Pagi harinya, aku pergi ke pasar tradisional mengantar ibu dan juga bu Laras untuk membeli beberapa barang yang diperlukan sebagai sarana keperluan yang ibu butuhkan. Klenik harus ditumpas dengan ilmu serupa, hanya perbedaannya, kami cukup membalikkan tenung juga mantra hitam yang mereka kirim.
Namun ada juga beberapa barang kebutuhan yang tidak di jual di sini, seperti daun awar-awar, akar bidara, klembak putih dan lain nya. Semua yang berasal dari tumbuhan harus di cari dalam hutan atau meminta kepada yang memiliki semua itu.
"Al coba kamu cari dimana disini yang jual minyak misik, tetapi ibu butuhnya minyak apel jin yang murni!"
"Dimana ya mencarinya, Bu? Al mana tau daerah sini!" Aku menjawab.
Ibu diam tidak menjawab, tetapi sorot mata itu mengharuskan pergi tanpa mau mendengar kata bantahan dari anaknya. Melihat itu aku mengelilingi area pasar, mencari yang dibutuhkan, tetapi aku tak menemukannya. Aku mutuskan untuk bertanya kepada toko-toko yang menjual parfum atau minyak wangi. Mereka hanya menjual minyak yafaron saja, tidak ada yang menjual minyak yang ibu mau. Akhirnya menjelang sore hari aku baru tiba di rumah tanpa hasil yang beliau mau.
"Sekarang kamu jemput Dvirgo di terminal sama mas Wahyu, dia sudah sampai dan menunggu di sana!" suruh ibu kembali.
"Iya, Bu!" jawab ku, aku langsung berpamitan dan menyalaminya.
Semua orang terlihat sibuk. Tidak ada waktu untuk santai, semua sibuk mempersiapkan segala hal, bahkan pak Samsi sendiri pun sedari pagi sudah keluar mencari beberapa bahan. Namun, hal yang membuat lega adalah dengan datangnya salah seorang murid ibu dari Kalimantan. Seandainya di nalar, hal ini terasa sangat tidak masuk akal, tidak mungkin dalam waktu sehari perjalanan laki-laki itu sudah tiba di sini.
Setelah menjemputnya di terminal dan kembali pulang ke rumah bu Larasati, aku membiarkan ibu, Bu Laras dan laki-laki itu berdiskusi membicarakan semua peristiwa ini. Aku yang tidak paham hanya duduk diam menunggu apa yang akan nanti mereka perintahkan.
Aku, ibu, Dvirgo, bu Laras dan suaminya, malam ini mendatangi rumah yang sangat mewah itu. Rumah yang besarnya bak istana ini adalah sumber semua malapetaka yang terjadi. Rumah itu terlihat sepi, hanya terlihat satu orang penjaga.
Dengan adanya Bolo Sewu dan banyaknya Denowo jin berbagai rupa menyeramkan itu, membuat semuanya terlihat singup lebih menyeramkan daripada kuburan atau tempat angker. Mata mereka serasa melihat dengan tajam kearah kami berlima saat memasuki pekarangan. Saat pintu putih yang tinggi dan besar itu dibuka, hantaman aura setan langsung menyambar. d**a serasa panas juga sesak, seluruh badan berat, merinding, kepala pun pusing tiba-tiba! Uluk salam juga tameng ghaib sudah di rapal untuk perlindungan kami semua.
Bau pengap dari rumah sebesar ini tercium, bagai masuk kedalam sebuah gua tanpa adanya sirkulasi udara! Jin, Setan, mewujud, bersliweran menunjukkan rupa mereka yang aneh, bahkan banyak juga yang merayap di dinding, dari atas kebawah, mengepung kami semua saat ini. Sambutan mereka sungguh membuat diriku merinding, terlebih menyaksikan bentuk-bentuk yang menjijikan dan menyeramkan itu.
"Bunga ini tolong sebarkan di depan rumah, Al!" Ibu memberikan plastik yang berisikan bunga mawar dua warna yang sudah di campur dengan minyak.
Aku menerima bungkusan itu dan kembali jalan ke luar rumah, bagai sebuah daya tarik dengan membawa bunga ini, semua lelembut dengan berbagai bentuk itu berjalan mengikuti langkahku. Suara berisik mereka mengomelkan kata yang tidak jelas terdengar. Ketika aku tebarkan kelopak-kelopak mawar itu semua seakan seperti anak ayam yang berebut makanan, melahap bunga-bunga itu.
Laapp...! Laapp...! Laapp...!
Tanpa jarak waktu lama semua sosok itu langsung sirna, setiap selesai memasukan bunga mawar itu kedalam mulut mereka tiba-tiba saja satu persatu dedemit itu menghilang entah kemana! Mungkin mereka lebur mati, atau pun dikembalikan ke alam astral, bisa juga di kembalikan ke sang pengirim, sama sekali aku tidak tau. Semua mahluk yang tadi terlihat di hadapanku kini telah hilang, lenyap tanpa bekas, hanya menyisakan bunga berwarna merah dan putih yang berserakan di tanah.
Walaupun puluhan setan itu sudah menghilang, tetapi masih banyak lagi jin berwujud menakutkan yang bertengger di seluruh rumah. Diperlukan cara lain melenyapkan semua bolo sewu dan buto ini. Tiba-tiba muncul gerimis yg di ikuti suara dan kilatan petir. Perubahan cuaca yang tiba-tiba ini tentu saja ada kaitannya dengan semua ini, karena menjadi hujan lokal di area ini saja.
Wussh...! Wussh...! Wussh...!
Angin pun berhembus kencang dan secara tiba-tiba menerpa serta memutari tubuhku yang masih berdiri di depan rumah. Tubuhku sedikit terhuyung dan limbung, untung aku tidak terjatuh. Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat cahaya dengan jelas, seperti ada lilin yang sangat banyak terbang mendekat.
"Mundur, Dek, itu kiriman santet!" teriak Dvirgo.
Kemudian dia berjalan di luasnya halaman, berdiri dibawah rintikan gerimis yang disertai hembusan angin. Perlahan ia mengeluarkan sebuah benda, kujang kuningan kecil yang ia tempelkan ke arah kepalanya. Beberapa saat terlihat dia hening membaca doa.
"Allahhu Akbar!"
Ia berteriak seraya menancapkan benda itu ke tanah!
Duaaarrrr...!
Api kecil yang berterbangan itu meledak secara bersamaan bagai petasan. Serpihan api berjatuhan, lenyap sebelum menyentuh tanah. Santet itu tertangkal oleh kekuatan yang dimiliki laki-laki ini. Namun, angin berhembus semakin kencang dan gerimis juga mendadak berhenti dengan sendirinya. Murid dari ibuku itu masih berdiri dengan kepala menengadah ke atas langit. Rupanya belum selesai dirinya mampu menghalangi berbagai santet yang akan di kirim kembali. Tiba-tiba muncul sosok genderuwo besar dengan tatapan mata merah, berjalan mendekati Dvirgo yang tidak bergeming sama sekali. Aku coba mendekatinya untuk memberitahu kan kedatangan barisan Setan Hitam berbulu itu, tetapi terlebih dahulu tangannya terangkat dan memberi tanda peringatan padaku untuk tetap ditempat tanpa mendekat padanya!
Tanpo tedeng aling-aling, anamung iman kang dumadi tamenging jiwo rogo, nembah marang kasunyatan bilih sawiji pengeran ta'ala kang anggadahi piwelas ugo panulung manungso! (Alzikra)
Suasana malam ini tidak hanya mencekam, tetapi juga menegangkan. Tampak laki-laki itu menggeram dan merunduk bagai harimau. Kini beberapa kali terlihat jemarinya yang berkuku panjang mencakar-cakar tanah yang ditumbuhi rerumputan, sehingga membuat percikan tanah berumput terlempar ke udara. Para genderuwo yang berbadan kekar itu juga sama, tak mau kalah untuk menunjukkan kegarangan wajahnya. Terlihat sangat menyeramkan dengan taring panjangnya!
Mahluk-mahluk itu kemudian mengelilingi Dvirgo, mengepung dan siap menyerangnya. Mata mereka tajam memerah. Tangan berkuku panjang itu mengapai-gapai udara siap menyerang. Dvirgo, terlihat agresif. Ia mengambil posisi siap siaga menerima serangan. Tak terbersit sedikit pun rasa takut di raut wajahnya. Ia tetap tenang walau berada di dalam kepungan sosok berbulu lebat itu, siap menghadapi pertarungan yang terlihat sama sekali tidak seimbang. Saat aku fokus melihat Dvirgo yang sedang terkepung, tiba-tiba terdengar teriakan yang memekakkan telinga yang berasal dari dalam rumah. Teriakan Pak Samsi.
"Aaaaaaa...!"
Aku berpaling, menoleh ke arah arah rumah, sumber asal suara. Teriakan Pak Samsi menandakan sesuatu sedang terjadi di dalam rumah. Aku berlari masuk ke dalam untuk memastikan apa yang sedang terjadi, meninggalkan Dvirgo bertarung dengan kawanan astral seorang diri.
Saat aku masuk ke dalam rumah, aku menyaksikan di ruangan ini sedang terjadi interaksi, energi yang memancar sangat kuat. Aku berjalan ke belakang ibu. Dan pukulan itu sangat terasa ketika aku sudah berdiri di belakang ibuku yang tengah berdiri. Ia menatap tajam ke depan, ke arah satu sosok berjubah hitam. Namun, hanya lengkungan bayangan saja yang dapat terlihat karena terhalang oleh kekuatan yang terus keluar dari mahluk itu. Pak Samsi dan Bu Laras mencoba untuk bertahan menghadapi serangan yang menghantam mereka. Mahluk itu terus saja secara membabi buta menyerang mereka berdua.
Hoeekkks!
Akhirnya, kedua orang itu tersungkur dan memuntahkan sesuatu yang tidak bisa mereka tahan lagi. Hanya hitungan menit bu Laras jatuh terkulai tak sadarkan diri. Sementara suaminya masih mencoba untuk melawan dan kini ia hanya merunduk tersujud, menekan dadanya sendiri yang terasa panas terbakar!
"Pak, jangan di lawan! Kekuatan ini sangat besar, justru bapak akan kuwalahan sendiri jika terus berusaha melawannya!" ujarku ketika berusaha merangkulnya untuk berdiri.
"To... to... tolong istri saya, Mas!" suaranya terdengar terbata-bata dan nafas yang tersengal-sengal. Tangannya terlihat gemetar saat dia menunjuk istrinya yang tergeletak tak berdaya di lantai.
"Pak, tenang, istigfar, jangan dilawan aura ini, yang ada bapak akan terkuras tenaganya!" aku mencoba memberi pengertian kepada Pak Samsi bahwa jika diteruskan usahanya akan sia-sia.
"Abaikan sa... saya..." suara itu terdengar kesakitan. Tolong istri saya, Mas."
Mendengar permintaannya, aku langsung menghampiri bu Laras, mencoba mengangkatnya dari lantai. Namun, dengan keterbatasan tenagaku aku tak mampu mengangkatnya, jangankan untuk menggendong tubuh Bu Laras yang sedang pingsan ini, hendak mendudukkannya saja aku tidak sanggup.
"Tolongg! Tolong!
Akhirnya, aku menarik kedua tangannya, menyeret sebisanya keluar dari ruangan ini sambil teriak meminta pertolongan!
Tampak pak tua si penjaga rumah lari tergopoh-gopoh menghampiri kami.
"Mas, kenapa, Mas, ada apa dengan Bu Laras?" tampak raut kepanikan muncul wajah tuanya.
"Sudah nanti saja bertanyannya, Pak, bantu saja saya mengangkat Bu Laras!" teriakkku seraya menyadarkan lelaki tua itu yang masih berdiri tertegun keheranan.
Mendengar permintaanku dia langsung mengangkat bagian kaki, kami menggotong Bu Laras secara tidak wajar. Bagai mengangkat mayat, tenaga kami terkuras untuk memindahkannya. Akhirnya dengan susah payah kami berhasil membawanya ke depan teras, lalu membaringkan tubuhnya di kursi panjang.
"Aaaakkkkk...!
Baru saja selesai meletakkan tubuh Bu Laras, saat berdiri dan ingin menarik nafas, suara jerit kesakitan kembali terdengar. Pak Samsi terdengar memekik dengan sangat keras.
"Bapak tunggui Bu Laras saja!" tanpa menunggu jawabannya, secepat kilat aku berlari masuk ke dalam rumah.
Saat di dalam rumah kulihat Pak Samsi tengah berguling-guling kesakitan, darah sudah keluar dari hidung dan mulutnya. Sejenak aku melihat ke arah ibu ku yang masih tegak berhadapan dengan sosok itu. Mereka saling berpandangan mengeluarkan ilmu kebatinan masing-masing untuk saling menyerang. Perang sukma ibu yang meninggalkan raganya menjadi benturan dan terus menciptakan kekuatan yang beradu antara keduanya.
Wussshh!
Angin dengan hawa sangat panas mengelilingi tempat ini, gempa kecil mengetarkan lantai juga dinding rumah yang sangat megah ini.
Setiap kali angin itu menerpaku, tubuhku mundur selangkah Hampir saja aku tak mampu menahannya karena mendapat dorongan kekuatan yang begitu kuat menghantamku. Aku mendekati Pak Samsi, menarik bahu pak Samsi, lalu membawanya berjalan berlahan meninggalkan ruang yang tengah mencekam ini. Setibanya kami di teras, Pak Samsi terkejut dan histeris melihat kondisi Bu Laras.
"Ya Allah, Bu!" jerit Pak Samsi ketika melihat istrinya masih terkulai di atas kursi.
ubuukk! uhukk! uhuukk!
Dia hanya menangis, mencoba menenangkan dirinya sambil berulang kali terbatuk-batuk.
Perlahan Pak Samsi menghampiri Bu Laras, duduk di dekatnya dan dengan beristigfar dia mengelus lembut kepala sang istri penuh rasa kesedihan. Ia sama sekali tak menyangka jika semua musibah ini menimpa istri, keluarga, bahkan dirinya. Air matanya terus keluar di sudut kedua mata yang kini berubah menatap penuh amarah.
"Setan laknat, ya Allah berikan hukuman setimpal utk manusia yg telah membuat semua ini trjdi pd keluarga kami!" teriak Pak Samsi penuh emosi yg tidak bisa ia tahan lagi.
"Sabar, Pak, istighfar dan banyak berdoa!" Lelaki tua penjaga rumahnya itu mencoba menenangkan majikannya.
Suasana menjadi haru biru, di dalam rumah nampak suasana ketengangan karena terjadi perang batin antara ibu dan mahluk ibu, sementara di sini, kondisi Bu laras dan suaminya sangat memprihatinkan.
Dvirgo yang sudah membereskan kawanan genderuwo, mulai berjalan menghampiri kami.
"Ada apa, Al" tanyanya kepadaku.
"Ehh... Pak Samsi... Bu Laras..." belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Dvirgo memintaku untuk menyingkir, menjauh dari mereka berdua.
Perlahan ia mendekati mereka. Terlihat, sejenak ia khusuk berdoa, kemudian meniupkannya ke telapak tangannya, lalu mengusapkannya secara perlahan ke tubuh Pak Samsi dari ujung rambut sampai ujung kaki, menarik energi negatif dalam tubuh Pak Samsi.
Hoekkss! Hoekss!
Setelah mendapat usapan tangan Dvirgo ke tubuhnya, Pak Samsi memuntahkan seluruh isi perutnya yang hanya tinggal cairan kuning kemerahan.
"Kasih beliau minum!" suruhnya pada kami berdua.
Dengan cekatan pak tua itu berlari menuju dapur dan mengambilkan air untuk Pak Samsi. Tidak seberapa lama juga terlihat ibuku berjalan keluar.
Uhuk! Uhuk!
Beliau batuk-batuk kecil, kemudian mendekati Bu Laras yang belum juga siuman. Ibu duduk di samping Bu Laras dan memeganginya. Tidak begitu lama kemudian, dia bangkit berdiri lagi lalu mengarahkan telunjuknya ke atas. Menunjuk ke arah langit.
"Kini yang datang semakin banyak!" kata ibuku.
Serempak kami mengarahkan pamdangan kami mengikuti di mana jari orang tuaku itu teratah. Tampak di atas sana, sebuah api melesat terbang mendekat.
"Bolo Sewu dikirim lagi!" teriak Dvirgo, dengan rahang yang dia eratkan, menandakan emosinya kini hadir kembali.
"Ini tidak akan pernah selesai, jika empu pengirim tenungnya tidak diatasi. Sebaiknya kita mundur dulu untuk keamanan Mbak Laras juga suaminya!" ibu berteriak sambil memperingatkan muridnya.
"Jadi bagaimana sekarang, Bu?" tanyakuu.
"Bawa pulang dulu Mbak Laras, kalian angkat ke Mobil, segera tinggalkan tempat ini!"