Wajah Leora semringah. Sejak dari rumah sampai di pelataran rumah sakit bahkan dengan kedua tangan yang bergelayut manja di lengan Raja. Perempuan hamil itu tidak melunturkan ukiran senyumnya barang sedetik pun. Berbeda dengan Raja yang wajahnya keruh maksimal. Lelaki itu masih sangat kesal. Merasa harga dirinya mulai terkoyak dengan kekeras kepalaan sang istri. Tapi effort untuk melawan tak bisa Raja lakukan. Mengingat bagaimana kondisi Leora yang tengah mengandung dan kemungkinan-kemungkinan buruknya. Raja lebih banyak menahan ketimbang mengeluarkan.
“Kamu tunggu sini.” Pintanya seraya mengecup kening Leora. Tidak peduli pada pandangan pasangan mata yang berdecak kagum dan berbisik-bisik manja. Raja tetap melancarkan aksinya. Meski tahu takkan suka dengan ekspresi Leora, Raja tetap tidak peduli.
Mengambil nomor sesuai urutan dan menuliskan nama Leora di daftar kunjungan pasien. Setelahnya Raja kembali ke sisi sang istri dan mengulurkan tangannya untuk mengusapi perut Leora.
“Masih mau muntah?” Sebelum berangkat tadi, Leora mengeluh perihal perutnya yang bergejolak. Bersyukur semua makanan yang tertelan tidak keluar. Jika ya, akan sangat merepotkan bagi Leora dan terutama Raja yang harus bekerja ekstra untuk membujuk.
“Jinak dia sama kamu.” Tawa Raja mendera. Pasalnya, wajah Leora yang datar tidak menjadi dukungan untuknya menggombal. “Nggak percaya?”
Aturan Raja cukup menganggukkan kepalanya bukan malah menggeleng. Namun karena menggoda Leora memang semenyenangkan itu, jadilah Raja bertingkah. Tidak peduli pada dengusan yang Leora tunjukkan. Ayo bertaruh, Leora akan luluh sebentar lagi.
“Nama kamu geh di panggil.” Raja ajukan dagunya. Tubuhnya masih terduduk santai sedang Leora sudah siap melangkah. “Kenapa?” Melihat Leora yang menatapnya keheranan, Raja kedikkan bahunya. “Aku capek, Yang.”
“Alasan.” Leora mencibir. Suaminya memang seenggak berani itu untuk melihat USG anak-anaknya. “Bikinnya saja yang doyan. Giliran begini kamu mengkerut. Duh, gemas banget sama kamu.”
Omo! Itu tadi Leora, ya? Istrinya yang suka misuh-misuh nggak jelas itu? Kok bisa ngomongnya model begitu? Heh! Ini serius tidak?!
Dalam hati raja heboh maksimal. Sedang eksistensi Leora sudah hengkang dari hadapannya. Menyisakan dirinya dengan wajah yang ling-lung dan pikiran yang gamang. Apakah dirinya akan menyusul ke dalam atau stay di sini saja?
Rasanya tidak etis. Namun dominan penasaran lebih menguasai benaknya. Sehingga tanpa sadar dengan jari-jari yang tergigiti—kebiasaan Raja kala tengah gugup. Tungkainya sudah berdiri tepat di ruangan dokter. Tanpa mengetuk dan langsung masuk. Menyisir ruangan berwarna putih dengan bau-bau obatan antiseptik. Dan berakhir di bangkar. Di mana istrinya berada.
“Ini detak jantungnya.” Suara kencang yang timbul dari sana membeliakkan kedua mata Raja. Ada degupan aneh dan desiran merinding yang mengalir di sekujur tubuhnya. “Masih malu-malu. Yang satu sukanya ngumpet.”
Penyampaian sang dokter yang terus memutari perut Leora menerbitkan senyum di bibir Raja. Sangat lebar dan menakjubkan.
“Nah … penasaran juga, 'kan?” seru Leora serupa dengan tanya. “Sini, deh dengar.” Leora sempat-sempatnya menarik tangan Raja untuk lebih mendekat dan memperdengarkan suara detak jantung bayi-bayinya. “Mereka keren, tahu!”
Iya keren. Sampai mulut Raja kebas tak bisa berkata-kata. Semua yang Leora berikan—cinta, kesabaran, dan kehebatan Leora dalam menaklukannya. Semua tak serta merta Raja telan bulat-bulat. Banyak cerita dan kisah yang Raja dengar tentang Leora. Banyak hari di mana Raja menikmati perannya yang hanya seorang pendengar demi obsesi untuk mencintai Leora secara mendalam. Tentang dirinya yang selalu menimang; apakah dirinya pantas bersanding dengan Leora? Apakah pantas seorang penjahat seperti dirinya mendapatkan Leora? Apakah bisa hati Leora dirinya genggam.
Dan hari ini terjawab sudah semua harapannya. Tuhan memang seadil itu jika berurusan dengan takdir. Benang merah yang mengikat dirinya dan Leora memang sudah semestinya harus bersatu. Semesta bahkan tak bisa mengelaknya.
Sadar akan lamunannya yang terlampau jauh. Ucapan terima kasih saja takkan cukup untuk dirinya sampaikan. Bersama Leora—dalam mencintainya sebelum ini—telah Raja lewati masa-masa sulit yang memuncakkan sesal di ujung hatinya. Pada perlakuan yang pernah Raja lakukan—jika waktu bisa berputar—ingin Raja rasai Leora dengan cara yang benar. Jika waktu mau menunggu lebih lama lagi, ingin Raja perbaiki sikap buruknya. Sayangnya, waktu tak pernah mau berada di poros di satu titik. Waktu akan terus mengejarnya. Kita yang harus mengimbangi perjalanannya.
Acapkali Raja berpikir; hal mana lagi yang belum membuatnya beruntung? Dari merasa dicintai begitu baik oleh Leora. Yang tidak hanya memiliki pribadi baik namun Raja mengidolakannya. Apa pun dan seluruh apa pun yang ada di diri Leora. Tidak lagi Raja inginkan yang lainnya untuk dijadikan pendamping. Cukup satu kamu—Leora—dengan cinta yang sama dan hari yang berulang-ulang untuk di jalani.
“Aku mau es krim.” Pinta Leora menyeret Raja dari pikirannya yang berkelana. “Kamu nggak dengerin aku ngomong? Kamu ngelamun? Bilang, apa yang kamu pikirin padahal aku ada di sini. Berani-beraninya kamu—”
Leora menjadi sangat cerewet seiring bertambahnya usia kandungan. Perempuan itu juga sering berpikir yang tidak-tidak jika Raja melewatkan satu kesempatan obrolan yang sedang di bangunnya. Atau memang perempuan berwatak sama seperti itu? Kecuali maminya yang selalu kalem di hadapan papi dan anak-anaknya.
“Es krim rasa apa?” Raja lepas tautan bibirnya yang menyerobot omelan Leora. Mengusap sudut bibir istrinya lantaran sisa benang saliva miliknya tertinggal di sana. “Aku ambil dulu resep kamu kalau gitu.”
Dokter yang melihat interaksi keduanya hanya menggeleng. Paham dengan perasaan yang tercipta. Pengantin baru biasa melakukan aksi demikian. Jadi sebagai orang yang telah berpengalaman, diam dan tersenyum adalah jalan terbaiknya.
“Oh ya, jangan terlalu capek. Di umur segini, janin rentan lemah dan tahu sendiri gimana kelanjutannya. Jadi Leora, hindari pekerjaan berat yang menguras tenaga dan usahakan jangan sampai stres.”
“Memasak berat juga?”
“Berat.” Raja menyela. Oktaf nada suaranya meninggi seolah meminta dokter mendukung jawabannya. “Kita punya asisten rumah tangga yang di bayar untuk bekerja dan melakukan semua pekerjaan rumah. Dan—”
“Kamu lebih suka masakan orang lain ketimbang aku istri kamu. Iya?” Tuduh Leora. Selain pasrah, Raja mengusap wajahnya kasar. Masalah tadi pagi takkan selesai dengan ciuman dan aktivitas yang berlanjut lainnya. “Kenapa kamu nggak nikah saja sama mbak-mbak di rumah kita?”
ETA MULUT!
Kenapa bisa-bisanya enteng banget ngomong bagian menikah dengan orang lain? Sedang baru saja Raja gaungkan rasa cintanya pada Leora?
“Yakin?” Faktanya Leora mendengus seraya membuang wajahnya. “Kalau kamu serius kasih izin ya apa boleh buat. Ini kamu yang suruh, ya, bukan mau aku. Jadi nanti kalau ada apa-apa, kamu yang tanggungjawab. Masih ingat kebiasaan buruk aku?”
Yang bergidik bukan hanya Leora. Bahkan dokter yang menatapnya merinding maksimal. Sedang Leora mengetatkan rahangnya.