Baskara bergegas pergi kepada atasannya untuk meminta ijin untuk pulang menengok keluarganya dikampung. Ia segera memasuki ruangan atasannya.
“Selamat siang pak” ujar Baskara menyapa atasannya yang baru saja istirahat itu
Dia menatapi Baskara dengan sedikit tidak suka “Ada apa kamu kesini? Tahu kan ini jam istirahat saya?” ujarnya terlihat kesal sembari merebahkan duduknya santai. Sebenarnya memang Pandu memiliki kebencian tersendiri pada Baskara karena semua prestrasi Baskara di militer membuat posisinya bisa terancam untuk tersingkirkan oleh Baskara.
“Maaf sebelumnya mengganggu waktu bapak, tapi saya ada hal penting yang ingin di bicarakan pak. Kampung halaman saya kebakaran, puluhan rumah hangus terbakar dan saya belum mendapat kabar dari orang tua saya. Adik saya juga kritis” jelas Baskara menatapi sendu atasannya itu berharap dia merasakan apa yang Baskara takutkan
Atasannya yang mengenakan name tag Pandu itu segera berdiri dan mendekat ke arah tepat Baskara berdiri, dia masih menatapinya dengan tatapan kesal yang sama.
“Jadi apa maksudmu menemui saya Baskara? Pertama kamu mengganggu jam istirahat saya dan sekarang?” ujarnya menggantungkan ucapannya
Baskara menundukan kepalanya “Saya mohon pak Pandu, untuk kali ini saya meminta izin untuk pulang hanya untuk memastikan bahwa keluarga saya baik-baik saja di sana” ujarnya dengan lantang
“Kamu mau minta izin pulang? Heh Baskara, kamu itu prajurit paling berpengaruh disini Baskara. Kamu pikir semudah itu meminta izin lepas dari tugas? Kamu bahkan bisa saja kehilangan status kemiliteran kamu lho. Jangan ngawur kamu Baskara!” tegas pak Pandu menatapi bawahannya itu dengan murka
Baskara menatapi Pandu dengan tatapan dalam “Tapi pak, bagaimana jika hal ini terjadi pada bapak? Apakah bapak akan tetap diam saja di sini? Apa bapak akan tinggal diam dan melanjutkan pekerjaan seakan-akan tidak terjadi apa-apa?” tanya Baskara dengan air mata yang mulai berjatuhan
Pandu menatapinta bergidik jijik “Apa-apaan ini? Kamu seorang militer dan jangan cengeng seperti itu Baskara! Dan perlu kamu tahu saya ini seorang komandan kamu, dan selangkah pun saya dan pasukan saya tidak boleh meninggalkan medan sebelum tugas benar-benar selesai!” tegasnya menunjuk Baskara
“Saya tidak mengerti aturan macam apa yang bapak sebutkan!” ujar Baskara dengan tatapan kecewa dia melepas baju pelindung dari peluru dan melemparnya ke sembarang arah, hal itu tentu saja membuat Pandu menatapinya semakin tak habis pikir.
“Kamu sudah gila ya Baskara? Berani beraninya menantang saya dengan seperti itu” ujarnya memegangi kerah baju Baskara cukup kasar
Namun Baskara segera melepaskan tangan Pandu dari kerah bajunya dengan kasar “Saya tidak ada waktu untuk berdebat dengan anda pak. Saya lebih memilih menyelamatkan keluarga saya daripada harus diperintah oleh orang yang tak memiliki hati seperti bapak. Saya permisi” ujar Baskara lalu pergi dari ruangan itu
“Anak sialan! Saya akan ajukan pemecatan kamu Baskara! Gak peduli seberapa banyak prestrasi mu di kemiliteran ini” teriak Pandu menatapi kepergiannya murka
“Bagaimana pun juga saya akan menghancurkanmu” lirih Pandu pelan lalu tersenyum
Baskara berlarian keluar dari medan perang itu, semua temannya yang sedang beristirahat menatapi Baskara heran. “Baskara ada apa? Kamu mau kemana?”
“Baskara?”
“Apa yang terjadi?”
Teriak teman-teman Baskara saat melihat Baskara pergi begitu saja, Baskara tidak menjawab pertanyaan dari mereka pikirannya sekarang sangat penat dan takut keluarganya kenapa-napa.
“Kenapa ya Baskara?”
“Ah paling dia kena marah Pak Pandu lagi, Baskara kan bawahan yang paling berani sama dia”
“Iya ya, Baskara selalu aja mencari masalah dari pak Pandu. Kenapa gak diam aja kayak kita sih? Tapi faktanya Baskara yang paling berpengaruh di kemiliteran ini” Gerutu mereka
Sampai di pinggir jalan Baskara segera menunggu kendaraan lewat, berhubungan ini adalah wilayah perbatasan tentunya akan sangat jarang kendaraan berlalu lalang. Akhirnya Baskara memilih untuk berlari ke pusat kota. “Raina tunggu abang Raina” ujar Baskara sepanjang perjalanannya untuk membuatnya semakin semangat di setiap langkahnya
*****
“Abang.. dimana abang.. ibu.. ayah..” lirih Raina yang semua tubuhnya masih diperban kecuali dengan wajahnya
Dara yang tertidur di samping tempat tidur Raina sontak terbangun “Ya ampun, mbak? Mbak udah sadar?” ujar Dara tersenyum namun saat melihat Raina, mata Raina masih tertutup
“Abang.. cepat kemari bang Baskara! Maafin Raina gak bisa selamatin ibu sama ayah” lirih Raina lagi
Dara membuang nafasnya berat “Hah dia sedang bermimpi, sepertinya memang dia masih perlu banyak waktu untuk benar-benar sadar. Semoga saat abangnya kemari, mbak Raina bangun” ujarnya lalu menatapinya sendu
*****
Setelah 45 menit berlari akhirnya Baskara sampai ke tempat dimana ada orang-orang tepatnya di sebuah bengkel dan di sampingnya ada warung. Baskara segera duduk di kursi warung dan hendak membeli minuman.
“Bu, air mineralnya 3 botol!” ujar Baskara memesan
Si ibu yang sedang fokus menonton televisi itu baru sadar ternyata ada seseorang yang datang ke warungnya “Eh iya nak bentar ya” ujarnya tersenyum manis sembari mengambil air mineral itu dan memasukannya ke dalam kantong kresek
“Ini nak, eh tentara ya?” ujar si ibu yang baru ngeuh dia memakai seragam tentara
Baskara mengangguk dan tersenyum “Iya bu” ujar nya sembari mengambil minuman yang ibu itu berikan
“Ya ampun kamu dari perbatasan ke sini naik apa? Kelihatan cape banget” ujar si ibu terlihat khawatir
Baskara membuka botol minumnya “Saya jalan kaki bu” jawabnya segera lalu ia meminum minuman itu
“Jalan kaki? Tapi kenapa nak? Jaraknya jauh banget lho, kayaknya juga yang lain engga ikut? Kamu sendirian?” tanya si ibu lagi
Baskara selesai meminumnya dan mengangguk menatapi ibu itu “Saya sendirian bu, lari dari tugas” senyumnya
“Lari?” gerutu si ibu penasaran
Baskara menatapi ke arah televisi “Bu boleh saya lihat saluran berita? Saya ingin pulang ke kampung halaman saya, dan katanya kemarin malam kampung saya kebakaran besar” jelas Baskara
“Oalah nak ini orang sana ya? Makanya mau lari dari tugas? Ya ampun kasihan banget nak ini lari-lari dari medan tempur. Tadi ibu juga lihat beritanya dan katanya yang selamat itu jarang di temukan” ujarnya menatapi Baskara kasihan lalu ia mengubah saluran televisi ke saluran berita
Dan benar saja berita sedang menyiarkan kebakaran besar yang terjadi di kampung halaman Baskara, terlihat semuanya sudah berubah hitam dan abu. Mata Baskara membelalak saat sekilas rumahnya di sorot dan pembawa berita mengatakan area ini adalah yang paling parah dan sulit bagi tim medis untuk mengevakuasi.
“Rumah ku” lirih Baskara dengan tatapan hancur
Si ibu menatapi Baskara kasihan “Ya ampun beneran ini sekitar rumah kamu nak? Hmm sing sabar ya nak, udah takdir nak kuat nak kuat” ujar si ibu sedih melihat Baskara yang sudah menangis
“Bu ini uangnya, saya mau permisi dulu ya bu saya mau pulang terima kasih sudah mengizinkan saya duduk” ujar Baskara
Si ibu itu terheran “Nak sebentar nak, kamu kan engga ada kendaraan? Mana mungkin mau jalan kaki dari sini ke bandara? Sebentar ibu panggilkan anak laki ibu supaya anterin kamu ke bandara seenggaknya ibu bisa bantu kamu nak” ujar si ibu yang lalu segera keluar dari warungnya dan pergi ke dalam rumahnya
“Bu engga usah repot-repot bu” ujar Baskara namun tak didengar oleh si ibu itu
Baskara membawa dompet yang dia simpan di saku celananya, ia lalu melihat uangnya. “Hah uangku hanya tersisa dua juta lagi. Apa ini akan cukup untuk pulang?” gerutunya perlahan
“Mana tentaranya bu?” ujar anak berusia sekitar 18 tahun yang keluar dari rumahnya dengan raut wajah bahagia bersama siibu tadi di sampingnya
Si ibu menunjuk Baskara “Itu nak, tolong anterin abang itu ke bandara ya kasihan dan hati-hati saat pulangnya ya” ujar si ibu menatapi anaknya
“Ya bu siap” ujar anak lelaki itu lalu mengenakan helm dan menaiki motornya kemudian mendekat pada Baskara
Si ibu membawakan helm untuk Baskara “Gunakan ini ya nak, dan semoga keluarga kamu di kampung selamat. Apapun yang terjadi kamu tetap kuat ya” ujar si ibu sendu menatapinya
“Terima kasih atas bantuannya bu, saya engga akan lupa atas yang ibu dan adek lakukan untuk saya” ujar Baskara membuang nafasnya lega lalu meraih helm yang ibu berikan
Si ibu tersenyum “Hati-hati”
“Ayo bang, biar Dimas yang bawa motornya, Dimas udah punya sim kok” ujar Dimas tersenyum manis
Baskara mengangguk sembari tersenyum dan mengenakan helmnya “Oke ayo” jawab Baskara segera