Langit sedang berkemas. Di malam yang sudah larut dan pikirannya yang carut marut. Wajahnya kusut. Rambutnya awut-awutan. Kedua tangannya bergerak tak semangat. Tungkainya juga ogah-ogahan sekadar mencapai pintu ruang ganti pakaiannya.
Jika bisa, Langit ingin menolak perintah Raja. Ketimbang menerima tapi tidak membuat hatinya senang. Raja benar-benar tidak bisa di tentang titahnya. Inginnya mengutuk. Namun Langit tidak punya kuasa untuk melakukannya. Di samping dirinya berstatus sebagai bungsu, maminya telah menanamkan sikap saling menghormati sejak dulu. Tidak peduli apakah itu saudara kandungnya atau orang lain. Yang lebih tua darimu, hormati selayaknya kamu menghormati ayah ibumu.
Jadi ya sudah. Selain menerima, memangnya apalagi yang bisa Langit lakukan?
“Sudah siap?” Vokal kakak iparnya—Leora Anggoro—putri satu-satunya papi Yudantha hadir menemani. Langit yakin, itu atas perintah Raja. Padahal perempuan mungil itu tengah mengandung. Tidak sepatutnya di ajak pergi tercemar udara malam.
“Dikit lagi Kak Ora.” Kebiasaan Raja yang punya keunikan dalam memanggil nama orang, menurun pada Langit. “Kakak ikut abang?” Leora mengangguk. Membantu melipat beberapa pakaian yang kurang rapi. “Abang suka nggak tahu waktu.”
Gerutuan Langit mengundang kekehan di bibir Leora. Perempuan itu cantik. Dalam penglihatan Langit, tak nampak satu pun cacat yang tercetak di diri Leora. Perhatikan saja. Rambut hitam legamnya perpaduan papi Sagi dan mami Bare. Hidung mancungnya mutlak milik papi Sagi yang di aplikasikan dengan bibir tipis kemerahannya. Tak banyak yang di turunkan mami Bare. Leora plek-ketiplek milik papi Sagi. Yang membuat pria paruh baya itu bangga setengah mati. Alis hitamnya juga lebat. Jadi, tak perlu banyak riasan yang di ukir, Leora sudah cantik alami. Pantas jika Raja sangat menggilai perempuan ini.
“Abang cuma kuatir,” kata Leora. Kedua matanya yang sayu menatap Langit dengan lembut. “Kamu sudah gede. Tapi di mata abang, kamu adik kecilnya. Yang sampai berapa pun umur kamu, tetap kamu bayi di mata dia. Jadi harus maklum.”
Demi Tuhan Langit terkesima. Pada sosok Leora yang amat dewasa dan mampu bertutur kata dengan bijak. Kelembutan nadanya dalam menyusun tiap kalimat terasa pas bagi Langit yang hendak misuh-misuh.
“Tapi nggak seharusnya abang seenak udel mindahin aku sama adek.” Serobot Ratu yang masuk tanpa permisi.
Perempuan berambut panjang turunan Radit dan Senja ini memang selalu ceplas-ceplos. Berbeda dengan Raja, meski kembar, mereka memiliki ciri khas baik fisik maupun sifat yang bertolak belakang. Jika Raja terkesan misterius dan tak tersentuh, berpikiran terbuka yang luas dan sesekali mau menerima pendapat orang lain. Berlainan dengan Ratu yang terbuka sepenuhnya. Ratu lebih ceria dan ramah. Tidak heran banyak orang yang lebih mudah akrab dengannya. Bahkan Leora sangat merasakan aura positif yang Ratu bawa.
“Ah itu pasti soal cabang baru.” Leora menengahi setelah di rasa cemberut di wajah Ratu berangsur-angsur membaik. “Abang kayanya nggak punya rencana buat cantumin nama kalian. Daftarnya sudah ada dan itu di tempati karyawan lama yang memang abang percaya. Tapi—” ini yang ragu-ragu ingin Leora sampaikan. Karena melihat dari bagaimana gelagat Raja, Leora tebak ada yang tidak beres. “Ada yang janggal,” lanjutnya. Entah dalam masalah pekerjaan atau keluarga. Leora tahu, Raja selalu menjunjung tinggi keprofesionalitas. Sama galaunya dengan Langit yang menerima perintah Raja, Leora hanya bisa memberi dukungan atas pilihan suaminya.
“Nggak harus mendadak kaya gini.” Kekeuh Ratu. Sulutan emosi dalam kilat matanya masih berkobar. Leora melihatnya dengan jelas. Ada sesuatu yang tak biasa dari pancaran Ratu. Terutama dalam memandang … tidak mungkin. Hampir-hampir Leora memekik jika Raja tak cepat-cepat mengelus bahunya.
“s**u hamil kamu.” Angsurnya memberikan segelas s**u hangat. Leora hendak menolak, namun Raja mengecup bibirnya lebih dulu. “Kamu bisa bobok duluan. Aku temenin Langit berkemas.”
Ratu yang melihat betapa alay kembarannya mencibir. Berpura-pura memuntahkan sesuatu dari mulutnya dan hengkang setelahnya. Sebal maksimal. Di suguhi drama gratis macam korea-koreaan itu.
“Kamu juga Ratu!” Kaki Ratu terhenti spontan. “Barang-barangnya di kemasi.”
“Bukan bocah gue tuh,” jawabnya sewot. Dan melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Napas Raja memberat. Berkali-kali menariknya dalam-dalam dan di embuskan dengan perlahan. Semuanya terekam jelas di mata Leora. Ada yang suaminya sembunyikan. Dan belum mau berbagi dengan dirinya. Apa Raja masih memberikan sekat kepadanya? Bukankah mereka sudah menikah dan sepatutnya berbagi jika salah satu pasangannya memiliki masalah?
“Jangan mikir yang aneh-aneh. Nanti, kalau sudah tepat waktunya.”
Mendengar itu, yang berdegup kencang jantungnya adalah Langit. Lelaki dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya itu melirik-lirik setiap pergerakan Raja. Padahal tak ada yang kegiatan serius yang Raja lakukan selain mengecek ulang seluruh bawaan Langit.
“Harus sebanyak ini?” tanyanya perhatian. Terlihat keheranan mendapati semua kemeja Langit dalam berbagai warna telah berpindah tempat.
“Dedek malas beli baju lagi. Yang ada, pakai,” jawabnya asal namun mengandung kebenaran. Langit bukan lelaki yang suka menghambur-hamburkan uang. Selama apa yang dirinya miliki masih layak pakai, maka akan terus dirinya gunakan. “Abang nggak pulang?”
Agaknya pertanyaan yang Langit ajukan memiliki makna lain di rungu Raja. Karena lelaki itu langsung menggeleng dengan kecepatan penuh dan menatap Langit intens.
“Kamu bobok, deh Sayang. Nanti aku susul. Aku mau ada ngomong sama Langit.”
Baik. Leora mengerti. Akan Leora maklumi kali ini. Melihat dari seberapa seriusnya Raja meminta artinya ada perkara pelik yang belum bisa di sampaikan kepada Leora. Tanpa balasan yang lama, Leora kecup pipi Raja dan berlalu keluar dari sana. Menutup pintu dan masuk ke ruangan sampingnya; kamar Raja.
Kini, tersisa Raja dan Langit. Sunyi membelenggu keduanya. Menciptakan suasana canggung yang tak berujung. Baru kali ini Langit merutuki keterdiaman Raja. Karena itu tidak enak di kondisi yang serba mendebarkan.
“Abang tahu.” Bukanya bersuara. Tambah tidak karuan perasaan Langit. “Abang lihat semuanya. Dan Abang … kecewa. Kalian tahu?” tanya Raja menggantung. Sehingga Langit tidak berkutik. Kepalanya juga kaku total. “Kalian saudara, kandung, satu ayah dan satu sepersusuan. Bisa bayangkan kalau Mami tahu?”
Terlalu mengejutkan bagi Langit. Raja tidak memberinya waktu untuk mengambil napas.
“Berhenti Langit. Kamu nggak seharusnya mengikuti kemauan Ratu. Kamu juga nggak seharusnya bergantung sama kakakmu. Kamu itu di persiapkan papi buat duduk di kursinya—”
“Langit nggak minat. Itu punya abang.”
“Dan kamu pikir papi bakal terima?” Kepala Raja menggeleng dengan seringai mengerikan. Langit takut melihatnya. Ini pertama kalinya, Raja—abangnya yang hangat dan pendiam—memunculkan sisi lain dari dirinya.
Sebenarnya, ada apa dengan keluarganya?
Kenapa kesempurnaan yang tercipta ini meninggalkan sejuta tanya?