Dua jam kemudian, Kirana sudah berada di coffee shop yang ditunjuk Rayyan. Lelaki itu belum tiba. Kirana memilih meja di salah satu sudut yang kosong, sementara Hendra duduk tak jauh darinya. Karena lambungnya yang sensitif tidak bisa menoleransi sedikit pun kopi, ia hanya berani memesan s**u gula aren saja. Menu minuman yang ramah di perutnya. Tak sampai lima menit, Rayyan datang. Penampilannya sekarang jauh berbeda dengan pada waktu ia datang ke kantor Kirana. Pakaiannya lebih rapi. Wajahnya lebih segar walaupun tergambar keresahan yang pekat di sana. “Ki!” Rayyan menyapanya dan duduk di hadapan Kirana. “Hai!” Kirana menyahut pelan. “Kamu sudah pesan minum?” "Sudah," jawab Kirana. Rayyan lalu memesan minuman untuk dirinya sendiri. “Kemana-mana kamu sekarang dikawal, ya?” Rayyan me

