Empat Empat

1274 Kata
Balara tidak tahu harus berbuat apa. Yang sejak lima belas menit lalu dirinya lakukan hanyalah mengamati keadaan sekitar yang kian ramai, riuh dan sesak. Beberapa pasang mata—terutama perempuan—pun mulai melirik nakal dan sesekali ada yang menghampiri. Namun Balara tidak memberikan tanggapan apa pun selain menatapi tubuh perempuan yang terkulai di sisinya. Pingsan. Begitu saja Balara simpulkan. Namanya Ratu—itu Bala dapatkan dari salah satu bartender yang sudah menganal dirinya mau pun Ratu. “Ke hotel saja lah. Gas” Randi namanya. Memang sejujur dan secepals-ceplos itu. Namun ada benarnya juga. Karena Bala mulai tergiur dengan saran yang Randi berikan. “Main aman. Anak orang.” Randi sodorkan dua sekaligus—yang membuat Bala mendengus—karet bundar berbau harum yang khas. Dan lebih sial lagi, Bala menerimanya sehingga membuat wajah Randi kian semringah saja. “Kebanyakan mikir lo mah.” Sekali lagi Randi memerintah. “Cepetan! Noh banyak yang nyuri ke arah ini cewek. Kagak rugi lo?!” Bala berdecak tak suka. Alih-alih menghitung perihal untung dan rugi, Bala lebih fokus untuk mengenal Ratu secara mendalam. Tidak ada alasan spesifik kenapa ingin berbuat yang demikian. Hanya merasa terpanggil saja. “Perlu gue yang mulai?” Randi geram dengan kelakuan Raja yang mirip seperti anak remaja SMP kepalang tanggung mimpi basahnya. Ini tinggal angkat dan angkut pun kebanyakan mikir. “Dia itu punya tragedi apa sama hidupnya? Soalnya kalau gue lihat-lihat, kayak yang masalahnya berat banget.” “Nggak seberat urusan negara. Pemerintah nyampe puyeng mikirin negara.” “Gue serius.” Bala melempar tatapan tajam yang langsung membuat Randi terkekeh canggung. “Nggak aneh kalau tiap orang punya masalah. Tapi dia ini kenapa?” Yang bisa Randi lakukan hanyalah mengangkat bahunya dan berlalu dari sana. Capek ngomong sama Balara. Cowok yang profesinya pengacara itu bakalan mikir 1:1000 buat ngambul tindakan. Baru kali ini Randi menemui orang berjenis kelamin pria yang santainya nggak pakai obat resep dari dokter. Kalau cowok lain … bah sudah sampai di tahan—you know lah. *** Rea menikmati apa yang ingin dirinya nikmati. Melakukan apa yang dirinya kehendaki dan bertindak seperti yang selalu dirinya maui. Seperti mala mini contohnya. Sudah dirinya habiskan malam-malam panjangnya dalam berbagai versi. Kini saatnya melakukan rencana yang sudah dirinya buat. “Paling enggak, kalau bayi yang ada di perut istrinya bisa tewas, kemungkinan kecil buat hamil perlu waktu. Yang panjang nggak cuma sebentar.” Rea sesap winenya dengan semilir angina yang berembus. Suasana kota metropolitan yang di buru oleh orang dari berbagai daerah tidak pernah berubah. Hiruk pikuknya dan huru-hara gemerlap dunia malam pun tidak surut. “Gue heran.” Rea sudah memikirkan untuk menanyakan ini sejak saat Era mulai menghubungi dirinya. “Cinta, tapi lo bisa-bisanya berbuat yang nggak seharusnya lo perbuat. Giliran ketahuan dan semuanya berakhir. Lo bikin drama yang kagak ada habisnya kayak gini. Lo lucu sih.” Era tertawa. Namun juga tidak menutup ekspresi wajah sinisnya. Tidak seharusnya Rea mengajukan tanya yang demikian di saat semuanya sudah masuk ke kawasan perjanjian. “Raja itu—gue memang nggak tahu yang sebenarnya—karena sadar soal apa yang sudah gue lakuin di masa lalu. Tapi pas gue lihat dia sama istrinya …” Rea menjeda dan mencoba mengingat-ingat seperti apa wajah Raja kala bersama dengan istri hamilnya itu. “Bahagia,” lanjutnya. “Lo kayaknya bukan sesuatu yang penting yang harus Raja ambil setelah lo buang dia kayak sampah.” “Enak saja! Gue nggak buang dia. Gue nggak ngelakuin sesuatu yang fatal.” “Selingkuh nggak fatal, eh?” Rea berganti mengejek. “Di beberapa belahan dunia dan bahkan di dalam drama-drama yang biasa lo tonton, selingkuh adalah yang nggak pernah termaafkan. Cuma jalan doang tanpa adanya perasaan sudah dianggap selingkuh. Soalnya, takaran setia buat tiap-tiap orang itu beda.” “Manusia kayak lo bisa-bisanya ngomongin perkara kesetiaan.” Rea tidak akan tersinggung dengan apa yang Era katakan. Itu benar adanya dan lebih baik mengakui. Begini-begini pun Rea pernah belajar menjalin hubungan serius. Yang tidak sekadar tentang seks dan memanfaatkan satu sama lain. Tapi sayangnya kandas di tengah jalan. Di saat Rea yakin dan mantap untuk melangkah. Nyatany ada iringan cobaan dan godaan yang di namakan ujian. Dari sana. Dari hubungan terakhir yang Rea jalin. Bahwa dirinya tidak pernah mau lagi meminta siapa pun untuk tetap tinggal. Jika ingin pergi, Rea membiarkan. Itu berlaku juga untuk teman-temannya. Dan jika ingin bertahan, maka akan mempertahankannya. Di dunia ini, nggak ada yang lebih buruk daripada memohon seseorang untuk tinggal. Ketika mereka telah menunjukkan kepada kita beberapa kali bahwa sebenarnya inginnya adalah pergi. “Ada dua jenis manusia di dunia ini. Lo harus belajar dari kata-kata ini yang keluar dari mulut pendosa kayak gue.” Era berdecih mendengarnya sedang Rea justru merasa senang dengan respons Era yang seperti itu. “Pertama kayak lumpur, yang kedua kayak emas. Kalau lo perhatiin, kayaknya nggak ada bedanya. Karena kecampur dan kelihatannya sama. Orang nyari permata, berlian juga gitu kecampur sama pasir. Tapi yang jadi pembeda yaitu, sewaktu di guncang masalah. Lumpur cuma bisa ngeluh. Nah ini tipe lo banget, sih. Bahkan memperkeruh suasana lo lagi. Tapi si emas, bakalan nunjukin nilainya.” “Yang jelek-jelek buat gue.” “Pantasnya gitu.” Keduanya tertawa bersama. Meneguk wine masing-masing setelah melakukan cheers. Dan Rea termenung dengan wine yang melewati kerongkongannya dengan segar. Ingatannya melayang pada perkataan BJ. Habibie yang hingga detik ini masih selalu jadi inspirasi bagi kalangan muda. Katanya: awalnya, kupikir setia itu adalah tidak pernah tertarik pada orang lain selain pasanganku. Tapi, setia itu adalah saat kita merasa tertarik lalu pikiran alam bawah sadar kita langsung teringat bahwa pasangan kitalah yang lebih baik dari siapa pun. Rea sendiri tipe perempuan yang jika sudah memutuskan untuk berkomitmen, artinya sudah membuat pilihan. Dan siap menerima segala kekurangan. Tidak peduli sederhana mau pun biasa. Ketika bosan, bukan lari ke pelukan cowok lain atau harus melakukan perjalanan jauh guna menepis kebosanan. Rea akan terus bertahan untuk tidak berubah. Saat lelah, Rea akan berusaha keras untuk bertahan dan berjuang. Karena sebuah komitmen bagi seorang sakit seperti Rea bukanlah untuk sementara. Tetapi selamanya menjaga. “Jadi sudah sejauh mana rencana lo?” Kesadaran Rea yang baru direnggut kenangan kembali lagi. “Harus matang.” “Lo pikir ngerebus telur,” ejek Era tidak terima. “Gue maunya gitu.” “Lumayan agak ekstrem juga, sih.” Rea tidak masalah. Hanya malas saja jika sampai harus ketahuan hukum. Tahu sendiri Indonesia kayak apa. “Kalau gue nggak bisa miliki Raja. Orang lain jangan dong. Nggak Leora, nggak juga lo, apalagi kita.” “Sangar gila!” Antara ambisi, cinta dan posesif bila sudah bersatu memang tidak ada obatnya. “Sudah gue atur. Lo tenang saja.” “Kasih tahu.” “Rahasia. Bisa berabe kalau lo ikutan main.” “Garis besarnya.” Paksa Era. Rea menggeleng dan hendak hengkang dari sana sebelum berucap, “nggak semuanya harus lo tahu. Ada batas dan masa kadaluwarsa yang nggak bisa lo ketahui secara blak-blakan. Raja, milik gue dan masalah ini lo terima beres.” Era tidak suka mendengarnya. Seolah-olah hanya Rea saja yang berhak memiliki. Lalu untuk apa Era berbuat sedemikian beraninya jika Raja tidak bisa menjadi miliknya? Rindu ini benar-benar usai. Rea dalam setiap kegelapan menunggu dirinya untuk kembali ke sisi Raja. Kau sempurna membenciku, aku juga sempurna mengikhlaskanmu. Iya. Semua sudah berakhir. Tak perlu risau, aku tak ‘kan mengejar dan meminta belas kasih darimu lagi. Kecewa ini membawa tawa. Hahaha … Aku suka keadaan ini. Seperti saat aku menyukaimu, meyakinkanmu, dan kini tiba masa untuk melupakanmu. Terima kasih. Luka yang kau taruh dan toreh amatlah bermakna. Menyadarkan diri, memukul hati, agar tidak ugal-ugalan meletakkan perasaan, lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN