Setelah pertemuan itu, kemungkinan Naisa menjadi keluarga pak Kardi semakin kecil. Baik dari pihak pak Kardi maupun Naisa. Keluarga pak Kardi menyebut Naisa wanita matre dan Naisa menyebut keluarga pak Kardi calon mertua toxic. Hal ini cukup membuat Diki frustasi. Tidak ada kubu manapun yang bisa dinegosiasi. Sampai suatu hari dia menemukan Naisa sedang menangis sendiri dijam istirahat . Suasan kantin khusus karyawan mall ramai oleh para SPG mall dan SPG luar mall yang memang sedang bertugas di mall itu. Wajah bahagia akhirnya bisa duduk, suara tertawa atau bercakap sambil mengunyah, suara sendok dan garpu saling beradu menghiasi ruangan yang cukup lebar ini. Hampir semua kursinya penuh tapi tak nampak Naisa dimanapun. Akhirnya Diki menanyakan keberadaan Naisa pada sahabatnya, Arum.

