Rasa penasaran Kirana terjawab esok paginya. Mbak Asih yang baru pulang berbelanja dari tukang sayur yang merupakan narasumber gosip terpercaya di komplek, menceritakan bahwa sepulang dari melabrak mama, Tante Rosa sakit buang-buang air hingga harus dibawa ke rumah sakit tadi malam.
Kania yang sedang sarapan tersenyum kecil. Pandangan curiga Kirana hanya dijawab dengan kedipan mata. Saat hanya berdua, Kania membisikkan apa yang telah dilakukannya kemarin kepada Kirana.
“Aku masukin garam inggris ke minumnnya, Ki.”
Kirana tergelak.
“Kamu jahil banget si, Ka!”
“Aku nggak suka dia marah-marahin mama," kata Kania memberi alasan.
Entah berapa sendok garam inggris yang diberikan Kania, sampai Tante Rosa semenderita itu.
Bertahun berlalu.
Kania memasuki tahun terakhirnya di SMA. Dan Kirana mengekor satu kelas di bawahnya, di sekolah yang sama. Mereka berdua semakin dekat. Perlakuan mama yang tidak membedakan satu sama lain, membuat keakraban hubungan mereka berdua seperti saudara sekandung saja. Meskipun mereka memiliki friendship circle sendiri, kedekatan mereka berdua adalah yang utama.
Malam itu, rintik hujan turun tanpa jeda. Sejak habis sholat Isya, Kirana dan Kania tidak keluar dari kamarnya masing-masing. Kirana yang kelelahan akibat sekolah dan ekskul tertidur lebih awal. Dan kini, tiba-tiba ia membuka mata. Udara dingin menggigit kulitnya yang sudah terbungkus selimut walaupun AC tidak dinyalakannya.
Rumah ini begitu sepi. Tidak ada suara lain yang terdengar selain bunyi hujan. Mama sejak kemarin pergi ke Bandung hunting bahan tekstil untuk pesanan seragam bersama Mba Rumi. Mba Dian memang tinggal bersama keluarganya di luar komplek. Kania dan Mba Asih mungkin sudah terlelap tidur. Kirana memalingkan kepalanya ke arah jam dinding tertempel. Pukul 9.35.
Ah, sebenarnya belum terlalu larut ini. Ia mencoba memejamkan mata kembali. Tetapi tak bisa. Kantuknya hilang. Ia pun ingat Kania. Sedang apa dia di kamarnya?
Kirana menyibakkan selimutnya, lalu beranjak turun dan berjalan menuju kamar Kania. Ia tidak suka sendirian di saat seperti ini. Tanpa mengetuk, Kirana membuka pintu kamar. Kegelapan langsung menyambutnya. Cepat tangannya mencari saklar lampu di dinding samping pintu dan menyalakannya.
”Ka?!”
Kania tidak menyahut. Tubuhnya tertutup selimut dari ujung kaki hingga ke kepala. Bisa jadi ia memang sudah tidur pulas sejak tadi. Tapi Kirana tidak peduli. Ia melompat ke samping Kania dan memeluknya. Yang dipeluk tidak merespon. Tapi terdengar suara aneh yang membuat Kirana cemas dan segera menarik selimut yang menutupi wajah Kania.
”Ka?!”
Kania berbaring miring memeluk bantal guling erat. Matanya terpejam, bibirnya terkatup, namun air mata membajiri wajahnya.
”Ka?! Ka?! Kamu kenapa?!” Kirana mengguncang tubuh Kania, menepuk-nepuk pipinya.
Walau enggan, akhirnya Kania membuka matanya.
”Nggak apa-apa kok, Ki.”
”Nggak apa-apa? Lah itu kenapa nangis?!” Kirana menunjuk mata dan pipi Kania yang basah.
”Aku cuma mimpi buruk aja,” Kania mengelak. Diangkatnya tubuhnya dan disandarkan di headbord tempat tidur.
”Mimpi apa?” Kirana mengejar.
Kepala Kania menggeleng.
”Nggak mau cerita?”
Kania mengangguk.
”Oh, Sudah mulai main rahasia-rahasiaan ya sekarang?!” cela Kirana.
Kania menarik nafas. Ia tak bermaksud seperti itu. Sesungguhnya, ia ingin sekali menceritakan apa yang sedang dirasakannya. Rasa yang sering menghantuinya saat ia sendiri. Keresahan yang tidak diinginkannya, tapi selalu menyertainya sepanjang hidupnya. Tentang keberadaannya, tentang asal-usulnya. Tapi, ia takut Kirana salah mengartikan.
”Ka...,” Kirana memeluk bahu Kania. ”Nggak percaya sama aku?”
”Bukan begitu.”
”Terus apa? Kenapa nggak mau cerita? Seburuk apa si sampai aku nggak boleh tahu mimpinya apa?” Kirana terus membujuk. ”Aku janji nggak akan cerita ke siapapun, termasuk ke mama.”
Kania menatap wajah Kirana setengah tak percaya. ”Benar nih?”
Sambil tersenyum Kirana menempelkan jarinya di bibir, gerakan mengunci bibirnya.
Dalam hati, Kania tahu bahwa sebenarnya tidak perlu meragukan Kirana. Adik angkatnya ini sudah menjadi sebagian dari jiwanya. Ia ingin sekali berbagi masalahnya dengan Kirana. Menumpahkan kegelisahannya. Yang ia khawatirkan justru mama. Ia tidak ingin mama tahu dan kecewa jika ternyata diam-diam ia sering memikirkan masa lalunya.
”Aku kangen, Ki. Kangen dengan ibu kandungku, juga ayahku,” ujar Kania lirih sebelum air matanya luruh lagi. Ia kembali menangis tersedu seperti ketika ia tadi sendirian. Tetapi, kali ini ada yang berbeda. Sebongkah beton yang memberati dadanya seakan telah terangkat sedetik setelah ia mengungkapkan kerinduan yang membebaninya.
Kirana membenamkan kepala Kania ke dadanya. Memeluknya lembut. Ingin ia membisikkan sesuatu, namun tenggorokannya tercekat. Ia tidak tahu berkata apa. Sebab, rasa kangen Kania pun kemudian mengundang kepiluan di hatinya sendiri. Ia jadi ingat papanya. Rindu dengan kehadiran papanya. Kerinduannya akan papanya tumpah-ruah di dadanya. Kirana tak sanggup menahannya. Air matanya pun menetes. Semakin lama semakin deras.
Kania merasakan d**a Kirana tersengal. Cepat dihentakkanya dekapan Kirana. Ditatapnya wajah adik angkatnya yang sudah penuh dengan uraian air mata.
”Ki, kamu kenapa ikutan nangis?”
”Aku juga jadi sedih. Ingat papa!” isak Kania.
Kini, ganti Kania yang mendekap Kirana. Tangisnya sendiri otomatis berhenti. Ditepuk-tepuknya punggung Kirana lembut, mencoba menenangkan gelombang emosi yang melandanya.
Mereka berpelukan entah berapa lama. Saling menghibur tanpa berkata-kata.
Malam itu, mereka tidur bersisian.
Kirana terbangun oleh telefon mama yang memberitahunya akan pulang nanti sore. Ini hari Sabtu, sekolah libur. Menyadari hal itu, Kirana pun kembali ke kamarnya, menyelimuti tubuhnya rapat dan memejamkan matanya.
Rasanya, baru saja ia mulai terlelap kembali, saat tangan Kania menepuk-nepuk pipinya.
”Ki, bangun! Bangun!”
”Apa sih, Ka?! Masih ngantuk!”
”Bangun, Ki!” Kania mengguncang bahu adiknya.
”Ka, ini hari libur! Aku mau tidur!” protes Kirana dengan mata tetap terpejam.
”Justru itu, aku punya ide. Gimana kalau kita jalan-jalan?”
Kania membuka mata. ”Kemana?”
”Ke makam papamu. Semalam kan kamu bilang kangen,” Kania menjawab sambil tersenyum.
Kirana sungguh terharu dengan perhatian Kania. Ia sendiri sama sekali tidak terpikirkan hal itu. Padahal sudah hampir setahun berlalu sejak terakhir ia ziarah ke makam papa.
”Oke, Ka!” Dipeluknya sang kakak yang sudah mandi dan wangi. Lalu ia pun bergegas menyiapkan diri.
Sehabis makan pagi, Kirana dan Kania pergi berdua ke taman pemakaman papa yang terletak di pinggir kota dengan menggunakan taksi. Komplek pemakaman umum yang sangat luas itu sepi karena mungkin bukan hari raya. Hamparan rumput hijau yang menutupi gundukan-gundukan tanah dengan nisan-nisan hitam di atasnya meneduhkan mata. Suasana yang tenang membuat hati menjadi lebih syahdu.
Selesai berdoa ziarah kubur, Kania menyingkir membiarkan Kirana meluapkan kerinduannya di samping nisan papanya. Ia duduk di bangku taman tak jauh dari tempat Kirana bersimpuh. Ia merenungi sendiran pedihnya rindu akan ayah dan ibunya yang sudah meninggal juga saat usinya tujuh tahun. Ia juga rindu pada pamannya yang sejak mengantarkan Kania ke keluarga Kirana tak pernah ditemuinya lagi. Sekarang entah berada dimana.
Lamunan Kania terhenti oleh sentuhan Kirana di bahunya.
”Sudah selesai, Ki?
”Ya,” jawab Kirana. Lalu ia duduk di sebelah Kania.
Dua gadis muda itu terdiam, hanyut dalam kerinduan masing-masing.
***
“Bu Kirana!”
Rena, salah seorang staf finance, memanggil dan menjawil lengan Kirana. Sekaligus menyadarkan Kirana dari lamunannya.
“Bu, ada masalah,” bisik Rena.
Kirana pun tersadar sepenuhnya. Kini, ia bisa mendengar jelas nada kesal suara Bu Melissa. Wanita itu tampak gusar. Sedangkan wajah Alex kelihatan tegang.
Waduh! Ada apa ini?
***