang berbeda.
”Pelan-pelan, Lex!” pinta Kirana saat hampir melewati depan rumahnya.
”Mirasa Cakery... Rumah Jahit Mira.” Alex membaca plang toko kue dan studio jahit mama yang bersebelahan. ”Mira itu nama mamau kan, Ki?”
”Iya, nama mamaku,” jawab Kirana pelan. Matanya nyalang melihat bangunan rumahnya yang bertahun ditinggalkannya. Belum puas, mobil Alex sudah melaju melewati rumahnya.
”Tenang, aku putar balik, Ki!”
Alex memutar balik kendaraannya, ia mengulang lagi adegan sebelumnya. Menginjak gas perlahan, memberikan kesempatan kepada Kirana untuk mengamati. Namun, sedetik kemudian muncul ide di kepalanya.
Tiba-tiba saja Alex menepikan dan memarkir mobil di seberang toko kue.
”Kamu ngapain berhenti?” Kirana panik.
”Mau beli kue,” jawab Alex santai sambil membuka seatbeltnya.
”Tapi, Lex...”
”Tenang! Siapapun yang ada di toko, mereka nggak kenal siapa aku, kan?”
Kirana mengangguk.
”Kamu mau titip apa?
”Marmer butter cake.” Kirana spontan menjawab. Kue favoritnya sejak ia kecil.
Alex meninggalkannya di dalam mobil. Penuh percaya diri ia membuka pintu kaca Mirasa Cakery. Kirana penasaran siapa yang menjaga toko sekarang. Walaupun pintu dan dinding depan toko itu terbuat dari kaca semua, tetapi posisi kasir tidak terlihat dari luar.
Kirana mengalihkan pandangannya ke rumah induk. Cat rumah itu masih warna putih yang lama. Begitu juga pagar besi berwarna hitamnya. Pot-pot putih berisi Wijaya Kusuma masih banyak bergantungan di lisplang atap teras. Kemuning di sudut pagar ujung-ujung rantingnya memutih oleh bunga. Pasti harum baunya.
Betapa sesungguhnya Kirana merindukan suasana rumahnya.
Pintu studio jahit terbuka dari dalam. Seorang wanita yang sangat dikenalnya keluar. Mbak Rumi. Ia berjalan menuju pintu toko kue di sebelahnya. Tiba-tiba Mbak Rumi menghentikan langkahnya, dan memandangi mobil hitam Alex, dimana Kirana berada di dalamnya, yang terparkir di seberang toko. Cepat Kirana menenggelamkan tubuhnya hingga ke bawah kursi mobil.
Kirana cemas. Ia takut kaca mobil Alex tidak cukup gelap menyembunyikannya. Diangkatnya sedikit kepala demi bisa memandang ke arah toko. Di sana, Mbak Rumi masih terlihat memperhatikan mobil Alex.
“Duh! Bagaimana ini?”
***