Kekacauan di Kantor

1172 Kata
Danu berjalan cepat mendahuluiku kemudian ia membuka pintu kaca. Kulihat dari celah pintu yang terbuka seluruh karyawan berkumpul bahkan ada petugas keamanan juga. "Udah Pak tangkep aja!" teriak Lani terdengar keluar pintu kaca. "Tunggu Ibu dulu, jangan gegabah!" ucap Dina. "Ada apa, Keu?" tanya Danu. "Anak training bobol kantor Ibu, Nu." Ike menjawab sambil menoleh. "Siapa?" tanya Danu lagi. "Riska," jawab Ikeu. "Eh, Ibu man...?" kalimatnya terputus tatkala melihatku berada di belakang Danu. "Riska?" aku langsung masuk kekerumunan mendengar nama Riska. Orang yang menyadari keberadaanku langsung mundur memberi jalan. "Ada apa ini?" tanyaku. Kulihat Riska terduduk menangis sambil memeluk kopernya. "Apa yang terjadi?" tanyaku lagi. "Saya mergokin dia di ruangan ibu. Pasti dia nyolong!" jelas Lani dengan suara ngotot. "Enggak, saya gak nyuri, Bu," bela Riska. Kulihat keadaan Riska yang acak-acakan sepertinya ia sempat diserang Lani. . "Tolong bubar dulu semuanya. Lani, Riska, Pak Zainal (nama petugas keamanan) mari masuk ke ruangan saya," lanjutku lagi. "Izinkan saya ikut. Saya ketua divisi tim marketing, divisi Rizka training." ucap Dina. "Masuklah!" Dina membantu Riska berdiri dan membawa barangnya masuk. Kami semua duduk di Sofa. Aku duduk di sofa berkapasitas sendiri, Lani dan pak Zainal duduk di sofa untuk kapasitas dua orang yang berhadapan dengan tempat duduk Riska dan Dina. "Ada apa sebenarnya ini? Coba jelaskan dengan lengkap" tanyaku. "Jadi gini, pas saya kembali dari pantry, saya mergokin dia..." Lani menunjuk ke Riska kasar "...keluar dari ruangan Ibu. Saya curiga kalau dia pasti nyuri soalnya Ibu gak ada di ruangan. Setahu saya Ibu gak kenal sama anak ini terus mana mungkin juga dia ada urusan kerjaan," ketus Lani. "Saya udah bilang kalau saya gak nyuri. Saya di ruangan atas permintaan Ibu. Iya kan, Bu?" Riska berusaha menjelaskan. "Kalau gak nyuri kenapa gak mau bongkar tasnya?" tuduh Lani. "Kak Lani udah bongkar tasku, kenapa bilang aku gak mau bongkar?" bentak Riska. "Songong lu ya neriakin gue! Yang satu lagi gak mau lo bongkar!" ketus Lani. "Aku gak mau karena Kak Lani bukannya ngecek malah rusakin barangku dan nuduh kalau barang-barang di tasku hasil nyuri di ruangan ibu dan milik karyawan lain. Aku gak terima," suara Riska bergetar, air matanya mulai keluar lagi. "Mana gue percaya, di tas itu terlalu banyak make up bermerek. Ko bisa beli make up bermerek itu dari mana? Lo pasti nyuri! Soalnya lipstik gue juga beberapa hari yang lalu hilang," tuding Lani. "Gimana aku mau buka tas kalau sejak awal aja pikiran kamu kaya gitu, terus aku bukannya gak mau buka. Aku mau buka kalau udah ada Ibu tapi kamu malah manggil orang keamanan dan ngancam bawa aku ke kantor polisi," bantah Riska. "Kalau gitu sekarang buka yang satu lagi! Buktiin aja kalau lo bukan maling!" Lani sangat terlihat yakin jika Riska mengambil sesuatu dari ruanganku. Riska mengangkat tas pakaian ke atas meja, kemudian membukanya. "Sudah cukup Riska, gak usah kamu teruskan!" ucapku tenang. "tapi, bu?" sergah Lani segera "Saya gak mau lagi ada ribut-ribut seperti ini. Teriakan kalian berdua bikin kepala saya mau pecah. Riska itu ada kerjaan tadi bareng saya makanya dia ada di ruangan, mengerti?" ucapku dengan dahi mengerut. "Bu, Riska ini setahu saya memang sering riasin orang. Jadi pasti make up ini barang dia." Dina turut masuk dalam perbincangan. Tuduhan Lani sama sekali tidak terbukti. Tapi seolah tak puas ia berusaha terus mencari-cari kesalahan Riska. "Gak mungkin pasti ada barang milik anak-anak kantor ini di sini," Lani menarik tas Riska kemudiah mengobrak-abrik isi tas. "Cukup Lani!" teriakku. Lani berhenti mengobrak-abrik isi tas. Ia tak terima dipaksa untuk berhenti mencari bukti. Sekarang dia memandangku dengan tatapan yang menyeramkan seolah ingin membunuhku. Sesaat nyaliku ciut namun tiba-tiba aku refleks mengambil air mineral yang tutupnya terbuka dan menyiramkannya pada Lani. Lani terkejut mendapati dirinya basah kuyup. Semua orang yang ada di ruangan juga terkejut melihat tindakan agresifku. Aku sendiri terkejut melakukan itu. Tindakan itu refleks kulakukan untuk melindungi diriku. Tatapan mata Lani mengingatkanku pada tatapannya saat ia membunuhku waktu aku koma. "Saya bilang cukup! Kenapa kamu gak dengerin omongan saya?" aku menumpahkan emosiku. Lani menundukan kepala tapi kali ini aku tak bisa melihat raut wajahnya. "Bubar semuanya, mohon maaf menganggu aktivitas bapak," ucapku penuh hormat pada petugas keamanan gedung. "Baiklah saya pamit," ucap pria paruh baya itu lalu pergi. Setelah semuanya pergi aku menyandarkan tubuhku dengan santai ke sofa. Aku masih dibuat bingung dengan percakapan Bella dan sekarang malah mendapati kantorku kacau balau karena hal sepele. Seharian ini aku sudah melihat banyak sifat Lani diluar kebiasaan. Dimulai dia mengaku dirinya sebagai pemilik NM Corp, menjelek-jelekanku lalu baru saja dia begitu bersemangat menuduh Riska. Apa sifat Lani memang begini dibelakangku? Aku mulai bertanya-tanya tentang Lani. Darimana dia? Bagaimana dia ada di sini? Sejak kapan berselingkuh dengan mas Diki? Hingga seberapa bahayanya dia sehingga berani memanipulasi kecelakaanku dan membunuhku saat aku lumpuh. Aku akhirnya mencoba mencari tahu siapa Lani melalui berkas lamarannya dulu. Komputer yang ada di kantorku terhubung dengan semua hardisk penyimpanan di seluruh kantor. Sehingga dengan satu kali duduk aku bisa mencari semua data, termasuk data karyawan. Namun setelah mencari selama satu jam di folder karyawan tak ada satupun milik Lanj. Jarum jam pendek di dinding menunjukan pukul lima sore, ini waktunya saat karyawan pulang. Karena frustasi akhirnya kukirim pesan chat pada Melissa, staf administrasi, untuk menanyakan data karyawan yang tidak disimpan di hardisk penyimpanan. Melissa : Ada, Bu. Data anak magang dan hard copy karyawan ada di ruang arsip. Ah, mungkin saja data Lani juga ada di sana tapi aku tak bisacmenyuruh Melissa untuk mencarinya. Pasti dia akan bertanya-tanya dan mengatakannya pada Lani. Tok-tok-tok. Suara pintu diketuk. "Ya, masuk!" ucapku dengan suara yang cukup kencang. Lani masuk membawakan es kopi yang tak pernah kupesan. Dengan tatapan tajam aku menatap es kopi itu. "Saya membawakan ini sebagai permintaan maaf saya, Bu?" ucap Lani. Kupandang Lani dari bawah sampai atas. Rambutnya masih lepek setelah kusiram tadi. Ada perasaan bersalah karena tak bisa mengontrol diri. "Terima kasih, Lani. Maafkan saya juga karena tadi kelepasan menyirammu," ucapku tulus. "Tidak apa-apa, saya terlalu bersemangat tadi sehingga melupakan ibu yang sudah menyuruh saya menutup permasalahan," ucap dia manis. "Saya akan di sini dulu, kamu boleh pulang," "Ibu tak perlu bantuan saya?" Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu," Lani kemudian keluar ruangan, dia langsung merapihkan barang-barangnya di meja kerja. Setelah melihat kepergian Lani bersama Ikeu dan Melissa dari ruangan. Tak berapa lamu aku segera masuk ke ruangan arsip untuk mencari data diri Lani. Untung saja penyimpanan data di NM Corp rapi jadi aku langsung menemukan data diri Lani. Buru-buru aku membawa keluar kertas berukuran A4 itu. Saat keluar Lani tiba-tiba berdiri di depanku. Buru-buru kusembunyikan kertas itu dibalik punggungku. Aku tidak dapat menyembunyikan kecanggunganku ini. Lani melihatku dari atas ke bawah dengan tatapan curiga, dia terlihat bingung melihatku yang tidak pernah berada di area sana. "Lani, kamu balik lagi?" tanyaku berusaha setenang mungkin. "Iya, kunci rumah ketinggalan di pantry. Ibu sendiri dari mana?" selidik Lani. "S-saya," tiba-tiba aku gelagapan untuk menjawab pertanyaan Lani. Padahal aku tidak berbuat salah dan dia juga bukan orang tuaku tetapi kenapa aku bisa setakut ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN