Tiga Tiga

1206 Kata
Setiap kehidupan pastilah punya yang namanya perubahan dan kehilangan. Entah kehilangan cinta, teman atau sebagian dari diri kita yang tidak pernah kita bayangkan akan hilang. Dan kemudian, tanpa kita sadari, serpihan-serpihan itu kembali. Cinta baru masuk. Teman yang lebih baik ikut serta masuk. Kita yang menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih mandiri. Meski—mungkin—kita lupa tentang ruangan di ingatan kita tentang seseorang terlalu sesak. Ada fase penuh kesesakan yang bercokol mendominasi. Kita menyebutnya masa lalu. Begitu halnya dengan Raja. Yang secara mendadak di depak mundur ke ruang kesakitannya. Raja harus mau menggali traumanya setelah seputus asa itu untuk bertahan. Setelah kuat dan kokoh untuk berdiri, tiba-tiba ada yang hadir tanpa izin. “Hai.” Sapaan dengan vokal yang tak Raja duga-duga masih memengaruhi relung hatinya mendesirkan darah di sekujur tubuhnya. “Apa kabar.” Masih berlanjut dan Raja tunjukkan gurat emosi di wajahnya tanpa segan. “Long time no see. Aku rasa ini hampir 15 tahun.” Dan kata ‘hampir’ yang terlontar dengan entengnya berefek samping tak baik untuk emosi Raja. Siap meledak dan mengeluarkan lahar panasnya. “Jadi aku rindu makanya aku samperin kamu. Well, nggak terlalu sulit nemuin kamu. Nama kamu masih selalu sebeken dulu. Aku pikir … semuanya sudah berubah. Kecuali kamu yang makin ganteng dan hot.” Ria tertawa pelan di tempatnya. Sedang Raja masih benar-benar mengunci bibirnya dengan rapat. “Jadi …” lanjut Ria tanpa perasaan bersalah. Kali ini tubuhnya maju dua langkah dan aroma parfum yang menyengat tercium di hidung Raja. “Sudah menikah?” Gerakan halus tangan Ria menginvasi deru napas tak baik untuk rongga paru-paru Raja. Ada sensasi mual yang bergejolak di perutnya. “Kamu …” Raja d***u sejenak. Reaksi bibir dengan hatinya sangat bertolak belakang. “Kenapa kembali?” Senyum Ria yang amat manis—di mata Raja muda dulu—nyatanya masih sama persis dengan yang saat ini. Tidak ada yang berubah dari diri Ria selain kecantikannya yang bertambah. Semuanya masih tetap sama dan entah mengapa Raja benci pada isi otaknya. Karena terlalu lancang memuji wanita lain selain istrinya. “Sudah aku katakan; rindu—“ “Nggak seharusnya kita buang-buang waktu kayak gini! Di samping aku yang sibuk, ini!” Raja tunjukkan sematan cincin di jarinya. “Aku sudah menikah dan—“ “Wow!” Ria memotongnya. Tubuhnya bergerak pelan memutari tubuh Raja seraya bertopang dagu. “Menikah, ya?” Kentara sekali ejekannya. Dan embusan napas Raja yang berat sungguh memudahkan Ria untuk melancarkan aksinya. Rasanya … ada yang janggal. Bukan soal status Raja yang sudah menikah. Lebih daripada itu. Sisi lain di jiwa Ria tidak menerima. Entah perempuan mana yang sudah memikat Raja—padahal sudah Ria perhitungkan jejak trauma yang Ria tinggalkan. Cukup mampu membuat keturunan keluarga sekondang Anggoro rusak. Sayang … Raja masih terlihat normal dan baik-baik saja. Ria juga tidak suka bila miliknya di ambil seperti ini. “Yakin kamu—“ “Papi!?” Tak jadi Ria lanjutkan kalimatnya. Suara lembut disertai senyum hangat dari Raja mengurungkan kata-katanya. Di lihatnya, perempuan muda dan cantik. Badan mungilnya menonjolkan perut yang sedikit buncit. Tapi terlihat lucu. “Kok ke sini?” Mata Ria berkedip. Mengalihkan pandangannya kepada Raja yang tersenyum semringah. “Aku masakin kesukaan papi. Nggak tahu kenapa aku pengen masak ini dan lihat Aja makan ini.” Tadi papi, sekarang Aja. Kedua alis Ria bertaut bingung. “Ini istri saya.” Dan terjawab sudah semua kebingungan yang merajai otak Ria. “Halo.” Leora menyapa dengan tangan yang terjulur. “Leora.” Ria tidak berkutik sama sekali. Membalas jabat tangan yang Leora ulurkan pun enggan. Matanya dengan sinis menatap tajam Leora. Sudah Ria tandai perempuan ini. *** Dalam sebuah quotes yang pernah Raja tulis di sebuah buku catatannya masa dulu: Aku tahu betul rasanya seolah-olah semua orang di sekitar kamu bergerak maju. Dan kamu masih merasa terjebak di tempat yang sama. Tapi tahukan kamu? Itu sebenarnya tidak benar. Yang sebenarnya adalah kamu telah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Kamu mengalami begitu banyak trauma, momen, cobaan, kerugian, dan semuanya membentuk kamu menjadi manusia seperti sekarang ini. Setiap kali kamu mengalami sesuatu yang sulit di masa lalu, seperti putus cinta, kematian orang yang di cintai, kegagalan di bidang pekerjaan atau masalah keluarga. Kam uterus belajar untuk menahan kesedihan itu. Dan terus melangkah maju. Setiap kali kamu ingin menyerah, kamu tidak melakukannya. Dan itulah mengapa kamu di sini membaca ini hari ini. Jika kamu benar-benar merenungkan masa lalu, kamu akan menyadari bahwa kamu bukanlah orang yang sama. Oleh karena itu, sebenarnya kamu tidak ‘terjebak’ di tempat yang sama. Melainkan kamu terus tumbuh, belajar, dan berkembang. “Teman kamu judes banget.” Leora tuangkan nasi beserta lauk pauknya. “Kayak yang gimana gitu.” Raja menerima piring dari Leora. “Makasih Sayang. Baunya sedap banget ini.” Bukan enggak untuk membahas atau pun menanggapi ucapan Leora. Bagi Raja, Ria hanyalah monster yang sudah lama dirinya lupakan. Kedatangannya memang cukup membuat Raja terkejut. Raja akui. Ada beberapa perubahan dalam diri Ria yang jauh lebih berkesan dari yang sebelumnya. Dan tetap saja, Raja tidak ingin mengingat semua kesakitannya lebih dalam. “Tatapan mata dial oh.” Leora masih melanjutkan. Tidak peduli apakah akan di respon oleh suaminya atau tidak. “Bengis.” Raja tersedak di buatnya. Mendengar kata terakhir yang Leora katakan cukup membuatnya terkejut. “Hati-hati kenapa, sih?!” Raja mendengus. Selalu begitu. Leora yang berbuat salah, Raja yang kena imbasnya. “Kamu ngaco. Makanya aku kaget.” Raja menerima gelas berisi air yang Leora tuangkan. “Aku … nggak bisa ngomong apa-apa.” “Ya ngapain kamu harus ngomong ‘apa-apa’. Aneh yang ada kalau kamu ngasih komentar ini dan itu.” Serba salah. Leora memang labil. Di beri komentar salah. Tidak, lebih-lebih salah. Raja kudu ottoke? ”Itu cuma pendapat aku doing. Entah benar atau enggak. Kita pun first time ketemu. Pepatah kan bilang; don’t judge a book by its cover. Gitu saja kamu nggak tahu.” Raja berdecak kesal. Kembali mengambil piring yang di letakkannya dan lanjut makan. Terserah Leora saja inginnya bagaimana. Sebahagia istrinya saja. Dari Raja untu kedatangan Ria yang mati-matian dirinya tolak: Sekeras apa pun menolak, yang datang akan tetap datang. Sekuat apa pun menahan, yang pergi akan tetap pergi. Sedehanakanlah cara kita dalam menyikapi takdir. Dari Leora untuk Raja: Halo partner terbaikku, Kamu adalah laki-laki yang saat ini bersamaku. Aku benar-benar sudah jatuh cinta pada dirimu. Jatuh cinta dengan suaramu. Jatuh cinta dengan senyumanmu. Jatuh cinta dengan semua hal yang bersangkutan denganmu. Kamu memang tidak sempurna, tidak romantis, tidak peka, tapi kamu yang terbaik, yang paling mengerti keadaanku. Kamu yang tak pernah bosan mengingatkan hal baik untukku. Tentang seseorang yang memberikan pelukan, bukan hanya memberi senang namun juga memberi rasa tenang. Kamu adalah orang yang mengerti egoku. Dan kamu adalah rumah kedua terbaikku setelah orang tuaku. Aku tidak minta banyak; tetap jadi versi terbaikmu. Hargai aku yang takkan pernah berhenti menyayangimu tanpa alasan. Dan dari Leora untuk diri Leora sendiri: ada yang aku terapkan pada diriku sendiri, misalnya ada yang datang satu, garis bawahi hati. Kalau suatu hari nanti—ini masalah matematika—Papinya bertanya, kenapa kamu cinta sama pacarmu? Dan dia bisa jawab, berarti itu bukan cinta, itu KALKULASI. Cinta tidak ada karena karena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN