Kirana ditemani Alex menunggu di lobi sampai mobil Abizar tiba. Lelaki itu tersenyum menyambut Kirana di baris kedua mobilnya. Seketika rasa damai menyergap Kirana. “Kenapa mukamu pucat?” Telapak tangan Abizar lembut memegang dahi Kirana, sesaat setelah Kirana duduk. “Kamu sakit?” Kirana memejamkan matanya merasakan sentuhan tangan Abizar. Dadanya berdebar akibat kehangatannya. “Ngga! Aku lagi kesal saja.” “Kesal kenapa?” “Rayyan tadi nemuin aku,” jawab Kirana. Lalu, mengalirlah ceritanya tentang perkataan Rayyan dalam pertemuannya tadi. Tentang Kania dan keinginan tidak warasnya. Tanpa diduga, reaksi Abizar malah tertawa. Padahal, ia sungguh berharap Abizar ikut mengumpat kegilaan Rayyan. “Kok malah ketawa, sih?” Kirana protes. “Aku kan pernah bilang, dia masih punya perasaan ke k

