Mengelak

1125 Kata
“Ada apa?” Kirana berbisik mencari tahu pada Rena. “Bu Melissa minta vendor fotografer diganti," jawab Rena. “Kenapa? Bukannya vendor itu fotografer terkenal, dan dari rekomendasinya dia sendiri?” “Iya. Tapi, katanya sekarang dia ngga suka. Minta diganti. Padahal kita sudah bayar booking fee.” jawab Rena pelan. “Pak Alex takut karena waktu sudah dekat, susah lagi cari yang bagus.” Kirana baru ingin mengucapkan pertanyaan lain, saat namanya dipanggil, “Kirana?!” Semua mata di ruangan itu tertuju padanya. Kirana menggigit bibir. “Ya?” “Bagaimana menurutmu?” Alex bertanya. Sebagai Senior Project Manager, sudah tentu Alex menuntutnya memberi jawaban dan keputusan penyelesaian atas masalah yang dihadapinya. “Hmm, maaf sebelumnya… Apakah ibu sudah punya vendor pengganti, atau kita yang mencarikan gantinya?” “Dari kami!” Bu Melissa menjawab pendek. “Baik, Bu. Tapi mohon maaf bu, karena dua minggu lagi sudah jadwal pemotretan prewedding, sepertinya akan ada konsekuensi finansial kalau kita batalkan vendornya sekarang. Karena untuk mendapatkan jadwal vendor ini cukup sulit. Dan kita…” “Tidak masalah," potong Bu Melissa. “Baik, Bu.” Kirana menelan ludah. “Kalau begitu, bisa kami diberikan data vendornya? Supaya bisa segera kami hubungi untuk menyesuaikan jadwal?” “Saya kirimkan nomornya ke kamu, ya.” “Siap, Bu.” Kirana kembali menyandarkan tubuhnya di kursi. Lega. Masalah Alex sementara terselesaikan. Entah nanti jika ternyata fotografer yang entah siapa itu tidak bersedia atau jadwalnya penuh. Selesai meeting, Kirana menghampiri Bu Melissa yang masih duduk berbincang dengan asisten, puteri, dan calon menantunya. Begitu melihat Kirana, Bu Melissa langsung melambai dan menunjuk kursi di sebelahnya. Kode agar Kirana duduk di sana. Anaknya dan yang lainnya segera berpindah tempat. ”Sini, Ki!” sapa wanita pengusaha transportasi itu. ”Ya, Bu.” Kirana membalas ajakannya sopan sambil duduk di kursi yang ditunjuk Bu Melissa. ”Kenapa tadi saya perhatikan, kamu banyak melamun? Tidak fokus,” tanya Bu Melissa. “Maaf, Bu. Nggak apa-apa kok, cuma ada yang sedang dipikirkan saja tadi.” “Kamu tetap in charge di event ini kan?” ”Ya, Bu. Walau kali ini Alex yang jadi project manager, tapi saya tetap terlibat.” Bu Melissa beralih menatap wajah Kirana. Menelisik tajam. ”Ya, saya bisa lihat dari matamu, Ki!... Seperti ada sesuatu yang berat yang sedang kamu pikirkan.” Kirana merasa tak nyaman. ”Saya nggak apa-apa, Bu." Bu Melissa ternyata terus memperhatikan wajah Kirana dengan sikap aristokratnya yang dingin. Begitu menyadarinya, Kirana langsung merasa risih karena seperti ditelanjangi oleh tatapan wanita anggun itu. ”Kamu sudah punya pacar, Kirana?” tanya Bu Melissa ingin tahu. Kirana sungguh tidak mengira pertanyaan seperti itu akan terlontar dari Bu Melissa. Apalagi ia sebenarnya tidak suka masalah pribadinya ditelisik, oleh siapapun. ”Saat ini nggak ada, Bu.” Kirana mencoba menjawab dengan santun. “Nggak mencari?” Aduh! Pertanyaan apa lagi ini? “Nggak, Bu.” Wanita berkharisma itu tersenyum penuh arti sambil terus memandang Kirana. Sungguh Kirana jengah. Ia sampai melirik Alex mencari dukungan. Tapi laki-laki itu malah senyum-senyum saja memperhatikan percakapan Bu Melissa dan Kirana. Untunglah, Diana, asisten Bu Melissa datang menghampiri dan membisikkan sesuatu kepadanya. “Baiklah, saya harus segera pergi.” Bu Melissa beranjak dari kursinya. Kirana ikut berdiri. Sementara Alex segera menghampiri. “Alex, minggu ini, jadwal kita apa?” “Lusa, jadwal untuk test food, Bu.” “Jam?” ”Sebelas.” Alex menjawab cepat. ”Baiklah, kita bertemu di lokasi, ya!” Bu Melissa menjabat tangan Alex, kemudian berpaling pada Kirana. ”Kamu juga hadir ya di sana! Ada seseorang yang ingin saya kenalkan ke kamu.” Kirana segera mengangguk. Ucapan Bu Melissa tidak terasa sebagai permintaan, tapi perintah. Wanita yang sudah lama menjanda sejak suaminya meninggal dunia ini tampak begitu berkuasa. ”Baik, Bu.” “Nomor fotografer yang saya mau, sudah Diana kirimkan ke Kirana. Segera update hasilnya ya. Tapi saya yakin dia ada waktu untuk acara saya ini.” Kirana dan Alex mengantarkan Bu Melissa dan asistennya sampai ke lobi kantor. Sepeninggal Bu Melissa, Alex menggamit bahu Kirana. ”Aku yakin, di pertemuan minggu depan nanti, Bu Melissa pasti akan mengenalkan kamu dengan calon jodohmu,” bisik Alex. Kirana terkejut. Ia sama sekali tidak berpikir bahwa Bu Melissa berniat mencomblanginya dengan seseorang. ”Sok tahu! Dia nggak bilang apa-apa tadi.” ”Tapi dia bilang ada seseorang yang bisa dikenalkan ke kamu!” yakin Alex. ”Sudah, Ah! Jangan bikin gosip yang ngaco! Bisa jadi klien baru,” elak Kirana. ”Iih! Kalau memang iya, kenapa? Kamu nggak mau? ”Nggak!” ketus Kirana. ”Ya sudah, buat aku saja kalau gitu ya?!” canda Alex. ”Silahkan! Mudah-mudahan kalau memang calon jodohku, dia cuma suka sama perempuan, ngga suka sama laki!” Kirana meninggalkan Alex sambil menahan tawa. *** Kirana kembali ke ruangannya. Layar telefon genggamnya yang sengaja ditinggalkannya di meja karena tidak ingin terganggu saat meeting tadi, menampilkan banyak panggilan dan pesan. Salah satunya dari Mama. Ada lima panggilan tidak terjawab dan tiga pesan yang intinya menanyakan kapan Kirana akan pulang ke rumah mamanya di Cinere Kirana menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi. Ditariknya nafas panjang dan melepaskan perlahan, sambil berharap rasa kesalnya turut terhempas keluar. Kirana tahu, kalau belum dijawab, mamanya pasti akan terus mencecarnya dengan pesan dan panggilan telefon. Akhirnya, dengan cepat diketiknya jawaban pesan. Kirana : Maaf, Ma... Ki belum bisa pulang. Lagi banyak project yang harus Ki handle. Kalau Kania sakit, suruh saja suaminya yang mengurusnya. Agak ketus memang, namun Kirana tanpa ragu menekan tombol kirim. Waktu ia kecil dulu, mama pasti sudah meradang jika Kirana berbuat salah atau bersikap yang tidak selayaknya. Namun, setelah Kirana dewasa dan mulai bekerja sendiri, mama tidak lagi banyak mengatur dan mengekang. Karena menurut mama, apapun pilihan tindakan dan keputusannya, menjadi tanggung jawab dan konsekuensi yang harus ditanggung Kirana sendiri. Makanya mama tidak menentang ketika Kirana memutuskan pindah dari rumahnya dan memilih tinggal sendiri di apartemen sederhana di daerah Kalibata, ketika ia ingin menghindari orang-orang yang dianggapnya telah melukai hatinya. Termasuk juga mama. Mama cuma menasehatinya untuk tidak menjadi manusia pendendam. Tapi Kirana berkilah bahwa apa yang dilakukannya, menjauhi orang-orang yang dulu sangat dicintainya, bukanlah dendam. Ia hanya membutuhkan jarak agar tidak terlukai lagi, dan memerlukan waktu untuk menyembuhkan sakit hatinya. Namun, tanpa disadarinya, waktu yang diperlukannya sudah berjalan dua tahun lamanya. Hingga kini, Ia belum menemukan jalan untuk mengobati dukanya. Kirana mencoba mengalihkan perhatiannya melihat dan menjawab pesan-pesan lainnya. Pesan dari Diana, langsung diteruskan ke Alex. Biar Alex dulu yang mengkonfirmasi fotografer yang diinginkan Bu Melissa. Tiba-tiba, ada ada satu pesan yang masuk. Tanpa nama. … : Hai, Ki? Apa kabar? Ini aku Kania. Bisa aku ketemu kamu? Kirana terpana. Dadanya mendadak berdegup kencang. Untuk apa perempuan yang dibencinya itu ingin bertemu dengannya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN