Dengan kepala tertunduk seakan menyembunyikan kecemasannya, Wahyu berlalu masuk ke dalam kamar. Sementara aku hanya duduk menunggu kepulangan ibu dan keluarga bu Laras. Sambil menunggu kepulangan mereka, aku kembali berusaha memahami permintaan dari setan pocong tadi, agar aku menjaga kedua cucunya. Apakah ini artinya mereka berdua kini juga sudah diincar oleh ilmu penebar maut ini? Sejenak aku memanjatkan doa dalam hati, semoga Tuhan selalu menjaga keluarga ini dan semua baik-baik saja.
Tidak beberapa lama kemudian, Wahyu keluar dari kamar, dengan wajah yang sudah mulai tenang ia menghampiriku, lalu kami duduk saling berhadapan. Dia berusaha menceritakan apa yang terpendam di dalam benaknya.
"Sebelum kejadian ini, Mas, sebenarnya kami semua sudah tau, awal mula peristiwa ini hanya dikarenakan warisan rumah eyang yang jatuh ke tangan ibu. Membuat malapetaka bagi keluarga kami!" Wahyu mengawali obrolan.
"Jadi siapakah dalang di balik semua peristiwa ini?" tanyaku.
"Itu yang belum kami ketahui, ibu sendiri juga tidak yakin jika saudaranya sendiri ada yang setega ini. Makanya, beliau antara percaya dan tidak percaya jika antara saudara sedarah sampai tega berbuat demikian!" ucapnya terisak dan mata berkaca-kaca menahan kesedihan.
"Jadi sebenarnya, seperti apa awal kejadian itu, Mas Wahyu?"
"Awal mulanya, eyang kakung (kakek) terserang santet itu sehari setelah kami semua melayat di rumahnya Pak De Miko, waktu itu putranya meninggal dunia. Setelah takziah ke sana, eyang tiba-tiba sakit, badannya tidak bisa digerakkan sama sekali. Sempat kami berpikir kalo eyang terkena struk, tetapi dokter mengatakan jika sebenarnya beliau sehat wal-afiat. Sampai berminggu-minggu kemudian beliau dirawat, tetapi tidak membuahkan hasil yang mengembirakan, perutnya semakin membengkak, sampai yang terparah, kesadaran diri eyang hilang!" Imbuh Wahyu.
Aku hanya termangu melihatnya menyeka air mata berkali-kali saat menceritakan ulang semua peristiwa itu. Hingga kami dikejutkan dengan suara kedatangan mobil yang ditumpangi rombongan orang tua Wahyu dan ibu ku yang sudah datang. Aura mereka terlihat lain, ada raut resah juga lelah di semua wajah-wajah yang baru saja tiba, terlebih lagi ibuku sangat terlihat kecapekan, dengan tatapannya yang sedikit ada kekosongan seperti memikirkan sesuatu. Obrolanku dan Wahyu terputus dengan kedatangan mereka. Selanjutnya kami berkumpul mendengar penjelasan ibuku jika benang hitam itu sudah banyak tertanam di rumah yang menjadi sengketa itu. Ibu juga menerangkan jika BOLOSEWU sudah bertengger di sana menanti darah, hingga tulang belulang penumbalan berikutnya.
BOLO SEWU ini adalah jin dengan arti nama seribu pasukan, wujud mereka berbadan ular dan wajahnya menyeramkan menyerupai Denowo atau Buto Cakil yang taringnya lebih panjang, keluar dari barisan gigi tajam dari rahang bawah. Mulutnya memanjang ke depan seperti mulut buaya atau serigala. Dalam dunia klenik atau perdukunan, jenis Bolo Sewu ini menjadi sosok jin paling di waspadai karena keganasan dalam memangsa jasad-jasad manusia yang menjadi tumbal. Dengan raut wajah tidak biasa dan menyimpan sesuatu ibu berbicara lemah lembut kepada Bu Laras.
"Mbak, saya mau mengungkapkan gambaran yang terlihat oleh mata saya, hanya saja Mbaknya harus ikhlas menerima ini semua, harus berusaha memahami jika semua ini bisa berhenti hanya melalui pertolongan Allah Swt semata!" ucap ibu, dengan genggaman jemarinya yang terlihat menahan genjolak jiwanya.
"Insa Allah, Mbak Nah, saya siap mendengar pernyataan itu, semoga Allah memberikan keikhlasan kepada saya dan keluarga, Mbak!" jawab Bu Laras dan anggukan suaminya yang duduk bersebelahan.
Sebelum melanjutkan apa yg hendak diucapkan, tarikan nafas panjang juga berat terlihat dari ibuku, bibirnya masih bergetar ingin menyampaikan semua ini tetapi masih sangat terasa berat untuk beliau. Hingga tarikan nafas kedua yg terdengar lebih panjang, baru dimulai pembicaraan.
"Ini jenis santet dengan penumbalan, mengorbankan jiwa, baru bisa diikuti oleh pengambilan jiwa berikutnya. Ilmu seribu jin ini merupakan pencabut nyawa sampai semua keturunan habis tak bersisa, jika manusia sudah terkena ilmu ini semua akan mati sampai anak keturunannya. Ini yang selalu di sebut santet BAMBU SERUMPUN (Pring Sedapur)," kata ibu menjelaskan.
"Jadi bagai mana menghentikan semua ini, Mbak?" tanya Pak Samsi suami Bu Laras.
"Perang! Mau tidak mau kita harus perang melawan mereka, tidak ada jalan lain! Perang ini yang harus menuai kata ikhlas itu, karena yang menjadi musuh kalian adalah keluarga kalian sendiri. Apa kamu siap, Jeng?" tanya beliau kepada Bu Larasati yang terlihat sangat tegang.
"Maksudnya keluarga sendiri bagai mana, Mbak Nah?" Bu Laras bertanya dengan nada yang semakin menunjukan ketakutan.
"Iya, karena rumah itu yang menjadi pangkal persoalannya. Kakakmu menjadi iri hati dan tertutup mata kebaikannya. Apa kamu tau, Jeng? Ilmu ini bisa terjadi dengan beliau terlebih dahulu menumbalkan anak nya sendiri!" Lanjut ibu menjelaskan.
"Astagfirullah! Apa kematian Lingga itu karena penumbalan bapaknya bukan karena kecelakaan?" tanya Bu Laras dengan sangat heran.
"Sudah aku duga, Eyang sakit juga sehabis melayat di rumahnya Pak De Miko kan, Bu!" Wahyu membuka suara, yang sedari tadi hanya menyimak sama denganku.
"Iya itu benar sekali, Mas, jatuhnya eyang terjadi setelah beliau melayat!" imbuh Tari sang adik.
Mendengar perbincangan itu, suasana menjadi hening. Semua yang hadir kini terdiam, menelisik pertanyaan dalam hati masing-masing, mengungkap tudingan dengan logika mereka sendiri. Hanya kini Bu Laras, sahabat ibuku itu terlihat terisak dalam tangisnya, tidak menyangka jika kakak kandungnya sendiri memiliki pemikiran picik seperti itu, menghalalkan segala cara bahkan tega membunuh darah dagingnya sendiri hanya untuk suatu tujuan.
Pembicaraan malam ini sangat berat, dan pasti melukai semua hati seluruh keluarga ini. Kerena itu butuh keikhlasan, jika semakin terbawa dengan suasana emosi kekuatan ini justru akan mudah menyelimuti mereka. Bahkan tanpa mereka lihat jika sosok di rumah ini juga sangat banyak. Banas pati sedari tadi juga sudah berputar-putar mengelilingi rumah ini!
Akhirnya ibu meminta semua penghuni rumah untuk beribadah dan berdoa meminta perlindungan Nya sebelum beranjak istirahat. Aku yang masih mencium bebauan yang berganti-ganti antara amis juga bau bakaran, mencoba duduk di teras rumah. Menunggu apa yang akan muncul setelah ini!
Wusshhh ...!
Tiba-tiba muncul wujud hitam berperawakan besar dengan api yg menjadi kepalanya, terlihat semakin jelas dan nyata muncul di hadapanku!
Amung pinembah kanti sumelehing keikhlasan ati. Tanpo leno ing pandungo, sumeleh marang dzat sejati kang dumadi wojoning jiwo klawan rogo.
Sesaat aku hanya bisa tertegun saat menyadari bahwa ternyata sekarang aku telah berdiri berhadapan dengan sosok berkepala api itu. Badannya kekar, hitam dan legam, ruas jemari yang panjang dengan kuku hitamnya terlihat mencengkeram bagai cakar siluman yang mengerikan. Setan atau jin ini selalu disebut oleh warga di sini dengan nama KEMAMANG, jika mata t*******g yang melihatnya, ia hanya berbentuk bola api yang melayang, sangat mirip dengan banaspati, tetapi sosok ini lebih besar dan menyeramkan. Kemampuan mahluk ini cukup membuat bergidik karena ia dapat menyeret manusia lalu menyembunyikannya di balik pepohonan yang angker, seperti pohon waru, randu, beringin, sengon, dll. Menghadapi mahluk ini sama dengan halnya ketika bertemu atau berhadapan dengan wewe gombel.
Apapun yang terjadi, kita harus berpura-pura tidak melihatnya, meski dicekik, digerayangi, Bahkan jika dijilat pakai lidah apinya pun, kita harus tetap diam. Jika sampai sosok ini melihat ketakutan kita, maka selesailah langkah kehidupan korbannya.
Wusshhh!
Deru angin sesaat menerpaku saat tanpa bersuara jin ini perlahan mendekatiku tanpa jarak. Sesaat jin itu hanya berdiri di depanku, aku merasa ia mengamatiku. Karena jarak kami terlalu dekat aku mencoba menggeser langkah, tanpa memperdulikan keberadaannya.
Wush...! Wush...!
Angin kembali menderu kencang saat setan KEMAMANG ini terbang beberapa kali mengitariku, lalu naik ke atas langit, semakin lama semakin tinggi dan terlihat semakin samar.
Duuuarrr...!
Sebelum jin itu benar-benar sirna, terlihat sebuah api yang meledak di atas sana. Ledakan itu megeluarkan percikan cahaya api yang terang.
Wusshh...!
Hembusan angin kencang tiba-tiba muncul kembali. Ternyata semua ini belum selesai, baru sesaat saja aku bisa menarik nafas lega dengan kepergian setan itu, sekarang muncul lagi sosok WEDON yang berwujud nenek tua memegang tongkat, dan berselempang selendang warna merah di leher.
"Astagfirullah, wedon!" teriakku secara tiba-tiba saat melihat wujud nenek itu.
Awalnya hanya terlihat satu, lalu menjadi dua, bertambah lagi tiga, empat, lima, dan seterusnya. Sampai tak terhitung lagi jumlah si nenek dengan rupa dan wujud yang sama. Sosok itu terus bertambah dan berdiri menatap ke arahku yang sedang sendirian di halaman rumah Bu Laras ini. Secara bersamaan mulutnya juga terbuka sangat lebar, andai kepala ku masuk kedalam mulut yang menganga itu akan sangat mudah untuk di lumatnya! Lidahnya yang berwarna merah itu perlahan menjulur keluar semakin lama semakin memanjang dan meliuk-liuk.
"Sengkolo minggat, raip soko adepan ku!" suara ibu terdengar berteriak dan mengacungkan telunjuknya ke arah wedon itu.
Laaapp... !
Secara bersamaan angin meniupkan bau bakaran kemenyan dan semua sosok lelembut itu menghilang seketika!
"Kamu tuh kenapa malah diluar malam-malam begini, Al?" tanya ibu.
"Saya cuma memastikan saja semua aman, Bu! Karena Al belum bisa tidur." jawabku memberikan alasan.
"Aman dari apa? Ini sudah nggak aman, lebih baik kamu berdoa atau istirahat saja!"
"Inggih, Bu!"
Akhirnya aku pun kembali masuk ke dalam rumah.
Aku menghabiskan sisa malam ini dengan merebahkan tubuh di pembaringan, mencoba menutup mata dan menyandarkan segala rasa resah. Aku sejenak berdoa, mengharap jika esok pagi semua benar-benar menghilang tanpa adanya peperangan atau pun ada klenik yang dikirimkan lagi. Namun, rasanya itu mustahil terjadi, karena pada kenyataannya semua peperangan ini baru saja di mulai. Nyawa yang sudah ditumbalkan dimaksudkan untuk menjemput rentetan nyawa berikutnya.
Dalam lelap tidurku, aku bermimpi didatangi seorang laki-laki seumuran abangku dengan rambutnya yang gondrong sebahu, mengenakan kalung berbandul taring harimau. Orang ini menemui ibuku, menyalami beliau, menoleh sejenak lalu tersenyum ke arahku. Aku mencoba mengingat-ingat wajah laki-laki itu. Namun, aku belum bisa memastikan siapa orang itu dan kenapa datang dalam mimpiku padahal seingatku sebelumnya kami belum pernah bertemu.
Selesai salat Subuh, aku menceritakan mimpiku kepada ibu.
"Bu tadi malam saya di datangi sesosok laki-laki, setelah saya berusaha mengingat-ngingat siapa orang itu saya nggak bisa menemukan jawabannya, Bu. Sepertinya kami memang tidak pernah bertemu sebelumnya."
ibuku hanya tersenyum ke arahku dan menanyakan bagaimana cerita dalam mimpiku.
"Sosok laki-laki berkalung dengan taring harimau sebagai bandulnya. Dia menyalami ibu dan tersenyum saat melihat ke arah Al!" kataku menjelaskan.
"Alhamdulillah, doa ibu sudah di dengar Allah, dan dia itu murid ibu yang tinggal di Kalimantan, Insa Allah akan datang untuk menangani masalah ini."
"Murid ibu? Siapa?" tanyaku dengan rasa penasaran.
"Namanya Dvirgo, jauh sebelum kamu lahir dulu dia sudah belajar dengan ibu juga almarhum abahmu."
"Bagaimana ibu bisa tau kalau itu memang benar-benar dia, Bu?" Aku masih belum berhenti penasaran mengenai sosok laki-laki ini.
"Kalung itu, dia dapat saat tirakat dalam bimbingan ibu!" ucapnya memungkasi obrolan. Dan aku hanya terdiam mendengar penjelasan ibu.