Empat Tiga

1029 Kata
Sebelumnya, jauh sebelum torehan luka meninggalkan bekas mendalam. Di sudut hati yang paling dalam, pernah tercipta sebuah kenangan. Yang terangan indah dalam kepakan sayap mimpi. Terukir merdu dalam syahdunya syair. Dan hancur layaknya kaca berkeping-keping. Ada yang rapuh meski awalnya sekokoh baja. Ada yang retak meski awalnya terlihat begitu rekat. Semuanya berakhir tanpa ada yang bisa mengetahui seperti ini akhirnya. Begitulah garis Tuhan. ‘Rasa sayang yang boros dan cepat bosan, itu karena terlalu banyak jalan dan senang-senang terus saat di awal hubungan.’ Ya. Laratu Putri Anggoro mengakui akan kebenaran dari kata-kata di atas. Dari awal, menjalin hubungan dengan foya-foya sampai timbul rasa bosan tak berkesudahan. Hanya ingin pergi dan menyenangkan diri sekadar menikmati indah awalnya sebuah hubungan. Lagi pula, mau bagaimana harus Ratu buat? Namun ada satu kebenaran yang tersimpan rapat dalam hatinya. Ketika Ratu memberi hatinya, kepada orang yang dicintainya, Ratu berikan seluruhnya. Tanpa Ratu yang mencintai bayang-bayang masa lalu pasangannya, demi kita yang baru. Akan Ratu lanjutkan hidup bersama pasangan pilihannya, tanpa mengutuk apa pun yang pernah terlewat di masa lalu Ratu, pun juga masa lalunya. Kamu adalah langkah Ratu yang baru, wujud nyata dari amin doa-doa terbaiknya Ratu—tentang seseorang yang Ratu minta kepada Tuhan untuk menjaganya dari segala bentuk patah hati dan kekhawatiran. Saat kesenangan menjadi salah satu dari sisi dirinya. Ratu tidak bisa menolak apa lagi menghentikannya secara paksa. Itu sama saja dengan membunuh karakter dirinya yang sudah mendarah daging. ‘Coba biasakan untuk bicara mimpi, karir, dan pekerjaan, serta hal-hal penting di masa depanmu dan masa depan orang yang kamu sayang itu. Mungkin kamu akan terlatih lebih dewasa.’ Petaka! Saat Ratu mulai memimpikan apa yang tidak seharusnya dirinya pikirkan. Perpisahan malah terjadi. Lebih menyakitkan karena di ikut sertakan dengan pengkhianatan. Jika itu hanya pacarnya saja, Ratu takkan murka. Namun, ada andil teman terdekat Ratu yang menjadi peran serta. Sekadar mengikhlaskan takkan sulit Ratu lakukan. Ibarat kata; sampah tetaplah sampah. Bau dan kotor. Ratu akan dengan mudah membuang sesuatu yang di rasa sudah tidak lagi layak pakai. Dan apa itu? Ratu tersenyum sinis dengan gelas berisikan alkohol di tangan kirinya. Dentuman musik yang menyerbu rungunya mendadak mengalun perlahan dan menghilang. Ratu teringat akan masa-masa kesakitannya di masa lalu dan benci akan fakta tersebut. Ratu tidak pernah merencanakan sebuah mimpi atau pun memimpikan tentang masa depannya. Semuanya Ratu biarkan mengalir. Pikirnya, bila memang itu jalannya, atau bahkan memang itu yang sudah di gariskan. Maka sesulit apa dan seterjal apa pun jalannya, akan datang menghampirinya. Tidak salah juga, sih. Barangkali memang kata-kata itu cocok untuk beberapa orang dan tidak ada apa-apanya pada diri Ratu. ‘Sehingga tidak sekadar sayang-sayangan dan cinta-cintaan terus.’ Lagi pula, tidak semua orang pacaran hanya merasakan yang namanya sayang-sayangan dan cinta-cintaan atau saling membucin semata. Ada yang merasakan bahwa lama pacaran tapi masih kayak yang kemarin sore jadian. Ada juga yang sudah lama pacaran dan tidak semanis saat awal pacaran. Memang benar. Tidak ada yang salah. Dan Ratu tidak ingin menjatuhkan judge tentang pacaran hanya menurut pandangannya semata. Setiap orang beda-beda. Dan kenapa hal demikian bisa terjadi? Itu karena setiap tahun berjalannya waktu, tentu hubungan juga lebih dewasa. Pola pikir kita pada hubungan juga lebih baik. Kita tak lagi membangun istana pasir di tepi ombak. Sebab akan hancur oleh ombak di pantai. Tapi kita akan serius lagi membangun istana yang megah, kuat dan kokoh di mana tidak ada yang bisa menghancurkannya. Kita tidak akan lagi berada di fase marah-dendam-pergi lalu tetap bersama. Kita akan mulai bersungguh-sungguh dengan satu tujuan yaitu tetap hidup bahagia menua bersama, tidak selalu gombal-gombalan, merayu, dan basa-basi. Hah! Embusan napas Ratu terdengar. Ada kepasrahan di dalamnya. Ada putus ada yang tak bisa Ratu jelaskan secara rinci. Semuanya berisi emosi dan merusak segala hal yang menjadi kesenangan bagi Ratu. Mendadak—setelah kejadian itu—Ratu menjadi pemikir berat. Seperti; apa salah dirinya dan di mana kekurangannya? Padahal jika itu perempuan normal, maka akan memberikan jawaban; dia saja yang tidak mensyukuri memiliki dirimu. Itu sudah lebih dari cukup. Dan Ratu bodohnya maksimal. Nggak tanggung-tanggung. “Sendiri?” Yang Ratu toleh kanan dan kirinya lalu menatap sang penanya. “Kelihatannya?” Ratu memang seperti itu. Terlihat sombong dan ketus. Bagi orang baru yang mengenalnya, akan langsung melemparkan kebencian dan mencacinya. “Hm, sendiri.” Ratu menatapnya sejenak. Lalu kembali meneguk minumannya. Dan tidak terjadi apa-apa selain dentuman musik. Lelaki di sampingnya—Ratu tahu—sesekali mencuri pandang ke arahnya dan berakhir dengan pendaran lainnya ke seluruh sudut ruangan diskotik. Ratu letakkan kepalanya di mejar bar. Matanya mulai berair yang entah karena apa. Pastinya, Ratu merasa sangat kehilangan dan ada kehampaan yang mulai merongrong raganya. Sakit. Perih. Dan benci menjadi satu. Yang lagi-lagi, Ratu pun tidak tahu hendak berbuat apa. Ratu juga bisa sedih kok meskipun hobinya ke kelab malam. Itu cuma pengalihan atas kesepiannya saja. Coba ada Langit. Pasti Ratu nggak akan sesepi ini. Ratu nggak akan begitu kesakitan kayak gini. Tapi Langit adalah hal paling mustahil untuk dirinya miliki. Ratu juga punya masalah dengan masa lalunya dengan orang terdekatnya. Ingin membalas, rasanya sudah tidak pantas dilakukan. Toh ini hanya masalah lelaki. Masih banyak di luar sana yang mengantre untuk menjadi pacarnya. Senandung kecil mulai keluar dari celah bibir Ratu. Mendadak, musik yang semula mengalun kencang berubah mellow. Lantunan lagu milik Shawn Mendes. Ratu bernyanyi dengan mata terpejam. Menikmati alunan lagu yang terasa pas untuk suasana hatinya saat ini. Ratu mulai tidak sadar kalau dirinya menjadi sepenuhnya di perhatikan oleh lelaki di sampingnya. Dengan gerakan perlahan, lelaki itu meneguk minumannya dan terus memperhatikan Ratu. Ada decak kagum yang lelaki itu diam-diam sematkan dalam pikirannya. Ratu memang cantik. Dan tubuhnya yang seksi menjadi penyokong untuk semua mata lelaki menatapnya. Tapi Ratu tidak tertarik untuk membersamai mereka. Ratu banyak berpikir jika itu tentang orang lain selain Langit. Ah, hatinya itu kenapa, sih? Ratu nggak paham sama sekali sama apa yang di maui hatinya. Ratu nggak mungkin selamanya kayak gini sama Langit dan Langit butuh kehidupan yang baru untuk jadi penyokong di masa depan. Ratu jelas tidak bisa. Lalu harus bagaimana Ratu menyikapi hatinya? Semakin lama, semakin menyayat di rungu Ratu. Lagu yang Ratu senandungkan seperti mewakilkan seperti apa perasaannya saat ini. Dan berakhir dengan Ratu yang memejamkan kedua matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN