Keesokan paginya, Kirana bangun lebih cepat dan bersiap-siap berangkat lebih awal karena perjalanannya menuju kantornya lebih panjang. Ia tak mau terjebak macet. Mama sudah terbangun dan sedang menyiapkan sarapan untuknya di dapur. Wajahnya sudah segar walaupun matanya sembab. “Ma…” Mama menoleh tersenyum. “Mama masak apa?” “Nasi goreng.” “Buat aku?” “Ya iyalah, Ki!” Kirana tersenyum. Senang akhirnya perhatian mama tertuju kepadanya juga. “Boleh aku bawa saja? Nanti kumakan di kantor?” “Iya. Kamu naik apa?” tanya mama. “Ini mau pesan taksi.” Kirana membuka telefon genggamnya. Mama menuangkan sebagian nasi gorengnya ke kotak thinwall. Menaburkan irisan telur dadar, acar dan bawang goreng. “Nanti kamu akan datang ke sidangnya Kania?” tanya mama sambil memasukkan kotak nasi go

