Akhirnya aku memilih diam. Dan tidak menjelaskan apapun kepada Pak Arya. Tetapi kenapa rasanya hati ini begitu gelisah ya. Beruntung ibuku segera datang. Kini suasana jadi tidak secanggung sebelumnya. "Eh ada Arya. Eva nya mana?" Ibu menyalami Pak Arya. "Eva di kamar Bu, bersama Dek Alfian." Jawab Pak Arya sopan. Raut wajah mas Angga terlihat suram. Sepertinya tidak suka dengan panggilan Pak Arya untuk anak kami. Ibu mengajak ngobrol Mas Angga dan Pak Arya. Ibuku memang gampang berbaur, sehingga suasana terasa mencair dan tidak kaku. Aku berharap mantan suamiku itu segera pulang. Rasanya selain tidak nyaman, aku juga kasihan kepada Nadia. Apalagi menurut pengakuan mas Angga, dia sudah keguguran. Dia pasti sangat sedih saat ini. Ah kenapa aku masih memikirkan sesuatu untuk kebaikan w

