Aku Yakin

1306 Kata
Semua orang masih terpaku menatapku. Karena hal ini kepercayaan diriku meningkat juga. Aku tersenyum sedikit karena mendapat perhatian yang tak pernah kurasakan sebelumnya. "Bisakan kamu temeni saya?" tanyaku sekali lagi. "Bu Nuri?" Dina ketua tim pemasaran yang pertama menyadari jika wanita yang ada di depan mereka adalah aku. Semua orang terkejut dengan penampilanku. "Oh, iya Bu, saya siap, Bu," Danu ketar-ketir ketika tersadar jika orang yang mengajaknya adalah aku. Danu kemudian menyiapkan beberapa barang dan membuntutiku. Ketika di lorong, aku menangkap suara Lani, Ikeu dan Melissa menuju ke arah kami. Betul saja, ketika kami masih di lorong depan ruang karyawan, mereka bertiga muncul. Kami berpapasan sekilas karena aku langsung berjalan menjauh. Suara mereka tetap terdengar meskipun aku semakin menjauh. "Siapa itu?" tanya Ikeu. "Gak tahu," jawab Melissa. "Ibu gak ngajak Lani juga?" tanya Danu ketika heran melihatku yang tak acuh pada Lani. "Tidak, saya takut anak pak Arma tak suka pada Lani," Perbincangan kami terus berlanjut sepanjang perjalanan menuju lift. "Memang bisa begitu, Bu?" tanya Danu heran. "Hanya menebak." Aku sedikit terkekeh. Aku dan Danu naik lift ke lantai paling atas. Lift cukup ramai karena banyak orang yang akan makan di rooftop gedung. Gedung yang kusewa ini bernama Menara Tinggi, gedung berlantai dua puluh ini terletak di pinggiran ibukota bagian selatan. Tempat yang cukup strategis dan memiliki biaya sewa yang lebih murah dibandingkan biaya sewa di pusat. Menara Tinggi dulunya adalah bangunan tertinggi pertama di kota ini, maka dari itu diberi nama Menara Tinggi oleh sang pemilik. Gedung ini di sewa oleh beberapa perusahaan seperti NM Corp, Firma Bersahaja milik Ibrahim dan teman-temannya, perusahaan online shop, media, kuliner serta kantor telepon seluler. NM Corp sendiri menyewa dua tempat, di lantai sembilan dan lantai satu. Lantai sembilan adalah kantor dari NM Corp. Sedangkan lantai satu digunakan sebagai gudang barang. Ibrahim dan teman-teman pengacara lainnya menyewa di lantai sepuluh. Aku menatap diriku di cermin lift. Teringat kembali aku pada Riska, kalau tidak bertemu anak itu, mana mungkin aku bisa bertemu dengan pak Arma dengan percaya diri setelah mendengar obrolan Lani. Bahkan Riska meminjamiku baju hadiah ibunya. Aku harus memberi dia hadiah. Pintu lift terbuka, aku dan sembilan orang lainnya yang berada di lift keluar satu persatu. Untuk sampai ke rooftop kita harus menaiki tangga satu lantai lagi. Menara Tinggi memiliki foodcourt di dua tempat yakni di rooftop dan di basement. Dua-duanya bebas diakses oleh orang luar. Foodcourt rooftop cukup terkenal untuk dikunjungi malam hari karena view pemandangannya yang indah. Tapi, jika siang hari lebih banyak karyawan-karyawan gedung ini dan ojek online saja yang mondar mandir ke rooftop maupun restauran basment. Foodcourt basment menjadi pilhan untuk orang anti asap rokok, sedangkan foodcourt rooftop menjadi tempat pilihan para karyawan yang merokok lantaran didesain outdoor dengan gazebo-gazebo bermeja yang menjadi area bebas merokok. Dikeramaian rooftop Menara Tinggi siang ini, sosok seorang pria cukup menyedot perhatian pengunjung termasuk untukku. Selain karena asing dikalangan karyawan wajah pria ini menarik perhatian karena tampan terkesan imut. Gaya berpakaiannya menunjukan bahwa pria ini bukan orang sembarangan. Jas berwarna abu, dasi abu strip putih, sepatu mengkilat dan jam tangan, semuanya memakai merek kelas atas. Aku memang pernah bertemu dengan pak Arma entah itu nyata, mimpi atau imajinasi tapi yang jelas dulu aku tidak memperhatikan apa yang pak Arma kenakan, lebih tepatnya aku tidak pernah menperhatikan penampilan orang lain. Hal yang kuingat dengan pria ini adalah gadis kecil bergaun coklat yang terlihat muram dan kegagalan kontrak kerja sama kami. Aku dan Danu terus berjalan ke arah meja pak Arma. Meja yang terdiri dari enam kursi itu sudah dipenuhi makanan. Beliau memang bilang akan mengajak kami tanda tangan kontrak sambil makan siang, tapi aku tidak mengira jika dia sudah memesan untuk kami juga. "Selamat siang, Pak Arma," ucapku ketika sampai di gazebo. "Siang," ucap pak Arma. "Perkenalan saya, Nuri dan ini tim keuangan saya, Danu," "Silahkan duduk, bu Nuri," ucap pak Arma dingin. "Maafkan kami, harusnya kami yang sampai di sini lebih dulu dan menjamu Anda." tuturku. "Tidak apa-apa, saya memang sudah sampai di sini sejak jam sepuluh pagi," "Oh, ya? Kenapa begitu cepat? Mengerjakan sesuatu?" "Bukan pekerjaan tetapi anak saya tidak mau ditinggal sendiri dan tidak mau diajak ke kantor," pak Arma mengarahkan pandangan ke tepian gedung. Deg! Seorang anak peremuan bergaun coklat sedang berfoto dengan background pemandangan kota. Anak perempuan berusia delapan tahun ini nampak bergaya seadanya. Seorang perempuan yang memoto anak perempuan itu justru antusias mengarahkan gaya. Aku memicingkan mataku untuk melihat jelas wajah anak itu, benar saja, anak ini memang anak yang sama dengan yang ada di pikiranku. Ingatan masa lalu muncul. Aku, Lani, pak Arma, Bella-anak pak Arma dan pengasuh Bella yang bernama Neneng duduk bersama di meja makan foodcourt. Ini adalah meja ternyaman diantara gazebo lainya karena cukup jauh dari gazebo lain dan letaknya ada paling pinggir, jadi pemandangan kota lebih jelas dari sini. Dari acara makan siang ini, ada satu hal yang menarik perhatianku sejak tadi, yakni cara duduk pak Arma dan Bella. Ada kursi kosong diantara mereka. Kupikir ayah anak ini sedang bertengkar sehingga mereka meninggalkan ruang di sana. Sepanjang pertemuan ini Bella tidak banyak bicara dan jika bicarapun suaranya sangat pelan seperti berbisik. Aku memaklumi hal itu karena di pantipun banyak anak yang malu atau takut jika bertemu orang baru. Sebelum makanannya habis Bella meminta izin pada pak Arma untuk bermain, tentu saja dengan cara berbisik. "Aku boleh main, Pih? Rasanya aku tidak nafsu makan lagi," bisik gadis ini. "Iya, main aja dulu, nanti kalau udah kembali nafsu makannya kamu makan lagi, ya?" bisik pak Arma juga. "Iya," ucap anak itu. Ia kemudian meneguk minumannya lalu pergi bersama Neneng ke tepian gedung untuk melihat pemandangan. Pak Arma melihat gelas anaknya kosong dan hendak mengisinya kembali. "Mau nambah nasi Pak atau lauk? Biar saya ambilkan." Lani bertanya dengan senyuman terbaiknya tanpa ragu. Aku sendiri terkejut melihat tindakan anak ini, karena sebelumnya dia hanya diam saja. "Tidak, saya hanya ingin mengambil minum," saat tangan pak Arma hendak mengambil jug kristal berisi air mineral tiba-tiba Lani berdiri sigap mengambil jug itu juga. Hal itu membuat tangan mereka bersentuhan. "Eh, maaf pak. Biar saya tuangkan," ucap Lani mengambil jug. Tergurat ketidak nyamanan di wajah pria yang kuperkirakan usianya lebih muda dariku ini. Pak Arma akhirnya menarik tangannya kembali karena tidak ingin berdebat. "Dituang di mana pak?" tanya Lani karena melihat gelas minum pak Arma masih penuh. "Di gelas anak saya," ucapnya dingin. Lani kemudian berjalan ke arah tempat duduk Bella karena posisinya cukup jauh dari gelas Bella. "Papih, ngapain sama perempuan itu?!" ucap Bella yang ternyata sudah bergabung kembali ke gazebo kami. "Gak ada apa-apa, Bella, dia cuma menuangkan air di gelasmu" terang pak Arma. "Papih, aku gak suka sama orang ini. Dia lihatin Papih sambil senyum-senyum dari tadi." ucap Bella. "Sini mendekat dulu, Bella," Bella mendekati ayahnya dan Lani berjalan kembali ke kursi tempat dia duduk. "Kamu pasti salah paham, Dia ini tersenyum hanya untuk menunjukan tata krama," pak Arma berusah menjelaskan. Aku bingung dengan kondisi ini, jadi aku memutuskan untuk diam. "Tapi Mamih bilang kalian pegang-pegang tangan, ya kan Mih?" Bella bertanya pada bangku kosong di sampingnya. Mataku terbelalak mendengar Bella menyebutkan hal yang tak wajar. Begitu juga pak Arma, dia kemudian menatapku dan Lani, seperti sedang mencari tahu apa reaksi kami. Mungkin karena kaget sehingga aku tidak bisa menyembunyikan ekspresiku yang heran, begitu juga dengan Lani. "Tadi gak sengaja aja, Bella," pak Arma terlihat tidak suka melihat ekspresiku dan Lani. "Mamih bilang dia genit sama Papih. Aku dan Mamih gak suka dia ." bisik Bella. "Neneng, bawa Bella ke mobil dulu. Nanti saya susul." Neneng dan Bella menurut, mereka pergi meninggalkan tempat ini. "Maaf, pertemuan kali ini sampai di sini saja dulu. Nanti saya hubungi lagi." Pak Arma mengambil barang-barangnya dan pergi meninggalkan kami tanpa menunggu aku berkata apa pun. Aku yang masih bingung dengan kejadian ini juga tidak menjawab apa pun, hanya diam seperti orang bodoh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN