Akhir hari setelah usai seluruh pekerjaannya, Raja tahu bagaimana lelahnya. Untuk itu, Raja bersiap kembali ke rumahnya. Membagi cerita hari ini kepada Leora yang selalu menyiapkan telinga untuk mendengarkan keluhan-keluhannya. Pelukan Leora selalu menjadi bagian di sesi pembagian cerita. Yang mampu meringankan bebannya. Dan ini yang terpenting; Leora tak pernah membiarkan Raja sendirian—karena Leora menjadi tempatnya berbagi pun dengan jalan pulangnya.
Ah, pasti kesalahan Raja di masa lalu sangat indah sehingga Tuhan mengirimkan Leora untuk melengkapi hari-harinya. Kehadiran Leora menjadi salah satu anugerah terlepas dari dosa masa lalunya. Itu murni balas dendam di mana amat Raja benci Leora yang saat itu merecoki kehidupan percintaannya.
Jadi, sampai pada waktu yang telah tepat dengan perhitungan yang aman, Raja melakukan hal gila yang tak sepatutnya dilakukan. Namun rasa bencinya sungguh mandarah daging. Tentu tak bisa lagi Raja bedakan mana yang baik dan buruk. Tindakannya tidak Raja pikirkan untuk dampak ke depannya di mana memori Leora harus hilang sepenuhnya.
Entah harus Raja syukuri atau mengutuk dengan u*****n-u*****n kotornya. Yang jelas, ada satu sisi di mana hatinya tidak menerima perlakuan Tuhan menghapus ingatan Leora tentangnya. Yang Leora ingat hanya masa kecilnya tapi serius itu tidak terlihat baik di wajah Raja yang keruh.
“Kamu kenapa?”
Aigoo! Ditanyai begitu saja Raja mesam-mesem nggak jelas. Senang sekali di perhatikan oleh Leora sampai membuat perasaannya tidak karuan.
“Kangen kamu.” Bukan sun atau kecupan-kecupan lainnya yang Raja dapat. Wajahnya memerah karena malu dan kesal. Leora menimpuk mulutnya cukup keras dan itu di saksikan oleh para penghuni rumah lainnya; tukang kebun yang sedang menyiram tanaman dan asisten rumah tangga yang menyapu. Kompak, semuanya menahan tawa walau dengan wajah yang di sembunyikan.
“Mulut kalau ngomong di jaga. Pulang kerja tuh mandi nggak usah ningkah.”
‘Ra. Kamu kenapa makin galak ya semenjak hamil. Apa perlu aku bikin gugur itu janin?’
Ya Allah! Sumpah, otak Raja kotor sekali. Anaknya sendiri mau di musnahkan. Papi macam apa dirinya ini.
“Aku tuh jujur, Yang.” Belanya. Raja memang kangen, kok. Leora saja yang sensi. Dengan bibir mengerucut, Raja hentakkan satu kakinya di mana tindakannya itu membuat Leora cengo. “Kangen sama bini kok di gampar-gamparin.”
Gerutuan Raja terdengar aneh di rungu Leora. Tidak biasanya suaminya bersikap demikian. Karena meski kehidupan awal rumah tangga keduanya kurang harmonis, Leora tahu seperti apa Raja.
Dalam banyak hari yang Leora jalani, sesulit apa pun itu, panjatan terima kasih akan selalu dirinya ucapkan. Terutama pada orang-orang di sekitarnya yang telah bersabar hati menghadapinya.
Berlaku juga untuk Raja. Yang Leora yakini bahwa memahami dirinya tidaklah mudah. Dan Leora melihat seberapa besar kesungguhan Raja dalam membangun sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Yang tidak memaksa apalagi mendorong Leora untuk mau menerima Raja. Semuanya terlihat normal.
Maka terima kasih untuk Raja yang tetap bertahan dan tidak menyerah. Atau semua kesalahan Leora dan masalah yang pernah ada—dulu—Raja mengajarinya bagaimana menghadapinya tanpa mengedepankan amarah.
Senyum Leora terbit. Begitu melihat Raja yang keluar dari kamar mandi melempar senyum manis yang mampu membuat hatinya berdegup kencang. Padahal, baru saja Leora pikirkan tentang Raja, dan sosoknya sudah berdiri dekat di hadapannya. Hanya dengan handuk yang menggantung di pinggangnya. Mempertontonkan lekukan d**a bidang, perut kotak-kotak, bahu lebar dan kekar serta punggung yang menggoda. Astaga otak Leora berlarian ke mana-mana.
“Perasaan kita sudah sering berhubungan tanpa memakai baju. Kok muka kamu masih gitu, sih?”
Teguran Raja—anggap saja begitu—meski terdengar saperti ejekan namun benar adanya. Membuat Leora diam tak berkutik dan menggantungkan tangannya di udara.
“Baju aku mana?” Sampai kedua kalinya Raja ajukan tanya, tetap juga kesadaran Leora belum kembali ke tempatnya. “Leora … Sayang.” Panggilan Raja sekarang beragam. Nggak bisa satu saja. ‘Sayang’ menjadi favoritnya yang membakar kulit wajah Leora.
“Kamu mau langsung makan?” Leora julurkan kaos polos dan celana pendek untuk Raja bersantai. Matahari sore mulai beranjak ke peraduannya. Walau begitu, aktivitas di luar sana tak berkurang sama sekali. “Biar aku siapin sekarang.”
“Enggak, deh. Aku kangen sama kamu.”
Itu lagi. Itu lagi. Leora harus mendengus lagi. Raja pandai menggombal dan Leora khawatir soal itu. Bagaimana kalau di luar sana juga tebar pesona?
“Makasih, ya.” Tiba-tiba tangan Raja melingkari leher Leora. Mengunci pergerakan kakinya yang ingin melangkah keluar. “Aku tahu, hidup bareng aku nggak segampang yang pernah kamu bayangin. Kita saling kenal. Kita saling akrab. Tapi di masa kecil.” Ada deru napas memburu yang Raja helakan. Rasanya sesak menghimpit rongga dadanya. “Ada waktu-waktu tertentu di mana aku benci sama kamu. Sikap kamu yang songong terutama.” Raja terkekeh. Leora tertawa.
Sedang ingin Raja sampaikan menyoal kedua adiknya. Tapi tak sanggup. Itu terlalu aib bagi Raja.
“Kamu suka berbuat seenaknya. Ingat waktu pertama nikah?” Kepala Leora terangguk. Dan tangan mungilnya mengecup lengan besar Raja. Desiran aneh dengan cepat menyergap d**a Raja. Mendesirkan alirah darahnya, memanggil monster yang tertidur dalam dirinya terbangun. Leora memanggilnya, artinya perempuan ini siap menanggung konsekuensi yang akan terjadi. “Aku larang kamu ‘jangan masak’ tapi kamu tetap lakuin. Kamu memang bandel. Keras kepala kamu nggak ada tandingannya.”
“Mami yang bisa imbangi aku.”
“Oke. Mami Barella pawang dan kelemahan kamu, right?” Di mata Raja yang sudah menggelap, tidak tahu sudah berapa lama tak melihat senyum Leora selebar ini. Sebahagia ini sejak kejadian sepuluh tahun yang lalu. Yang Raja rasai tubuh istrinya dengan perkasa. Yang Raja tunggangi dengan beringas. Tidak sekali atau dua kali. Berkali-kali dan meninggalkan Leora yang terikat tali di seluruh tubuhnya. Menutup tubuh polosnya dengan selimut dan Raja tinggalkan begitu saja. Layaknya wanita panggilan yang sudah Raja pakai dan buang.
Kini, patut Raja menyesal. Perempuan ini yang menjadi awal mula tumpukan dendam di hatinya menggunung justru longsor dengan sendirinya. Hanya karena satu kata; hamil. Selemah itu hati Raja.
“Terima kasih untuk selalu ada dan bersamaku dengan setia.” Tidak salah, kan Raja berkata demikian? Hanya itu yang bisa dirinya ungkapkan. Untuk setianya seorang Leora Yudantha—Anggoro—yang tak bisa Raja ucapkan tiap-tiap bait kata-katanya. Untuk sesuatu yang terlihat maupun tidak. Raja sadar, terima kasih saja tidaklah cukup.
“Seberapa besar aku di hati kamu?” Leora sangat penasaran dengan jawaban Raja.
“Secukup kamu mencintai aku.”
Asli, fix! Raja sudah bucin total. Bucin parah. Yang cuma maunya Leora saja. Nggak mau orang lain.