Setelah meyakini aku kembali ke masa lalu membuatku merasa ngeri berada di dekat Lani. Aku jadi khawatir jika Lani akan nekad berbuat apa saja atau menyakitiku kapan saja.
Raut wajah Lani terasa menakutkan bahkan saat dia tersenyum jadi terasa menakutkan. Dia seperti punya ide jahat untukku.
"Sa-saya," perkataanku terbata-bata.
"Ibu, kirain sudah di ruangan," tiba-tiba Riska muncul di belakangku
"Hah? " aku tekejut dengan kehadiran Riska.
"Ibu kan tadi ke ruangan saya untuk minta dibukain softlanse," kode Riska.
Anak ini sepertinya sedang berusaha membantuku tapi bagaimana kok dia tahu aku sedang dalam kesulitan?
"Saya belum sampai ruang karena berpapasan dengan Lani, " jawabku sambil berjalan kembali.
Riska kemudian melalui Lani tanpa menyapanya, sedangkan Lani menatap Riska kesal. Ketegangan masih ada diantara mereka.
"Tadi Ibu abis cari cv Lani?" tanya Riska saat pintu ruangan sudah ditutup.
"Kok kamu tahu saya mencari data diri Lani?" selidikku.
"Saya lihat pas ibu umpetin di belakang badan, kenapa ibu tiba-tiba cari?" jelas Riska.
"Aku penasaran saja," aku tak ingin terlalu jujur pada Riska.
Riska hanya mengangguk.
"Bisa copot sekarang?" tanyaku memecah keheningan.
"Oh iya, saya cuci tangan dulu," Riska masuk kamar mandi.
Riska langsung pulang setelah melepas softlens. Sementara, aku tetap tinggal di kantor karena akan bertemu dengan Ibrahim nanti malam. Selagi menunggu jam pertemuanku dengan Ibrahim aku mulai dengan mempelajari data diri Lani saat melamar pekerjaan dulu.
Data diri yang dituliskan Lani singkat hanya ada nama lengkap, alamat, kontak, agama dan pendidikan terakhir dan ijazah SMA. Tak ada pengalaman atau hal istimewa yang membuatku tertarik menerima dia sebagai sekretaris, padahal ini adalah posisi yang peting. Sebenarnya apa alasanku menerimanya? Aku mencoba mengingat kembali.
***
Kisah Lani melamar kerja yang tidak diketahui Nuri.
Senin pagi tiga tahun lalu, Nuri dan dua orang staf administrasi sedang mengecek beberapa lamaran yang masuk sebagai sekretaris di ruang meeting. Pendaftaran dibuka secara online dan offline, hari ini mereka baru mulai mengecek karena Jumat kemarin adalah hari terakhir penerimaan.
Tiba-tiba Diki masuk ke ruangan itu seperti orang tebar pesona. Maklum kedua staff administrasi yang berada di dalam ruangan itu juga adalah perempuan.
Badan Diki memang tidak bagus seperti orang yang rajin berolahraga tetapi wajah mulus dan ketampannya bisa membuat orang sekali lihat langsung suka. Apalagi cara berpakaiannya yang modis dan kekinian membuat para wanita kerap kali menatapnya. Seperti sekarang ia menggunakan jaket kulit, jeans, sepatu boots.
"Selamat pagi," sapa Diki kepada semuanya dengan penuh keceriaan.
"Mas, kok ada di sini?" Nuri heran lantaran suaminya ini tidak pernah bangun pagi apalagi untuk repot-repot datang ke sini.
"Mau ketemu kamu lah," jawab Diki santai.
Melissa dan Ikeu yang mendengarnya tersipu malu karena merasa Diki romantis pada istrinya.
Nuri sedikit tidak nyaman dengan sikap Diki yang cari perhatian. Dia bahkan selalu membentak, mengatainya istri t***l dan mengabaikannya ketika di rumah, sekarang bisa-bisanya dia bersikap sok manisa begini.
"Kita ke ruanganku, yuk!" Nuri berjalan ke ruangannya diikuti oleh Diki.
"Saya tinggal, ya," pamit Diki sambil sedikit membungkuk.
"Iya, Pak," kedua wanita itu tersipu oleh sikap hangat Diki.
Nuri selalu curiga jika ada hal tidak wajar pada suaminya, pastilah dia menginginkan sesuatu. Seperti kedatangannya hari ini, pasti ada sesuatu.
"Ada apa, Mas? Kok tiba-tiba?" tanya Nuri ketika mereka sampai ruangan.
"Kamu udah sarapan?" tanya mas Diki.
"Sudah tadi di rumah," jawab Nuri.
"Tadinya kalau belum aku mau ngajak sarapan bareng, sekalian aku mau bilang kalau mau touring sama anak-anak,"
Nuri yang hendak membawa minuman dari kulkas langsung berbalik badan.
"Benar saja feelingku, dia pasti ada maunya," batin Nuri.
"Kemana, Mas?" tanya Nuri dengan muka kesal.
"Gak jauh, cuma Bogor," jawab Diki santai tak memperhatikan ekspresi kesal Nuri.
"Sama temen siapa?"
"Anak-anak kantor," Dulu Diki pernah bekerja di sebuah bank swasta jadi penarik angsuran rumah, jadi yang di maksud Diki teman kantor adalah mereka teman di Bank itu.
"Kalau gak pergi bisa gak?" tanya Nuri tegas.
"Haduh, kepalang tanggung. Aku udah janji sama mereka," jawab Diki jengkel.
"Alika pasti gak suka," sebenarnya yang tidak suka adalah Nuri sendiri tapi dia tidak bisa mengakuinya karena Diki selalu mengabaikannya..
"Ayolah, kamu bisa ngasih alasan kayak biasa,"
"Mas aja yang bilang," Nuri mengambil air kopi botolan dari kulkas dan meletakannya di meja.
"Itu apa, Mas?" Perhatian Nuri teralihkan pada ampop coklat yang tersimpan di meja.
"Oh iya, ini tadi ada orang mau ngelamar ke perusahaan kamu, Ya udah deh aku bantu bawa," membuka botol minum yang sengaja di sediakan Nuri karena suaminya suka.
"Gimana ceritanya bisa kamu bawa?" Nuri mengerutkan dahi mendengar jawaban Diki.
"Ya bisa aja, tadi ketemu di bawah sama orangnya. Ya udah kubilang 'aku aja yang bawa sekalian naik ke atas' eh dia setuju,"
"Tapi masalahnya pendaftarannya udah tutup, emang Pak Satpam gak bilangin?"
"Ah!" Diki sedikit terkejut mendengar hal itu.
"Nah, itu tadi juga satpam bilang gitu, makanya dia gak mau nerima." Diki sedang memutar otak untuk mencari alasan yang logis.
"Tapi karena kasihan jadi aku bawa. Dia sampai mohon-mohon, katanya dia datang dari kampung, anak yatim piatu dan neneknya lagi sakit di kampung, cuma di jagain adeknya yang masih SMP. Aku dengernya kasian, terus aku ambil aja mapnya dan janji buat nyampein ke kamu. Langsung ke pemilik perusahaan." terang Diki.
"Kamu coba panggil dia wawancara atau jadiin dia langsung aja. Kalau denger ceritanya yang yatim piatu dan jadi tulang punggung keluarga aku jadi inget kamu dulu." wajah Diki berubah menjadi sedih.
"Yaudah kalau gitu nanti aku coba lihat dulu," ucap Nuri berusaha mengakhiri perbincangan karena fokus Nuri kembali lagi ke rencana Diki yang akan pergi touring.
"Masalah ke Bogor, kamu harus bilang sendiri ya ke Alika," Nuri menggunakan titik lemah Diki yang selalu nurut jika Alika yang minta.
"Ya udah kalau gitu aku pergi dulu," Diki langsung keluar ruangan tanpa menanggapi ucapan Nuri.
"Urusan Alika aku percayakan padamu," Diki muncul lagi di pintu.
"Mas," Diki benar-benar pergi meninggal percakapan mereka.
Keesokan harinya di kamar kos Lani.
"Tuhkan cara seperti itu gak akan mempan ke istrimu. Buktinya hari ini aku belum dipanggil," sungut Lani.
"Sabar, baru juga sehari," jawab Diki santai.
Lani berjalan mondar-mandir di depan televisi tabung.
"Pasti dia manggil kamu. Dia itu selalu luluh dengan cerita sedih," ucap Diki yang sibuk goyang kanan kiri karena layar televisi terhalang oleh Lani.
"Kamu terlalu dangkal berpikir tentang istrimu, argh!" tanpa sengaja kaki Lani menendang toples keripik yang sedang dimakan Diki.
"Hish! Duduk dulu apa, aku kan udah bohong pergi touring biar bisa berduaan sama kamu, malah nendang toples begini, jadi kotorkan, udah tempat sempit keripik dimana-mana lagi," Diki kesal.
"Kalau gitu beliin aku rumah dong! Jangan mau murah aja di kosan petakan gini!" Lani balik marah.
"Tenang dulu, sini." Menarik Lani duduk di lantai.
Diki memeluk Lani dari belakang agar Lani tak marah dan minta rumah.
"Nuri itu bodoh, dibodoh-bodohin orang dikit sama cerita sedih mau dia. Buktinya dia sering tuh ngabisin duitnya buat anak-anak yatim di panti."
Lani mengambil keripik di lantai dan memakannya.
"Ya jelas lah dia begitu, dia kan tinggal di sana dulu. Ah, ini pasti gagal!" Lani kemudian berpikir cukup lama.
"Aku punya rencana lain," menggebrak lantai sehingga beberapa keripik terpental kena pukulan Lani.