It’s you
Raja gerakkan jari-jarinya di atas tuts-tuts piano. Kedua matanya menyipit penuh binar bahagia.
Di sinilah kita …
Berada di bawah sinar rembulan …
Mataku berkaca-kaca karena kau terlihat luar biasa.
Aku minta maaf atas segala yang aku perbuat.
Sebelum hari ini kau bukan milik siapa-siapa.
Namun kini kau adalah milikku.
Raja merasa harus meminta maaf kepada Leora untuk semua kesalahannya di masa lalu. Yang walau pun Leora lupa, bukan tidak mungkin di masa mendatang akan menciptakan boomerang. Leora Bagi Raja di masa lalu adalah bagian dari kesalahan terbaiknya.
Kenapa demikian?
Karena di masa kini, Leora menjadi doa dan harapannya yang Tuhan kabulkan. Dunia tidak tahu saja seperti apa bahagianya Raja mendapati Leora di sisinya. Memang tidak jelas terlihat. Tidak Nampak terpancar karena semua tertutup dengan egonya yang tinggi.
Sedang jauh di dalam lubuk hatinya … bahagia dengan bunga bermekaran melingkupi kehidupannya.
Genggamlah tanganku …
Senyum Raja terukir dengan indahnya.
Tatap aku …
Tak henti-hentinya Raja mensyukuri doa-doanya yang di kabulkan oleh Tuhan. Padahal Raja bukan seorang Hamba yang taat dan patut. Ibadah bagi Raja, sekadar di jalankan. Mengikuti waktunya dan menjalankannya sebagaimana kewajibannya.
Karena kau lah yang membuatku menjadi seperti ini.
Aku berjanji akan menghargaimu Sayang.
Hanya kau yang aku butuhkan.
Tuk melengkapi duniaku.
Benar. Leora yang membuat Raja menjadi seperti ini; gila dan tidak tahu aturan untuk dirinya sendiri. Raja mencintai Leora tanpa tahu artinya bernapas lagi. Raja sungguh gila.
Kau …
Kau adalah cintaku, hidupku, permulaanku.
Dan aku masih bingung kenapa bisa mendapatkanmu.
Sayang, kau lah bagian diriku yang hilang.
Sekarang aku teringat.
Setiap kali aku merasa sendiri …
Tunjukkan aku jalannya.
Aku akan mendengar dan menggenggammu.
Menuju pintu yang ada di depanmu.
Kau adalah cintaku, hidupku, permulaanku.
Itu kamu …
Aku butuh seseorang tuk mencubitku sekarang.
Aku hanya tak percaya apa yang aku dapatkan.
Berdiri di sampingku …
Memberikan hadiah terindah dalam hidupku.
Katakan iya maka sekarang hidup kita dimulai.
Hanya kau yang ada di hatiku.
Seperti dalam buku berjudul: Seikhlas Awan Mencintai Hujan; Aku pernah mencintai seseorang melebihi aku mencintai diriku sendiri. Aku pernah menggantungkan seluruh kebahagiaanku pada kehadirannya. Aku pernah tidak peduli pada siapa pun yang datang hanya agar dia tidak hilang. Aku pernah.
Raja tidak ingin melanjutkan kalimatnya karena itu bukan bagian dari kesukaannya.
Ingatannya melayang pada beberapa kalimat bahwa hidup tidak seharusnya terlalu fokus pada masa depan. Cukup mensyukuri apa yang ada dalam genggaman di saat ini dan terus melanjutkan apa yang sudah di takdirkan. Karena memprotes apa yang Tuhan lakukan juga bukan solusi terbaik untuk marah.
“Api?”
“Ya?”
Raja selalu terkejut bila Leora memanggilnya demikian. Padahal aslinya, itu terdengar menggemaskan dengan suara yang terselip manja.
“Kenapa belum bobok?”
Bibir Leora mengerucut kesal. Sudah terlalu sangat bergantung pada kehadiran Raja, membuat tidur lelapnya terusik ketika Raja tidak ada di sisinya.
“Kebangun,” jawaban Raja semakin membuat Leora kesal. Pipinya yang mulai tembam menggembung dengan lucunya. “Nggak bisa bobok lagi.”
Ini lucu. Karena yang merasakan masa-masa ngidam saat hamil justru Raja. Kecuali soal mual di pagi hari.
Leora meringis—bersalah.
“Maaf,” cicitnya. Dan Raja tidak tahu kenapa Leora harus minta maaf. “Aku bikin Aja kesusahan.”
“Enggak sama sekali. Aku justru bangga ikut andil dalam proses ini. Berarti dia nerima aku sebagai papinya.”
Senyum Leora terukir. Merasa senang dengan perubahan-perubahan kecil yang Raja alami. Awalnya memang tidak mudah. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak, mana bisa manusia menolaknya.
“Punya kamu …” Leora hentikan ucapannya. Kedua tangannya menangkup pipi Raja dengan mata yang berbinar. “Sebahagia ini.”
***
Diam-diam mencintai.
Diam-diam memiliki.
Diam-diam kehilangan.
Sampai hari ini, Langit masih terlalu berpikir. Entah dirinya yang memang tipe pemikir atau mendadak jadi seorang yang pemikir. Intinya, bila itu berkaitan dengan Ratu, Langit tak bisa berhenti dalam berpikir. Sedetik saja tidak bisa.
“Mungkin, kamu bisa jadiin dia seseorang yang nyaman buat kamu. Entah sebagai tempat untuk pulang atau mencurahkan segala keluh kesah kamu atau itu yang disebut dengan cinta.”
Kata-kata itu masih mengusik batik Langit. Yang hingga hari ini belum memudar. Barang sejengkal saja, Langit ingin egois. Dengan terus mempertahankan Ratu. Karena memang hanya Ratu satu-satunya perempuan yang ingin Langit miliki.
“Tapi kalau untuk kamu jadikan pendamping …”
Sejak kapan bernapas sesesak ini?
“Dunia—di beberapa belahan akan menerima tapi tidak dengan garis Tuhan. Kalian, terutama kamu harus sadar pada posisi dan status.”
Dan Langit benci dengan kondisi ini. Fakta bahwa dirinya dan Ratu tidak bisa bersama sungguh sesuatu yang ingin Langit kutuk. Mendadak, segala jenis u*****n harus Langit absen untuk menyesali kehadirannya dirinya dari rahim yang sama dengan Ratu.
Sudah Langit katakan jika dirinya ingin egois. Tapi dalam hatinya mulai tumbuh keinginan untuk menyerah. Langit ingin berhenti dan menyudahi segalanya.
Seperti hatinya yang mulai berbisik dengan putus asanya; Jika aku tidak bertemu dia … ini lucu karena ingin di sangkal sedemikian rupa, Ratu tetaplah akan Langit temui. Karena mereka berada dalam satu rumah dan tumbuh bersama. Jadi mustahil.
Namun; Aku tidak akan merindukan dia.
Mendadak Langit sangat melankolis. Kenapa, sih, pengaruh Ratu sebegini dahsyatnya untuk jantungnya?
Dan; Jika aku tidak mengenal dia … semakin ngaco saja angan-angan ‘perandaian’ yang Langit semayamkan dalam benaknya.
‘Aku takkan memikirkan dia.’
Bahkan Langit sudah sangat mencintai Ratu sebelum kakaknya itu memulai.
‘Jika kita tidak pernah bersama, aku tidak harus menghilang.’
Atau lebih bodohnya karena sampai ketahuan oleh Raja. Dan ini risiko yang sedang Langit terima sebagai hukuman.
Tapi, kenapa?
‘Jika aku tidak begitu menyayanginya, aku takkan memiliki banyak kenangan.’
Sekarang sudah hanya Ratu saja yang mendominasi. Kebersamaan yang Ratu berikan sebagai kenyamanan, tanpa Langit sadari sudah merasuk dengan pekatnya. Langit tidak pernah sadar kalau Ratu, begitu menjadi tumpuan obsesinya. Yang harus Langit miliki.
‘Jika aku tidak mencintainya … Kita tidak perlu menjauh dari satu sama lain.’
Cinta memang sekejam itu untuk orang-orang yang sedang merasakannya. Dan Langit benci akan kelemahan dirinya. Karena hanya dengan Ratu, semua itu bisa dirinya rasakan.
‘Jika kita tidak saling berhadapan, kita takkan pernah bersama. Mungkin … jika aku tidak bertemu denganmu sekali.’
Adakah jalan lain yang bisa Langit tempuh untuk keluar dari jerat ini?
Karena ternyata, sesakit ini rasanya ketika Langit dan Ratu terjerat hubungan tanpa status. Seperti ini rasanya memiliki tapi tidak di miliki. Seperti ini rasanya cemburu tapi tidak berhak. Seperti ini rasanya memprioritaskan tapi tidak diprioritaskan kembali. Seperti ini rasanya bahagia dalam kotak harapan. Seperti ini rasanya mengharapkan tapi tidak diharapkan. Seperti ini menjadikan satu-satunya tapi dijadikan salah satunya.
Dan Langit sadar bahwa bertahan bukan jalan satu-satunya.