Awal kehancuran
Terjadi sebuah kebakaran yang di kampung halaman Baskara semua rumah di kampungnya terbakar begitu saja tanpa ada penyebab yang pasti. Semua yang ada disitu hampir musnah di lahap si jago merah bagaimana tidak? Puluhan rumah warga hangus terbakar bukan hanya satu atau dua saja.
Tim medis segera di arahkan oleh pemerintah untuk segera bergegas menangani masalah itu, tentu saja bukan hal yang mudah bagi tim medis untuk mengavakuasi korban berhubungan kebakaran itu pun terjadi saat malam hari.
“Ahh gelap sekali, bagaimana caranya kita bisa mengevakuasi korban? Mereka pikir kita mempunyai indera ke enam dan kekuatan super? Di sini panas sekali lagi” ujar tim medis perempuan yang berkacamata itu
Salah satu teman nya tersenyum menyungging “Heh jangan banyak mengeluh, kalau ingin mengeluh dari tadi saja saat kita diberi arahan dokter! Kenapa harus sekarang? Hilih jiwa pengecut! lagian kita di tugaskan untuk berada di satu titik dan jika ada yang meminta pertolongan segera tangani, kamu engga mendengarkan apa Ra?” ujar si perempuan berbadan langsing dan rambut terurai itu
“Terserah aku Lin, jangan so akrab deh” kesalnya menatapi Linda mendelik lalu menjauh dari nya seakan-akan dia memang sangat jijik padanya
Linda menaikan satu bibirnya tak kalah jijik “Ya ampun Arfan Arfan kenapa kita harus setim sama cewek manja itu sih” gerutu Linda menatapi kepergian Dara yang menjauh dari ke empat temannya itu
“Udah lah Lin jangan di ladenin, biarin aja dia nyerocos sampe berbusa kek” gerutu Arfan menahan tawanya
Linda hanya tersenyum lalu ia melipat tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya “Dara Dara dasar manja” gerutunya lagi sangat pelan
Sementara itu Dara yang berjalan semakin jauh dari teman-temannya, dia melihat ke sekeliling bangunan rumah yang hangus terbakar. Dara bergidik takut membayangkan bagaimana jadinya orang orang yang ada di dalam rumah terbakar saat tidur.
“Ya tuhan, ngeri banget! Pasti jam segini masyarakat lagi pada tidur. Ini penyebab kebakarannya apa sih? Dan kalau ada yang di salahkan ingin menyalahkan siapa? Pemerintah? Gila aja sih” gerutu nya yang lalu berhenti di depan rumah yang terlihat sudah sangat padam
Dara mengambil nafasnya dalam-dalam lalu perlahan dia melihat nama yang tertulis di depan rumah yang sudah hangus namun sedikit masih terbaca dia menyipitkan matanya dan membaca perlahan “Baskara?” ujarnya
“Marga keluarga ini kali ya? Hmm menyedihkan. Tapi sepertinya kok sepi banget, rumah megah begini aku engga yakin mereka bisa selamat soalnya ini pusat terparah kebakaran dan belum ada satu pun yang di evakuasi di pusat terparah karena memang takut ada hal yang tidak di duga duga, seperti ledakan mendadak lagi?” ujarnya menyerocos tidak jelas
Dara hendak melangkahkan badannya namun tiba-tiba sebuah tangan yang sudah menghitam itu memegangi kakinya, Dara yang merasakan ada yang menahannya tentu saja merinding ketakutan. Tanpa melihat ke belakang dia segera berteriak sekeras-kerasnya. “Arrghhhhhhhh!!! Temen-temen cepetan kesini!” teriak Dara lantang membuat teman temanya benar benar mendengar teriakan Dara
“Ya ampun si Dara kenapa?” gerutu Ahmad menatapi ke dua tim medis yang merupakan temannya itu serius
Arfan menepuk jidatnya “Selalu aja seperti ini, si Dara itu parnoan banget kan? Tapi anehnya kenapa sih dia sering keluyuran sendirian. Aneh” ujarnya sembari segera bergegas menuju ke sumber suara
“Ahh menyebalkan!” kesal Linda yang lalu mengikuti Arfan di belakangnya
Ahmad pun mengikuti ke dua temannya itu “Dara Dara, selalu aja bikin kita dalam masalah” gerutunya terlihat ketakutan
“Ka-kamu ke-kenapa teriak? Aku Raina, kau dengar aku? Aku belum mati kan? Aku Raina, nama ku Raina. Tolong lihat aku, aku butuh bantuan mu” lirih gadis yang masih sangat muda itu
Dara sedikit merinding mendengar suara Raina, ia takut apa yang di dengarnya tidak benar tapi dia sangat penasaran dan ingin membuktikan apa kebenaranya. Dara perlahan melihat ke belakang dan benar saja di lantai teras dia melihat seorang gadis tergeletak begitu saja dengan seluruh tubuh parah terbakar. “Ya ampun mba, maafin aku aku pikir aku barusan-hmm maafin aku ya mba. Sebentar teman-teman saya akan segera kemari dan memberikan pertolongan. Tolong tahan sebentar ya, dan apa masih ada anggota keluarga lain di dalam?” tanya Dara menatapi wajah Raina yang masih utuh dan sepertinya tidak terbakar
“Ayah.. ibu.. mereka mereka sudah tidak bisa diselamatkan, tolong beritahu abang saya. Abang saya seorang militer, di-dia sedang di tugaskan keluar kota. Namanya, namanya Baskara tolong cari nomornya di pusat militer dan bantu saya untuk memberitahukan dia tentang ini semua. Sa-saya merasa mati rasa” ujar Raina sangat pelan
Dara berjongkok untuk mendekat ke arah Raina. Dia mengangguk dan berusaha meyakinkan Raina supaya dia tidak berputus asa dan masih bersemangat untuk sembuh “Mbak, mbak tahan dulu. Semua permintaan mbak akan saya lakukan setelah kita ke posko perlindungan korban” ujar Dara
“Terima kasih” ujar Raina menatapi Dara masih dengan tatapan sendu dan buram
Tak lama Arfan, Linda dan Ahmad menemukan keberadaan Dara “Ya ampun Dara? Ini korban pertama kita, segera tangani ayo!” ujar Arfan
“Kamu teriak-teriak tadi kenapa coba?” ujar Linda menatapi Dara serius “Bikin kita semua khawatir tahu!” tambahnya lagi masih dengan tatapan sinis
Dara bangun dan berdiri di hadapan Linda “Ahmad segera siapkan tandunya” ujar Dara tanpa membalas ucapan Linda terlebih dahulu
“Dia segera membutuhkan bantuan medis, ayo sebagai tim kita harus sukses menolong semua korban” ujar Dara menatapi Linda serius
Linda membuang wajahnya sedikit tersenyum “Aduh tumben banget Dara, selalu seperti itu sikapnya selalu berubah tapi aku suka karena dia selalu menjadi yang terbaik di tim meski banyak ngeluh” ujar Linda dalam hatinya
Raina di bawa oleh tandu dan segera di bawa ke posko perawatan parah, Dara sendiri yang langsung menanganinya. “Sayang sekali keadaan mbak ini benar benar parah, aku harus bisa melakukan apa yang diminta olehnya” ujarnya sembari menatapi Raina yang sudah di baluti dengan perban
*****
Pagi berikutnya Dara segera bergegas ke pusat militer, meski cukup jauh dan membuatnya tidak ikut serta dalam mengevakuasi hari ini ia sama sekali tidak memperdulikannya. Hukuman apapun yang akan di tujukan padanya dia siap menerimanya.
“Mbak Raina terlihat orang baik, dia pasti sedih banget saat bangun. Ibu dan ayahnya meninggal dunia dan ditambah dengan keadaan kulit dan tubuhnya sangat rusak parah. Setidaknya dengan memberikan kabar pada abangnya, aku telah membantu satu langkah untuk mbak Raina. Cepat sembuh ya mbak” ujar Dara yang berada dalam taksi itu dengan tatapan kasihan mengingat keadaan Raina yang kritis itu
Tak lama Dara pun sampai di pusat militer dia segera menanyakan tentang data seorang militer bernama Baskara. Setelah mendapat nomornya Dara segera menelponnya saat keluar dari pusat militer. “Semoga dia mengangkatnya” ujar Dara berharap besar setelah mengetikan nomornya
Lalu menaruh ponsel itu di telinganya terdengar bunyi tersambung saat menelpon nomor Baskara tidak mengangkat telponnya, hingga akhirnya Baskara mengangkat telponnya.
Baskara yang baru saja istirahat, dia segera mengangkat telpon yang sejak tadi berdering itu. Baskara di sana terlihat bingung saat melihat nomor baru yang menelponnya “Hallo?” ujar Dara segera
“Hallo?” Baskara segera menjawabnya
“Ini betul dengan Bapak Baskara? Adik dari Raina?” Ujar Dara lagi memastikan
Baskara mengangguk refleks “Ya, dengan siapa? Dan ada apa?”
“Sebelumnya saya meminta maaf karena telah mengganggu waktu bapak Baskara, tapi ini merupakan pesan penting dari Raina. Tempat tinggal bapak dan keluarga tertimpa musibah kebakaran yang parah sampai puluhan rumah terbakar, saya dari tim medis menemukan mbak Raina dan dia meminta untuk saya memberitahu anda tentang hal ini” jelas Dara segera
Baskara segera bangun dari duduknya dengan tatapan terkejut dan panik “Bagaimana dengan keadaan Raina? Keadaan ibu dan ayah saya?” Teriak Baskara tertekan dan menahan air matanya
“Maaf tapi saya tidak mengatakan dengan sebegitu jelasnya, yang pasti mbak Raina sudah saya rawat dan dia masih kritis sejak mengatakan pesan ini pada saya” ujar Dara lagi
Baskara menangis, air mata terjatuh begitu saja. Padahal keringat di badannya masih bercucuran akibat agendanya pagi ini. Ia memegangi kepalanya “Ya tuhan.. apa yang terjadi? Tolong bilang sama Raina, bilang saya akan segera pulang secepatnya! Saya akan pulang! Tolong terus jaga dia dia sangat takut sendirian” ujar nya mulai terisak
Dara larut dalam kesedihan, dia juga merasa benar benar hancur “Kenapa mereka mendapatkan takdir semenyedihkan ini?” lirihnya dalam hati
“Bapak tenangkan dulu diri bapak ya, saya akan menjaga mba Raina dan saya tutup telponya” ujarnya lalu segera menutup telpon dari Baskara
Dara tidak sanggup mendengar tangisan dari Baskara yang terdengar begitu mendalam atas kabar mengerikan ini “Hahh.. tenang Dara tenang” ujarnya menarik nafas lalu menghembuskannya
“Semoga mbak Raina cepat sadar dan pak Baskara juga cepat pulang” ujarnya lagi lalu pergi dari sekitar pusat militer itu