Tahun ini mengajarkan banyak hal untuk Raja. Tidak cuma belajar menjadi kepala keluarga yang baik dan bijak. Bukan juga cara menjadi pemimpin yang tegas namun tidak merendahkan. Bukan sekadar menjadikan dirinya contoh kepada adik-adiknya sebagai kakak yang baik. Tidak semudah itu.
Tahun ini, ada banyak pelajaran yang Raja petik dari tiap perjalanan hidupnya. Mulai dari kehidupan pernikahannya yang terasa sangat cepat lesatannya. Mulai dari hari di mana harus membiasakan dirinya dengan kehadiran orang lain di rumahnya—Leora—yang pasti konyol bagi orang lain karena Raja menganggap istrinya sebagai orang asing. Yang harus bersabar hati menghadapi kekeras kepalaan Leora—yang sama batunya dengan miliknya. Membuat aturan-aturan baru di mana percuma lantaran Leora terus melanggarnya.
Sampai di mana perpisahan akan—hampir—terjadi. Jika bukan kehamilan yang menghalanginya—Raja telusupkan tangan kekarnya ke dalam baju tidur Leora. Mengusapnya perlahan. Menghantarkan desiran bahagia di seluruh saraf tubuhnya. Ini terasa nyata. Perut Leora yang menonjol menandakan ada kehidupan lain di sana.
Embusan napas Raja menubruk pori-pori kulit Leora. Dengkuran halus yang terdengar menandakan sang empu telah terlelap dalam buaian mimpi. Raja ingat, Leora mengeluh tentang kemalasannya akhir-akhir ini. Dan hanya ingin rebahan, rebahan seterusnya rebahan. Bahkan jika bisa, Leora ingin menjadi manusia rebahan saja, begitu janjinya.
Tahun ini, Raja tidak bisa melepas apa-apa saja yang sudah merasuk ke dalam memorinya. Tertumpuk berjubel dengan kenangan-kenangan yang kelam, sedikit demi sedikit tergantikan dengan kejadian-kejadian baru.
Mengarungi rumah tangga bersama Leora, Raja tahu itu tidak mudah. Di samping perilakunya yang dulu merusak Leora, faktanya secercah cinta selalu ada di dalam hatinya. Leora cinta pertamanya. Perempuan pertama yang menyita perhatiannya sejak masih bayi. Leora kecil sangat cantik bahkan hingga kini, kecantikan yang mami Bare turunkan tidak luntur. Malahan bertambah kelipatannya.
Memulai kehidupan baru bersama Leora dalam naungan pernikahan juga sulit untuk Raja terima—pada awalnya. Namun mengingat seperti apa kekeuhnya janji semasa kecil dulu, papinya terus mendesak sampai kepala Raja terangguk setuju. Bahkan jika Raja menolak pun, papinya akan bertindak dan menyeretnya menuju KUA untuk meresmikan pernikahan.
Bersama Leora, Raja sadar ada cerita yang harus di bagi. Demi keberlangsungan rumah tangganya layaknya mami papinya yang menghabiskan seluruh perjalanan rumah tangganya dengan berbagi. Katanya menikah tidak melulu soal dua orang yang cocok dan mengikat dalam sebuah status. Menikah juga tentang bercerita di mana pasanganmu tidak sekadar suami atau istri, namun juga teman dan sahabat.
“Kamu belum bobok?”
Telah Raja jatuhkan pilihannya untuk hanya berbagi cerita bersama Leora. Telah Raja pilih Leora dalam keadaan seberat apapun masalahnya. Leora berhak tahu pertama kali.
“Ada yang kamu pikirin?”
Dan Raja sangat nyaman ketika tangan Leora menepuki punggungnya dengan pelan. Menyalurkan kehangatan dan ketenangan yang mengangsurkan detakan jantungnya menormal. Senyum yang Leora terbitkan—meski terhalang temaram lampu—mampu menyihir darah Raja dalam berbagai rasa.
Rasa aman dan nyaman. Rasa bangga karena di cintai. Rasa bahagia karena Leora memilihnya. Rasa yang tak pernah Raja terima dulu saat bersama perempuan masa lalunya.
“Belum ngantuk.” Alasan Raja tak bohong sepenuhnya. Tapi Leora tahu dari pancaran matanya tersimpan beban. “Nggak kamu peluk.”
Leora mendengus. Mode manja Raja kambuh lagi. Tidak biasanya juga lelaki berambut cepak berkulit putih itu akan bersikap demikian. Itu sangat menakutkan bagi Leora yang sedari awal sudah terbiasa dengan sikap kasar Raja.
“Apaan, deh! Kamu dari tadi ngerungkel, ngelingker kaya ular di tubuh aku itu apa namanya?!” Geram Leora. Meski begitu, Leora sadar apa yang suaminya butuhkan. Selain dukungan penuh darinya, ada peran lain yang harus Leora jalankan. Sama halnya dengan Raja, Leora tak bisa berdiam diri seperti ini.
Sekeras apapun dunia menguji kekuatan Raja dalam bertahan, akan ada saatnya pundak lelaki itu luruh. Bukan kalah pada peperangan. Namun memikul sendiri berton-ton beban, bukan suatu perkara yang mudah. Maka, di samping diam-diam menjalankan misinya, Leora selalu ingin berada di sisi Raja dengan setia. Seburuk apapun mulutnya berucap nanti, hati Leora sudah teguh dengan tutur kata pedas Raja. Jadi, telinganya akan kebal dengan olokan Raja dan menjadi pendengar yang baik.
“Ini nggak semudah kaya biasanya.” Leora tahu itu. Maka mengelus d**a Raja menjadi cara terampuh guna mengurut emosi yang menggelora. “Cabang baru di Malang lumayan banyak masalah. Terutama di keuangan. Kalau Ratu kalap dan nggak bisa nanganinya gimana?”
Baik. Sebagai awalan, Leora anggap ini pembuka. Raja sudah mulai tenang. Terasa dari deru napasnya yang berangsur membaik.
“Mau aku bantu?” Tawar Leora.
“Kamu lagi hamil. Nggak perlu sampai ke sana dan ikut terjun.”
“Salah satu pegawai Papi ada yang jadi senior di bidang keuangan. Mungkin dia bisa bantu. Masih muda juga. Sekitar 33 umurnya.” Apa Leora terlihat bodoh sampai-sampai Raja mengulur waktu untuk menceritakan menu utamanya? Tidak. Leora hanya sedang menunggu waktu yang tepat.
Terlihat berpikir dan menimang. Yang di maksud Leora, Raja tahu. Lelaki bernama Prabu yang sama-sama berasal dari satu wilayah dengan Papi mertuanya memang patut diacungi jempol. Cara kerjanya nggak diragukan lagi. Konsisten dan cepat tanggap. Semuanya selesai tepat waktu tanpa ada drama.
“Apa harus?” Leora mengangguk dengan semangat. “Terus punya Papi?”
“Aku bisa handle. Punya Papi stabil. Kalau pun ada yang merosot, itu karena nilai tukar mata uangnya yang berubah. Jadi aman.” Leora tidak bohong pada buah hasil dari kesabarannya.
Raja mulai tertarik dan memeluk Leora lebih erat. Menjatuhkan dagu runcingnya ke atas kepala Leora dan mengecupnya lama. “Aku nggak tahu lagi kalau bukan lari ke kamu. Karena mami sama papi nggak mungkin harus terjun buat nangani masalah ini. Aku pasti payah banget, kan sebagai pemimpin?”
“No!” jawaban Leora terlalu bersemangat. Sehingga yang harusnya kalem malah terdengar seperti teriakan. “Kamu nggak pernah gagal apalagi payah. Kalau kamu gagal, dalam waktu tiga tahun, perusahaan Papi Radit nggak mungkin bisa ngebuka cabang dan bekerja sama dengan perusahaan kondang lainnya. Kamu cuma sedang resah karena ini keputusan pertama yang kamu ambil sebagai pemimpin.”
Suaminya sedang bimbang. Itu saja. Sedang kebingungan. Apakah keputusannya sudah benar. Apakah semuanya terasa adil. Dan lain sebagainya.
“Aku nggak pernah melarang apa pun yang kamu ambil sebagai keputusan. Peranku di sini selain sebagai istri, adalah teman dan sahabat yang siap mendengarkan keluh kesahmu. Selain itu, aku ini partnermu dalam bercerita dan berbagi.” Jelas Leora.
Keputusan Raja untuk menjalani semuanya memang benar. Berharap apapun yang akan terjadi nanti, bahkan jika itu semua di luar kendalinya, Leora tetap ada di sisinya. Menguatkan hatinya dengan cinta.