Ucapan Bella

1086 Kata
Aku menatap Bella dari kejuahan dengan raut wajah terkejut, bingung dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku terkejut karena sosok Bella sama persis dengan yang ada diingatanku padahal harusnya ini jadi pertemuan pertama kami. Aku bingung mencerna kejadian yang kualami, apa ada hal seperti ini? Kembali ke masa lalu? Terasa mustahil. Dan aku takut jika benar aku kembali ke masa lalu berarti mas Diki dan Lani memang berselingkuh serta berniat menyingkirkanku segera. "Bu Nuri," "Bu Nuri! Dipanggil pak Arma," Danu menepuk pundakku pelan karena panggilan sebelumnya aku tak merespon. Aku tersadar dari lamunan. "Bu Nuri, ada apa?" selidik pak Arma merasa was-was karena aku menatap anaknya sangat lama. . "Maaf saya terpesona dengan Anak Anda, dia cantik sekali. Saya jadi teringat dan kangen anak saya di rumah," ucapku asal untuk menutupi apa yang kupikirkan. "Silahkan duduk dulu," Pak Arma mempersilhakanku dan Danu duduk. "Terima kasih," Aku dan Danu duduk berdampingan. "Anda juga punya anak perempuan?" tanya pak Arma setelah kami nyaman diposisi duduk. "Iya, namanya Alika usianya dua belas tahun," "Pasti bagi Anda yang seorang ibu tidak sulit untuk membesarkan anak. Empat bulan ini saya kewalahan mengurus Bella setelah istri meninggal." ucapan pak Arma tidak sekaku tadi. "Saya turut berduka cita, Pak," ucapku. Dijawab pak Arma dengan anggukan. "Ibu dan ayah sama saja memiliki kesulitan masing-masing dalam mengurus anak. Anak-anak itu penuh teka-teki, apalagi ketika mereka sedang memasuki usia remaja. Mereka ingin dimengerti tetapi tidak mau bilang maunya apa." terangku menceritakan pengalaman sendiri. "Berarti tugas saya masih banyak." Aku mengangguk sebagai respon. Bella dan Neneng merapat ke gazebo. "Bagaiman kalau kita makan siang dulu baru membicarakan pekerjaan?" tanya pak Arma. "Baik, mari pak," Pak Arma memulai mengambil makanan terlebih dahulu. Untuk menghangatkan suasan aku mencoba menyapa Bella. "Hallo, nama kamu siapa?" tanyaku. Anak yang terlihat murung itu diam saja. "Jawab dong, Bella," perintah pak Arma. "Tidak apa, Pak," ucapku. "Bella, kalau kamu suka bermain di sini kamu boleh loh setiap hari ke sini. Kantor saya ada di bawah dan kalau kamu ingin ada teman main, nanti saya bisa minta kak Alika, anak saya buat temenin kamu," Bella mengangkat kepalanya dan menatapku. Meskipun Bella tidak menjawab apapun tapi aku yakin, dia tertarik dengan penawaranku. Kami mulai makan siang sambil sesekali membicarakan pekerjaan dan cerita pribadi. Ketika makan siang selesai, pak Arma meminta pelayan untuk membersihkan meja. Meja di lap bersih, tidak ada minuman atau makanan di atas meja lagi. Setelah semuanya bersih dan kering, pak Arma mengeluarkan kontrak kerjasama yang menyebutkan jika PT ABCD bersedia menjadi pemasok barang untuk dipasarkan NM Corp tanpa harus membeli produk dulu. Tentu kerjasama ini menguntungkan kedua belah pihak, PT ABCD yang merupakan pabrik perlu perusahaan pemasaran agar barangnya bisa sampai ke tangan konsumen dan NM Corp sebagai perusahaan pemasaran tentu memerlukan barang untuk di jual. "Pih, Mamih seneng banget, Mamih kayanya yakin kalau kerjasamanya akan berhasil," ucap Bella tiba-tiba ketika kami sedang merapikan berkas. Pak Arma menatap Bella dengan tatapan terkejut, seolah pak Arma sudah mewanti-wanti pada Bella untuk tidak berkata hal seperti itu di depan orang lain. Wajar jika pak Arma takut orang mengira jika Bella aneh. "Aamiin, semoga kerjasamanya sukses, ya," aku menanggapi ucapan Bella dengan hal positif untuk mencegah ketidaknyamanan kami dalam kerja sama selanjutnya. "Semoga semuanya lancar ya, Bella," ucap pak Arma akhirnya. Setelah tahu anaknya tidak mendapatkan pandangan buruk pak Arma tampak lega dan melanjutkan perbincangan dengan Danu. "Teh, mau tisu basah," pinta Bella. "Ketinggalan di mobil, Bella. Tisu kering aja, mau?" tawar neneg. "Gak mau!" ucap Bella cemberut. "Beli aja di pojok situ, Teh," saranku. "Teteh beli dulu atau Bella mau ikut juga?" "Gak, aku mau tunggu di sini aja." Neneng pergi ke warung yang ada di pojok rooftop. Bella kemudian berjalan ke arahku, dia berdiri di sampingku. Aku kemudian menghadap ke arahnya. "Tante, kata Mamih selamat, ya," bisik Bella. "Tante gak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang hanya Tuhan berikan pada orang terpilih." lanjut Bella sambil tersenyum. "Apa sesusah itu bekerjasama dengan Papih?" tanyaku penasaran. Bella menggeleng. "Bukan kesempatan kerjasama tapi kesempatan mengubah takdir," suara Bella terasa berubah menjadi suara perempuan dewasa. Deg! Aku menatap Bella dengan wajah tegang. Kenapa anak ini bisa mengatakan hal itu? Apa dia tahu sesuatu? "Apa yang kamu maksud sayang?" tanyaku berharap mendapatkan penjelasan atas hal-hal aneh yang terjadi padaku. "Kamu bisik-bisik apa Bella?" pak Arma yang tadi sedang berbicara dengan Danu mulai memperhatikan kami. Mata Bella berkedip dan menoleh sumber suara. Bella tersenyum sambil menggelengkan kepala lalu kembali ke kursinya. Aku menatap Bella lekat hingga ia duduk kembali. Apa maksud Bella? Kini, kursi kosong diantara pak Arma dan Bella mulai menarik perhatianku. Apa memang ada ibu Bella di sana? Apa suara wanita dewasa itu adalah suaranya? *** Setelah selesai semuanya kami berpamitan dan akan melanjutkan komunikasi melalui telepon dan chat. "Turun di lantai berapa, Bu?" tanya pak Arma sebelum kami masuk lift. "Kami temani sampai parkiran, Pak." jawabku. "Tidak perlu, Bu. Turun dilantai berapa?" tanya pak Arma ketika pintu lift terbuka. "Lantai sembilan," jawabku sambil masuk kebdalam lift. Pak Arma kemudian menekan angka sembilan untukku dan b1 untuk rombongannya. "Mari mampir ke kantor saya dulu," ucapku . "Next time. Bella ngantuk, kami akan pulang saja, " "Baiklah, terima kasih atas makanan dan kerjasamanya hari ini. Semoga bisnis kita lancar," "Sama-sama, semoga semua berjalan dengan baik," Lift hanya berisi kami berlima lantaran para karyawan yang tadi makan di rooftop sudah kembali bekerja. Aku menyalakan handphone setelah percakapan kami selesai. Kulihat Danu juga menyalakan handphone. Kami berdua sengaja mematikan handphone agar tidak ada gangguan. Ting! Pintu lift terbuka. Kami dan rombongan pak Arma berpamitan. Setelah keluar dari lift kami harus melewati pintu kaca untuk sampai di NM Corp. Setelah melewati pintu itu akan ada lobby kecil yang terdiri dari sofa, welcome snack, welcome drink dan rak berisi buku. Kubuat senyaman mungkin karena dulu Alika sering datang ke sini. Lalu dari lobby ini akan terlihat ruanganku di pokok kanan sederet dengan ruang meeting, ruang berkas dan kamar mandi pria serta wanita. Namun, hanya pintu ruanganku dan ruangan meeting saja yang bisa terlihat dari lobby. Di depan ruanganku ada ruangan luas yang hanya di isi meja sekretaris dan loker karyawan. Aku belum tahu akan di pakai apa lahan ini, jadi kubiarkan kosong saja. Sempat terpikir untuk membuat ruang tunggu lagi, tapi kuurungkan karena tamu pun tidak banyak yang berkunjung ke sini. Handphone ku dan Danu berbunyi berbarengan. Notifikasi yang tidak wajar. Namun, sebelum sempat kubuka pesan-pesan itu perhatianku teralihkan oleh pemandangan yang terlihat dari balik pintu kaca NM Corp. Sekumpulan orang berdiri di depan ruang kerjaku. "Ada apa, ya?" tanya Danu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN