flashback

1756 Kata
Baskara lalu melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah perahu, Yap memang terlihat sedikit usang namun masih layak di gunakan. Ia segera menyalakan mesin dan berdoa untuk perjalanan yang akan menghabiskan waktu cukup lama. "Ya tuhan, selamatkan aku! semoga aku bisa melewati semuanya. Kuatkan aku, kuatkan batinku! kuatkan juga Raina di sana. Tunggu abang ya Rain" gerutu Baskara lalu mengaminkan nya sendiri Dia kemudian melajukan perahu kecilnya itu dan mulai melewati air lautan yang dangkal, hembusan angin menerpa tubuhnya. dirinya yang masih berseragam tentara tentunya menjadi pemandangan langka kenapa seorang tentara bisa berlayar menggunakan perahu kecil lusuh milik nelayan dan melewati lautan sendirian. Sepanjang perjalanan yang dia ingatkan hanya Raina dan mendiang orang tuanya yang telah di nyatakan meninggal dunia. Tentu saja hal itu pun bukan hal yang bisa dia terima begitu saja dengan lapang d**a. Butuh beberapa jahitan untuk bisa menutupi dan mengobati lukanya, namun yang dia ingat dan khawatirkan sekarang adalah Raina. Dia sangat berharap adiknya bisa segera sembuh dan kembali bersamanya ke dunianya. Meski tidak akan seindah yang dulu. Flasback beberapa tahun yang lalu Suasana rumah rumah asri yang terdapat di tepi pantai itu nampak hangat dengan suasana panas seperti biasanya. Tepat di siang hari para siswa dan siswi SD keluar riuh dari kelasnya masing masing. Beberapa orang tua sudah stay di gerbang untuk menjemput anak anaknya. Para orang tua beragam dalam penjemputan, ada yang menjemput anak anaknya menggunakan mobil, motor bahkan sebuah sepeda lusuh. Tepatnya pak Bagas Prakasa yang tengah duduk di bawah pohon rindang yang berada di samping gerbang sekolah SD. Jaraknya cukup jauh dari mereka para orang tua yang terlihat cukup elit dan saling menyombongkan diri. Pak Bagas hanya terdiam dan sesekali meminum air mineral yang dia bawa di tas kecil selempang. Pakaian yang di pakainya pun jelas berbeda dengan yang lain, dia masih memakai pakaian sawah yang agak kotor dengan noda tanah. Dia baru selesai bekerja di sawah dan langsung bergegas menjemput anak anak kesayangannya, buah hatinya supaya tidak terlambat. Saat dia meneguk minumannya, dia merasa kesejukan yang luar biasa. Tiba tiba suara riuh dari pada murid terdengar, rupanya mereka para siswa dan siswi sudah bubar dan keluar dari gerbang. Pak Bagas langsung berdiri dan menatapi ke arah gerbang memperhatikan tepatnya di mana anak anaknya berada. Dari ujung sana terlihat dua anak kecil pria dan perempuan, yang kakak lelakinya sudah menempati bangku kelas 4 sementara si adik yang tengah di genggam erat tangannya oleh kakaknya itu dia baru saja menempati bangku kelas 2. Umur dari ke duanya tidak cukup jauh, mereka berjalan keluar dari gerbang dengan langkah ragu akibat banyaknya orang di sana, tatapan kebingungan terpancar jelas dari ke duanya yang sama sama mencari cari di mana letak bapaknya yang mengatakan tidak akan terlambat untuk menjemputnya. Pak Bagas langsung saja melambai lambaikan tangannya saat dia melihat ke dua buah hatinya yang tengah kebingungan. "Baskara! Raina! bapak di sini" teriak nya lantang dengan senyum lebar pada ke duanya padahal terlihat jelas raut wajah lelah dan keringat di tubuhnya menjadi bukti bahwa dia baru saja bekerja keras seharian Baskara dan Raina pun segera mencari cari sumber suara hingga mereka menemukan letak bapaknya berdiri tepat di bawah pohon rindang, ke duanya saling bertatapan dan tersenyum bahagia. "Bapak benar bang, dia tidak terlambat jemput kita hari ini" ujar Raina dengan tersenyum polos Baskara lalu mengangguk dan tersenyum "Ayo Rain, kasihan bapak pasti udah lama nungguin" jelas nya Raina pun mengangguk, Baskara lalu memegangi tangan Raina erat dan berlarian semangat ke arah bapaknya. "Bapak" teriak ke duanya saat jarak dari mereka semakin dekat "Ya tuhan, anak anak bapak yang sholeh dan sholehah" ujar pak Bagas dengan senyuman sendu sembari berjongkok dan melebarkan tangannya untuk memeluk ke duanya Ke duanya pun segera memeluk ayahnya dengan erat "Bapak!" teriak keduanya lagi dengan bersemangat "Hmm anak anak bapak, gimana tadi sekolahnya?" tanya nya lalu menatapi ke duanya dengan senyuman hangat tanpa merasakan rasa lelah sedikit pun Raina tersenyum dan sedikit melompat lompat bahagia "Bapak bapak tau gak? Raina tadi dapat nilai Pkn 86, dan bapak tau? nilai Raina terbesar ke 4 setelah Andi, Geri, Nana dan Lusi" jelasnya bersemangat "Apa sih Raina, nilai terbesar ke 5 aja seneng banget. Abang dong! abang dapet nilai tertinggi hari ini" jelas Baskara tersenyum menyombongkan diri pada adiknya yang masih kelas 2 SD itu Raina mengerutkan keningnya dan menatapi Baskara serius. "Abang bohong ya? emang nya pelajaran apa?" "Abang bener kok nilai abang paling besar, pelajaran olahraga" jawab Baskara segera Pak Bagas pun segera mengangguk dan memegangi tangan ke duanya dan berjalan ke dekat sepedanya. "Udah ya jangan berantem, pokonya anak anak bapak yang cerdas sholeh dan sholehah. Kalian cerdas di bidang kalian masing masing" jelasnya pada anak anaknya Baskara terlihat bingung dengan kata kata bapaknya "Apa maksudnya pak?" tanya nya terlihat lucu "Udah udah, nanti bapak jelasin di jalan ya! kita pulang dulu, ibu udah nungguin kita di sawah" jawab nya Ke duanya semakin kegirangan "Yess! ibu di sawah" "Yess kita ke sawah" "Yess" Mereka tersenyum tulus, raut wajah ke duanya yang terlihat hangat dan ceria tentu saja dengan mudahnya menjelaskan bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada materi. Pak Bagas mulai mengendarai sepeda tuanya, Raina duduk di depan dan Baskara memeluk bapaknya di belakang. Beberapa mobil dan motor melewati mereka dengan kecepatan yang cepat kadang membuat rok dan rambut Raina terhibas akibat angin kencang. "Mereka kok kebut kebutan sih! kesel! kan jadinya rambut Raina terbang terbang" gerutu Raina lalu memegangi rambutnya lucu Baskara di belakang mengangguk dan menatapi bapaknya "Iya pak, tas Baskara juga terbang terbang" ujarnya menambahkan laporan "Ngeselin ya pak orang yang naik mobil sama motor! seenaknya main kebut kebutan engga lihat sekeliling" tambah Baskara lagi Pak Bagas hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya merespon apa yang di katakan anak anaknya itu "Hussh engga baik bicara seperti itu, itu kan mereka yang penting kita jangan seperti itu ya" jelas nya dengan suara yang sangat menenangkan bagi ke duanya Raina menatapi bapaknya dari bawah "Seperti itu gimana pak? kita kan engga punya motor atau pun mobil kayak mereka jadi tentu aja kita engga akan sama seperti mereka kan pak?" ujarnya menatapi bapaknya polos "Iya ya kata Raina, kita gak bakalan sama kayak mereka pak" tambah Baskara lagi dengan wajah kebingungan "Anak anak bapa yang sholeh dan sholehah, bukan itu maksud bapak" senyum pak Bagas Ke duanya kembali menatapi bapaknya yang masih mengayuh sepeda dengan tanpa letihnya "Terus apa?" tanya ke duanya bersama "Kalian akan tahu nanti" jelasnya lagi tersenyum manis Ke duanya lalu terdiam dan merenungkan apa maksud dari perkataan bapaknya, tapi mereka yang masih sangat muda waktu itu tentu saja tidak menemukan titik terangnya. "Baskara?" tanya bapaknya membuat Baskara menoleh ke arah bapaknya "Kenapa pak?" "Nilai pelajaran olahraga kamu tinggi, artinya kamu jago olahraga ya?" tanya bapaknya Baskara langsung mengangguk dengan senyuman merekah di wajahnya "Iya dong pak! Baskara tadi lari tercepat lho" ujarnya membanggakan diri "Iya iya iya! Raina tadi juga lihat abang lari cepet banget" jelas Raina menambahkan Baskara semakin tersenyum lebar lalu dia mengangguk "Ya kan kamu juga lihat Rain, tapi kan jam tadi harusnya kamu masuk kelas kok kamu malah lihat abang?" tanya nya "Raina tadi ke toilet di anter Dewi" jelasnya "Oh pantesan" ujar Baskara dengan menganga Pak Bagas kembali menatapi Baskara "Cita cita kamu mau jadi apa nak?" tanya nya dengan tatapan yang penuh harapan "Hmm cita cita? cita cita itu kan artinya mau apa kita di masa depan ya pak?" tanya Baskara terlihat lucu Pak Bagas mengangguk "Iya nak" senyumnya "Kalau gitu Baskara mau jadi.. hmm jadi apa ya" tanya nya terlihat berpikir sangat keras "Bang bang! jadi guru aja" "Atau jadi dokter biar bisa obatin Raina kalau Raina sakit" "Atau kalau engga, jadi koki aja biar masak buat Raina" Semangat Raina dengan antusiasnya, Baskara segera saja menggelengkan kepalanya "Engga Rain, tunggu abang mau mikir dulu nih" ujarnya "Kamu itu anak yang cerdas, anak yang kuat, lelaki kan harus kuat nak! kamu juga setelah nanti besar akan menjadi pemimpin yang di kagumi oleh banyak orang. Kamu harus jujur dan disiplin. Kamu akan menjadi imam keluarga dan bersama masyarakat" ujar bapaknya dengan suara lirih dan penuh dengan kehangatan Baskara dan Raina hanya terdiam dan mencoba menerap semua yang di katakan bapaknya. "Terus kalau gitu abang mau jadi apa dong? mau jadi bapak aja?" tanya Raina polos Pak Bagas tersenyum "Semua lelaki akan menjadi seorang bapak kelak nak" ujarnya Beliau masih mengayuh sepedanya tanpa rasa letih, kini mereka melewati jalanan tanah yang kecil dengan nuansa pesawahan di setiap sampingnya. Cuaca panas dan terik tidak membuat mereka mengeluh sedetikpun. Baskara lalu menunjuk tangannya setelah cukup lama dia terdiam dan memikirkan tentang cita citanya "Kenapa bang? udah nemu ide untuk cita cita nya?" tanya nya refleks Pak Bagas hanya tersenyum dan menunggu apa yang akan di katakan oleh anak pertamanya itu "Pak! Baskara udah nemu nih, Baskara mau jadi Tentara aja. Baskara kan kuat, cerdas juga kata bapak jadi kayaknya Baskara bakal cocok kalau jadi tentara! Setelah Baskara jadi tentara baskara bisa lindungin bapak, ibu dan adek Raina juga kan. Baskara siap untuk bertarung dan melindungi kalian ya ya ya! Baskara mau jadi tentara ya" teriaknya sangat bersemangat dengan senyuman merekah di wajahnya Pak Bagas tersenyum lega lalu dia mengangguk perlahan "Wah cita cita kamu hebat sekali nak, Bapak pasti dukung" senyumnya sendu "Untung saja aku sudah menabung setelah cukup lama untuk masa depan anak anaku, setidaknya tabungan itu harus cukup untuk mereka meraih mimpinya" gerutu pak Bagas sendu dengan masih kuat mengayuh sepeda Baskara dan Raina nampak senang dengan hal itu, tentang tujuan mimpi yang sudah Baskara dapatkan. Flashback selesai Langit kian gelap, suara gemuruh terdengar di langit menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Baskara masih termenung di perahu yang melaju dengan pelan. Baskara menunduk dengan semua rasa sedihnya, dia terisak di tengah tengah lautan yang jelas jaraknya masih sangat jauh dari tujuannya. Kampung halamannya sendiri. Baskara terus meneteskan air matanya dengan pelan, dadanya terasa sesak dan kian sakit. "Kenapa Baskara sangat bodoh pak? jelas sekali dulu semuanya bohong! Baskara engga cerdas engga kuat, Baskara yang dulu berjanji mau jagain kalian malah berakhir seperti ini, Baskara engga bisa menyelamatkan kalian. Baskara, sakit! kenapa Baskara tidak bisa menyelamatkan kalian" ujar dirinya dengan terisak dan penuh dengan luka Baskara memalingkan wajahnya menatapi ke dalamnya lautan "Raina masih hidup, dan itu artinya aku masih memiliki kesempatan untuk hidup. Abang harus ada untuk kamu Raina, abang tahu kehidupan kita tidak akan seindah dulu tapi abang janji abang akan berusaha untuk membahagiakan kamu sebisa abang" gerutunya lagi dengan nafas berat yang semakin menghantui dirinya Waktu kian malam, langit sudah sangat gelap tetesan air hujan jatuh menerpa tubuh Baskara setetes demi setetes.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN