Dua Lima

1075 Kata
Pagi-pagi sekali begitu kedua matanya terbuka. Pikiran Raja merekam jejak wajah Leora yang tenang maksimal. Dalam alam mimpinya, pastilah istrinya itu tengah memimpikan hal-hal yang indah. Karena sudut bibirnya terangkat tipis dan kerutan di kedua alisnya tercipta persis seperti saat dirinya tertawa. Pagi ini, Raja ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Tuhan yang sudah membawa perempuan ini ke dalam dekapan tubuhnya. Yang bisa Raja peluk kapan pun waktunya kala dirinya rindu. Yang kapan pun bisa Raja tatapi wajahnya dengan lekat-lekat. Yang Raja kagumi ukiran senyumnya dengan eksotis. Perempuan ini, Leora, yang selama ini ada dalam doa-doanya. Raja merasa bangga menjadi lelaki yang luar biasa dengan memiliki Leora. Perempuan yang tidak pernah meminta apa pun yang tidak dirinya miliki. Perempuan yang kesabarannya tidak pernah habis untuk memahami dirinya. Perempuan tegas namun bukan pemarah. Perempuan yang mau bersetia dengan dirinya meski jarak pernah memisahkannya. Perempuan yang pernah menyatakan cintanya—dulu di masa lalu—yang bersedia menggenapi seluruh kekurangan Raja. Astaga, begini saja hampir pernah Raja sia-siakan. Sungguh bodoh jika sampai keputusan itu terlaksana. Bukankah Raja yang akan paling kehilangan dan berkubang dalam sesal yang tak berkesudahan? Dengan ini, Raja khususkan untuk Leora. Tidak akan Raja mintakan apa-apa darinya. Cukup satu saja; semoga Leora terus menyayanginya tanpa kebohongan apalagi kepura-puraan begitu pun sebaliknya dengan dirinya. Tidak berbohong, Raja bahagia di antara milyaran manusia bisa menemukan Leora. Dan bahagia karena mami Bare melahirkan satu perempuan cantik yang tercipta khusus untuk dirinya. Seperti alunan sebuah lagu: tiada lagi yang mampu berdiri halangi rasaku cintaku padamu. Raja bahagia. Yang telapak tangan besarnya membelai wajah mulus Leora. Raja bahagia. Melihat Leora baik-baik saja di atas dunia kejam yang di pijaki. Dan Raja bahagia perempuan dalam doa-doanya adalah Leora, pilihan Tuhan yang paling tepat untuk hatinya. “Nggak mau bangun?” Pertanyaan Leora Raja tertawakan. Apa yang lucu? Leora pun terkadang heran dengan cara pikir suaminya yang nyeleneh. “Pagi-pagi, kok ngebucin.” “Kamu pelakunya,” balasnya mengejek. “Nggak sadar diri banget.” “Kok aku?” Nah ini salah satu bagian yang amat Raja sukai. Membuat Leora yang setenang apa pun dalam menghadapi masalah, nyatanya bisa ngegas jika itu dengan dirinya. “Kamu sukanya nuduh aku yang enggak-enggak!” Biarkan saja dulu macan betina ini mengamuk. Lebih dari itu, dalam hari Raja membenarkan bahwa setenang apa pun seseorang, ketika memiliki masalah pasti ada saatnya membutuhkan satu orang saja yang tepat untuk mau mendengarkan keluh kesahnya tanpa di hakimi. Dan Raja sedang belajar ‘menjadi orang’ bagi Leora. Yang siap menjadi tempatnya mengadu dan di jadikan sasaran empuknya. “Soalnya godain kamu memang paling enak, Yang.” Raja bangun dan memeletkan lidahnya. Bergegas lari ke kamar mandi dengan tawa yang nyaring. “Baju aku, Yang.” Leora mendengkus namun tersenyum setelahnya. Mendadak tangannya bergerak mengusapi area perutnya. Sudah menonjol dari terakhir kali dirinya memeriksa. Dan menoleh ke arah kalender yang berada di nakas samping ranjangnya, ingatannya terketuk jika hari ini jadwal temunya dengan dokter kandungan. Maka cepat-cepat bangun dan berlari menuju dapur—melupakan permintaan Raja akan bajunya. Pekikan yang menyerukan namanya dengan peringatan untuk jangan berlari Leora abaikan. Ada yang lebih penting dari menuruti omelan asisten rumah tangga kepercayaannya. “Ibu jangan lari-lari kaya gitu!” Sampai di susul ke dapur. Sedang Leora asik memilih bahan masakan yang cocok untuk di olah. “Bapak bisa marah.” Napasnya putus-putus. Lari lantai tiga sampai ke lantai satu bukan perkara mudah. Tapi Leora nampak biasa saja. “Kita masak apa ya, Mbak enaknya.” Mampus saja buat mbak Ani yang malah ditanyai semacam itu. Istri majikannya mungkin hanya akan di omeli sebentar tapi nyawa Mbak Ani di bawah tekanan malaikat maut. “Ikannya di goreng terus kasih bumbu saus manis. Menurut mbak gimana?” Aduh, Mbak Ani sudah mengosongkan pikirannya. Keringat dingin mulai bercucuran. Dan kepalanya mengangguk tanpa bisa bersuara sebab lidahnya kelu. “Bantu buang sisiknya, ya, mbak. Saya mau rebus jagungnya dulu.” Akhir-akhir ini Leora suka sekali mengonsumsi jagung rebus. Hanya dengan bumbu bawang merah, bawang putih dan cabai. Sedikit garam dan penyedap rasa. Tidak tahu juga itu memang fase ngidam atau apa. Yang pasti, melihat jagung bisa meneteskan liur Leora persis seperti bayi. “Kamu lari lagi?” “Kamu mau kopi?” Pertanyaan Raja di balas dengan tanya. Yang tanpa Leora indahkan ekspresi keruh di wajah suaminya. “Duduk, deh, Pi,” suruhnya. “Aku buatin dulu kopinya. Pahit, 'kan, tanpa gula. Oke.” Raja tidak terpengaruh. Yang biasanya mesam-mesem kala Leora memanggilnya dengan sebutan Papi. Kini wajah datarnya membangkitkan bulu kuduk milik seisi penghuni rumah. Leora itu apa tidak tahu seperti apa rasa takutnya Raja mendengar mbak Ani yang berteriak begitu. Jantungnya hampir merosot ke lambung. Mandinya juga—entah bersih atau tidak—Raja persingkat. Peduli setan soal bau tubuhnya yang akan aneh nantinya. “Telinga kamu masih berfungsi, kan?” Raja tidak pandai berbicara sarkas akhir-akhir ini. Terlebih jika itu menyangkut perihal Leora, Raja lemah. “Aku pernah nyuruh kamu masak memangnya?” “Mulai, deh, mulai. Kamu lebay, tahu!” “Leo, aku serius.” “Ora juga serius Aja!?” Lihat! Lihat baik-baik! Perhatikan dengan saksama pasangan b***k cinta itu. Mereka sama-sama keras kepala yang nggak mau mengalah. Mereka saling cinta tapi suka menyangkal. Mereka memang serumit rumus-rumus matematika yang hanya mampu di pecahkan oleh pakarnya. “Jangan ngebantah!” “Jangan nyerocos makanya!” “Aku suami kamu!” “Aku istri kamu!” “Yang bilang kamu pembantu aku siapa?!” OW-OWKEY. Leora kicep. Bibirnya diam. Rapat tanpa bisa bersuara. Mulutnya yang sudah terbuka kembali tertutup. Karena, ya, omongan Raja ada benarnya juga. Raja memang tidak pernah memberinya izin bersentuhan dengan dapur. Itu murni keinginannya sendiri yang di dukung oleh kepala batunya. Tapi Leora ingin berdedikasi tinggi terhadap suami lewat hobinya ini. Kenapa, sih, Raja tidak mau memahami keinginannya? Kenapa lelaki itu selalu egois dan mau menang sendiri? Kenapa Raja tidak tahu kalau perempuan punya tiga pasal dan itu selalu benar? “Kamu kolot,” cecarnya setelah misuh-misuh dalam hati. Kedua tangan Leora bergerak mematikan kompor dan menuang air panasnya ke dalam cangkir yang sudah terisi kopi. “Aku cuma mau jadi istri yang baik.” Begitu saja liquid bening Leora menetes. Yang di maui Leora tidak sepenuhnya salah. Pasti karena melihat cara mami Bare melayani papi Sagi semua aktivitas itu mendistrek pikiran Leora untuk melakukan hal yang sama. Tapi bedanya, Leora sedang hamil dan Raja khawatir soal itu. “Oke.” Dan hengkang dari sana. Raja bisa apa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN