Aku Juga Bisa Cantik

1326 Kata
Seiring pintu toilet yang terbuka, otakku justru tertutup untuk menemukan jawaban antara lari keluar atau masuk ke toilet demi menghindari orang tersebut. Kakiku turut membeku ditempatku berdiri hingga pintu benar-benar terbuka. Seorang wanita muda muncul. Rambutnya dicepol dan menggunakan kacamata besar sehingga lebih mendominasi wajahnya yang kecil. Jika kuperhatikan gayanya sepertiku tapi tentu saja dia lebih enak dilihat karena masih muda serta kulitnya putih seperti orang-orang dari negeri gingseng. Kuperhatikan dikedua telinganya terpasang earphone warna putih tanpa kabel. Apa mungkin dia tidak mendengar ucapanku tadi? Saat sampai di wastafel dia hanya tersenyum menyapaku lalu mengabaikanku dan melanjutkan aktivitasnya di depan cermin. Sepertinya benar dia tidak mendengarku tadi. Wanita muda itu terlihat sibuk dengan goody bag yang ia bawa. Ia merapikan pakaian yang tadi ia sampirkan ditangan lalu mengeluarkan tiga buah pouch berbeda ukuran. Selesai mencuci tangan, wanita itu kemudian melepas kacamata tebalnya dan mengganti dengan softlanse yang ia keluarkan dari salah satu pouch tadi. Sepertinya anak ini tidak mengenaliku sebagai CEO NM Corp. Apa dia salah satu tamu di sini atau siapa? Kucuri lihat aktivitasnya lagi melalui cermin. "Kamu tamu di sini?" tanyaku setelah dia selesai memasang soflanse. Aku basa-basi bertanya agar aku bisa lebih lama melihat apa yang akan dia lakukan. "Hah," dia sedikit terkejut. "Iya, Bu. Saya anak training di sini," jawabnya sambil menatapku kemudian dia mengeluarkan beberapa alat rias. "Baru datang siang?" tanyaku lagi "Saya dapat jadwal siang,Bu, " ucap wanita muda itu mengeluarkan bedak dan lipstick. Dengan piawai dia mulai memberikan perawatan dan riasan pada wajahnya. Aku hanya diam memperhatikannya. Wajahnya yang pucat perlahan berubah menjadi berwarna. Perubahan terbesar terjadi saat dia mulai membuka cepolan dan menata rambutnya. Gadis yang terkesan sederhana tadi berubah menjadi gadis yang lebih glamor. "Kalau dia bisa kenapa aku tidak," gumamku. "Loh, ibu masih di sini?" Dia terkejut karena sedari tadi tak menyadari jika aku masih berada di sini sampai ia selesai merias diri. "Apa kamu bisa mendandani orang?" tanyaku tanpa pikir panjang. "Bisa, Bu," jawabnya bingung. "Kerja sampingan saya MUA," gadis itu menjawab gembira. "Kalau begitu, apa kamu bisa dandani saya sekarang?" tanyaku. Mata wanita itu berbinar. "Bagaimana, bisa?" tanyaku sekali lagi. "Tentu saja bisa, Bu, kebetulan saya membawa peralataannya karena tadi pagi selesai merias orang untuk akad nikah," ucapnya semangat. "Kalau begitu bawa semua peralatanmu, saya tunggu diruangan," "Maaf di ruangan mana, Bu?" "Ruangan saya, yang depan," "Yang depan? Kan cuma ada ruangan bu Nuri," wanita itu tekejut setelah menyadari bahwa aku adalah Nuri. Aku mengangguk dengan senyum lalu berjalan keluar. "Masuklah!" ucapku ketika wanita muda akhirnya datang. h Dia membawa kotak make up berwarna hitam dan sebuah koper berukuran kecil. Kotak make up disimpan di atas koper sehingga dia lebih mudah membawanya. "Di sofa aja, ya," ucapku sambil membuka kulkas. Wanita muda itu mengangguk lalu mulai mempersiapkan peralatan. "Namamu siapa?" tanyaku sambil menyimpan kopi botolan, air mineral botol dan teh botolan. "Nama saya Riska, Bu," jawabnya sambil sibuk menata barang-barang bawaannya. "Pilih saja ya yang mau kamu minum," ucapku mempersilakan minum. Aku melihat barang bawaannya, Riska memang seorang MUA yang profesional. "Oke Riska, saya hanya punya waktu tiga puluh menit. Apa kamu bisa dandani saya secepat itu?" tanyaku. "Kalau boleh saya tahu make up ini untuk ke acara apa?" tanya Riska. "Untuk meeting. Saya ingin terlihat segar," "Kalau untuk itu tiga puluh menit cukup," jawab Riska mantap. Setelah menata peralatan tempurnya Riska langsung merias wajahku dengan perlahan dan teliti. Selama dirias aku lebih banyak menutup mata agar Riska lebih leluasa. Aku hanya membuka mata beberapa kali ketika dia sedang mencari peralatan atau sedang berganti peralatan. Hingga sapuan lipstik selesai kami tidak berbicara. "Sudah selesai, Bu," ucap Riska. Aku membuka mata dan mendapati wajah yang berbeda. "Ini saya?" ucapku sambil memakai kacamata yang kusimpan di meja. Aku pangling melihat diriku dicermin. Setelah kuingat aku menggunakan riasan hanya saat menikah. Saat menghadiri wisuda SD Alika saja aku hadir tanpa riasan. "Kamu memang hebat Riska," aku memuji kemampuan Riska. "Ibu memang sudah cantik jadi saya hanya memoles sedikit saja jadi sangat cantik," puji Riska. Pujiannya membuat aku tersipu. "Permisi, Bu, ini belum selesai," ucap dia sambil memegang sisir bulat dan hairdryer. "Tolong lepas ikat rambunya!" perintahnya. "Rambutku juga?" tanyaku bingung. "Iya, dong. Biar maksimal, lumayan masih ada waktu 10 menit," ucapnya sambil tersenyum. Aku menurut perkataan Riska dan melepas cepol rambut. "Ibu apa bisa melepaskan kacamata?" tanya Riska sambil tangannya sibuk menata rambut. "Saya gak bisa lihat, minusnya cukup tinggi, minus tiga," "Apa tiga dua-duanya?" tanyanya sambil menata rambut. "Iya," "Saya ada kontak lanse baru. Ukurannya mins 3. Apa ibu mau pakai itu?" "Saya gak pernah pakai. Gak bisa," "Saya pasangkan, mau? Nanti saya bantu lepas juga," . "Baiklah, saya mau coba," jawabku mantap. Riska menggerai rambutku dan memberikan volume di rambutku yang tipis. Lalu dia pasangkan kontak lanse berwarna hitam di mataku. Awalnya tidak nyaman, tetapi lama kelamaan nyaman juga. "Wow," ucapku takjub. Entah untuk diriku sendiri entah untuk kepiawaian Riska dalam merias. Apapun itu hasilnya membuat aku terlihat cantik. "Tunggu sebentar, Bu," ucap Riska tiba-tiba. Aku menoleh ke arah Riska. Kulihat itu sudah berlari keluar dari ruanganku. Aku tak peduli dan menatap cermin kembali. Ternyata aku juga bisa cantik. Selama ini aku terlalu banyak mencari aset kekayaan sampai lupa bahwa aset terbesar adalah tubuh sendiri. Riska kembali ke ruanganku. Dia membawa sebuah coat berwarna pink cerah yang digantung di hanger. "Ibu bisa pakai ini agar penampilannya semakin maksimal." ucapnya semangat. Jadi penampilanku selama ini memang benar-benar bermasalah. Kemeja garis-garis pink-putih dan celana kulot warna hitam yang ku beli dua tahun lalu. Pastilah penampilan ini terlihat sangat tidak cocok untuk seorang pemilik perusahaan. Pantas jika ada yang mengira jika sekretarisku adalah pemilik NM Corp. "Meskipun ini bukan baju mahal tapi ini baru belum saya pakai kok, Bu." "Coat ini kado dari ibu saya. Sebagai hadiah selamat karena sudah masuk NM Corp tapi saya belum pakai karena takut saya tidak akan lolos sebagai pegawai setelah masa training selesai." terangnya khawatir. "Apa penampilan saya selama ini kumal?" tanyaku. Ekspresi wajah Riska berubah terkejut. "Ah, bukan maksud saya, Bu. Hanya saja ini untuk memberikan kesan lebih formal saja," sergah Riska buru-buru. "Pemilik ABCD itu menurut desas-desus yang beredar adalah pria yang suka dengan penampilan, keselarasan dan keindahan. Bahkan packaging dari brand ABCD dibuat sangat bagus, senada dan kekinian. Katanya semua brand yang di produksi 5 tahun lalu di kontrol pak Arma," terang pak Arma. "Banyak juga yang kamu tahu tentang pak Arma?" selidikku. "Kami tim pemarangan selalu mencari tahu bagaimana sifat pemilik perusahaan sebelum membuat proposal kerjasama untuk mereka, agar proposal yang sampai sesuai selera mereka," Aku mengangguk-angguk mendengar jawabannya. "Baikalah saya akan pakai ini," Dengan perlahan Riska membuka coat dari hanger. "Maaf saya pakaikan," Riska kemudian menyampirkan coat di pundakku. "tangannya gak usah masuk bu cukup disimpan di atas bahu saja seperti ini coat-nya karena udara luar lumayan panas," terangnya. "Terima kasih ya Riska," "Sama-sama, bu," Aku kemudian pamit pada Riska untuk bertemu pak Arma dan mempersilakan dia merapihkan barang-barangnya. "Riska," panggilku saat dipintu hendak keluar. "Iya, Bu." jawab Riska sambil menghentikan aktivitasnya. "Bilang pada Ibumu kalau kamu sudah diterima jadi karyawan di NM Corp," Aku keluar ruangan. Terdengar suara teriakan bahagia dari Riska dari dalam ruangan. "Alhamdulillah, terima kasih, Bu," Lani masih belum ada di mejanya, jadi kembali kuputuskan untuk mencari Danu ke ruang karyawan. Sekarang Danu sudah berada di mejanya, ruangan karyawan memiliki dua belas bilik meja. Setiap tiga orang saling berhadapan. Biasanya digunakan pegawai senior. Pegawai junior, training atau magang duduk di meja tanpa bilik yang melekat di tembok. Meja itu memanjang disepanjang tembok dan bisa di isi oleh sekitar 10 orang. Namun untuk sesi ini hanya di gunakan tiga orang untuk bekerja. "Danu ikut saya rapat ke roof top," titahku ketika sudah berada di ruang karyawan. "Iya Bu, siap-a ya?" ucapan Danu jadi berubah kalimat ketika menoleh ke sumber suara. Sebelas karyawan lainnya ikut terkejut ketika melihat ke arahku. Entah heran entah tidak percaya atau entah mereka tidak mengenaliku. Yang jelas, dari sorot mata mereka mengucakan "Siapa wanita cantik ini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN