"Dimana tempat ini??"
"Saklya House." Jawab Jeevan enteng, mata Aruna Sukses membulat setelah mendengar nya. Saklya House?? Tempat terkenal yang ia ingin kunjungi saat waktu kecil, Saklya House dan Saklya Village adalah tempat yang sangat ingin ia kunjungi, dan sekarang terkabul!.
Saklya House adalah tempat hunian paling terkenal di negara R, hunian paling nyaman dengan fasilitas yang mewah, dengan harga jual beli yang sangat tinggi, sama seperti Saklya Village juga sebuah restoran dan Villa mewah paling terkenal di negara R, yang dimiliki oleh keluarga Rexton.
"Ada apa??" Tanya Jeevan saat melihat ekspresi terkejut di wajah Aruna, dengan cepat menggelengkan kepalanya.
Dengan cepat Aruna masuk kamar, sebuah keterpaksaan yang membuatnya harus mungkin mau tidak mau harus menuruti pria itu, termasuk menikah dengan nya, karena ia tidak mungkin melibatkan perusahaan ayahnya dalam masalah.
Jeevan ikut masuk, karena Aruna lupa mengunci pintu, membuat nya sangat mudah untuk masuk.
"Apa yang kau lakukan disini??"
"Ini kamar ku." Jawab Jeevan, Aruna memutar bola matanya malas, lalu beranjak dari tempat tidur.
"Kita tidur disini." Ucap Jeevan dengan memegang tangan Aruna, menoleh dan menatap Jeevan lekat.
"Rumah ini sangat besar, tidak mungkin hanya ada 1 kamar."
"Kita tidur berdua, begitupun untuk besok!"
"Apa kau gila! Kita belum menikah!" Ucap Aruna dengan memperjelas statusnya, Jeevan mendecih pelan.
"Kau pikir aku peduli?? Di dalam perut mu sudah ada putra kita!" Jeevan memojokkan Aruna ke sudut tembok mengunci tangannya.
"Kau!"
Cup
"Hukuman ringan karena kau terlalu banyak membantah."
"B******k!"
Aruna mengelap bibirnya, menatap Jeevan kesal.
Cup
"Hukuman kedua mu karena terlalu sering mengumpat."
"S****n dasar pria m***m!!"
Mmphhhh
Jeevan kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Aruna, mencium nya dengan sangat brutal, membuat Aruna tersentak kaget, matanya membulat sempurna, mengepalkan tangannya, mencengkeram bahu Jeevan dengan kuat, memukul d**a pria itu dengan kasar.
"Kau gila! Aku bisa mati karena kehabisan nafas!!" Tukas Aruna dengan nada kesal, Jeevan tersenyum puas sambil mengelap sudut bibirnya, Jeevan jongkok di depan perut Aruna yang masih rata, mengelus nya pelan.
"Kalau kau laki laki, jadilah seperti ayah mu, dan kalau kau perempuan jadilah seperti nenek mu yang baik, jangan seperti ibu mu yang garang." Ucap Jeevan dengan mencium perutnya, Aruna yang sudah kesal, tiba tiba wajahnya sedikit merona, atmosfir di sekitarnya terasa panas.
Aruna mendecih pelan, lalu kembali ke tempat tidurnya, menyembunyikan diri dalam selimut, di ikuti Jeevan yang memeluknya dari belakang.
"Jangan menyentuhku!" Aruna menepis tangan Jeevan yang ada di luar selimut, namun Jeevan mengabaikan nya, kembali memeluk Aruna lebih erat, memilih tidak mempedulikan nya lalu pergi ke alam mimpi.
****
"Bangun honey,..." Ucap Jeevan dengan nada lirih, menjilat telinga Aruna yang masih terlelap.
"Kau!"
Cup
"Morning kiss" Jeevan tersenyum lalu beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi.
"Sial! Dia tidak pernah bertanggung jawab dalam hal apa pun!" Aruna memegang pipinya yang sudah panas pagi².
"Selamat pagi, tuan." Sapa Daniel saat melihat Jeevan turun, ya walaupun ini sudah menjelang siang, tak mengerti kenapa tuannya tiba tiba menunda rapat besar dengan keuntungan milyaran dollar di tunda begitu saja.
"Katakan."
"Tuan Raka, akan tiba dalam 3 jam ke depan."
"Lalu,..."
Jeevan mengangkat sebelah alisnya, menatap Daniel lekat, mengikuti ucapan terakhirnya.
"Lalu??"
"Aku dengar saham keluarga Davis anjlok besar pagi ini."
"Apa??!" Ucap Aruna dengan nada tinggi, sangat terkejut, berlari menghampiri Daniel, kenapa tiba tiba sahan perusahaan nya anjlok tiba tiba?sangar tak masuk akal!.
Jeevan yang juga cukup terkejut, melebarkan matanya, menatap Aruna dan Daniel bergantian.
"Apa yang terjadi??" Tanya Aruna tak mengerti.
"Tidak ada, perusahaan ayah mu akan baik'saja, aku pasti akan membantu." Jeevan memeluk erat Aruna, mencoba untuk menenangkan nya, Aruna menghirup aroma maskulin di tubuh Jeevan, membuatnya sedikit tenang.
"Kumpulan semua departemen, ada kan rapat dengan pihak perusahaan Davis, dan kau tunggu disini, aku akan menjemputmu kembali dalam 3 jam ke depan." Jeevan menatap Daniel dan Aruna bergantian, Daniel menganggukkan kepalanya lalu mulai menelpon, begitu pun dengan Aruna yang segera menelpon ayahnya.
"Aku tidak bisa diam di sini saja, aku harus bertemu ayah ku" tukas Aruna membuat Jeevan kembali menoleh, dengan menghembuskan nafasnya pelan.
"Baiklah, aku tau kau sangat khawatir, tapi percayalah akan ada banyak dukungan untuk perusahaan ayah mu, termasuk perusahaan ku,..."
"Aku ingin kembali ke Villa." Potong Aruna dengan cepat.
"Villa??"
"Ya, aku tidak mengkhawatirkan Perusahaan ayah ku, aku hanya mengkhawatirkan kesehatan ayah ku, aku takut tubuhnya tiba tiba drop." Jelas Aruna, membuat Jeevan kembali berfikir, lalu menganggukkan kepalanya dengan melempar kunci mobil nya.
"Berhati hatilah." Ucap Jeevan, lalu pergi, Aruna mengikutinya dari belakang, masuk mobil, melajukan mobilnya menuju Villa keluarga Davis.
****
Suasana Villa hari ini sangat kacau, Alden terus menerima telepon dari para pemegang saham, begitu pun dengan Leona yang juga ikut terlibat.
"Ayah,..." Panggil Aruna saat melihat ayahnya.
"Ayah kau tenang saja, semua nya akan kembali membaik." Aruna mencoba menenangkan ayahnya.
"Tidak, ini tidak akan membaik dalam waktu dekat."
"Benar kata ayah, saham perusahaan anjlok begitu saja."
"Ayah tenang lah, keluarga Rexton akan membantu." Jelas Aruna, Alden menatap Aruna dengan mengangkat kedua alisnya.
"Benar kah??" Tanya Alden, Aruna hanya mengangguk.
"Jadi ayah tenang saja, Jeevan akan membantu mengurus semuanya."
Leona tersenyum tipis, Sejak kapan kakak nya menerima Jeevan hingga berani meminta bantuan nya, apa dia sudah tidak tau malu.
"Sejak kapan kau menerima putra keluarga Rexton??"
"Apa kita perlu membahas itu sekarang??" Tanya Aruna tak mengerti.
"Kemarin kau menolak untuk menikah dengan putra keluarga Rexton, dan sekarang kau meminta bantuannya, bukan kah itu sangat tidak tau malu??"
"Tidak tau malu?? Aku memang mengatakan keluarga Rexton akan membantu, bukan berarti aku memang meminta bantuan, tapi mereka yang menawarkan bantuan." Jelas Aruna, matanya menatap Leona dengan tidak suka.
"Dan kau menerima nya?? Lalu kenapa kau tidak menerima pernikahan itu??"
"Apa kau Cemburu??"
"Cukup!" Tegur Alden dengan nada tinggi.
"Leona, bukan kah kita harus berterimakasih jika ada yang membantu??" Tanya Alden jengah.
"Ya ayah."
"Dan kau Aruna, bukan kah kau tau apa yang harus kau lakukan??" Alden menatap kedua putrinya bergantian.
"Ya, aku akan menikah dengannya, sebagai ucapan terimakasih." Aruna menghela nafas pelan, ya mungkin dia di takdir kan untuk menikah dengan Jeevan si pria b******k, namun ia ingin pernikahan nya ini, hanya sebatas ucapan terimakasih.
"Tapi ayah apa kau tak curiga,..."
Leona menggantungkan ucapannya, Alden menatap Leona heran.
"Bisa saja keluarga Rexton yang menurunkan saham perusahaan, putra keluarga Rexton begitu menginginkan kakak, bisa saja jika perusahaan itu tak tertolong, kakak akan datang pada nya, lalu meminta bantuannya, sebagai ucapan terimakasih kakak akan menikah dengannya."
"Apa kau gila?!" Tanya Aruna tak suka, bagaimana adiknya bisa berpikir seperti itu??
"Memangnya kenapa??"
"Keluarga Rexton tidak mungkin melakukan hal seperti itu." Jelas Alden tak suka.
"Lalu siapa yang melakukannya??"
"Bisa kah, kau diam?? Kita tunggu kabar baik dari orang kepercayaan ayah." Aruna mendecih pelan, Leona mengepalkan tangannya, jelas dia melihat tatapan tidak suka dari tatapan mata Aruna yang di tunjukkan terang terangan.