Menghirup udara panas yang menyapa kulitnya. Rea menikmati sejenak sebelum suara lain menyapanya. Decakan kesal Rea keluarkan sebagai tanda bahwa dirinya tak bisa diganggu.
“Kita nggak lagi ngerencanain liburan. Lupa?” Pertanyaan sarkas itu menurunkan kaca mata Rea yang bertengger di hidung mancungnya.
Wah, berapa tahun Rea tinggalkan tanah kelahirannya dan bergelut dengan negara asing? 10 tahun? 12 tahun? 15 tahun? Atau 5 tahun? Berapa pun jaraknya, pastinya kembali ke sini menjadi suatu kendala tersendiri bagi dirinya.
Pertama. Negara ini adalah negara yang bernaung dengan hukum. Di mana semuanya tertera dalam Undang-undang bahkan untuk urusan menikah dan menjalin hubungan. Sedang dirinya sangat bebas mengenai itu semua. Bagi Rea, menjalin hubungan tanpa status sangatlah menyenangkan. Membuat dirinya bisa memilih sesuka hati pasangan mana yang hendak dirinya ajak untuk menghangatkan ranjangnya.
Kedua. Tingkat kekepoan negara +62 sudah begitu mendunia. Sehingga Rea yang berada di ujung dunia saja, masih bisa melihat berita-berita yang meliput Indonesia. Jika di tanya apakah bangga? Rea lebih memilih malu dan menganggap tidak pernah hadir di negara ini. Sayang, darahnya begitu kental untuk sekadar menyangkal.
Ketiga. Tidak ada yang bisa Rea andalkan dari negara ini selain sumpek dan pengap. Jakarta sudah padat penduduk. Bangunan-bangunan pencakar langit berdesak-desakan di beberapa titik. Namun seolah buta, pemerintah acuh dan membangun sumber-sumber uang guna memuaskan hasratnya pada kekayaan.
Terakhir. Tidak ada yang ingin Rea lakukan di sini jika bukan undangan sialan seorang wanita di sampingnya kini. Cantik. Rea akui itu. Umurnya mungkin kisaran 30 atau malah lebih. Rea tidak ingin peduli berapa umurnya. Tapi tergiur oleh nominal uang yang akan menggendutkan rekeningnya.
“Di sini panas,” ucap Rea yang menyunggingkan senyum sinis di bibir Era—Erlangga. “Lo bermain api sama Raja.” Ini pernyataan yang Rea katakan. Erlangga terlalu berani meski Rea sudah lebih dari gila. Karena dirinya yang pertama kali merusak dan merasai Raja. Itu Rea anggap sebagai keberuntungan.
“Dan lo tahu betul kayak apa Raja.” Tepat sasaran. Melihat kening Rea berkerut, Erlangga puas. Sudah membangkitkan sisi liar di perempuan yang dulu menunggangi Raja. “Dia beristri.”
“Oh ya?” Rea terkejut. Serius, bukan pura-pura. “Dan istrinya?”
“See?” Perintah Era menyodorkan lembar demi lembar foto kebersamaan Raja dengan perempuan berambut panjang yang sama-sama tertawa bahagia.
“Nggak mungkin.”
“Itu fakta dan asli. Bukan rekayasa.”
Rea masih tidak percaya. Kepalanya menggeleng beberapa kali. Rea adalah korban. Yang mengalami hal serupa sebelum melakukan percobaannya pada Raja. Sehingga menimbulkan dendam tak berkesudahan di hati dan pikirannya untuk terus mencari mangsa. Seharusnya Raja bertindak seperti dirinya. Semestinya Raja memperlakukan lawan jenisnya selayaknya binatang. Bukan malah memiliki ikatan sesakral pernikahan dan harmonis seperti keluarga yang seyogyanya.
“Orang-orang kayak Raja dan gue nggak semudah itu buat sembuh.”
“Gue salah satu korbannya.”
Mata Rea membeliak. Hatinya mencelos entah pada perasaan apa yang lebih tepat untuk dirinya gambarkan. Mengetahui Era sebagai salah satu korban yang pernah bersama Raja, bukankah itu artinya cukup parah? Karena semua yang pernah Rea lakukan pada teman tidurnya di luar sana, selalu berakhir jika tidak ketagihan tentu akan menggila memuja dirinya. Memohon bahkan merintih untuk terus melakukan hal yang serupa.
“Dan itu cukup lama sampai kita punya anak,” lanjut Era. “Tapi gue tetap manusia yang punya sisi ketidakpuasan dan selalu kurang.”
Mata Era menerawang. Kembali pada masa lalu meski sengatan matahari tak mengusiknya sama sekali.
Waktu itu, Era memang sangat sombong. Memanfaatkan perasaan yang dirinya miliki untuk menggaet Raja. Dan pesona Raja yang mematikan cukup membuatnya buta. Untuk terus meminta lebih sedang kondisi ekonomi yang belum stabil membuat Era berpikir untuk melepaskan. Tapi sulit. Raja benar-benar mendominasi hati dan pikirannya.
“Kita nikah siri. Gue yang mencetuskan ide itu dan gue juga yang nyesal buat tiap keputusan yang gue ambil. Gue pikir semuanya nggak akan susah. Karena gimana pun antara percintaan dan uang, kita lebih mengangungkan uang. Dan Raja tipe lelaki sebenar-benarnya lelaki meski b****k nggak ada ampun.”
Belum Rea pahami maksud omongan Era bermuara ke mana. Tapi segurat sesal memang nampak di matanya. Dan Rea benci membicarakan cinta untuk diangkat menjadi topik. Bukan artinya Rea tidak memiliki cinta. Lantaran cinta itu menjadi alasan untuknya hengkang dari Indonesia. Mencari kebahagiaan dan kebebasan meski itu bukan dirinya yang sesungguhnya.
Di saat pertama kali melihat Raja Anggoro yang sangat terkenal seantero sekolah semasa SMA dulu. Benih-benih cinta tumbuh dengan apik. Kesuburannya Rea jaga dengan amat teliti. Tidak membiarkan duri yang hendak merusak keindahannya. Namun karena napsu menyelubung kewarasannya, pada akhirnya dirinya lah yang merusak tatanan tamannya. Semuanya hancur lebur tanpa bisa Rea satukan kembali serpihannya.
Takdir ini yak tak bisa Rea ajak mundur. Perihal rasa syukurnya untuk banyak hari yang tidak mudah. Perjalanannya begitu sulit karena tidak adanya Raja yang dirinya miliki. Hanya mampu dirinya sentuh dalam satu waktu sebelum akhirnya melepaskan. Tidak bisa Rea jadikan seorang Raja pendamping sekaligus penyemangat cita-citanya di masa depan apalagi sebagai teman tumbuh. Itu mustahil.
Menemukan Raja yang telah bahagia, harusnya Rea bahagia. Harusnya Rea senang karena perlahan Raja mampu melupakan kenangan buruk yang Rea ciptakan. Mestinya Rea panjatkan banyak doa syukur karena Raja mampu melepaskan bayang-bayang dirinya beberapa tahun silam. Bukan malah berada di sini bersama rencana yang akan menghancurkan rumah tangga orang lain.
“Istrinya lagi hamil. Satu tahun usia pernikahan mereka. Ini agak mencurigakan.”
Bagi Rea tidak ada yang perlu di curigai karena semuanya wajar. Mereka menunda kehamilan demi menikmati masa bulan madu.
“Perpisahan hampir mereka lakukan.”
Ah, Era sungguh wanita licik. Yang Rea pikir hanya dirinya saja yang kejam. Alih-alih menerima nasibnya, Era justru menggebu ingin menginvasi kehidupan Raja yang sudah membaik. Dan Rea menjadi pendukung mutlak yang tak bisa membohongi desiran bahagia hatinya.
“Lo tahu?” Mulai beranjak dari area bandara. Rea seret kopernya dengan senyum kecil di sudut bibirnya. “Masa lalu di ciptakan buat tempat belajar. Gimana caranya ikhlas. Itu juga perlu belajar. Gimana caranya rela melapaskan dan melupakan. Itu juga butuh belajar. Dan cara buat memaafkan. Itu pun belajar karena sesuai judul ‘belajar’.” Rea berhenti sejenak mengambil napas. “Gue setuju kerja sama bareng lo.”
Untuk kamu kekasih yang tak pernah bisa aku miliki—Laraja Putra Anggoro—terima kasih sudah bersedia melengkapi serta merawat baik-baik kebahagaiaanku. Terima kasih sudah bersedia tinggal meski hanya aku yang merasakan bahagia dan kebosanan akibat mencintaimu sering melandaku.