"Tapi, aku tidak percaya jika itu benar-benar cucu keluarga Rexton, Seingat ku kau punya cukup banyak teman pria."
"Kau pikir aku butuh kepercayaan mu??tidak, yang tau apakah, anak ini benar benar cucu keluarga Rexton hanya aku, karena aku sendiri yang mengalami bagaimana panasnya malam itu." Tukas Aruna dengan nada sarkas sambil memutar bola matanya jengah, membuat Leona kian kesal mendengarnya.
"Ah aku tidak peduli anak itu putraku atau bukan, selama aku menyukai dan menyayangi ibunya, maka aku juga akan memberikan kasih sayang yang pantas untuk anak itu, lagi pula keluarga Rexton punya cukup banyak kamar yang kosong untuk di tinggali, dan jika di masa depan anak itu membutuhkan pekerjaan, aku juga akan memberikan pekerjaan yang layak." Tukas Jeevan yang langsung dapat anggukan setuju dari kedua orang tuanya.
"Kau begitu menyukai putri ku??" Tanya Alden dengan menatap Jeevan heran, tentu saja ia tau Jeevan tak pernah seserius itu dalam mengejar wanita, membuatnya cukup ragu hingga pada awalnya perjodohan itu dilakukan untuk Leona, tanpa melibatkan Aruna, namun karena waktu tidak tepat, Aruna kembali datang dan menggantikan semuanya.
"Ya."
"Dan aku sudah memutuskan untuk menikahinya lusa, masalah itu paman tenang saja, aku sudah menyerahkan semuanya pada asisten ku, kalian hanya perlu menikmati pesta pernikahan ku."
Semua orang terbelalak, terkejut dengan mata yang membulat sempurna serta tatapan tak percaya begitu terpancar jelas di wajah mereka. Pesta pernikahan yang tidak pernah di bicarakan?? Ralat, bahkan pesta pertunangan pun tidak ada?? Dan kenapa dia harus menikah dengan pria b******k itu?? Tanpa persetujuan nya?? Ia tidak menginginkan nya!
"Apa yang kau lakukan??" Aruna yang keberatan menatap Jeevan dengan kesal, kesabaran nya sudah habis.
"pesta pernikahan kita har,..."
"Kau pikir aku setuju untuk menikahi mu??" Tanya Aruna, Daniel yang melihatnya dari jarak yang cukup jauh, dengan kepala tertunduk, menelan ludahnya setelah mendengar apa yang Aruna ucapkan, ini pertama kali baginya mendengar tuannya di tolak oleh seorang wanita di depan 2 keluarga besar.
"Lalu??kau pikir aku butuh persetujuan mu??" Jeevan menarik tangan Aruna keluar, Lalu diikuti Daniel di belakangnya, menatap punggung Jeevan lega, berbeda dengan Acha dan Leona, wajahnya menunjukkan kebencian terhadap Aruna.
"Baiklah, kita serahkan semuanya pada mereka." Ray menghembuskan nafasnya lega.
"Aku benar benar tak menyangka, Jeevan akan berbuat seperti itu." Vellyn ikut duduk di sampingnya, di temani secangkir teh yang tersedia.
"Ya, kita doa kan yang terbaik untuk pernikahan mereka." Timpal Alden, langsung dapat anggukan setuju.
"Lepaskan!" Aruna menghempaskan tangan Jeevan dengan kasar, menatap pria itu geram.
"Huh.," Jeevan mendengus pelan.
"Tidak bisa kah kau bersikap lemah lembut kepada ku??"
"Kenapa aku harus bersikap seperti itu padamu??" Tanya Aruna dengan memutar bola matanya jengah.
"Karena aku calon suami mu." Jawab Jeevan dengan enteng.
"Apa??"
"Kau pikir aku setuju untuk menikah dengan mu??"
"Kalau kau mencari wanita yang lemah lembut, cari saja yang lain!" Aruna bergegas pergi, namun Jeevan kembali menghentikan langkahnya.
"Aku lebih menyukai wanita seperti mu."
Aruna kian menatap Jeevan tak mengerti, apa yang sebenarnya dia inginkan??Aruna mendecih pelan, memalingkan wajahnya.
"Baiklah, aku tidak akan berbuat kasar jika kau mau ikut dengan ku."
"Kenapa aku harus ikut dengan mu??"
Jeevan menghela nafas pelan, menarik tangan Aruna dengan lembut, membuat Aruna terpaksa untuk mengikutinya, ia sudah lelah berdebat dengan pria yang menggandeng tangan nya. Jeevan tersenyum puas melihat Aruna yang mengikutinya tanpa protes sedikit pun.
"Sebenarnya kita akan pergi kemana??" Tanya Aruna bingung melihat Jeevan yang dari tadi fokus menyetir mobil, namun tidak sampai juga.
"Rumah ku."
"Apa??"
"Kenapa??"
"Kenapa ke rumah mu??" Tanya Aruna dengan mengernyitkan keningnya, Jeevan turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Aruna, tanpa menjawab pertanyaannya.
"Hei, antar aku pulang sekarang!" Teriak Aruna saat melihat Jeevan masuk rumah nya terlebih dahulu.
Aruna menatap sekelilingnya yang ternyata sudah sangat sepi dan gelap hanya ada beberapa lampu penerangan yang sudah redup, dengan cepat Aruna ikut masuk sebelum pintu itu terkunci otomatis.
"Tinggallah disini." Ucap Jeevan saat melihat Aruna berdiri diambang pintu masuk dengan melipat kedua tangannya di d**a.
"Kenapa aku harus tinggal dengan mu??" Aruna duduk di sofa, lalu meneguk segelas air dingin yang ada di depan nya.
"Kau!" Ucap Jeevan tak suka, menatap Aruna kesal, membuat Aruna mengangkat alisnya.
"Apa kau tau resiko, jika seorang ibu hamil minum air dingin??" Tanya Jeevan dengan nada tak suka.
"Aku memang hamil, bukan berarti aku harus menikah dengan mu, dan kau tak perlu mengatur ku!"
"Setidaknya jika kau tak suka padaku, jangan buat anak kita tersiksa, aku menyayangi nya sama seperti menyayangi mu!"
"Maaf tuan Jeevan, kita hanya terlibat sesekali bertemu, dan sudah aku katakan, bahwa aku tidak tertarik sama sekali dengan perjodohan konyol ini, sebaiknya anda memilih adik saya untuk melanjutkan semuanya, seperti nya dia siap menerima anda, dan masalah anak ini, tentu saja saya yang akan urus." Ucap Aruna dengan beranjak dari tempat duduknya, berniat untuk pergi.
"Aku tidak mengijinkan mu pergi." Ucap Jeevan dengan nada dingin, Aruna melebarkan mulutnya tak percaya, Daniel yang baru saja sampai langsung melihat sikap tuannya, benar benar harus banyak berdoa supaya mood tuannya tidak hancur karena seorang wanita.
"Aku tidak butuh persetujuan mu!" Aruna berniat menghempaskan tangan Jeevan, namun ternyata cengkraman itu menjadi lebih kuat, membuat Aruna meringis kesakitan.
"Lepaskan k*****t!" Jeevan tersenyum saat mendengar Aruna kembali mengutuknya dengan kata² kasar.
"Tidak, apa kau tau resiko yang akan perusahaan mu tanggung saat berani mempermainkan ku??"
Tanya Jeevan yang membuat Aruna heran, apa, yang terjadi pada perusahaan nya di negara C, jika dia berani menolaknya?? tidak, ini perusahaan ayahnya yang harus tetap di pertahankan, Aruna sangat sadar jika Jeevan dan ayah nya bersaing di dunia bisnis, yang menang akan tetap Jeevan, karena dalam kamus nya tidak ada kata mengalah.
Dan kenapa Jeevan berani bilang seperti itu?? Aruna benar benar merasa di rugikan! Jika ia menolak mungkin perusahaan ayahnya akan bangkrut dalam hitungan hari, tapi jika ia menerima tidak tau apa yang harus ia lakukan pada Jeevan, yang telah menghancurkan mimpinya dalam satu malam dan menghancurkan rencana ku!
"Apa yang kau pikirkan??"Tanya Jeevan, Aruna menggelengkan kepalanya.
"Aku capek, ingin istirahat." Tukas Aruna, membuat Jeevan menunjukkan ruangan kosong. Jeevan menatap Aruna yang beranjak dan menatap punggungnya sebelum menghilang dari baik pintu.
"Aku tidak sekejam itu." Gumam nya pelan, dengan senyum manis yang terukir di wajahnya serta tangan yang masuk ke dalam saku, membuatnya terlihat keren, dingin dan tampan.